Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
65. Kecurigaan Bastian.


__ADS_3

"... O... iya, kak. Um... abis ini aku mau ijin keluar, boleh?" Tanya Dira sedikit ragu. Sebenarnya ia tahu, Kalau Axell tidak akan mengizinkannya keluar sendiri.


Axell menghentikan kunyahannya lalu menatap wajah Dira. "Mau kemana? Lo lagi janjian... sama sahabat tapi suka Lo itu?" Tanya Axell penuh selidik lalu melanjutkan makannya tanpa menunggu jawaban dari Dira.


Dira menggelengkan kepalanya cepat untuk menampik apa yang Axell katakan padanya tadi. "Nggak kok, kak... Kali ini beneran. Aku nggak lagi janjian ketemu sama dia. Aku cuma -..."


"Gue anter." Jawab Axell cepat lalu meneguk air yang tadi Dira siapkan untuknya.


"Tapi, kak. Aku cum -..."


"Gue anter, atau tidak sama sekali?" Ucap Axell memberikan pertanyaan.


Hening. Dira tengah menimbang penawaran yang Axell berikan. Mending di anterin kan dari pada nggak boleh keluar sama sekali?


"OK." Jawab Dira pasrah.


Mendengar jawaban Dira membuat Axell diam-diam tersenyum dalam hati. Detik kemudian ia berkata, "Mulai sekarang kalo mau keluar, harus bareng gue! Gue udah nggak ijinin Lo keluar bebas lagi. Gue nggak mau nanggung resiko, Lo yang tiba-tiba kambuh waktu nggak bareng gue ..." Ucap Axell tenang, tapi entah mengapa apa yang Axell katakan malah terdengar seperti peringatan untuk Dira.


"... Lo susah dibilangin. Jadi gue harus mulai tegas sama Lo. Jadi sekali lagi Lo berani langgar gue... Siap-siap Lo ngasih cucu buat ayah sama bunda dalam waktu dekat ini." Ucap Axell sambil menghabiskan sisa air dalam gelas miliknya tadi.


Deg...


'Gue boleh lari aja, nggak? Please, gue belum siap.'


"Apa Lo tau, Dir... Waktu gue telpon Lo dan ternyata cowo lain yang angkat telponnya, Gue ngerasa kayak di bohongin, waktu gue tau kalo ternyata Lo lagi sama dia, sahabat tapi suka Lo itu. Gue masih ingat, sebelumnya Lo bilang kalo Lo mau pergi sama Nayla. Dan ternyata... apa?"


"Tapi kak... aku beneran nggak sengaja ketemu sama di -..."


"Tapi kenyataannya tetep ketemu kan? Seharusnya waktu itu Lo bisa ngehindar, atau nggak Lo telepon gue, biar langsung gue jemput..." Ucap Axell sambil meraih tissue untuk membersihkan sisa makanan di bibirnya.


"... Kalo aja waktu itu Lo nggak lagi pingsan, gue udah pasti hukum Lo." Lanjutnya lalu bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar.


Dira diam. Bagaimana pun juga, ia merasa bersalah dalam hal ini. Apa yang Axell katakan memang benar. Seharusnya ia menghubungi laki-laki itu dan mengatakan kalau ia bertemu dengan Arfen agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Meskipun ia benar-benar tidak sengaja bertemu dengan Arfen disana. Tapi tidak dengan sudut pandang Axell. Karena laki-laki itu yang memang tidak melihat kejadiannya secara langsung. Jadi wajar kalau Axell berpikir lain.


Dira lalu membereskan meja makan dan mencuci piring bekas makan dia dan Axell tadi. Selesai dengan urusan di dapur, Dira lalu pergi ke kamar untuk bersiap pergi. Sementara Axell sudah menunggunya di depan tv.


Dua puluh menit kemudian, Dira keluar dari kamar dan menghampiri Axell yang sedang mengetikkan sesuatu pada ponselnya.


"Dir..." Panggil Axell dengan wajah yang masih menghadap pada benda pipih di genggamannya.


"Iya, kak." Jawab Dira yabg masih menunggu apa yang akan Axell katakan padanya.


"Kita tunda dulu perginya... Lo ngumpet!" Jawab Axell dengan menatap ke arah Dira.


Dira mengernyitkan dahinya bingung, kenapa ia harus sembunyi?


"Ngumpet? Tapi kenapa harus ngumpet, kak?" Tanya Dira tak mengerti.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Axell langsung menghadapkan ponselnya ke arah Dira dan menunjukkan sebuah pesan yang baru saja ia terima dari salah satu sahabatnya.


📥 Verrel ZM.


Lo dimana?


Bastian ngeyel mo ke apart Lo sekarang?


Dia mo mastiin kalo Lo lagi ga bareng Dira.


Kek nya Bastian udah tau Lo bdua pacaran.


Kalo Lo beneran lagi bareng Dira, suruh dia ngumpet!


Atau ga cepet bawa dia pergi lewat tangga.


Ting...


Satu pesan kembali masuk dari nama yang sama.


📥 Verrel ZM.


Buru, Xell!


Gue udah di basseman apart Lo.


Mata Dira membola seketika setelah membaca pesan yang Verrel kirimkan.


"Nggak, kak. Gimana kalo kak Bastian maksa masuk kamar?" Tolak Dira cepat. "Um... aku turun aja."


"Kalo Lo turun, Lo bisa ketemu mereka." Jawab Axell.


