
"LO BAWA DIRA KEMANA, ARFEN?!" Tanya Axell setelah mendekat dan mulai mencengkram kerah seragam milik Arfen.
"Udah, Xell. Tahan emosi Lo!" Lerai Verrel yang tiba-tiba datang bersama dengan yang lainnya. Tangan Verrel berusaha menarik tangan Axell yang masih bertengger kuat di kerah seragam Arfen.
"Gue tau pasti, Rel. Dia yang bawa Dira. Mata gue nggak pernah salah." Jawab Axell yang memang sangat yakin dengan apa yang ia lihat.
Bastian ikut serta menarik Axell saat melihat cengkraman tangan laki-laki itu terlepas dari kerah baju Arfen dan membawanya sedikit menjauh.
"Lepasin gue, Bas! Gue nggak bakal bisa diem, kalo belum tau dimana Dira." Ujar Axell.
"Gue ada kabar yang pasti bikin Lo tenang, Xell!" Bisik Bastian pelan, dan hanya bisa di dengar oleh Axell. Axell diam. Ia menatap Bastian lalu beralih menatap Arfen tak suka.
"Istri Lo ada di apartemen. Mending Lo cepetan balik." Bisik Bastian lagi dan sukses membuat Axell menatap Bastian seakan meminta penjelasan.
'Bastian tau dari mana?'
"Besok gue tunggu penjelasan dari Lo, Bas!" Ujar Axell lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tapi, baru saja Axell akan meraih handle pintu untuk membukanya, laki-laki itu menghentikan pergerakan tangannya dan menoleh ke arah Arfen, "Urusan kita belum selesai." Ucapny lalu pergi setelah pintu terbuka.
"AXELLO, TUNGGU!" Panggil Arfen yang kini menyusul langkah Axell, namun tak mendapat respon apa-apa dari laki-laki itu. Axell malah semakin mempercepat langkahnya. Axell tak ingin lagi melihat wajah menyebalkan dari Arfen. Lagi pula ada hak yang lebih penting dari ini. Yakni memastikan keadaan Dira sekarang.
"LO DENGERIN, XELL. KEJADIAN DUA TAHUN LALU... LO SALAH PAHAM. BUKAN GUE!" Teriak Arfen sengaja agar apa yang ia katakan bisa Axell dengar.
Dan benar saja. Apa yang Arfen katakan tadi, Axell bisa mendengarnya. Bahkan dengan sangat jelas. Bukan hanya Axell saja, seluruh pengunjung kafe pun ikut mendengarkan apa yang Arfen katakan. Seketika Arfen menjadi pusat perhatian dari semua pengunjung di Serenity Cafe.
Tapi apa yang dikatakan Arfen tadi tidak berhasil membuat Axell berhenti. Axell bahkan sama sekali tidak tertarik, bahkan menoleh sekalipun. Axell lebih memilih untuk meneruskan langkahnya untuk segera pulang dan menemui Dira. Dan meninggalkan semua temannya yang masih ada di kafe tersebut.
'Gue udah nggak peduli. Bahkan gue udah lupa semua, Anj*ng!'
Bahkan dalam hati pun Axell masih saja mengumpat. Ia kesal, kenapa masih saja diingatkan dengan kejadian yang bahkan Axell sudah melupakannya sedari lama.
Bagi Axell, apa yang Arfen katakan tadi sudah tidak ada gunanya. Semua sudah berakhir. Ia sudah jengah dan tak peduli. Lagi pula Axell memang sudah tahu kejadian yang sebenarnya.
"Gue heran. Lo itu gila, atau emang beneran nggak waras? Perasaan suka banget cari masalah sama Axell, Herman gue!" Cibiran yang tiba-tiba keluar dari mulut Bastian untuk Arfen.
Verrel yang ikut mendengar cibiran Bastian jadi terkekeh geli, "Dua-duanya kali, Bas! Kan sama kek Lo! Sama-sama gilanya." Sahut Verrel.
__ADS_1
Bastian menggeleng, "Dia lebih nggak waras dibandingkan gue, Rel. Seenggak warasmya gue, setidaknya gue nggak pernah berusaha buat ngerebut apa yang sudah menjadi milik orang lain, Rel! Nggak kek dia." Jawab Bastian sambil menuding ke arah Arfen lalu pergi dan diikuti oleh Verrel.
Sementara Nayla dan Melody sudah lebih dulu pulang saat sudah mengetahui dimana Dira berada dan juga memastikan kalau ia tidak apa-apa.
"Lo ada masalah apa lagi, sih, bro?" Tanya Reon yang sedari tadi diam menyimak.
"Dira siapa? Lo gangguin ceweknya Axello?" Sahut Erka yang juga penasaran.
Tak menjawab, Arfen hanya menggelengkan kepalanya samar.
...***...
Seorang gadis berjalan keluar dari sebuah lift dengan Hoodie warna hitam yang melilit dipinggangnya. Gadis itu nampak memegangi area dadanya yang terasa semakin sesak pulang dari taman tadi.
Gadis yang tak lain adalah Dira itu langsung memasuki apartemennya saat pintu telah berhasil ia buka. Melepas hoddie dari pinggangnya dan menaruhnya di sofa.
Dira lalu berjalan ke lemari untuk mencari paper bag yang mungkin masih ia simpan rapi didalam lemari tersebut.
