Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
75. Masa lalu.


__ADS_3

"Ayo makan!" Kalimat ajakan yang Axell tujukan pada gadis yang sedang asyik mengutak-atik ponselnya. Dira, gadis itu tengah duduk dengan nyaman di sofa yang terdapat di ruang kerja Axell.


Dira menoleh, "Aku masih kenyang, kak." Tolak Dira halus lalu kembali menatap ponselnya. Gadis itu memang masih merasa kenyang karena makan bakso di kantin, pas jam istirahat di sekolah tadi. Pada dasarnya, Dira memang tidak banyak makan.


"Gue nggak terima penolakan, Dira. Lo lupa? Gue nggak suka dibantah!" Jawab Axell yang kini mulai memotong daging dengan pisau dan garpu yang berada di dua tangannya. "... Sini, buka mulut! Gue suapin." Ucap Axell sambil mengarahkan garpu yang sudah tertancap potongan daging Hamburg steak ke mulut Dira.


Tak lagi menolak, dengan sedikit ragu Dira mulai membuka mulut dan menerima suapan yang Axell berikan padanya. Sementara Axell, ia sedikit menarik sudut bibirnya saat telah berhasil menyuruh gadisnya makan. Seiring dengan berjalannya waktu dan mungkin karena sudah sering berinteraksi bersama, rasa canggung yang dulu pernah ada, kini perlahan mulai berkurang.


"Enak?" Tanya Axell.


Tak ada jawaban karena mulut yang sibuk mengunyah, Dira hanya menganggukkan kepala. Axell lagi-lagi tersenyum. Ah... iya, Axell baru saja menyadari, gadisnya ini... Lucu.


"A lagi!" Pinta Axell saat ia melihat Dira yang sudah menelan makannya. Lagi-lagi Dira kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Axell. Tapi beberapa detik kemudian, Dira menghentikan kunyahannya.


"Kok jadi aku terus yang makan? Katanya tadi kak Axell yang laper?" Protes Dira pada Axell yang kembali menyodorkan potongan daging padanya.


"Lo dulu yang makan. Setelah Lo kenyang baru gue." Jawab Axell santai.


"No, kak. Barengan aja, abis itu kita pulang." Jawab Dira.


Axell menganggukkan kepalanya menuruti permintaan Dira. Ia sebenarnya merasa sangat lapar, hanya saja ia baru akan makan kalau sudah bisa memastikan gadisnya makan dengan benar. Keduanya kini memakan makanan yang Axell pesan tadi.


Tok...


Tok...


Tok...


Saat keduanya tengah asyik makan, seseorang datang dan mengetuk pintu dari luar.


"Masuk!" Ucap Axell sambil meraih gelas dan menenggak setengah isinya.


Saat pintu terbuka, muncullah Linda dari balik pintu. "Kak Axell maaf mengganggu." Ucapnya.


"Ada apa?" Tanya Axell datar dengan tangan yang kembali sibuk menyuapi Dira dengan potongan daging. Padahal tadi Dira sudah menolak suapan yang Axell berikan karena Dira merasa sudah terlalu kenyang.


"Persediaan daging untuk Hamburg steak mulai menipis, kak." Jawab Linda sambil sesekali curi-curi pandang pada Axell yang tengah menyuapi Dira.


'Ck. Makan sendiri emang nggak bisa, apa? Manja banget jadi cewe. Gitu aja minta disuapin!' Batin Linda mencibir.


"A lagi... Buka mulutnya!" Bukannya menjawab apa yang Linda katakan padanya, Axell lebih memilih untuk kembali menyuapi Dira. Memaksa gadisnya untuk menghabiskan daging yang masih tersiksa beberapa potong.


"Aku udah kenyang banget, kak... udah!" Tolak Dira karena memang perutnya memang sudah terlalu kenyang. Ia cukup makan banyak tadi.


"Satu doang, Ayo buka lagi mulutnya!" Ucap Axell yang belum berniat untuk menjawab ucapan Linda yang masih setia menunggunya.


Dengan terpaksa, Dira kembali membuka mulutnya dan menerima suapan terakhir untuk Axell.


"Good girl ..." Ucap Axell pelan setelah Dira kembali membuka mulutnya. Detik kemudian tangan Axell terangkat untuk mengacak pelan rambut Dira.

__ADS_1


"... Lo udah minta pak Rheyhan untuk hubungi bagian supplier?" Tanya Axell yang kini beralih menatap Linda.


"Sudah, Pak. Tapi memang dari pihak sana ada sedikit kendala. Jadi terlambat mengirim daging ke d'Axe Cafe." Jawab Linda.


Sementara Axell mengangguk mengerti. Lalu menoleh ke arah Dira yang sedang menguap karena mengantuk karena kekenyangan." Kalo ngantuk masuk kamar sana, jangan tidur disini! Nanti gue nyusul." Ucap Axell pada Dira.


Dira mengangguk patuh lalu dengan sedikit malas, gadis itu berdiri. Membuka pintu yang memang ada ruangan lain didalamnya. Lalu hilang di balik pintu setelah pintunya tertutup. Dan hal itu pun tak luput dari pandangan Linda. Bahkan kini gadis itu semakin penasaran, ada hubungan apa antara Axell dan gadis itu?


"Berapa stok daging yang masih kita punya?"


...***...


Seorang gadis berkacamata hitam tengah berjalan dengan santainya sambil menarik sebuah koper dengan tangan kanan dan tangan kirinya sibuk mencari kontak seseorang pada ponselnya. Setelah menemukan nama kontak yang ia cari, gadis itu menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu pada telinganya. "Halo, kak. Udah samoai mana?" Tanya gadis itu setelah seseorang menerima panggilannya.


