
Di suatu ruangan, nampak seorang cowok sedang melihat-lihat laporan keuangan dari kafe yang ia dirikan kurang lebih dua tahun lalu. Sudah hampir satu mingguan ini ia tidak datang ke kafe karena sibuk dengan sekolah dan juga pernikahannya. Siapa lagi kalau bukan Axello.
Axell begitu serius ketika membaca setiap laporan keuangan, mulai dari pendapatan, pengeluaran, keuntungan dan lain-lain. Sampai akhirnya ia teringat tentang apa yang sahabatnya katakan padanya tadi.
"Gue udah nggak mikirin, Lo. Buat gue semuanya sudah cukup. Sekarang gue udah punya tanggung jawab atas seseorang. Dan Lo... Gue udah nggak peduli lagi." Ujar Axell.
Ah... Apa tadi? Tanggung jawab? Ah iya. Axell ingat, sekarang ia sudah bukan laki-laki bebas lagi. Ia sekarang sudah berstatuskan suami orang. Menurutnya, sekarang masa lalu tidaklah penting lagi baginya.
Tiba-tiba saja Axell teringat tentang gadis itu, Dira, gadis yang baru sehari ia nikahi. Tadi ia sempat mendengar bi Sumi yang mengatakan takut Dira kecapekan dan berujung sakitnya kambuh.
'Memangnya, sakit apa dia?'Batin Axell bertanya.
Axell mendesah pelan, mengingat betapa Dira yang begitu tertutup padanya. Mengingat status keduanya yang sudah menjadi suami istri itu, seharusnya tidak ada hal yang perlu di tutup-tutupi bukan? Tapi Axell mengerti, dan ia tak ingin menuntut apapun disini. Lagi pula hubungan yang terjalin masih sangat baru. Wajar kalau Dira memilih untuk tidak menceritakan tentang hidupnya.
"Udah dua jam gue disini, gue harus pulang!" Putus Axell.
...***...
Saat Axell sampai di rumah, ia langsung memasuki kamar Dira yang sekarang menjadi kamarnya juga.
🎶 Terbangkan aku bersama laut biru...
Kepakkan sayap kecilmu tanpa pilu...
Aku tahu aku bukanlah seberapa....
Dibandingkan sanggar hatimu yang tulus dan membentang...
Saat baru memasuki kamar, samar-samar Axell mendengar suara merdu yang berasal dari balkon kamar. Axell mendekat ke sumber suara itu berasal.
Kubawa kau melintasi rasi bintang...
Pada malam yang dinginnya enggan hilang...
Genggam tanganku mari kita berlayar...
Kuberikan dekap penuh kehangatan yang menjalar...
Biarkan pikiran kita berbeda...
Yang penting dendangnya seirama...
Kita berlari bertengger berputar melintang-lintang...
Di langit yang sama kita satu jua hm ye...
Axell memperhatikan gadis yang tengah bernyanyi dengan begitu merdunya. Sungguh Axell sangatlah menikmati lagu yang Dira nyanyikan. Seakan menjadi lupa tentang apa yang Verrel katakan padanya tadi. Tiba-tiba seulas nampak jelas terlihat dari sudut bibir Axell.
Izinkan aku lafalkan kata cinta...
Agar semesta mendengar deru ombak...
Yang bergerak melintasi nadi kita...
Yang berdegup selagi kita tatap mata...
Sambil bercanda tawa...
Engkau berkata...
Biarkan pikiran kita berbeda...
Yang penting dendangnya seirama...
Kita berlari bertengger berputar melintang-lintang...
Di langit yang sama kita satu jua...
Satu...
Jua...
__ADS_1
Satu...
Jua...
Satu jua ye...
Lepaskan segala penatmu...
Menarilah bersamaku...
Janjikan kau bahagia...
Kan kugenggam cerita kita...
Biar menetap selamanya...
Biarkan pikiran kita berbeda...
Yang penting dendangnya seirama...
Kita berlari bertengger berputar melintang-lintang...
Di langit yang sama kita satu jua...
Di langit yang sama kita satu jua...
Tepat saat Dira selesai bernyanyi, ponsel Dira berdering. Dengan malas, Dira meraih ponsel yang ia letakkan di meja sampingnya.
📲 Nayla is Calling...
Bukannya langsung menerima telepon tersebut, Dira malah berpikir, jawaban apa yang akan ia berikan untuk pertanyaan yang akan Nayka tanyakan padanya.
"Halo, Nay."
"(....)."
"Gue lagi di rumah. Kenapa emang?"
"(....)." Tiba-tiba Dira menepuk jidatnya sendiri setelah mendengar apa yang di katakan Nayla. Dan hal itu pun tak luput dari pandangan Axell. Laki-laki itu nampak menarik satu alisnya seakan bertanya, Kenapa Dira menepuk jidatnya sendiri?
