
"Karena apa?" Axell meraih kedua tangan Dira dan mengarahkannya pada bagian dada dan perutnya.
"... My body, my love, my heart, my feelings and everything about me is no longer mine, Baby. But yours. I am yours, Dira! Okay?! No one else. Only U.S. Me ... and you, Andira." Ucap Axell pelan.
Axell kembali meraih tangan Dira. Melingkarkan kedua tangan putih itu di pinggangnya. Tak cukup sampai di situ, kini Axell kembali mengulangi aksinya mencium Dira.
"I love you, Dira." Ucap Axell di sela-sela ciumannya.
Dira hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Menjawab pun tak bisa ia lakukan karena Axell yang kembali menciumnya.
Ciuman yang sebelumnya berhasil membuat istrinya itu tenang dan meredakan amarahnya, nyatanya kini malah berhasil membangkitkan hasrat yang mati-matian ia tahan beberapa hari ini.
Jika Dira merasa Axell berubah, itu tidak sepenuhnya salah. Axell memang sedikit membatasi sentuhannya pada Dira. Ia takut terpancing.
Dan ya, sekarang ini Axell terpancing. Dan sekarang, ia tak lagi bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menyentuh istri cantiknya itu.
'Ini lebih dari seminggu, kan? I think that's enough. So, Let's do it, Baby!' Ucap Axell yang tentunya dari dalam hati. Axell tak ingin Dira curiga dengan alasan dirinya yang enggan menyentuh Dira belakangan ini.
Perlahan Axell menggerakkan tangannya. Bak gaya slow motion, Axell melepaskan kancing piyama yang Dira kenakan. Lalu melepaskannya perlahan dari tubuh indah istrinya itu.
Dira menurut, ia memang sangat menginginkan sentuhan dari Axell saat ini. Sentuhan yang lebih dari ini. Detik kemudian kepala Dira menengadah saat merasakan ciuman Axell yang mulai turun ke bagian lehernya.
"I Miss you, Dira. Miss you, more." Bisik Axell dengan suara yang terdengar begitu seksi di telinga Dira.
"Me too, Hubby. I miss you, too." Ucap Dira tertahan. ".... Euumh..." Dira melenguh sembari menggigit bibir bawahnya. Matanya terpejam menikmati segala perlakuan lembut Axell pada tubuhnya. Detik kemudian, Dira merasakan tubuhnya yang terangkat dan mendarat perlahan di atas ranjang.
"Yes, dear. I'm here."
...***...
Axell menuruni anak tangga setelah siap dengan seragam sekolahnya. Meskipun sedikit mengantuk karena semalaman tidak tidur, hari ini Axell tetap ingin mengikuti kegiatan belajar di akhir masa SMA nya di Bhakti Bangsa. Walaupun Axell tak yakin, ia akan mengikuti pelajaran hari ini sepenuhnya.
"Pagi, Yah, Bun?" Sapa Axell pada kedua orang tuanya. Laki-laki itu terlihat begitu cerah dengan seulas senyum yang nampak menghias di wajah tampannya.
"Pagi."
"Pagi, boy?" Jawab Ayah dan bunda hampir bersamaan. Keduanya saling lirik saat mendapati wajah cerah sang putra.
Bukan hal biasa yang mereka temui belakangan ini.
Bukan tak senang, hanya saja sejak kejadian Dira hari itu, Axell menjadi sedikit murung. Memang, siapa yang tidak sedih saat merasakan kehilangan? Termasuk Axell sendiri.
__ADS_1
Dan sekarang, ayah dan bunda turut senang melihat putra semata wayangnya itu bisa kembali tersenyum. Dan mereka yakin, senyum yang tercetak di wajah sang putra adalah ikut campur Dira sang menantu. Ah... sepertinya mereka harus berterima kasih dengan menantu cantiknya itu.
Bunda Resty meletakkan piring berisi nasi goreng untuk Ayah Marvellyo. Lalu menatap ke arah datangnya Axell tadi. "Dira, mana?" Tanya Bunda Resty setelah beberapa saat tak kunjung melihat Dira turun dari kamar untuk sarapan.
Ayah Marvellyo yang mendengar itu menatap putra dan istrinya bergantian. "Dira nggak sakit, kan, boy? Kenapa tidak ikut sarapan?" Tanya Ayah Marvellyo tiba-tiba khawatir.
"Tadi masih siap-siap, yah." Jawab Axell santai sembari mengetikkan pesan pada seseorang.
"Pergi kemana kamu semalam, boy?" Tanya Ayah Marvellyo tiba-tiba. Semalam ia mendapat laporan dari salah satu orang kepercayaannya, yang melihat mobil Axell keluar dari gerbang rumahnya.
Bunda Resty menatap putra dan suaminya itu bergantian. "Iya, boy. Semalam Dira nyariin kamu lho." Tanya bunda Resty ikut bersuara.
Axell meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Ia melihat Dira yang berjalan menuruni tangga, "Ketemu Arfen." Jawab Axell singkat.
Ayah Marvellyo langsung menarik satu alisnya. Sedikit penasaran, tapi ayah Marvellyo enggan untuk bertanya. Urusan anak muda jadi Ayah Marvellyo tidak akan ikut campur.
"Arfen?" Ulang bunda Resty tidak yakin, "... Bunda lama tidak mendengar nama itu keluar dari mulut kamu, boy."
