Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
137. Mimpi aneh Axello.


__ADS_3

Seorang gadis berjalan gontai menaiki anak tangga rumahnya. Tatapan gadis itu kosong dengan pikiran yang bercabang. Ia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar. Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh sahabat kakaknya seperti terus terngiang-ngiang di telinganya.


'Gue curiga mereka tinggal bareng...'


'Gue terlalu sering mergokin mereka berdua keluar masuk apartemen ini...'


'Xello bukan lagi cowok yang Lo kenal dulu, Re...'


'Dia udah banyak sekali berubah...'


'Dia bahkan udah pernah sampai mukulin gue gara-gara tuh cewe...'


'Bahkan si Xello sampai bilang kalo mereka udah nikah...'


'Seposesif itu dia sama tuh cewe...'


'Bahkan ngelebihi jaman sama Lo dulu...'


'Gadis yang sering Abang Lo ceritain, gadis yang begitu ia suka, gadis yang akan dia banggakan kalo berhasil dapetinnya ... dia Dira, pacar mantan Lo...'


'APA? Jadi cewe itu -'


'Ya, Lo tau kan sekarang, kakak Lo udah lama suka sama Dira...'


'Cewe yang pengen Nicholas kenalin kalo Lo pulang ke Indo, orang yang bikin Abang Lo pengen cepet-cepet lulus kuliah agar bisa nikah sama cewe itu ... ya, Andira... dia cewe itu.'


Ceklek!


Suara pintu terbuka, terperangkap di pendengaran gadis itu dan berhasil membuatnya menoleh seketika.


Tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Gadis yang tak lain adalah Renata itu melihat salah satu ART yang bekerja dirumahnya - keluar dari ruang kerja papanya, dengan sebuah nampan kosong di tangannya.


"Bi..." Panggilnya pada sang ART.


Wanita berusia sekitar 60 tahunan itu menoleh setelah menutup pintu. Ia mengangguk pada nona muda di rumahnya berkerja dan berjalan mendekat.


"Iya, non. Kok Enon baru pulang jam segini?" Tanya sang ART yang biasa di panggil bi Surti itu.


"Tadi maen dulu. Kak Nicho, ada di dalem, bi?" Tanya Renata pada bi Surti.


"Iya, non. Lagi ngerjain sesuatu kayaknya, non. Wajah den Nicholas serius banget keliatannya." Jawab bi Surti memberitahu.


"Ya udah, bi." Gadis itu lalu berjalan mendekat ke pintu ruang kerja sang papa di mana kakaknya berada sekarang.

__ADS_1


Tok...


Tok...


Tok...


"Kak ... kak Nicho ..." Panggil Renata dengan tangan sambil mengetuk pintu. "... Rere masuk, ya, kak?"


"Masuk, Re!"


...***...


"Iya, Mel ... nggak pa-pa. Thank's, ya!"


"Beneran nggak pa-pa? Terus, kak Bastian?"


"Dia emang udah tau, kok. Kak Axell yang emang sengaja ngasih tau dari lama."


"O ... Terus, kak Verrel ... dia juga udah tau?"


Dira menggeleng, "Kak Axell belum kasih tau kak Verrel."


"Jadi cuma gue sama kak Bastian yang tau status Lo sama kak Axell yang sebenarnya?"


Melody nampak mengangkat kedua alisnya, "Lo masak sendiri. Oh, ya udah kalo gitu. Sorry ganggu waktu Lo, Dir."


"Nggak pa-pa kali, Mel ... santai aja. Ya udah, bye!" Dira melambaikan satu tangannya, begitu juga Melody di sembarang sana, juga ikut melambaikan tangannya pada Dira. "Bye...". Dan,


Tuutt...


Menggelaplah layar ponsel milik Dira.


Sebelumnya, keduanya tadi sedang berbicara melalui sambungan video call. Melody yang menelpon lebih dulu untuk meminta maaf pada Dira. Perihal ia yang tidak bisa mengantarkan tas sekolah milik Dira karena Bastian yang ngotot ingin mengantarkannya sendiri. Dengan alasan mau nganterin tas sekolah milik Axell sekalian.


Setelah Dira kembali meletakkan ponselnya di atas meja, Tiba-tiba Dira merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Dan tak perlu bertanya siapa? Dira sudah bisa menebak, siapa pemilik sepasang tangan kekar itu.


"Udah selesai teleponnya, Yang? Kita cari makan, yuk! Aku lapar." Ajak Axell sambil sesekali mengecup pundak Dira yang tertutup kain kaos.


"Kakak udah nggak pusing? Delivery order aja, ya? Takutnya nanti kak Axell pusing lagi." Jawab Dira yang menolak ajakan sang suami untuk makan diluar. Dira ingat, sore tadi suaminya itu masih mengeluh pusing di kepalanya.


