
Axell kembali tersenyum. Lalu menghela nafas, "Iya, Yang... Iya. I love you."
Dira tersenyum, bukan karena mendengar kalimat yang baru saja Axell katakan. Kalau cuma Axell yang bikin dia kesel, kesannya nggak seru.
"I love you too, Xello."
"Yang!" Teriak Axell dengan mata yang mendelik tajam.
Ini kali pertama Dira memanggilnya dengan nama yang biasa Renata gunakan untuknya. Dan satu hal yang Dira tidak tahu, Axell sensitif dengan nama panggilan 'Xello'. "... Kamu sadar panggil aku apa tadi?"
Kan... langsung tepat sasaran. Siapa suruh bikin kesel malam-malam?
Dira memang sengaja panggil Axell dengan nama 'Xello'. Selain ingin tahu bagaimana reaksi dari sang suami, Dira juga ingin melihat Axell kesal. Karena, kalau cuma Axell yang berhasil bikin Dira kesal sendirian, itu tidak adil sodara-sodara.
Dira mengangguk cepat dengan wajah tanpa dosanya. "Sadar. Aku bahkan sangat sadar ... kak XELLO!" Jawab Dira dengan menekankan kata Xello.
"Oh... gitu?" Axell menganggukkan kepalanya seolah ia mengerti sesuatu. "... Kamu udah mulai berani sama aku ya, Yang! Okay, Minta di apain nih sekarang?" Tanya Axell yang sekarang mengubah posisinya.
Axell kini bangun dari posisinya. Mau tidak mau Dira mengubah posisinya menjadi telentang, karena Axell yang dengan sengaja menarik pelan lengan yang sedari tadi Dira gunakan sebagai bantal.
"Ehh... kak Xello mau ngapain?" Tanya Dira setelah mengubah posisinya.
Axell lalu memutar badan dan mengurung Dira dengan kedua lengannya. "Kayaknya kamu udah sembuh, Yang. Aku nggak akan kasihan kalo harus kasih kamu hukuman malam ini." Ucap Axell lagi.
"Hukuman? Emang aku ngapain sampai harus di hukum segala?" Tanya Dira pura-pura tidak tahu. Sengaja emang pengen godain sang suami yang gombal malam-malam.
Axell mencekal kedua tangan Dira dengan satu tangannya. Lalu tak lama kemudian seringai muncul di bibirnya.
"Eh kak ... kak Axell mau apa? Kita ini di rumah sak - Aaa ... geli ... hahaha ... ampun, kak."
...***...
Di jam istirahat pertama, hampir semua siswa siswi berhambur keluar kelas. Termasuk di kelas Axell juga tak jauh beda tentunya.
Setali tiga uang, Axell pun ikut meninggalkan kelas. Tapi bukan untuk mengikuti teman-temannya, yang sebagian besar pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang protes, atau sekedar mencari minuman dingin.
__ADS_1
Tapi Axell akan ke tempat di mana ia bisa memperoleh sesuatu.
Axell berjalan dengan begitu santai. Satu tangannya sengaja ia masukkan ke dalam saku. Sementara kakinya ringan melangkah. Membawa tubuh tegap itu menuju sebuah ruangan, yang menjadi tujuannya untuk menghabiskan jam istirahat sekarang ini.
"Eh, Xell! Lo mau kemana?" Tanya Verrel saat melihat Axell yang mengambil jalan yang berbeda dengannya.
Yang jelas bukan jalan ke kantin.
"Ruang OSIS." Jawab Axell singkat, bahkan tanpa menoleh pada Verrel sedikit pun.
"Lah... ngapain? Lo nggak ke kantin?" Tanya Verrel yang sama sekali tak mendapatkan jawaban. Axell sudah semakin jauh. Jadi otomatis dia tidak bisa mendengar pertanyaan Verrel.
Verrel mengrenyitkan dahi, seingatnya tidak ada kegiatan OSIS hari ini.
'Urusan OSIS kan udah gue kelarin semua kemarin.' Batin Verrel.
"Kenapa sih, Beib?" Tanya Nayla yang kini berhenti di samping Verrel. Gadis itu tadi menyempatkan diri ke toilet hanya untuk merapikan penampilannya.
