
"Kenapa nutup mata? Lo berharap sesuatu terjadi antara gue sama Lo abis ini ..." Axell mendengus, "... jangan bermimpi, Nona muda!" Ucap Axell masih dengan posisi mengungkung Renata.
Mata Renata kembali terbuka seketika setelah mendengar ucapan barusan.
Ucapan Axell terdengar begitu merendahkannya.
"... Lo tau, Re? Yang ada gue makin muak sama Lo ... Gue benar-benar muak sama tingkah dan kelakuan Lo!"
"Xello!" Teriak Renata.
Axell menatap Renata tajam, rahangnya mengatup rapat. Lalu tak lama setelahnya ia kembali berucap, "Nggak munafik. To be honest, dulu gue sempat dibutakan... Gue sempat terpuruk waktu Lo pergi tinggalin gue ..." Axell menggeleng pelan, ia geli sendiri kalau mengingat, betapa dia bisa segila itu mencintai seorang gadis bernama lengkap Renata Isabella Mahaputri - gadis yang sekarang ini dalam Kungkungannya itu.
"... Tapi gue ngerti, jodoh itu cerminan dari diri sendiri. Dan sekarang gue sadar, ternyata dulu itu gue salah pilih ..."
Axell tersenyum miring, "... Nyatanya Tuhan udah nyiapin jodoh buat gue. Dan itu jauh lebih baik di bandingkan sama Lo ... Sorry! Gue sama sekali nggak nafsu sama seorang pembunuh. Meskipun Lo dalam keadaan nak*d depan gue sekalipun." Ucapnya lalu bangkit dari posisi mengungkung Renata.
'Pembunuh? Apa tadi? Xello bilang Pembunuh? Apa maksudnya? Gadis itu ... nggak mungkin mati, kan?'
Wajah Renata masih tetap menatap lekat wajah Axell, seakan meminta penjelasan. Tentang apa maksudnya dia bilang pembunuh barusan. "Maksud Lo ap -
"Gara-gara perbuatan Lo ke Dira, calon anak gue pergi. Lo udah bunuh calon anak gue dan Dira, Renata!" Ucap Axell marah.
Duarrrr!
'Calon anak?'
"Apa?" Renata benar-benar terkejut mendengar kabar Dira hamil. "... Calon anak -
"Ya. Calon anak. Dira lagi hamil anak gue. Dan gara-gara Lo, Dira - istri gue, keguguran. Dan sekarang, gue datang kesini untuk menuntut balasan atas apa yang udah Lo lakuin. Lo dan juga keluarga Lo ... akan membalas semuanya!"
"T-Tapi, Xell -
Tak ingin mendengar, Axell langsung mengangkat satu telapak tangannya.
"Cukup! Gue nggak mau dengar apapun. Sudah cukup main-mainnya, Re. Kali ini gue serius dan bukan sekedar ancaman." Axell langsung menarik ikat pinggang yang masih melekat pada pinggangnya. Dan,
Srreeettt!
"Arrgghh!!"
...***...
Axell berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga dengan tangan yang sibuk kembali mengancingkan kemeja yang tadi sengaja ia buka semua kancingnya. Di susul Zaki yang tersenyum puas di belakang ketua OSIS tersebut.
__ADS_1
Melihat Axell yang berjalan mendekat padanya, Bastian mulai beranjak dari duduknya. Lalu dengan begitu santainya, mereka bertiga berjalan keluar rumah tersebut dengan tanpa beban.
Dan Bik Surti yang melihat hal itu pun jadi bingung sendiri dan bertanya-tanya, bukankah mereka tadi cuma berdua? Lalu siapa yang berjalan di belakang Axell tadi? Tidak biasanya Axell pergi tidak pamit dan juga ... Axell terlihat terburu-buru dan berantakan. Berbeda saat ia baru datang tadi.
Sebenarnya apa yang terjadi? Monolog bik Surti penasaran.
Lalu samar-samar Bik Surti mendengar teriakan dari atas, tepatnya dari kamar Renata sang nona muda.
Bik Surti langsung naik ke atas untuk melihat keadaan nona mudanya itu.
Saat Bik Surti sampai di kamar Renata, betapa terkejutnya ia mendapati sang nona muda, dalam keadaan tidak baik-baik saja dan bahkan hampir melukai dirinya sendiri dengan cara memotong urat nadinya.
"Ya Allah, Non. Jangan!" Teriak bik Surti yang langsung dengan sigap merebut pisau cutter yang sedang Renata genggam. "... Apa yang terjadi, non?"
...***...
"Eh, Jack! Lo bisa diem nggak?! ketawa Lo itu bikin gue nggak bisa konsen nyetir, Njir!" Protes Bastian dari balik kemudi.
Jika tadi ketiga cowok tersebut pergi ke rumah orang tua Renata dengan Zaki sebagai driver-nya, maka sekarang giliran si tengil Babas yang mengemudi.
Melihat kondisi Axell yang sedang mengeluarkan tanduknya, alias sedang marah mode on, Bastian dan Zaki sepakat untuk tidak membiarkan suami dari Dira itu menyetir mobil.
Bukannya sampai dengan aman, yang ada mereka malah nggak sampai ke tujuan dengan keadaan baik.