"Udah di airport, dek." Jawab seseorang di seberang sana.


"Iya, tapi di sebelah mana?" Tanya gadis itu lagi.


"Arah jam 12. Gue tepat di depan kamu." Jawabnya dengan santai.


Tuutt...


Gadis itu langsung memutus sepihak sambungan teleponnya dan langsung menghampiri dua cowok yang berdiri beberapa meter di depannya.


"Kok nggak langsung nyamperin, sih, kak! Malah anteng berdiri disini berdua." Protes gadis itu pada kakak laki-lakinya.


Bukannya merasa bersalah, kedua cowok tadi malah terkekeh dengan keluhan gadis itu, "Kakak malah nggak tau kamu, dek. Nih, si Derry, nih... tajem banget matanya kalo ngeliat kamu " Jawab Nicholas.


"Biasa aja, kak. Capek yang ada." Jawab gadis itu.


"Ok, abis ini mau langsung pulang, atau kita cari makan duku?" Tanya Nicholas.


"Pulang aja, deh, kak. Aku capek banget. Biar besok bisa langsung masuk sekolah." Jawab Renata malas.


Nicholas tersenyum, "Ok, kita langsung pulang."


...***...


Pagi harinya seperti biasa, Dira yang mau keluar dari mobil Axell tidak lupa mencium punggung tangan suaminya terlebih dahulu untuk berpamitan. Dira memang sudah terbiasa melakukannya sekarang.


"Aku keluar dulu, ya, kak." Ucap Dira. Bukannya menjawab, Axell malah menarik tangan gadis itu agar mendekat kearahnya.


"Kasih gue semangat dulu!" Ujar Axell saat Dira menatap bingung kearahnya.


"Semangat?" Ulang Dira yang memang tidak mengerti dengan semangat yang di maksudkann Axell.


'Senangat yang bagaimana maksudnya?'


Tanpa menjawab. Dengan gerakan secepat kilat, Axell langsung menarik tengkuk Dira. Dan...

__ADS_1


Cup...


Axell mencium Dira sekilas, "Morning kiss." Ucapnya.


"Kak, kita di sekolah!" Protes Dira setengah kesal. Ini bukan sekali dua kali Axell menciumnya di area sekolah. Dira masih ingat saat Verrel yang melihat Axell menciumnya. Dan Dira tidak mau hal itu terulang lagi atau bahkan sampai orang lain yang melihatnya.


"... Nanti kalo ada yang liat kayak waktu itu gimana?" Sambung Dira.


"Mereka punya mata, Dira. Wajar kalo mereka bisa liat." Jawab Axell santai. Dira mendengus sebal mendengar jawaban yang Axell berikan. Tapi memang benar apa yang dikatakannya.


'Duh, kak... bukan gitu konsepnya!'


Tak ingin berlama-lama berada didalam mobil dengan Axell yang mungkin bisa saja kembali menciumnya, Dira memutuskan untuk segera keluar dari mobil Axell.


Tapi baru saja Dira keluar dari mobil Axell, gadis itu tiba-tiba dikejutkan dengan pemandangan tak biasa. Dira melihat begitu banyak pasang mata yang sengaja terang-terangan menyaksikan ia keluar dari dalam mobil Axell.


'Ada apa, sih? Kenapa semuany ngeliatin gue?'


Tak ingin ambil pusing, Dira memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju dimana kelasnya berada. Ia tak ingin semakin menjadi pusat perhatian yang Dira sendiri tak tahu, mengapa banyak siswi yang seakan sengaja menunggunya keluar dari dalam mobil Axell.


Sebenarnya, para siswi tadi memang sengaja berkumpul di area parkir sekolah karena ingin memastikan kabar yang santer beredar belakangan ini. Semenjak Axell yang mengunggah foto sepasang tangan yang saling mengenakan cincin dengan caption hati di sertai inisial huruf 'A', ditambah dengan perlakuan manis Axell yang menyuapi Dira dikantin kemarin, itu menimbulkan spekulasi kalau Dira dan Axell memang tengah menjalin hubungan.


Dan sekarang ini mereka mendapati Dira yang keluar dari dalam mobil Axell. Itu sudah cukuo menjadi bukti kebenaran dari kabar yang beredar.


Tak lama berselang, Axell yang sedari tadi berdiam didalam mobil, kini memutuskan untuk keluar. Berbeda dengan Dira yang sedikit terkejut saat keluar dari mobil, Axell yang memang sudah menduga kalau gak ini pasti akan terjadi memilih bersikap seperti biasa. Stay cool, benar-vebar santuy banget.


Axell memasukkan satu tangan kedalam saku celana dan tangan lain memegang satu tali tas yang bertengger di pundaknya. Bak gaya slow motion, Axell berjalan dengan begitu tenang melewati setiap pasang mata yang terang-terangan sedang menatap kagum kearahnya. Dengan kesan cuek khas dia, Axell bahkan tak ingin sedikitpun membalas senyum dan tatapan para gadis yang mengarah padanya.


Tapi, baru saja Axell melangkahkan kaki beberapa meter dari mobilnya, tiba-tiba Axell mendengar suara gadis yang begitu ia kenal - memangilnya.


"Xello..."


...***...


*Gimana, nih, Udah sampai sini?


*Kira² apa yang mau kalian sampaikan ke Axell?


*Ke Dira?


*Ke Author mungkin?


*Dan juga nggak bosen² aku ingatin ke kalian untuk selalu tinggalin jejak, ya!


*Like, coment n' vote cerita Raxell.


*Kita kawal mereka bareng².


*OK, zheyeng² ku...🥰🥰🥰

__ADS_1


*See you, bye²...😘😘😘


__ADS_2