Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
128. Aneh.


__ADS_3

Axell memasuki kamar dengan membawa Kompresan dan salep memar di tangannya. Ia mendapati Dira yang tengah duduk diam di atas sofa. Laki-laki itu berjalan mendekat dan duduk tepat di samping sang istri. Ia raih dagu istrinya itu pelan untuk melihat dengan jelas bekas tamparan yang Renata berikan pada istrinya. Dari melihat bekas kemerahan di pipi Dira, Axell dapat melihat dengan jelas tamparan yang Renata berikan tidak main-main. Pipi istrinya itu memerah dan bengkak.


Hening. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Jika Dira, ia begitu menyesalkan dirinya yang begitu lemah. Bahkan untuk membela dirinya sendiri saja ia tidak bisa. Sementara Axell, ia mengrutuki dirinya sendiri yang terlalu lama meninggalkan sang istri sendiri tadi. Kalau saja ia tidak terlalu lama berada di apartemen Dira, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi.


Dengan pelan Axell, mengompres bekas tamparan yang Renata berikan di pipi Dira. Sambil sesekali memperhatikan wajah sang istri yang nampak sesekali meringis menahan sakit.


Tangan Axell satunya mengepal kuat, dalam hati ia menggeram tatkala kembali mendengar istrinya itu meringis kesakitan.


"Kita kerumah sakit aja ya, Yang?" Ajak Axell pada akhirnya karena tak ingin melihat Dira yang semakin kesakitan.


Dira langsung menoleh ke arah Axell dengan pandangan yang, entah, Axell tidak bisa mengartikannya. Lalu menit kemudian, ia menggeleng pelan.


"Nggak perlu, kak." Jawabnya pelan.


Axell menghela nafas pelan. Selesai mengompres pipi Dira, dengan sangat pelan dan hati-hati Axell mengoleskan salep memar pada pipi Dira.


"Ssshh..."


Sesaat Axell menghentikan pergerakannya saat mendapati istrinya itu kembali meringis menahan sakit. Laki-laki itu menjadi semakin bersalah, lagi-lagi ia lalai menjaga Diranya.


"Maaf, Yang!" Ujar Axell menggantung. Dira kembali menatap Axell. Ia menunggu apa yang akan suaminya itu katakan.


"... maaf karena aku yang lagi-lagi lalai jaga kamu." Lanjut Axell penuh sesal.


Dira menggeleng, "Bukan salah kak Axell, tapi aku yang nggak bisa jaga diri aku sendiri."


Axell berusaha tersenyum. Bagaimana pun juga, ia tetap merasa bersalah disini. Tangan kekar itu lalu terangkat untuk mengusap puncak kepala istrinya itu dengan sayang. "Tadi, selain di Jambak dan di tampar, kamu diapain lagi sama dia?" Tanya Axell pelan.


Lagi-lagi Dira menggeleng. "Hanya itu." Jawab Dira singkat.


"Sakit banget ya, Yang?" Tanya Axell lagi.


Sontak Dira langsung melayangkan tatapan tajam pada suaminya itu.


Bodoh. Pertanyaan bodoh. Untuk pertama kalinya, seorang Axello melakukan kebodohan.

__ADS_1


Jelas-jelas Axell melihat dengan kepalanya sendiri, betapa Dira yang meringis kesakitan saat Renata menarik rambutnya tadi. Dan juga, bekas tamparan Renata saja masih tergambar dengan jelas. Bengkak dan merah. Lalu, kenapa masih bertanya? Dasar!


Tiba-tiba Dira tersenyum, senyum yang sangat dipaksakan. "Kak Axell mau coba?" Tanya Dira dengan nada datar.


Axell tak langsung menjawab, ia tertegun dengan apa yang Dira katakan. "Kalau itu bisa bikin kamu lega dan bisa mengurangi rasa sakit kamu, lakuin, Yang!" Jawab Axell.


"Ya udah, sini! Aku mau Jambak." Ucap Dira.


Axell menurut. Laki-laki itu lalu menundukkan kepalanya di depan Dira dan menutup matanya, Bersiap dengan apa yang akan Dira lakukan padanya.


1 detik.


2 detik.


3 detik.


Axell tak kunjung merasakan apapun. Bahkan mata yang tadi sempat ia pejamkan untuk menerima apa yang akan Dira lakukan padanya kembali terbuka.


Laki-laki itu mengangkat kepalanya dan menatap Dira yang ternyata juga sedang menatap kearahnya.


"Jangan deket-deket lagi sama dia!"


"Iya -


"Aku nggak suka sama dia."


"Iya -


"Aku benci sama dia."


