
Tepat pukul 16.00, mobil Axell sudah terparkir rapi di basseman apartemen. Axell tersenyum saat mendapati gadisnya yang terlelap sejak masih di perjalanan tadi.
Tiba-tiba Axell teringat saat Dira yang memeluknya di ruang OSIS tadi. Axell sempat melihat, ada raut kekhawatiran pada gadis disampingnya ini.
Merasa kasihan dengan melihat gadisnya yang tertidur didalam mobil, Axell berinisiatif untuk mengendong Dira untuk masuk ke dalam apartemennya.
Saat sampai di lift, Axell bertemu dengan beberapa orang yang menatap ke arahnya dengan tatapan yang seakan mencibir dirinya dan Dira.
Bukan tanpa alasan, hal itu terjadi karena Axell yang saat ini masih memakai seragam SMA, yang bahkan masih lengkap dengan almamater yang menunjukkan dimana ia bersekolah, tengah mengendong gadis yang terlihat entah tidur atau pingsan dan masuk kedalam sebuah apartemen.
Dengan keadaan yang demikian, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan berbagai macam spekulasi yang muncul dari orang-orang yang melihat mereka. Karena kalau di lihat-lihat, wajah Axell dan Dira yang tidak ada kemiripan sama sekali. Jadi sudah dapat dipastikan kalau keduanya bukanlah saudara.
Mereka berpikir kalau Axell dan gadis dalam gendongannya itu adakah sepasang kekasih. Bayangkan saja, sepasang kekasih datang ke apartemen dalam keadaan si gadis yang mungkin bisa disebut tidak sadarkan diri. Pasti semua akan berpikiran negatif.
Ting!
Saat pintu lift terbuka, Axell yang tak suka membuang waktu langsung melangkahkan kakinya memasuki lift dan menekan tombol dimana unitnya berada, meninggalkan beberapa orang yang masih memperhatikannya.
Bicarakan saja. Toh mereka tidak saling kenal, dan juga tidak mengetahui statusnya dan Dira. Axell tak ingin ambil pusing.
Sampai di dalam kamar, Axell langsung meletakkan Dira di tempat tidur dengan sangat pelan dan hati-hat agar tak sampai membangunkan gadisnya. Tak lupa juga ia melepaskan sepatu yang masih membungkus kedua kaki Dira. Meletakkan sepatu di tempat yang semestinya lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Lima belas menit cukup untuk Axell membersihkan diri. Ia keluar dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
Axell berjalan dengan santai menuju mini Walk-in closet untuk mencari baju ganti. Setelah selesai memakai bajunya, Axell bergegas kembali ke tempat tidur untuk menyusul Dira yang sudah lebih dulu terlelap disana.
*Axell yang abis mandi, seger ya liatnya.ðŸ¤ðŸ¤
Tapi, baru saja Axell membaringkan tubuhnya di samping Dira, seseorang datang dan mengetuk pintu apartemen dari luar.
Urung membuka pintu untuk melihat siapa yang datang berkunjung, Satu alis Axell terangkat seakan menebak siapa yang datang, "Bunda mungkin."
Axell lalu bangkit untuk membuka pintu. Dan sialnya yang datang bukanlah sang bunda, Melainkan Verrel yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Ngapain Lo?" Tanya Axell ketus lengkap dengan tatapan dingin yang ia tujukan pada sahabatnya itu.
Verrel terkekeh mendengar nada bicara Axell padanya. Entah mengapa ia tahu, kalau Axell tidak menyukai kedatangannya yang tiba-tiba. "Gitu banget tau gue yang dateng?"
"Gue gak terima tamu, capek. Mau tidur. Mendingan Lo cepetan balik!" Ujar Axell datar.
"Bentaran, Xell. Ada yang mau gue omongin sama Lo." Jawab Verrel yang bukannya pergi. Laki-laki itu malah nyelonong masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Axell mendengus sebal sambil menutup pintu apartemen. Sepertinya kali ini ia tak bisa mengusir sahabatnya itu untuk segera pergi dari apartemennya.
"Ada apa?" Tanya Axell saat kini duduk di depan Verrel.
"Ini penting, Xell." Jawab Verrel.
Sementara Axell hanya mengangkat satu alisnya seakan bertanya 'Apa?'
"Perasaan Lo gimana? Maksud gue... Lo udah ada Dira saat ini, tapi Rere, cewek yang dulu pernah Lo cintai kembali datang dan seperti yang gue liat kek nya tuh cewe mau deketin Lo lagi, Xell." Ucap Verrel mengatakan pendapatnya.
"Lo tau gue, Rel. Gue paling anti barang bekas." Jawab Axell yang kini sudah berubah santai.
"Lo yakin, perasaan Lo ke Rere udah biasa aja?" Tanya Verrel yang mencoba meyakinkan sahabatnya itu.
"Bagi gue dia udah nggak ada apa-apanya semenjak tuh cewek milih pergi dari hidup gue. Keputusan dia itu udah bener banget.Dan sekarang, Lo tau sendiri kalo gue udah punya yang lebih." Jawab Axell.
