Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
116. Dirumah sakit.


__ADS_3

Axell dan Dira berjalan menelusuri lorong rumah sakit dengan tangan yang saling bertautan. Menuju dimana ruangan Mama Diva sedang di rawat saat ini.


Tadi saat jam istirahat di kantin sekolah, Axell mendapat telpon dari papa Pras dan mengatakan kalau mama Diva sedang dirawat di rumah sakit.


"Ini ruangannya, Yang." Ucap Axell saat mereka sudah sampai di depan pintu ruang rawat Mama Diva.


Dira mengangguk. Tangannya kini terangkat untuk meraih handle pintu untuk membukanya. Sampai pada akhirnya gerakan tangan itu terhenti saat Axell yang tiba-tiba menghentikannya.


"Yang ... sebenarnya aku nggak tau persis mama Diva sakit apa. Karena memang papa nggak bilang. Tapi boleh aku minta sesuatu sama kamu?" Ucap Axell sambil memandang lekat wajah sang istri.


Dira enggan bersuara, hanya anggukan lemah yang ia perlihatkan.


"... Apapun yang terjadi dengan Mama Diva, Aku minta kamu tetap tenang. Bisa ya, Yang?" Ucap Axell pelan. "... kesehatan kamu juga penting."


Dira menghela nafas pelan, "Iya, kak." Jawabnya ragu. Dalam keadaan seperti ini mana bisa Dira bersikap tenang. Apa lagi ini menyangkut dengan mama sambungnya.


Ceklek!


"Assalamu'alaikum, pa..." Ucap Axell dan Dira yang nyaris bersamaan saat memasuki ruangan Mama Diva. Keduanya berjalan mendekat ke arah papa Pras yang sedang duduk di sofa yang memang tersedia di dalam ruangan tersebut. Masih dengan tangan yang saling bergandengan satu sama lain. Dan hal itu tak luput dari pandangan papa Pras. Seketika seulas senyum muncul di wajah papa Dira itu.


"Wa'alaikumusalam..." Jawab Papa Pras yang kini reflek menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "... masih jam segini, kok kalian sudah pulang?" Tanya papa Pras bingung. Pasalnya masih ada waktu dua jam lagi untuk keduanya mengikuti pelajaran di sekolah milik besannya itu. Tapi kenapa keduanya bisa berada di rumah sakit sekarang.


"Axell free class, pa. Jadi Axell langsung ajak Dira kesini. Soal sekolah Dira, papa tenang saja!" Jawab Axell sopan. Sementara Papa Pras hanya mengangguk mengerti.


"Pa ..." Panggil Dira lirih, bermaksud agar tidak sampai mengganggu tidur mama Diva. "... LBP mama kambuh ya, pa? Pasti mama kesakitan banget tadi?" Ucap Dira dengan air mata yang sudah mulai mengalir di kedua pipinya.


Satu alis Axell terangkat mendengar apa yang baru saja Dira katakan.


'LBP? Low back pain?'


Monolog Axell dalam hati. Kini pandangan Axell beralih menatap mama Diva yang terbaring di atas brankar.

__ADS_1


Papa menghela nafas pelan, "Iya, sayang. Tadi waktu papa meeting di kantor, bi Sumi telepon dan bilang kalo mama jatuh di kamar mandi." Jawab papa Pras sambil mengusap pelan puncak kepala Dira.


"Pasti mama kesakitan tadi." Ucap Dira. Gadis itu sudah bisa menebak, seperti apa reaksi mama Diva jika penyakit LBP yang dideritanya sedang kambuh. Dira masih bisa mengingat saat beberapa waktu lalu, dimana Dira belum menikah, Dira sempat dibuat terkejut saat mendapati sang mama tiri yang begitu kesakitan karena penyakitnya itu.


Papa Pras mengangguk, "Dokter tadi sampai harus menyuntikkan dua kali obat anti nyeri." Ucap papa Pras memberitahu.


Tak menjawab, kini pandangan Dira beralih pada Mama Diva. Dapat ia lihat, Mama Diva yang tertidur dengan begitu lelapnya di sana. Kini gadis itu menarik nafas lega.


"Oh ... iya, kalian sudah makan?" Tanya papa Pras pada anak serta menantunya itu.


"Dira masih kenyang, pa. Tadi Dira makan bakso di kantin sekolah. Kalo kak Axell ..." Dira beralih menatap ke arah suaminya. "... belum makan, pa." Jawab Dira.


"Ya udah, kalian makan dulu! Biar papa yang jaga mama!" Titah papa Pras.


Dira mengangguk setuju, "Ayo, kak. Kak Axell belum makan kan tadi?" Ajak Dira pada Axell.


"Nanti, Yang. Aku masih belum mau makan." Jawab Axell cepat. Laki-laki itu tengah mengutak-atik ponselnya. Detik kemudian Axell menyerahkan ponselnya pada Dira. Dira mengerutkan dahi, tapi juga langsung menerima ponsel Axell.


"Tugas dari pak Dhana." Jelas laki-laki itu.


"Kenapa, kok manyun gitu sih, Yang?" Tanya Axell yang malah jadi gemas sendiri.