Setelah menemukan paper bag yang ia cari, ia kembali ke sofa dimana ia meletakkan Hoodie yang mungkin nanti akan menjadi sumber rentetan pertanyaan dari Axell, suaminya. Ia raih Hoddie tersebut dan langsung memasukkannya kedalam paper bag dan menyimpannya ke dalam lemari.
Ya, asma Dira kambuh. Bahkan semenjak ada seseorang membawanya pergi dengan cara yang bisa dibilang tak biasa tadi.
Sebenarnya orang yang membawa Dira pergi tadi sama sekali tidak memiliki niat jahat. Ia hanya ingin bertemu dan berbicara sebentar dengan Dira. Lebih tepatnya menanyakan kabar yang ia dengar beberapa hari ini dari sahabatnya, Nayla. Hanya saja, caranya mengajak Dira pergi, salah.
Flashback on.
Grebbb!
"Emmmbh...
"Ssttt... nggak usah takut, Dir... ini gue." Suara yang sangat Dira kenal dari seseorang yang sekarang sedang membekap mulutnya.
Mendengar suara tersebut, Dira jadi bisa sedikit tenang, setidaknya, orang yang melakukan hal demikian padanya bukanlah orang yang jahat.
Karena merasakan Dira yang mulai tenang, akhirnya laki-laki itu melepaskan Dira dan beralih menggenggam kedua tangan gadis itu.
"Ikut gue bentar, gue kangen. Lama nggak ketemu sama Lo, rasanya gue hampir gila, Dira ... Ada yang mau gue omongin juga sama Lo, mau ya, Dir!" Ucap laki-laki itu memohon.
__ADS_1
"Tapi, Ar-
"Gue akan bawa Lo pergi ke suatu tempat. Please... Mau, ya... Janji bentar. Gue cuma mau ngomong sama Lo!" Ucap laki-laki itu memotong ucapan yang akan keluar dari mulut Dira.
Mendengar ucapan penuh permohonan dari cowok tadi membuat Dira menatapnya iba. Bagaimana pun juga sebelum ia menikah dengan Axell, cowok yang tak lain adalah Arfen itulah yang mengisi hari-hari Dira. Menemaninya disaat suka dan duka. Dan Arfen juga lah yang selalu ada disaat Dira membutuhkannya dalam situasi apapun. Termasuk menemani Dira melewati hari-hari berat saat ditinggalkan oleh Kaka dan juga mamanya.
Tak lama kemudian Arfen membawa Dira ke sebuah taman bunga. Meskipun suasana masih panas, tapi di taman tersebut terdapat banyak sekali pohon yang membuat taman terasa sejuk. Selain bangku taman, di taman tersebut juga terdapat beberapa gazebo yang memang disediakan untuk ora pengunjung.
Tak ingin membuang-buang waktu, Arfen langsung membawa Dira pada salah satu gazebo tersebut. Ia perlu berbicara beberapa hal dengan Dira. Arfen tahu, mereka tidak punya banyak waktu, karena sekarang pasti banyak yang sedang mencari keberadaan Dira.
"Ar..." Panggil Dira lirih. "... sebenarnya Lo mau ngomong apa sama gue?" Tanyanya.
Arfen menghela nafas pelan, ia menyadari kalau Dira sedang tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. "Bener Lo udah jadian sama Axello?" Satu pertanyaan yang langsung keluar tanpa basa-basi dari mulut Arfen setelah keduanya hanya saling diam.
Dira menatap wajah Arfen sekilas. Wajah tampan yang selama ini selalu menemaninya. Tapi mengapa, melihat wajah Arfen sekarang, tiba-tiba muncul rasa bersalah dalam hati Dira.
Pada akhirnya Dira mengangguk pelan, "Iya." Jawabnya singkat.
Arfen tersenyum kecut. Berat sekali rasanya menerima apa yang ia dengar dari Dira.
'Kenapa harus dia, sih, Dir?' Batin Arfen mendesah.
"Udah jalan berapa lama?" Tanyanya lagi.
"Baru dua bulanan mungkin." Jawab Dira sambil menunduk melihat kearah kakinya yang memainkan rumput di bawah sana. Ia tak mau memandang wajah Arfen yang sekarang Dira yakin sedang menatap kearahnya.
"Lo bahagia sama dia?" Lagi-lagi pertanyaan yang muncul dari mulut Arfen. Sungguh, mungkin akan sakit, tapi Arfen benar-benar butuh jawaban ini. Jawaban yang akan menuntun Arfen untuk mengambil langkah selanjutnya.
"Ar... gue harus pulang..." Bukannya menjawab, Dira malah mengalihkan pembicaraan.
"Tatap gue, Dir! Jawab pertanyaan gue!" Arfen menghela nafas. "... Gue butuh jawaban Lo."
Dira menoleh ke arah Arfen. Sepertinya ia memang harus melakukan ini agar sahabatnya itu berhenti mengharapkan dirinya. "Iya. Gue bahagia. Kak Axell orang yang baik dan dia selalu bisa jagain gue. Kak Axell udah berhasil bikin gue bahagia, Ar."
Arfen Kemabli tersenyum, senyum yang kembali dipaksakan. Sesuai dengan janji yang pernah ia ucapkan hari itu, ia akan melepaskan Dira pada orang yang benar-benar bisa dan pantas membahagiakan dan menjaga Dira.
"Berarti gue bener-bener harus ngelepas Lo, Dir?"
__ADS_1