Axell menarik satu sudut bibirnya, apa yang bunda Resty katakan memang benar. "Bunda akan sering mendengarnya setelah ini." Jawab Axell santai.
"Pagi, ayah... Pagi, bunda..." Sapa Dira saat bergabung dengan suami dan mertuanya di meja makan.
"Pagi, sayang." Jawab bunda dengan senyumnya. Lalu mereka melanjutkan sarapan yang sempat tertunda sebelumnya.
...***...
Sepuluh menit sebelum gerbang sekolah di tutup, Mobil Axell tampak baru saja memasuki gerbang setelah sempat terjebak macet di jalan tadi.
Axell menoleh ke samping di mana sang istri yang ternyata tertidur disampingnya. Axell tersenyum melihat itu. Sebenarnya ia juga mengantuk, tapi ada suatu kepentingan yang harus ia lakukan di sekolah hari ini.
Axell melepaskan lock safety belt Dira. "Yang... bangun! Kita udah sampai." Ucap Axell lembut sambil mengusap pelan pipi
Dira. "... Bangun, Yang!"
Dira bangun, matanya mengerjap beberapa kali sebelum satu tangannya terangkat untuk menggosok salah satu matanya. "Hm." Jawab Dira dengan gumaman.
"Masih ngantuk?" Tanya Axell dengan senyum yang tak pernah luntur di wajahnya sejak tadi.
Dira mengangguk pelan, "Sedikit." Jawab Dira.
Axell menatap Dira yang kembali menguap. Sebenarnya ia bisa saja membawa Dira pulang ke apartemen sekarang juga. Tapi tidak bisa, mengingat hal yang akan ia lakukan juga sangat penting.
__ADS_1
Axell tadi sempat membuat janji temu dengan kepala sekolahnya. Akan sangat tidak sopan jika ia membatalkan janji yang ia ajukan sendiri.
"Nanti kalo masih ngantuk, istirahat di UKS dulu, Yang. Minta Melody untuk nemenin kamu." Ucap Axell.
Dira mengangguk lalu meraih tangan Axell untuk Salim. Lalu keluar dari mobil Axell setelahnya.
...***...
Axell terbangun saat merasakan seseorang yang menepuk pundaknya. Setelah menemui kepala sekolahnya tadi, Axell memutuskan untuk tidur sejenak di ruang OSIS dan absen tidak mengikuti pelajarannya. Tugas yang di berikan gurunya hari ini, Axell sudah mengerjakannya 3 hari yang lalu. Tadi ia juga sempat meminta Bastian untuk mengumpulkan catatannya pada guru yang kebetulan mengajar di kelasnya.
Verrel nyengir saat melihat Axell bangun karena ulahnya. "Lo kenapa tidur disini?" tanya Verrel dengan kekehannya. "... Semalam nggak cukup tidur, Lo?!" Lanjut kekasih dari Nayla itu.
Axell menegakkan duduknya. Melihat Verrel yang kini duduk tak jauh dari posisinya, Axell meraih ponsel yang sebelumnya ia letakkan di meja, untuk melihat jam berapa sekarang? Sudah jam istirahat ternyata.
"Gue bahkan nggak tidur semalaman." Jawab Axell cuek.
"Iya, deh. Yang udah ada bini. Tiap malam tidur ada yang nemenin, ada yang di kelonin sampe semalaman nggak tidur." Ledek Verrel yang kembali terkekeh sendiri.
Axell diam tak menanggapi. Ia tidak kesal atau pun marah. Hanya saja Axell tidak setuju dengan pikiran Verrel tentang apa yang menjadi alasannya tidak tidur semalam?
"Gue nemuin Arfen semalem." Ucap Axell tiba-tiba dan langsung sukses menampik pikiran Verrel tadi. Axell lalu berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Verrel ikutan berdiri. Bukan karena terkejut, tapi karena mengikuti langkah kaki Axell yang sepertinya akan meninggalkan ruang OSIS.
"Arfen? Ngapain?" Tanya Verrel ingin tahu. Verrel mengusap dagu dengan jari telunjuk dan jempolnya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Kira-kira hal apa yang membuat Axell mau menemui Arfen setelah sekian lama? Apa ia ketinggalan kereta hingga ia tidak tahu alasan Axell menemui Arfen?
Axell berhenti tepat di depan pintu. Tangannya meraih handle pintu tersebut, tapi urung memutarnya. "Gue mau kasih tau Arfen soal status pernikahan gue sama Dira."
Verrel mendekik mendengarnya. "Wah... ini nggak adil, Xell." Protes Verrel tak terima.
Axell menarik satu alisnya. "Nggak adil?" Ulangnya.
Verrel mendengus sebal, "Kenapa Arfen Lo kasih tau, sementara gue dan yang lainnya -"
"Gue tau Lo cukup pintar, Rel. Lo nggak mungkin bodoh untuk mengerti situasi yang terjadi selama ini ..." Ucap Axell. "... Saat Lo liat Dira bangun tidur di apartemen gue, harusnya Lo udah lebih dari cukup untuk tau, apa status gue dan Dira yang sebenarnya?
Verrel mengrenyitkan dahi. Ia mengingat hari itu. Detik kemudian ia mengangguk mengerti. "Tapi Lo bilang, Dira belum siap statusnya di ketahui banyak orang."
"Gue lebih nggak suka, ada cowok yang masih suka ngarepin istri gue."
__ADS_1