
"Ayo, Yang! Pak Septa udah nunggu kita di basseman." Ajak Axell pada istrinya itu. Tak ada jawaban karena Dira masih diam.
'Kita?'
Melihat Dira yang tak kunjung bersiap, membuat Axell menghela nafas. Laki-laki itu lalu kembali mendekat pada kemari dan mengambil satu sweater dan memberikannya pada Dira. "Bukannya istri itu harus ikut kemana suaminya pergi, ya?" Ucap Axell saat menyerahkan sweater tersebut pada Dira, "... Pakai!". Lalu...
Tuk!
Axell dengan pelan menyentil dahi dari gadisnya itu.
"Auw...!" Pekik Dira sambil mengelus-elus dahinya itu. "... Kak Axell kenapa jadi malah nyentil jidat aku, sih?!" Protes Dira.
"Bukannya gue udah bilang sama Lo kemaren, kalo gue ngajakin Lo buat tinggal di rumah ayah, Lo lupa?"
...***...
Sesuai dengan apa yang Axell katakan kemarin, kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Marvellyo dengan di antar oleh pak Septa - Asisten sekaligus supir ayah Marvellyo.
Axell duduk sambil menyandarkan punggungnya di kursi belakang dengan Dira di sampingnya. Laki-laki itu nampak memejamkan matanya, sepertinya ia tertidur sejak lima menit yang lalu. Sementara Dira, ia sesekali menoleh ke arah Axell. Memperhatikan wajah yang terpejam di sampingnya.
'Kok kak Axell aneh, ya... Nggak biasanya minta di supirin kayak gini?'
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang membawa Axell dan Dira sudah mulai memasuki komplek perumahan the Royal palace, kawasan perumahan elit dimana rumah keluarga Marvellyo berada. Mobil mewah warna hitam itu berhenti saat setelah memasuki pintu gerbang rumah keluarga Marvellyo. Pak Septa dengan sigap turun untuk membukakan pintu untuk Dira dan juga Axell.
Melihat Axell yang masih memejamkan matanya, dengan pelan Dira mencoba membangunkan Axell. "Kak, bangun! Kita udah sampai." Ucap Dira pelan sambil menepuk pelan pundak Axell.
"Kak Axell ..." Ulang Dira karena laki-laki di sampingnya ini tak kunjung bangun. "... kak!" Panggil Dira lagi.
"Hm. Lo keluar duluan!" Lirih Axell yang kini mulai bangun.
Menurut, gadis itu keluar lebih dulu lalu disusul Axell setelahnya. Kini keduanya berjalan beriringan memasuki rumah melalui pintu utama saat setelah pintu itu di buka oleh bi Inah. "Malem, den Axell, non Dira..." Sapa bi Inah ramah sambil mengangguk.
"Malam bi..." Jawab Axell dan Dira bersamaan.
"Bunda dimana, ya, bi?" Tanya Axell pada asisten rumah tangga yang sudah lama berkerja pada keluarga tersebut.
"Ada, den. Bibi tadi liat ibu di ruang tengah. Kalo bapak masih di luar kota." Jawab bi Inah.
"Ya sudah, bi, makasih." Ucap Axell lalu melanjutkan langkahnya untuk menemui bunda Resty yang sedang duduk santai di sofa depan TV.
"Assalamualaikum, bunda." Sapa Axell yang kini meraih tangan bunda Resty untuk ia cium.
"Wa'alaikumsalam, loh, boy ... Dira. Kalian pulang?" Balas bunda Resty senang sembari mengulurkan tangannya pada Axell dan Dira secara bergantian.
__ADS_1
"Bunda gimana kabarnya, sehat?" Tanya Dira setelah mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Bunda sehat, sayang. Kalau menantu cantik bunda gimana, sehat juga, kan? Kalian sudah makan?" Tanya Bunda Resty.
"Sudah, Bun." Jawab Dira dan Axell yang hampir berbarengan.
Axell lalu menoleh ke arah Dira, "Lo masuk kamar dulu, dan langsung istirahat!"
"Tapi, kak -...
Mendengar Dira yang sepertinya akan mengucapkan kalimat bantahan, sontak saja Axell langsung melayangkan tatapan dingin pada istrinya. Hafal dengan perangai sang suami yang nggak mau di bantah, Dira seketika menurut.
"Dira ke atas dulu ya, Bun!" Pamit Dira pada bunda Resty.
Bunda Resty tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat interaksi antara putra dan menantunya, "Iya, kamu istirahat dulu, sayang." Ucap bunda Resty pada menantunya itu.
Setelah Dira hilang di ujung tangga, bunda Resty beralih menatap sang putra. "Kamu jangan keras-keras sama istri kamu, boy ... kasihan. Dia begitu di sayang di keluarganya, jangan di kerasin begitu!" Ucap Bunda Resty sembari mencubit pelan pinggang putranya itu.
Axell meringis setelah merasakan cubitan bunda Resty, laki-laki yang tadinya duduk itu kini berbaring berbantalkan pangkuan bundanya. "Axell nggak kerasin dia, Bun. Cuma agak tegas aja! Istri Axell susah di bilangin soalnya." Jawab Axell santai.
Bunda Resty kembali tersenyum mendengar jawaban Axell, ia begitu mengenal putranya, "Boy... apa kamu sudah punya kabar baik buat bunda?"
...***...
Sementara di kamar Axell, Dira yang baru selesai mandi itu kini memutuskan untuk segera tidur. Tapi baru saja ia ingin memejamkan matanya, tiba-tiba saja ia merasa haus. Gadis itu pun beranjak turun dari tempat tidur. Berjalan mendekati lemari pendingin yang ada di kamar dan membukanya. Kosong. Mungkin karena lebih dari beberapa waktu Axell tidak pulang ke rumah. Akhirnya Dira memutuskan untuk kembali turun untuk mengambil air minum di dapur.