Dira menggeleng, "Aku bisa lewat tangga, kak." Jawab Dira. Gadis itu lalu bergegas keluar dari apartemen Axell dan pergi ke apartemennya.


Axell terus memperhatikan punggung Dira yang menghilang di balik pintu. Ingin sekali ia memberitahu kepada kedua sahabatnya kalau ia dan Dira sudah menikah. Tapi, apa mungkin Dira bersedia jika teman-temannya tahu tentang hal ini.


Axell membuang nafasnya kasar. Bagaimana pun juga ia harus menghargai keputusan Dira. Axell lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan mata terpejam. Ia sedang membayangkan bagaimana reaksi dari Bastian kalau saja dia tahu yang sebenarnya.


Tok...


Tok...


Tok...


Mendengar pintu apartemennya di ketuk seseorang, sudah bisa Axell tebak siapa yang tengah berada di balik pintu sekarang. Dengan malas, Axell bangkit dari sofa untuk membukakan pintu untuk kedua sahabatnya itu.


Ceklek...


Bukannya menyapa, Axell malah melayangkan tatapan horor ke arah Bastian. Sementara Verrel hanya terkekeh pelan melihat reaksi yang ia tunjukkan pada Bastian.

__ADS_1


"Halo, Brodie... Kenapa Lo nggak masuk?" Tanya Bastian yang langsung nyelonong masuk tanpa menunggu jawaban dari Axell.


"Ck. Kalian kenapa datang kesini?" Tanya Axell sambil berjalan ke sofa dan duduk di sana, membiarkan Verrel yang masih berada di ambang pintu tanpa menyuruhnya masuk.


Melihat Axell dan Bastian yang sudah mendaratkan bokongnya masing-masing di atas sofa membuat Verrel mengikuti mereka setelah menutup pintu apartemen terlebih dahulu.


"Lo belum jawab pertanyaan gue, Xell." Ujar Bastian.


"Ada urusan." Jawab Axell malas.


"Urusan bareng cewe?" Tanya Bastian lagi.


Tak langsung menjawab, Axell malah menatap Bastian datar. "Kenapa Lo kepo?" Tanya Axell balik.


"Tinggal jawab doang, apa susahnya?" Protes Bastian.


"Jawabnya, iya... Gue emang lagi bareng cewe tadi." Jawab Axell pada akhirnya.


"Bener kan dugaan gue. Berarti Lo lagi bareng bidadari gue tadi, ngaku nggak Lo, Xell!?" Tanya Bastian sedikit ngegas.


Axell tak langsung menjawab, malah menatap Verrel dan Bastian bergantian. "Lo mau tau jawabannya?" Tanya Axell balik.


Sementara Verrel, ia diam tak bersuara. Ia lebih tertarik untuk menyimak kedua sahabatnya ini. Dan juga ia penasaran dengan Axell. Apakah sahabatnya itu akan benar-benar mengakui hubungannya dengan Dira.


"Ya iyalah. Gue kan kesini cuma mau mastiin, kalo Lo bener-bener lagi nggak bareng bidadari gue..." Jawab Bastian tak sabaran.


"... Lo berdua kompak banget nggak masuk sekolah hari ini. Dan gue baru nyadar, ini bukan untuk yang pertama kalinya kalian nggak masuk sekokah bareng. Macam janjian." Sambung Bastian di sertai dengan cibiran yang keluar dari mulut cowok tengil itu.


"Gue abis bareng cewe gue, dan yang pasti... dia bukan BIDADARI LO, NGERTI?!" Jawab Axell dengan penekanan di akhir kalimatnya. Sungguh, lama-lama Axell jengah mendengar Bastian menyebut Dira sebagai bidadarinya. Padahal sudah jelas-jelas Dira adalah istrinya.


'Gimana reaksi Lo, Bas. Kalo Lo tau... gadis yang sering Lo sebut-sebut bidadari Lo itu tak lain adalah istri gue sendiri?'


"Wah... wah... wah... seorang Axello bolos hanya demi ketemu sama ceweknya, bro!" Ucap Verrel sambil menggelengkan kepalanya. "... Gue jadi bingung, ini peningkatan atau penurunan?"


"Dua-duanya." Sahut Axell cepat.


...***...


Seorang gadis tidak sengaja bertabrakan dengan seorang cowo didepan sebuah mini market.


"Oh... I'm sorry, girl. I didn't see you earlier!" Ucap seorang cowo sambil ikut membantu gadis di depannya untuk mengumpulkan barang belanjaannya yang tercecer di jalan.


"It's okay." Jawab gadis itu singkat lalu berdiri.


"You so beautiful, girl. But, wait... " Ucap cowo itu menggantung. "... I think i've see you."


Gadis itu nampak mengernyitkan dahinya bingung. Menurutnya ia sama sekali belum pernah menjumpai laki-laki di depannya ini.


"Dira..." Panggil laki-laki itu. "... ah iya, nama Lo... Dira kan?" Tebak cowo itu dengan yakin.

__ADS_1


Ya, gadis itu adalah Andira. Dan sekarang dahinya kembali berkerut. Ia semakin kebingungan dengan laki-laki di depannya ini. Darimana dia tahu namanya? Sampai sekarang Dira masih yakin kalau ia sama sekali tidak pernah mengenal laki-laki itu sebelumnya.


Karena merasa tebakannya benar, cowo tadi mengulas senyum lalu mengulurkan tangannya pada Dira. "O... iya, sorry, Lo jadi bingung kayak gini... Kenalin, gue..."


__ADS_2