
Melihat Dira yang hanya memegangi perutnya, Renata membungkuk, "Sebelum semuanya terlambat, Gue masih bisa berbaik hati sama Lo. Ngelepasin Lo dari tempat ini sekarang juga. Tapi, dengan satu syarat ... jauhin Xello!" Ucap Renata pelan.
Dira tersenyum di sela ringisannya. Matanya intens menatap wajah Renata yang berada tepat di atasnya. "Jangan bermimpi! Ninggalin kak Axell adalah hal yang nggak mungkin gue lakuin. Kak Axell pernah minta gue buat janji ke dia. Janji agar nggak pernah tinggalin dia, apapun yang terjadi. Dan sampai kapan pun, gue akan tetap tepati janji gue. " Ucapnya lirih.
Renata mendengus geli mendengarnya. "Jangan terlalu naif! Xello nggak beneran cinta sama Lo. Itu semua dia lakuin semata-mata karena dia lagi kosong! Dasar tol*l!" Jawab Renata penuh percaya diri. Ia masih berpikir bahwa Axell masih begitu mencintainya.
Dira kembali tersenyum, dan hal itu malah membuat Renata bingung dengan respon yang Dira perlihatkan. Bukankah seharusnya Dira sedih, atau paling tidak merasa kesakitan? Tapi ini berbanding terbalik.
"Itu mungkin menurut Lo. Tapi menurut gue nggak ..." Dira menghela nafasnya pelan, kesadarannya hampir hilang. "... Apapun yang akan terjadi, gue nggak akan pernah ngelepasin kak Axell ... gue nggak akan pernah lepasin cowok yang berstatuskan suami gue. Apa lagi cuma buat cewe sampah kayak Lo." Ucap Dira dengan senyum mengejek.
"Apa Lo bilang? Siapa yang Lo bilang sampah tadi?" Ucap Renata semakin naik darah. Dan juga ... apa tadi? Ia nggak salah dengar kan? "... Lo bilang apa tadi? Suami?" Tanyanya lagi. Tiba-tiba Renata teringat dengan apa yang Derry katakan padanya beberapa waktu yang lalu.
Dira masih diam tak menjawab. Tubuhnya bahkan semakin lemas. Kedua matanya pun perlahan tertutup. Dira ... pingsan.
Tiba-tiba kedua tangan Renata terkepal. Ini sulit di percaya. Tapi, status itu keluar dari mulut keduanya. Axell dan Dira, keduanya mengakui hubungan masing-masing. Itu berarti ikatan pernikahan antara mereka memang benar adanya.
Renata paham betul, Axello orang seperti apa? Dan dia bukan tipikal orang yang suka mengarang cerita. Jadi, sekarang Renata tau, alasan Axell dan Dira yang tinggal bersama di apartemen, itu karena mereka memang benar-benar sudah menikah?
Masih dengan posisi yang sama, kini Renata semakin menatap wajah Dira dengan penuh kebencian yang semakin menguasai dirinya.
Nafasnya pun kian memburu. Ia sudah seperti orang kesetanan saat ini. Sama sekali tak menaruh iba pada gadis yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai dingin kamar mandi itu.
"OK, sih. Lo yang minta. Jadi setelah ini, kalian berdua jangan salahin gue!" Ucapnya pelan. Lalu ia kembali mengangkat satu kakinya dan mendaratkannya dengan cukup keras, tepat di atas perut Dira dengan tanpa berperasaan.
Ruangan yang sempat sunyi itu kini perlahan terdengar suara kekehan yang perlahan menjadi tawa yang kian keras dan menggema dari mulut Renata. Gadis itu tertawa lepas penuh kemenangan di toilet Bhakti Bangsa. Setelah puas membalaskan dendam sakit hatinya pada gadis bernama Andira.
Tapi, sepertinya Renata harus kecewa. Karena kesenangannya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba seseorang datang dan mendobrak pintu kamar mandi dengan cukup kuat.
Brakkk!!
"Dira!"
__ADS_1
...***...
"Anggap aja gue lagi punya mainan baru." Ucap Axell pada Pandu.
Pandu mengerti arti dari senyum Axell. "Itu berarti, anda sedang tidak serius dengan proyek dari MG, pak Axell?" Tanya Pandu memperjelas. Laki-laki yang usianya sama dengan Rheyhan itu semakin ingin tahu. Ia juga penasaran dengan langkah yang akan di ambil oleh atasannya itu selanjutnya.
Tak menjawab, Axell malah menarik satu sudut bibirnya. Dan hal itu malah membuat Raline sang sekertaris jadi menatap Axell tanpa berkedip sedikit pun.
Ini kali pertama Raline melihat senyum dari bos-nya itu.