Axell menarik salah satu sudut bibirnya melihat kelakuan gadis yang baru satu hari ia nikahi itu. Kepalanya menggeleng pelan, saat ia tahu, Dira tengah berbohong pada sahabatnya sendiri.
'Lucu.' Batin Axell.
"Tenang Naylaku, zheyeng. Besok gue udah masuk sekolah kok."
"(...)."
"OK, bye..."
Tuutt... tuutt...
"Huuft... Hampir aja, kelepasan gue." Ucap Dira pelan sambil mengelus dadanya sendiri saat setelah panggilan telepon dari nayla itu berakhir. Lega sekali rasanya karena Nayla yang langsung percaya padanya.
"Ngapain?" Tanya Axell tiba-tiba dan sukses membuat Dira terperanjat kaget.
"Kak Axell." Lirih Dira sambil kembali mengelus dadanya.
"Sorry, Lo kaget, ya?" Tanya Axell yang merasa bersalah. Sementara Dira hanya menggeleng pelan.
"Papa udah pulang, Dir?" Tanya Axell ingin tahu. Tadi waktu pulang dari kafe, Axell langsung masuk ke kamar Dira. Dan tidak melihat adanya papa Pras.
"Nggak tau, kak. Gue dari tadi nggak keluar kamar." Jawab Dira.
"Ya udah. Nanti kalo papa udah pulang, kasih tau gue!" Ucap Axell lalu pergi ke kamar mandi.
"Iya, kak. Jawab Dira lalu berjalan mendekat kearah lemari pakaian dan menyiapkan baju ganti untuk Axell.
Seperti apa yang Mama Diva pernah bilang, kalau status Dira sekarang sudah menjadi seorang istri, maka sebisa mungkin ia harus bisa menyiapkan kebutuhan untuk suaminya. Termasuk menyiapkan baju ganti untuk Axell yang tengah mandi. Padahal Axell tak pernah sekali pun memintanya.
Setelah menyiapkan baju ganti untuk Axell, Dira bergegas keluar kamar. Karena sebentar lagi Axell selesai dengan mandinya dan pasti akan keluar dari kamar mandi untuk ganti baju. Ia ingat, Axell tadi hanya membawa handuk saat ke kamar mandi. Dan Axell akan keluar dengan keadaan bertelanjang dada lagi seperti kemarin. Dira belum terbiasa untuk ini.
__ADS_1
Saat Dira berjalan menuruni anak tangga, Dira berpapasan dengan mama Diva dan papa Pras yang ternyata baru pulang.
"Lho... mama sama papa kok udah pulang? Katanya ada urusan di Bandung? Kok cepet banget?" Ucap Dira dengan serentetan pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Setahu Dira, tadi di telepon mama Diva mengatakan kalau mungkin sore baru akan sampai di rumah.
"Papa sama Mama nggak jadi ke Bandung, sayang. Tadi klien papa yang datang kesini." Jawab Papa Pras tenang.
"O..." Dira menganggukkan kepalanya mengerti.
"Suamimu mana, sayang?" Tanya mama Diva yang tak melihat adanya Axell.
"Lagi di kamar, ma. Lagi mandi." Jawab Dira apa adanya.
"Ya udah, mama sama papa mau ke kamar dulu sebentar ya, sayang." Ucap Mama Diva.
Sama seperti mama Diva dan papa Pras, kini Dira juga menuju ke kamarnya.
Ceklek...
Dira masuk ke kamar, namun ia tak melihat adanya Axell. Ranjangnya pun terlihat kosong. Dira lalu beralih mengetuk kamar mandi. Ia berpikir mungkin Axell belum selesai dengan mandinya. Tapi saat melihat ranjangnya tadi, baju ganti yang ia siapkan untuk Axell sudah tidak ada. Itu berarti Axell Sudak memakainya. Lalu kemana laki-laki itu sekarang?
"Nyari gue?" Tanya Axell yang tiba-tiba saja muncul dari arah balkon kamar. Dira pun menoleh dan menganggukkan kepalanya.
"Papa udah pulang, kak." Ucap Dira memberi tahu.
Axell menganggukkan kepalanya mengerti, "OK, thank's." Jawab Axell lalu berjalan keluar dari kamar untuk menemui Papa Pras, mertuanya.
Axell berjalan santai menuruni anak tangga menuju ruang tengah dimana biasanya keluarga Dira berkumpul untuk sekedar menonton TV atau bersantai.
"Sendirian saja nak, Dira mana?" Tanya papa Pras yang kebetulan duduk di depan TV.
"Dira lagi di kamar, pa." Jawab Axell sopan. Papa Pras hanya tersenyum mendengar jawaban dari Axell.
"Pa, ada yang mau Axell katakan sama papa." Ucap Axell masih dengan nada yang sama.