Diam-diam papa Pras kembali tersenyum dalam hati. Melihat interaksi antara anak dan menantunya yang sudah terlihat dekat. Sangat jauh sekali seperti saat di awal mereka menikah yang bahkan hanya bicara seperlunya saja. Kini perasaan papa Pras menjadi lega sekarang. Karena papa Pras sempat merasa khawatir dengan pernikahan sang putri dengan anak sahabatnya tersebut. Pasalnya Dira yang sulit membuka diri, akan berakhir dengan meminta perceraian. Itu hal yang papa Pras takutkan.


"Pak Dhana nggak pernah tanggungjawab kalo ngasi tugas, kak." Jawab Dira frustasi.


Bukannya merasa iba, Axell malah tersenyum senang mendengar jawaban dari istrinya itu. Dira sekarang sudah mulai tidak merasa canggung untuk mengatakan apa yang membuatnya tidak nyaman.


"Nanti aku bantu kerjain tugasnya, Yang."


...***...

__ADS_1


"Dira...!" Panggil seorang cowok yang berdiri tak jauh dari posisi Dira duduk sekarang ini. "... kok Lo bisa ada disini, sih?" Tanya cowok yang sedang berjalan ke arah Dira tersebut.


Dira langsung menoleh saat mengenali suara yang sudah tahu pasti siapa pemiliknya. Dan ia langsung berhadapan dengan seorang Arfen Arsetya Restu yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


Deg.


Jantung Dira tiba-tiba terpompa lebih cepat. Bukan karena perasaannya yang sempat tertanam pada laki-laki itu yang tiba-tiba muncul di hadapannya, setelah beberapa lama tidak bertemu. Bukan sama sekali. Bahkan Dira yakin perasaannya terhadap Arfen sudah benar-benar hilang dan sekarang murni hanya sebagai sahabat.


Perasaan Dira berubah jadi tidak karuan karena mengingat ia yang tak sendiri disini. Melainkan dengan Axell. Laki-laki itu sedang mengambil laptop yang ia tinggalkan di dalam mobil dan meninggalkan Dira sendiri di bangku taman rumah sakit setelah mereka makan di kantin tadi.


Ya, Dira tak ingin Axell salah paham padanya nanti dan dengan melihat dirinya yang sedang bersama dengan Arfen sekarang.


"Dira! Kok malah bengong, Lo sakit?" Tanya Arfen lagi. Merasa apa yang dikatakan tak kunjung mendapat jawaban dari Dira, kini tangan Arfen terangkat untuk menempelkan punggung tangannya pada kening gadis itu. "Nggak panas." Ujarnya lagi.


"Gue disini karena mama Diva lagi sakit." Jawab Dira saat tersadar dari pikirannya. Dira bahkan kini celingukan mencari sang suami sekarang.


"Tante Diva sakit?" Tanya Arfen terkejut.


Dira mengangguk, "LBP mama kambuh gara-gara jatuh di kamar mandi." Jawab Dira yang kini mulai mengutak-atik ponselnya. Seperti apa yang dikatakan Axell beberapa waktu yang lalu. Dan kini Dira tengah mencoba menelpon Axell dan mengatakan kalau ia sedang bersama dengan Arfen sekarang. Dira tak ingin Axell kembali marah karena salah paham padanya.


Arfen mengangguk mengerti, "Terus Lo disini sama siapa?" Tanya Arfen ingin tahu. Karena setelah mendengar cerita dari Nayla yang mengatakan kalau Dira tak pernah lagi pergi sendiri selain dengan Axell sekarang semenjak berpacaran dengan laki-laki itu. Tapi, dari yang Arfen lihat sekarang, ia sama sekali tak mendapati adanya Axell di sekitar Dira.


"Sama gue." Sahut seseorang yang baru saja muncul entah dari mana. Ya, Axell. Laki-laki itu tiba-tiba saja muncul dan berdiri tak jauh dari Dira dan Arfen duduk sekarang.


Dira yang mendengar suara Axell langsung menoleh ke belakang. "Kak Axell ... baru aja aku mau telpon tadi."


Axell tersenyum samar saat melihat layar ponsel Dira yang memang tengah menghubunginya saat ini. Dira benar-benar menuruti perintahnya dimana Dira yang harus menghubunginya kalau sedang bertemu dengan sahabat tapi sukannya Dira itu.


Merasa senang dengan apa yang sang istri lakukan, tangan Axell terangkat untuk mengacak pelan rambut Dira sekaligus sebagai pengingat untuk laki-laki yang duduk tak jauh dari posisi Dira saat ini, kalau hanya ialah pemilik dari sang gadis.


"Maaf, Yang. Lama, ya..." Ucap Axell menjeda kalimatnya. "Tadi bunda telpon ..." Ujar Axell yang kini beralih menatap Arfen tak suka.

__ADS_1


"Bunda tanya, kamu nanti pulang ke apart, atau ke rumah?" Sambung laki-laki itu dan sukses membuat satu alis Arfen menukik ke atas.


'Bunda Resty? Mereka udah sedekat itu?'


__ADS_2