"Belum, Bun." Ucap Axell.
"Kalian sengaja menunda?" Tanya Bunda Resty dengan tangan yang sibuk memijat kepala Axell. Laki-laki itu tadi mengeluh nyeri pada kepalanya.
"Ya ... gimana? Dira kayaknya belum bisa terima Axell jadi suami." Jawab Axell dengan mata terpejam. Laki-laki itu tengah menikmati pijatan yang bunda Resty berikan di kepalanya.
"Kamu pasti jahatin menantu bunda, ya? Sampai menantu bunda susah suka sama kamu?" Tanya bunda Resty terkesan menuduh pada putranya.
Axell langsung membuka mata setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Bunda Resty, "Nggak kok, Bun. Bunda kok ngomongnya gitu? Bunda mendidik Axell dengan sangat baik. Jadi nggak mungkin Axell gitu sama istri Axell. Selama ini Axell selalu bersikap baik sama Dira. Ya mungkin ada sifat Axell yang Dira nggak suka. Tapi sejauh ini apa yang Axell lakuin itu untuk kebaikan Dira ... Axell sayang sama Dira, Bun."
Bunda Resty tersenyum mendengar apa yang putranya itu katakan. Dira bisa begitu cepat membuat putranya jatuh hati. "Boy, selain cucu ... boleh bunda minta sesuatu?"
"Apa, Bun?" Tanya Axell cepat Laki-laki yang amat sangat menyayangi bundanya itu langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
"Selalu jagain menantu cantik bunda ya, boy. Jangan pernah menyakitinya." Pinta bunda Resty.
"Ya, bun. Tanpa bunda minta pun, Axell pasti akan lakuin itu. Dira istri Axell, tanggung jawab Axell. Dan lagi... Axell juga udah jatuh cinta sama dia."
__ADS_1
...***...
Dira kini duduk di tepi ranjang sambil memegangi dadanya yang terus berdebar-debar sejak tak sengaja ia mendengar sedikit percakapan dari suami dan ibu mertuanya.
Dira yang tadi ingin pergi ke dapur untuk mengambil air minum seketika mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk kembali ke kamar. Untuk ke sekian kalinya, Dira kembali mendengar ungkapan perasaan dari laki-laki yang sudah berstatuskan suaminya itu.
'Axell sayang sama Dira, bun.'
'Axell juga udah jatuh cinta sama dia.'
Entah mengapa, dua kalimat yang tidak sengaja ia dengar dari Axell kini terus terngiang-ngiang ditelinganya. Secinta dan sesayang itukah Axell padanya? Entahlah.
Cukup lama Dira bergelut dengan pemikirannya sendiri, sampai-sampai gadis itu tidak menyadari pintu kamar yang di buka oleh seseorang.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Axell yang baru saja masuk dan berhasil membuat Dira terkejut.
"Kak Axell, ngagetin!" Protes Dira sambil memegangi dadanya.
Tak menjawab, Axell malah menarik satu alisnya seakan menuntut jawaban.
"Aku haus, mau ambil minum." Ucap Dira yang entah kenapa ia tiba-tiba merasa canggung. Gadis itu lalu turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.
Axell merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah Dira menghilang di balik pintu. Merasakan kepalanya yang semakin sakit, laki-laki itu memutuskan untuk segera tidur. Tak lama kemudian, Dira kembali masuk dengan gelas berisi air di tangannya dan meletakkan gelas yang ia bawa di atas nakas dekat suaminya. Lalu bergabung dengan Axell yang sudah lebih dulu tertidur.
...***...
Pukul satu dini hari, Dira terbangun dari tidur karena merasa terusik dengan suara gumaman lirih dari seseorang di sampingnya.
Dira mengerutkan kening saat tahu Axell yang tengah mengigau. Tangan Dira bergerak untuk membangunkan suaminya itu. Tapi, saat tangan putih Dira mulai menyentuh pipi Axell, tiba-tiba mata Dira membulat sempurna.
"Panas!" Saat setelah menjauhkan tangannya dari pipi Axell. "... Kak Axell demam."
Gadis itu bangkit dan berjalan keluar. Ia akan ke dapur untuk mengambil baskom kecil berisikan air hangat beserta handuk kecil. Ia akan mengompres Axell.
Kembali masuk ke kamar, Dira meletakkan baskom tadi di atas nakas dekat Axell. Mengambil handuk yang sudah lebih dulu ia masukkan pada dalam air hangat. Meletakkan handuk tersebut pada dahi Axell setelah ia keras airnya lebih dulu.
Axell membuka mata saat merasakan ada kain lembab yang diletakkan di dahinya. Lalu menoleh dan mendapati Dira yang duduk di tepi ranjang sambil menatap kearahnya.
"Kok Lo nggak tidur, ini jam berapa?" Tanya Axell dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku baru bangun. Kak Axell demam." Jawab Dira.
"Gue nggak pa-pa, Lo bisa lanjut tidur lagi ..." Ucap Axell lalu menggeser tubuhnya untuk sampai ke tengah ranjang. "... Ayo tidur sini!" Ucap Axell sambil menepuk banyak di sampingnya.
__ADS_1
"Tapi kak Axell lagi demam. Aku mau kompres kak Axell dulu sampai suhunya turun." Jawab Dira.
"Gue nggak butuh di kompres, Dira ... Yang gue butuhin itu cukup Lo!"