"Ada apa nak Axell? Katakan saja, jangan sungkan!" Jawab Papa Pras tenang.
Tanpa membuang waktu, Axell langsung mengutarakan maksudnya. "Begini, pa. Besok Axell dan Dira sudah masuk sekolah. Mengingat jarak tempuh dari rumah lebih jauh dari pada dari apartemen, Axell bermaksud untuk mengajak Dira tinggal di apartemen, pa. Itu pun kalau papa mengizinkan." Ucap Axell.
Tidak langsung menjawab, Papa Pras diam sesaat seolah berpikir. Axell yang melihat reaksi dari Papa Pras itu pun menjadi ragu kalau mertuanya itu mengizinkan Dira tinggal bersamanya di apartemen.
"Nak Axell, Dira sekarang sudah sah menjadi istrimu. Dalam garis besar Dira sudah menjadi tanggung jawabmu. Setelah seorang gadis menikah, maka tanggung jawab orang tuanya telah berpindah tangan pada suaminya. Jadi sekarang kamu punya hak untuk mengajak Dira pergi ke manapun bersamamu." Jelas papa Pras.
Axell menganggukkan kepalanya mengerti, sebenarnya ia juga sepemikiran dengan papa Pras. Tapi apa salahnya meminta izin? Itu tandanya Axell menghargai keputusan dari mertuanya, kan.
"Nak Axell, boleh papa minta sesuatu sama kamu?" Ucap papa Pras pada menantu satu-satunya itu.
"Apa, pa?" Sahut Axell cepat.
"Papa tahu, Kamu sebenarnya menikahi Dira hanya karena terpaksa menyetujui perjodohan yang telah papa sepakati bersama dengan ayahmu... Tapi papa harap kamu bisa menjaga Dira dengan baik. Dira adalah putri kandung papa satu-satunya. Jadi papa minta, kamu bisa bertanggung jawab atas segala sesuatu yang menyangkut dengan Dira. Ingat nak Axell, Meskipun pernikahan kalian berdasarkan perjodohan, tapi hubungan kalian... tidak main-main." Ucap papa Pras.
'Tidak main-main. Ya, pa. Axell sependapat dengan apa yang papa katakan.' Batin Axell.
"Axell mengerti, pa. Tanpa di minta pun, Axell pasti akan menjaga Dira dengan baik. Hanya saja Axell belum begitu kenal dekat dengan Dira. Butuh waktu untuk Axell dan Dira saling mengenal satu sama lain." Jawab Axell tenang.
Seulas senyum muncul dari bibir papa Pras setelah mendengar apa yang Axell katakan. Begitu tenang. Papa Pras dapat melihat, apa yang Axell katakan tadi adalah sungguh-sungguh keluar dari dalam hatinya. Axell laki-laki muda yang memiliki pemikiran dewasa. Papa Pras yakin Axell bisa menjaga dan membahagiakan Dira, kelak.
"Tapi, pa. Axell ada satu permintaan...
...***...
Setelah Axell mengutarakan maksudnya sekaligus berpamitan pada kedua mertuanya, kini Axell benar-benar membawa Dira pergi bersamanya. Sesuai dengan apa yang ia katakan pada papa Pras tadi, kalau ia ingin membawa Dira tinggal bersamanya di apartemen. Dan sekarang keduanya sedang dalam perjalanan menuju Greenland Residence, Apartemen Dira sekaligus Axell.
Hening dan canggung. Itulah rasa yang menyelimuti keduanya. Baik Dira atau pun Axell, tak ada satupun kata yang keluar dari keduanya. Sampai pada akhirnya Axell memecah keheningan di antara mereka.
"Gimana, Dir. Lo nggak keberatan kan tinggal bareng gue di apart?" Tanya Axell yang menatap Dira sekilas sambil fokus mengemudi.
Dira menoleh ke arah Axell lalu kembali mengamati jalan di depannya, "Nggak, kak." Jawab Dira pelan.
"Lo nggak merasa terpaksa, kan? Mumpung belum jauh, gue bisa puter balik." Tanya Axell yang meyakinkan keputusan Dira.
"Nggak perlu, kak." Jawab Dira yang menolak tawaran Axell. Tadi saat masih di rumah, Dira ragu untuk mengiyakan ajakan Axell yang mengajaknya untuk tinggal bersama di apartemen. Tapi sekarang ia yakin dengan keputusan yang ia ambil, mengingat status Axell yang telah menjadi suaminya, ia harus menuruti kemauan Axell termasuk tinggal bersamanya.
__ADS_1
Kini keduanya telah sampai di apartemen milik Dira. Tadi Axell meminta Dira untuk mengambil beberapa keperluan untuk Dira sekolah besok.
"Siniin barang-barang Lo, biar gue yang bawa!"