"Iya -


"Pokoknya aku nggak mau lihat kak Axell deket-deket lagi sama dia. Nggak boleh! Aku ngelarang!"


"Iya, Yang ... iya." Axell lalu memeluk Dira erat. Dalam hati ia bersumpah akan akan membalaskan apa yang sudah Renata lakukan pada Dira, istrinya hari ini.

__ADS_1


Tapi bukan dengan kekerasan. Axell pantang melakukan kekerasan pada perempuan. Itu ajaran yang Axell dapatkan dari bunda Resty. Axell akan membalas Renata dengan cara lain. Cara yang akan membuat mantan kekasihnya itu jera. Dan akan Axell pastikan agar Renata tak lagi mengusik kehidupannya dengan Dira.


...***...


Setelah selesai menggunakan seragam sekolah dengan rapi, kini Dira tengah duduk di depan meja rias. Ia tengah mengamati bekas memar yang masih sedikit nampak terlihat menghias di pipinya.


Dira lalu meraih foundation dan mengenakannya untuk menyamarkan bekas merah kebiruan tersebut. Menit kemudian senyum Dira mengembang saat melihat bekas memar itu tertutup sempurna.


Sentuhan terakhir, Dira akan membuat dirinya itu sewangi mungkin hari ini. Tangan putihnya lalu meraih sebuah botol kaca berbetuk, berisikan cairan parfum merek terkenal didalamnya. Parfum beraroma vanilla musk kebanggaannya.


Ia buka tutup botol kaca tersebut dan bersiap untuk menyemprotkan parfum ke beberapa titik di area tubuhnya. Tapi, tiba-tiba Dira menjauhkan botol tersebut serta menutup hidungnya rapat-rapat. Dengan gerakan cepat Dira menutup botol parfumnya itu dan kembali menaruh benda wangi tersebut jauh-jauh.


Entah datang dari mana, tiba-tiba rasa mual dan pusing datang dan bercampur menjadi satu. Dira benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya.


"Kamu kenapa, Yang?" Tanya Axell yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


Tak menjawab, Dira malah kembali meraih tisu di atas meja dan membungkus botol parfum tadi. Lalu berjalan mendekat ke arah tempat sampah yang berada di sudut kamar untuk membuang botol parfum tersebut.


"Eitts... Tunggu dulu, Yang!" Cegah Axell saat mengerti dengan apa yang akan istrinya itu lakukan. Laki-laki itu lalu mengambil alih botol parfum yang sedang Dira genggam. "... Kenapa di buang? Isinya bahkan masih banyak. Bukannya kamu suka banget ya, Yang, ama parfum ini?" Tanya Axell penasaran. Bahkan Axell baru saja membelikannya dua botol yang sama beberapa Minggu yang lalu.


Axell lalu membuka botol parfum tersebut dan menghirup aromanya dalam-dalam. Bahkan mata Axell sampai terpejam karena saking menikmati aroma parfum tersebut. Aroma yang sama dengan wangi yang selalu menguar jika ia berdekatan dengan sang istri.


"Aku nggak tahan baunya, kak ... baunya jadi aneh. Bikin aku tiba-tiba mual dan pusing." Jawab Dira yang kini cepat-cepat berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangannya, guna menghilangkan sisa bau parfum yang masih melekat di tangannya.


Mata Axell mengerjap beberapa kali sampai akhirnya terbuka sempurna setelah mendengar apa yang Dira katakan.


'Baunya aneh?'


"Enggak kok, Yang. Baunya masih sama seperti yang biasa kamu pakai. Bahkan aku suka wanginya ..." Ucap Axell yang tak sependapat dengan Dira. Laki-laki itu lalu mengarahkan botol parfum tersebut ke arah Dira. "... coba kamu cium, deh!" Ucap Axell agar Dira mau kembali mencium botol parfum tersebut. Axell pikir mungkin ada yang salah dengan indera penciuman Dira saat ini.


"Iihh... kak, jangan deket-deket! Aku bener-bener nggak tahan baunya. Baunya nggak enak!" Ucap Dira sambil kembali menutup hidung menggunakan telapak tangannya.


Axell menghela nafas pelan. Ia tak ingin memaksa Dira untuk memastikan penciumannya. Laki-laki itu lalu menyimpan kaca tersebut di dalam laci lemari.


"Aku pakai parfum kak Axell aja, ya?" Ucap Dira yang kini meraih botol parfum milik Axell. "... boleh kan, kak?"

__ADS_1


Dahi Axell mengrenyit, ia merasakan ada keanehan pada istrinya. Tapi tak lama kemudian ia tersenyum. "Iya boleh. Pakai mana yang kamu suka, Yang!"


__ADS_2