Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
108. Gara-gara vitamin.


__ADS_3

Di pagi hari pukul 04.45, Dira yang sudah mulai terbangun itu kini tengah mengerjapkan matanya perlahan. Dan saat mata Dira terbuka sempurna, ia langsung di hadapkan dengan wajah damai milik Axell. Suaminya itu masih tertidur dengan nyenyaknya.


Dira terus memperhatikan wajah tampan itu. Wajah laki-laki yang sudah beberapa bulan ini telah menjadi suaminya. Laki-laki yang telah berhasil membuatnya menjadi seorang istri sepenuhnya. Dan semalam, mereka kembali melakukannya lagi.


Entah mengapa Dira merasa semalam laki-laki yang masih berusia belasan tahun tersebut sangat berbeda. Suaminya itu seperti menjelma menjadi pria dewasa.


Dira tahu, setiap orang yang menikah pasti ada peningkatan cara berfikir dan juga bersikap. Tapi semalam, Dira benar-benar merasakan perubahan dalam diri Axell.


Lalu tiba-tiba Dira teringat akan sesuatu. Dirinya ini ... dalam masa subur. Dan sudah dua malam mereka melakukan hubungan suami istri. Maka tidak menutup kemungkinan kalau dirinya akan segera hamil anak Axell nanti. Rasa takut tiba-tiba menyerang Dira saat ini.


'Kalo gue hamil nanti gimana? Gimana dengan sekolah gue? Terus apa gue bisa jadi seorang ibu yang baik nanti? Terus temen-temen gue, pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang gue dan juga kak Axell.'


Saking asyiknya tenggelam dengan pemikirannya sendiri, Dira sampai tidak menyadari kalau ternyata Axell sudah bangun sedari tadi dan kini tengah memperhatikannya.


Cup...


Satu kecupan singkat Axell berikan pada bibir Dira dan langsung berhasil menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"Masih pagi, Yang, jangan melamun!" Ujar Axell. Urung menjawab, Dira maka balik menatap Axell. Untuk sesaat gadis itu terkesiap.


'Kapan kak Axell bangun?'


"Yang ..." Panggil Axell lagi. Axell merasa istrinya itu tengah memikirkan sesuatu. Merasa di perhatikan, Dira lalu menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Ada yang lagi Lo pikirin? Atau Lo mau lagi?" Tanya Axell sambil mengangkat satu alisnya.


Dira mengrenyit bingung mendengar pertanyaan dari Axell. "Mau lagi?" Tanya Dira memastikan pendengarannya. Lebih tepatnya ia yang tak mengerti apa maksud Axell.


"Yang kayak semalam." Jawab Axell sambil mengeratkan pelukannya.


Mendengar apa yang Axell katakan, Dira reflek menggeleng, "Nggak dulu, kak. Badan aku serasa remuk. Rasanya sakit semua." Tolak gadis itu pelan.


Bukanya merasa bersalah, Axell malah terkekeh pelan. "Kayaknya gue terlalu bersemangat semalam." Ujar Axell yang langsung mendapat anggukan kepala tanda setuju dengan apa yang Axell katakan.


"Iya, semalem kak Axell beda." Sahut Dira cepat.


"Oh ... iya, masa' sih, Yang? Bedanya gimana?" Tanya Axell yang tiba-tiba bersemangat mendengar apa yang Dira katakan.


"Ya beda aja, nggak kayak kemarin. Semalam kak Axell ... buas!" Ucap Dira sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Axell kembali terkekeh pelan. Melihat Dira yang memanyunkan bibirnya, kenapa ia jadi semakin gemas begini? "Kita ngelakuinnya baru dua kali, tapi Lo udah langsung bisa bedain ..." Axell menggelengkan kepalanya. "... Ini karena om David, Yang."


Lagi-lagi Dira mengrenyitkan dahinya. Bingung sudah pasti. "Om David siapa, kak? Terus apa hubungannya?" Tanya Dira semakin bingung.


"Om David itu papanya bang Rheyhan, Yang. Jadi kemarin itu aku sengaja ketemu sama om David buat minta vitamin sama dia." Jawab Axell.


"Vitamin?" Ulang Dira.


Axell mengangguk, "Iya, Yang. Bentar lagi gue kan mau ujian. Jadwal gue bakalan lebih Padet akhir-akhir ini. Belum lagi ngurusin kafe dan juga bantuin ayah di kantor. Gue nggak mau sakit ..." Axell tersenyum lalu mengecup kening Dira lama. "... Apa lagi sekarang ada ... kamu, seorang istri yang harus aku jaga. Makannya aku sengaja bikin janji temu sama om David buat minta vitamin. Tapi kayaknya om David salah paham dan malah ngasih aku obat yang malah bikin aku gila di ranjang semalaman." Jawab Axell yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Dira mengangguk mengerti, "Kak, jangan minum itu lagi!" Pinta Dira dengan suara lirih.


Masih dengan pandangan yang menatap lekat sang istri, tangan Axell terangkat untuk mengusap pelan rambut Dira. "Ini nikmat banget, Yang. Tapi kalo bikin kamu tersiksa, aku nggak bakal minum itu lagi. Lagian kan, tanpa obat itu, aku tetap bisa bikin kamu mendesah dan mengerang di ranjang." Jawab Axell sambil menaik-turunkan alisnya. Memang benar kan, mereka bersua masih sama-sama muda. Soal stamina yang prima, Axell jangan di tanya.