Pandu yang melihat hal itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Detik kemudian ia berdehem untuk menyadarkan rekan kerjanya itu.
"Ekhem!" Dan berhasil. Raline langsung mengerjapkan matanya beberapa kali.
Sementara Axell, ia tak mau menanggapi hal tersebut. Ia lebih memilih untuk melanjutkan langkah menuju ruangannya. Sampai pada akhirnya, langkah kaki Axell harus kembali terhenti saat terdengar suara seseorang yang kembali memanggilnya.
"Xello, tunggu!"
"Ah, maaf! Maksud saya, pak Axell ... Bisakah kita bicara sebentar?" Ucap seseorang itu, meralat panggilan yang ia gunakan untuk memanggil Axell tadi.
Ya, dia Nicholas Mahaputra.
Tak langsung menjawab, Axell menoleh pada Raline. "Jam berapa meeting selanjutnya?" Tanyanya pada Raline.
Dengan sigap, Raline langsung membuka buku jadwal Axell hari ini. "Maaf pak Axell, tapi sebelum meeting, Anda di undang jamuan makan oleh pihak GG Steak tepat di jam makan siang. Lalu jam 2 nanti ada meeting dengan seluruh tim divisi dari kantor cabang dan juga kantor pusat, pak Axell." Jawab Raline setelah menutup buku catatan miliknya.
Axell melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, "Konfirmasi dengan pihak GG Steak, saya tidak bisa hadir! Majukan juga jadwal meeting dengan tim divisi setelah jam makan siang!" Ujar Axell tegas.
Raline menunduk patuh, "Baik. Ada lagi, pak?" Tanyanya.
"Pesankan saya makan siang setelah ini dan langsung bawa ke ruangan saya!" Tambah Axell memerintah.
__ADS_1
Raline mengangguk. "Baik, pak. Ada lagi?" Jawab Raline lagi. Tak menjawab, Axell hanya menggerakkan satu telapak tangannya, bermaksud agar Raline segera pergi.
"Kalo begitu Saya permisi dulu, pak." Jawab Raline sebelum pergi meninggalkan ketiganya.
Kini Axell beralih menatap Nicholas, "Saya hanya punya waktu lima belas menit ... pak Nicholas. Silahkan bicara!" Ucap Axell setelah mereka hanya bertiga.
Tak bicara. Nicholas masih diam sambil menatap mantan kekasih dari adiknya ini.
"Waktu anda tinggal tiga belas menit, pak Nicholas! Jika tidak ada hal yang ingin anda bicarakan, saya permisi." Desak Axell pada Nicholas.
Nicholas menatap ke arah Pandu, seakan memintanya pergi. Pandu yang menyadari hal itu pun beralih menatap Axell seolah meminta izin. Sementara Axell hanya mengangguk samar.
"Jadi apa yang ingin anda bicarakan, pak Nicholas?" Tanya Axell setelah Pandu pergi meninggalkannya dan Nicholas. Pandangannya lurus menatap punggung pandu yang semakin mengecil di matanya. Axell enggan menatap lawan bicaranya saat ini.
"Xell, bisa nggak Lo bersikap profesional? Jangan libatin urusan pribadi!" Ucap Nicholas setelah sempat diam beberapa saat tadi.
Axell beralih menatap Nicholas. Ia tak suka dengan apa yang baru saja ia dengar.
Sok menggurui.
"Anda pikir saya tidak profesional disini? Dengan saya mau bertemu dengan anda, itu sudah termasuk bentuk formalitas bagi saya."
"Xell -
"Jujur sebelum sampai disini, saya sama sekali tidak tau akan meeting dengan perusahaan mana? Saat saya sampai di ruang kerja ayah saya, saya baru tau kalau perusahaan yang harus saya handle adalah MG, perusahaan milik keluarga anda. Jika anda mempertanyakan sikap profesionalitas saya, tidakkah anda berpikir saya bisa membatalkan pertemuan pagi tadi, mengingat andalah sebagai pemegang Maha Group sekarang ini?"
Nicholas masih diam. Ia tak langsung menjawab. Ia berpikir tentang apa yang Axell katakan memanglah benar. Axell memang sudah tahu kalau ia pewaris dari Maha Group. Tapi mengetahui kalau Axell pewaris dari MJ Corps, sungguh, Nicholas benar-benar baru tahu tadi. Dan rasa terkejut itu, memang benar masih ada.
"Saya bisa menawarkan janji pertemuan, tapi tidak dengan hasil kesepakatan di akhir pertemuan." Tambah Axell dengan begitu percaya diri.
"Xell, perusahan bokap gu -
__ADS_1
"Saya tau. Bahkan saya tau semua tentang anda dan keluarga anda, pak Nicholas."