"Lo ke kantin dulu ya, Beib. Nanti gue nyusul." Ucap Verrel pada sang kekasih.
"Gue mau ke ruang osis bentar ... ada urusan sama Pak Ketu." Jawab Verrel yang kini berlari mengikuti Axell yang sudah tak terlihat.
...***...
Ceklek!
Verrel muncul setelah ruang OSIS itu ia buka. Ia berjalan masuk mendekat pada Axell yang sudah duduk anteng di depan layar.
"Lo ngapain?" Tanya Verrel penasaran
Axell tak menjawab. Ia tengah fokus meneliti sebuah video yang ternyata adalah rekaman cctv. Matanya fokus menelisik gambar satu persatu.
"Xell!" Panggil Verrel karena Axell masih betah untuk diam.
Axell memegang dagunya dengan mata yang masih menatap ke layar tersebut, "Rel, waktu itu Zaki temuin Dira di toilet mana?" Tanya Axell setelah beberapa saat diam.
__ADS_1
Verrel mengerutkan dahi seolah berpikir. "Lah ... kok Lo tanya gue?" Tanya Verrel balik. "... Tanya Zaki dong, Bro!" Ujar Verrel.
Axell menghela nafas, "Gue pikir Lo tau!" Jawab Axell yang kembali memperhatikan layar terang di depannya.
"Zaki cuma cerita dia nemuin Dira di toilet, dan di sana ada mantan Lo. Gue ikutan panik juga waktu itu. Jadi gue nggak tanya detailnya ..." Jawab Verrel yang menceritakan keadaan saat Dira pingsan beberapa hari yang lalu.
"... Keadaan kacau, Xell. Gue juga harus tenangin cewek gue juga." Tambah Verrel lagi.
Axell menatap Verrel dengan satu alis terangkat. "Cewek Lo kenapa?" Tanya Axell yang kini mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
Verrel menghela nafas, "... Nayla marah waktu tau Dira hamil. Dia sampai mau bikin perhitungan sama Lo."
Tak bereaksi apapun, karena Axell memang tidak berniat untuk memberikan komentar. Axell malah meletakkan ponselnya ke atas meja. Lalu ia kembali menatap layar didepannya itu dengan begitu serius. Verrel pun juga melakukan hal yang sama. Padahal dia masih belum mengerti, apa yang sebenarnya Axell cari sekarang ini?
"Btw, Xell ... Lo nggak mau cerita gitu, sejak kapan Lo sama Dira nikah? Dan ... kenapa Lo sembunyiin ini dari gue, sahabat Lo sendiri?" Tanya Verrel penasaran.
Mengingat mereka yang hanya berdua, kekasih dari Nayla itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertanya.
Verrel ingat, beberapa waktu lalu ia memang terlalu sering memergoki Axell dan Dira tengah bersama di saat-saat yang tak terduga. Dan juga, saat Verrel yang kebetulan datang berkunjung di apartemen Axell hari itu. Ia juga menjumpai Dira di sana bahkan gadis itu dalam keadaan bangun tidur.
Masih betah untuk bungkam, Axell malah menoleh sekilas. Lalu kembali meraih ponselnya yang bergetar di atas meja.
Kembali meletakkan benda pipih yang sempat menjadi atensinya, Axell lalu beralih mengutak-atik keyboard di depannya. Pesan balasan dari seseorang yang tadi ia kirimi pesan memberinya angin segar.
Axell lalu kembali fokus menatap layar di depannya. Ia menemukan letak toilet di mana Zaki menemukan istrinya. Dan ...
Dapat. Ia menemukan apa yang ia cari. Tangan Axell dengan cepat menyalin hasil rekaman tersebut dan mengirimkan rekaman cctv itu ke ponselnya.
Melihat Axell yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya, Verrel kembali bersuara.
"Woah... gue tau. Jangan bilang, ini alasan Lo nolak gue kalo mau nginep di apartemen Lo?" Tebak Verrel heboh.
Axell menoleh dengan senyum menyeringai.
"Jadi udah selama itu? Terus ... Babas... Kalian nyembunyiin hal besar ini dari gue?"
__ADS_1