Kenal lama dengan Axell membuat mereka semua tahu, kalau Axell adalah seseorang dengan pengendalian emosi yang buruk.
Sebelumnya, ketiga cowok tadi saling diam satu sama lain. Sampai pada akhirnya Zaki terkikik sendiri dengan layar ponsel di genggamannya.
Entah apa yang sedang manusia satu itu lihat pada benda pintar miliknya tersebut? Tapi yang pasti, hal itu berhasil membuat Bastian jadi tidak konsen dalam hal mengemudi.
Bastian yang memang dasarnya tukang kepo maksimal jadi ngedumel sendiri, perihal kenapa harus Ia yang menjadi sopir sekarang ini? Ini kan mobil punya Zaki, harusnya dia kan yang mengemudi?
Padahal saat masih di rumah Renata tadi, mereka sudah sepakat kalau Bastian yang akan mengemudikan mobil saat mereka kembali ke rumah sakit.
Zaki yang kebetulan sedang duduk sendirian di belakang menatap Bastian sekilas. Ia berdecak kesal karena Bastian mengganggu kesenangannya.
"Cckk. Yang harusnya diam di sini itu Lo karena Lo lagi nyetir, bukan lagi main gundu. Harusnya Lo itu fokus! Jangan peduliin gue. Jadi Pak sopir ... mending dari pada Lo ngomel-ngomel nggak jelas, mending Lo nyetir aja yang bener! Biar kita bisa cepat-cepat sampai ke rumah sakit. Siapa tahu Dira udah sadar?" Protes Zaki panjang lebar.
"Bangs*d!" Umpat Bastian kesel. Bisa-bisa Zaki memanggilnya pak supir.
Tak menjawab, Zaki hanya tersenyum. Siapa suruh Bastian memangil dirinya 'Jack' tadi?
Jangan tanyakan Axell. Laki-laki itu betah untuk diam karena pikirannya hanya tertuju untuk sang istri sekarang ini. Ia sama sekali tidak tertarik untuk menyimak pertengkaran antara Bastian dan Zaki.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, mobil yang membawa Axell, Zaki dan juga Bastian tadi sudah kembali memasuki kawasan rumah sakit di mana Dira berada sekarang ini.
Saat sampai di lobby, Axell nampak melihat adanya Pak Septa yang sedang berdiri tak jauh dari langkah kakinya sekarang.
Pak Septa sedikit menundukkan kepala saat Axell berhenti tepat di depannya.
"Ada apa, Pak Septa?" Tanya Axell pada asisten ayahnya tersebut.
"Saya di minta untuk menunggu kedatangan Anda, tuan muda. Nona muda sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Mari, saya antarkan." Jawab Pak Septa.
Axell mengangguk. Lalu berjalan di samping pak Septa, masih dengan Zaki yang berjalan di belakangnya.
Sementara Bastian, ia masih harus memarkirkan mobil Zaki terlebih dahulu.
Ceklek!
Pak Septa mengetuk pintu ruang rawat Dira. Lalu membukanya dan mempersilahkan Axell untuk masuk terlebih dahulu.
"Boy. Kamu dari mana? Kenapa pakaianmu jadi berantakan seperti ini?" Ucap bunda Resty yang panik melihat tampilan dari putranya itu.
'Apa yang sudah Axell lakukan?'
Saat Axell meninggalkan rumah sakit tadi, ia masih terlihat begitu rapi. Lalu sekarang, bajunya terlihat kusut dan entah kemana dasi yang tadi melilit di leher anak laki-lakinya itu?
Axell mendekat pada Bunda Resty dan mencium punggung tangan sang bunda saat setelah mencium tangan Ayah Marvellyo terlebih dahulu.
"Gimana keadaan istri Axell, Bun?" Tak menjawab, Axell malah melontarkan pertanyaan pada sang bunda.
"Dira belum sadar, boy. Dira masih dalam pengaruh obat bius." Jawab bunda Resty sambil menatap wajah Dira yang masih terlihat begitu pucat.
"Obat bius?" Ulang Axell. Ia sama sekali tak paham. Kenapa istrinya itu harus di beri obat bius? Begitu pikirnya.
"Istrimu tidak apa-apa, boy. Sebentar lagi Dira pasti akan sadar. Tadi dia baru selesai di kuretase." Ucap Ayah Marvellyo.
Axell menatap ayahnya serius, lalu kembali menatap sang bunda.
Bunda Resty beranjak dari duduknya, ia menepuk pelan pundak Axell. "Tenang, boy! Ini biasa di lakukan pada mereka yang baru saja mengalami keguguran ..." Pandangan bunda Resty kembali menatap Dira. "... Tujuannya untuk membersihkan jaringan yang tersisa di dalam rahim untuk mencegah perdarahan berat ..." Ucap bunda Resty memberikan pengertian pada sang putra. "... Semuanya akan baik-baik saja!"
Axell menghela nafas. Ia menatap wajah sang istri yang masih pucat itu.
Axell sama sekali tak pernah berpikir, kalau kejadian seperti ini akan terjadi menimpa istrinya.
Tangan Axell kembali mengepal kuat saat ia kembali teringat kalau Dira keguguran. Dan hal itu akibat ulah dari mantan kekasihnya sendiri.
__ADS_1
'Jadi ... apakah ini arti dari mimpi gue semalam?'