Axell menggeleng. "Aku pengen makan di luar, Yang." Jawab Axell yang kini malah beralih mengecup leher jenjang milik Dira.


Dira sedikit mendongak ke atas, seakan membiarkan Axell melakukan kesukaannya, "Ya udah ... Sshh... Tapi - kalo kayak gini, kayaknya kita malah nggak jadi makan diluar, kak."

__ADS_1


Mendengar ucapan sang istri, Axell refleks menghentikan aksinya. "Okay, let's recharge energy first. Only after that we continue."


...***...


"Kak Axell ... kak Axell kenapa?" Gumam Dira lirih. Ia tiba-tiba dibuat panik. Dira tadi tidur dengan sangat nyenyak sebelum akhirnya terusik dengan gerakan-gerakan disampingnya. Dan saat Dira berhasil membuka mata, Ia di buat terkejut dengan teriakan dari Axell, lalu laki-laki itu terbangun setelahnya.


Axell terbangun dengan posisi duduk. Ia terlihat begitu gelisah dan ... Entah. Nafasnya juga terengah-engah dengan keringat dingin yang membanjiri dahi, sekitar wajah dan lehernya.


Dira mengrenyitkan dahinya bingung. Bukankah ini sangat aneh? Suhu kamar terbilang dingin sekarang ini karena AC yang menyala. Ditambah mereka tidur dalam keadaan hanya berbalut selimut tanpa pakaian yang membungkus tubuh masing-masing. Karena setelah pergulatan panas yang mereka lakukan semalam, keduanya tidak sempat saling membersihkan diri karena sama-sama kelelahan. Lalu tertidur tak lama setelahnya.


Jadi, bukankah seharusnya Axell merasakan dingin? Kenapa ia malah berkeringat begini? Apa mungkin dia baru saja mimpi buruk?


"Kak Axell kenapa? Kak Axell mimpi buruk?" Tanya Dira memastikan dugaannya. Melihat gelagat Axell, mungkin suaminya itu mimpi buruk tadi.


Tak langsung menjawab, Axell nampak mengusap keringat yang keluar di dahi dengan satu telapak tangannya. Lalu menoleh ke arah Dira dan menggeleng. "Nggak pa-pa, Yang ..." Jawabnya. Lalu tangan satunya terangkat untuk menyunggar rambutnya kasar.


Mimpinya tidak buruk. Tapi terkesan ... aneh.


"... Cuma mimpi biasa." Tambah Axell lagi.


Dira mengangguk, lalu bangun dan memunguti bajunya yang berserakan di lantai dan memakainya. "Aku ambilin minum dulu ya, kak." Ucap Dira pada Axell lalu keluar dari kamar.


Axell kembali diam tak menjawab. Ia menatap kepergian Dira sampai pintu kamar kembali tertutup. Ia sendiri tak mengerti dengan arti dari mimpinya tadi. Mimpi yang sangat-sangat aneh menurutnya. Dan Axell yakin, seumur hidup ia baru kali ini bermimpi seperti tadi.


"Tapi ..." Axell tak melanjutkan kata-katanya. Ia kembali mengingat sekelebat gambaran mimpi yang ia alami tadi. "... kenapa di mimpi itu ... gue bisa sebegitu marah?"


...***...


"Aku keluar dulu ya, kak." Ucap Dira berpamitan dengan sang suami. Axell mengangguk, lalu tersenyum. Tapi anehnya ia tak kunjung melepaskan tangan dari sang istri. "... Kenapa?" Tanya Dira dengan satu alis terangkat. Ia bingung, bukankah ia sudah mencium tangan Axell tadi?


Tak menjawab, Axell menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya. "Yang ini juga mau di pamitin, Yang." Ujarnya dengan nada yang tiba-tiba jadi manja.


Dira mengrenyit bingung mendengarnya. Tak biasanya Axell terlihat manja seperti ini. Dira lalu berdehem untuk menghilangkan keterkejutannya.


"Ekhm ... nanti kalo ada yang liat gimana? Masih pagi, kak Axell jangan aneh-aneh!" Ucap Dira tak habis pikir dengan Axell. Mereka sudah sampai diparkiran sekolah dalam keadaan yang sudah begitu ramai. Lalu kenapa suaminya ini malah minta cium? Tidakkah ia melihat keadaan sekitar?


"Cepetan makannya, Yang!" Ucap Axell terkesan menuntut tak sabaran. Dia bahkan tidak peduli sama sekali.


Dira menghela nafas pelan, lalu memperhatikan keadaan sekitar dan juga di depan sana. Memastikan tidak ada orang yang akan melihat aksinya ini. Lalu,


Cup...


Dira mengecup singkat bibir Axell. Mengundang senyum yang langsung muncul di wajah suami tampannya itu.

__ADS_1


"Udah. Aku keluar ya, kak."


__ADS_2