"Iishh... apaan, sih?" Jawab Dira sambil mencubit perut Axell.


"Auw ... sakit, Yang!" Ucap Axell yang seolah kesakitan. Padahal tadi Dira hanya mencubit perut axell pelan.


"Hah ... beneran sakit, kak? Coba sini liat, mana yang sakit?" Tanya Dira yang tiba-tiba merasa bersalah telah mencubit perut Axell.


Melihat Dira yang merasa bersalah seperti ini, Axell jadi semakin gemas saja. Tiba-tiba sebuah ide jahil keluar begitu saja dari kepala Axell. Tangannya pun bergerak untuk meraih tangan Dira.


"Kak Axell ... iihh... nyebelin!" Protes Dira dan malah kembali mencubit perut Axell dengan keras.


"Auw ... Yang! Sakit! Ini Jason pengen di elus. Kok kamu malah KDRT sama aku, sih!" Ujar Axell tanpa rasa bersalah sedikitpun. Benar-santai pake banget dia ngerjain istrinya.


"Hah... Jason?" Tanya Dira bingung. Siapa yang di maksud Jason tadi?


"Iya, Yang. Jason, yang kamu pegang tadi." Jawab Axell sambil terkekeh pelan.


"Kak Axell, iihh... Mulai nyebelin, ya!"


...***...


Setelah sarapan pagi, kini Dira sedang duduk santai di ruang keluarga. Berhubung hari Minggu, jadi Dira dan Axell tidak bersekolah.


"Sayang, kamu disini?" Tanya bunda Resty yang baru saja keluar dari kamar.


"Iya, bunda. Kenapa, Bun?" Balas Dira.

__ADS_1


"Bunda kira tadi kamu kembali ke kamar." Ucap bunda Resty.


Dira menggelengkan kepalanya, "Dira ada di sini kok, Bunda. Apa ada yang perlu Dira bantu?" Tanya Dira menawarkan bantuan.


bunda Resty tersenyum sembari berjalan ke arah menantu cantiknya itu. "Boleh?" Tanyanya.


"Tentu boleh dong, bunda. Apa yang bisa Dira bantu sekarang?" Tanya Dira semangat.


"Ayo ikut bunda ke taman belakang, sayang, temani bunda lihat ayah sama suami kamu ... yuk, sayang!" Ajak bunda Resty.


Dira mengrenyit bingung, "Yah sama kak Axell ... lagi ngapain, Bun?" Tanya Dira yang mulai penasaran.


"Sudah. Sini! Ayo ikut bunda! Nanti kamu juga tau sendiri." Jawab bunda Resty sambil menggandeng tangan menantunya itu menuju taman belakang.


Dan sampailah dua perempuan beda usia itu sekarang. Bunda Resty lalu membawa menantunya itu untuk duduk di sebuah bangku yang memang ada sejak dulu di tepi taman.


Wanita paruh baya itu lalu menunjuk ke arah depan. "Itu kamu lihat suami kamu, semalam ayah minta Axell untuk menemaninya main tenis." Jelas Bunda Resty.


Mendengar apa yang di katakan bunda Resty, Dira reflek mengikuti arah pandang dari sang mertua itu. Dan benar saja, ia melihat sang suami yang sedang bermain tenis dengan ayah Marvellyo.



Untuk sesaat Dira begitu tertegun dengan kepiawaian Axell dalam bermain tenis. Axell terlihat begitu lincah dan energik. Sebelumnya Dira tidak pernah tahu Kalau suaminya itu pandai memainkan jenis olahraga tersebut.


"Sudah lama sekali Axell tidak bermain tenis dengan ayahnya. Padahal dulu setiap Sabtu Minggu atau hari libur lainnya Axell selalu meluangkan waktu untuk menemani ayahnya bermain tenis, walau hanya sebentar." Ucap Bunda Resty.


"Lhoh... memangnya kenapa, Bun?" Tanya Dira yang tiba-tiba ingin tahu.


"Semenjak Axell tinggal di apartemen, dia hanya akan pulang ke rumah beberapa kali." Ujar Bunda Resty.


"Tapi, bun, maaf kalau Dira menyela. Ada yang ingin Dira tanyakan, Bun. Sebenarnya Dira penasaran ... ada hal yang ingin Dira tau." Sela Dira.


"Katakan, sayang! Apa yang ingin kamu ketahui?" Pinta bunda Resty.


"Umm... kak Axell bukan anak tunggal ya, Bun? Tapi kenapa dia malah memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen." Tanya Dira to the points.


Bunda Resty tersenyum mendengar pertanyaan dari menantunya itu. "Bisa di bilang itu wujud protes dari anak laki-laki yang tengah kecewa dengan keadaan. Katakanlah Axell butuh ketenangan pada waktu itu." Jawab bunda Resty.


Dira mengrenyitkan dahinya bingung. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu. "Dira nggak ngerti maksud bunda." Ucap gadis itu pelan.

__ADS_1


Bunda Resty kembali tersenyum. "Ada beberapa faktor pendukung yang membuat Axell memilih untuk tinggal sendiri di apartemen, sayang. Selain karena ayahnya yang terlalu keras dalam hal mendidik Axell, Axell juga merasa lelah karena di usianya yang bahkan masih remaja, ia sudah harus di sibukkan dengan urusan di kantor karena ayah yang memaksa Axell untuk membantunya. Di tambah lagi saat Axell baru mengenal yang namanya cinta, dia ...


__ADS_2