Verrel mengangguk mengerti, sahabatnya ini memang orang yang sangat konsisten dengan apa yang di katakannya. "Lo copy nan om Marvel banget."
"Gue anaknya kalo Lo lupa." Ujar Axell mengingatkan.
Verrel kembali terkekeh. "Lalu Dira, gue perhatiin... makin hari, Lo makin lengket aja sama dia!"
"Kenapa memangnya?" Tanya Axell.
"Gue bingung disini, Xell." Keluh Verrel.
"Gue bingung mesti seneng atau sedih? Disisi lain, Gue seneng liat Lo udah punya cewe yang menurut gue bawa pengaruh positif buat Lo..." Ucap Verrel yang tak mendapatkan reaksi apa-apa dari Axell. Laki-laki itu tahu, apa yang ingin dikatakan oleh sahabatnya itu belum selesai.
"... Positif dalam arti kata Lo yang udah nggak ngirit lagi kalo ngomong m Dikit, sih, emang... Tapi gue bisa ngerasain banget bedanya." Lanjut Verrel yang mendapat anggukan kepala samar dari Axell.
Memang benar, Axell juga merasakan sendiri hal itu. Ah... kenapa ia baru menyadari hal itu?
"Kalo sedihnya... Gue kasihan sama sahabat kita, si Babas. Udah kek nggak punya semangat idup. Nggak tega gue liatnya." Ucap Verrel.
Axell tertegun. Ia mengangguk samar. Ternyata bukan hanya dia yang melihat wajah murung Bastian beberapa hari ini. Lebih tepatnya saat sahabatnya itu mengetahui hubungannya dengan Dira.
"Biar gue ngomong sama Babas." Putus Axell pada sahabatnya itu.
"Ngomong apaan?" Tanya Verrel penasaran.
"Ini urusan gue sama Babas, Lo nggak perlu tau." Jawab Axell yang kini menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.
Ceklek!
__ADS_1
Mendengar pintu kamar yang terbuka membuat Axell kembali membuka matanya dan menoleh ke arah pintu kamar sama halnya dengan Verrel. Keduanya kini mendapati Dira yang keluar dari kamar dan berjalan mendekat dengan mata yang sepertinya masih enggan untuk terbuka.
Kalau respon Axell yang melihat Dira keluar dari kamarnya biasa saja, maka lain halnya dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Verrel. Laki-laki itu bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali seakan meyakinkan apa yang dilihatnya adalah benar Dira.
Dira berjalan dengan malas ke arah sofa dan duduk sambil menyandarkan kepalanya di pundak Verrel. Hal itu pun membuat Verrel semakin terkejut.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
Melihat tingkah Dira yang barusan membuat Axell dan Verrel saling diam dengan pikiran masing-masing.
Verrel yang masih terkejut itu tengah berpikir, kenapa Dira bisa tidur di apartemen Axell? Bahkan masih mengenakan seragam sekolah ditambah dengan tidak mengenakan sepatu?
Berbeda dengan Verrel, Axell malah merasa kesal saat ini?
'Ini Dira nggak nyadar atau emang sengaja?'
Kesal. Bukan karena Dira yang keluar dari kamarnya secara tiba-tiba dan berujung Verrel melihatnya, tidak sama sekali. Tapi kesal karena gadis itu kembali tidur dengan posisi menyender pada tubuh sahabatnya.
Wah... Dira nantangin Axell, nih, secara tidak langsung.
1 menit...
2 menit...
3 menit...
Dira perlahan mulai kembali mengerjapkan matanya. Tangannya terangkat untuk menutup mulutnya yang sedang menguap. Tapi bukannya bangun setelahnya, gadis itu malah memejamkan matanya dan kembali tidur tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalo masih ngantuk balik ke kamar, Yang!" Ucap Axell.
"Hm." Tak ada jawaban, hanya gumaman lirih yang samar-samar Axell dan Verrel dengar dari mulut Dira yang sepertinya sudah lebih dulu terlelap.
"Nyaman banget ya, Yang, pundaknya Verrel?" Axell kembali berucap dengan nada yang terdengar kesal. Gadisnya ini sengaja atau bagaimana?
Tak sampai dua menit, Dira kembali mengerjapkan matanya dan mengubah posisi kepalanya. Tangannya bergerak untuk mengucek mata yang sepertinya masih enggan untuk kembali terbuka.
"Kak Axell tadi bilang apa?" Tanya gadis itu dengan suara serak, khas bangun tidur. "... maaf tadi aku nggak denger."
"Nyaman banget ya, Yang, PUNDAKNYA VERREL?" Ulang Axell lagi dengan penekanan diakhir kalimatnya.
__ADS_1
"Kak Verrel? Emang kak Verrel ada disini?" Tanya Dira yang masih dalam keadaan setengah sadar. Sepertinya kesadar dari gadis itu belum terkumpul sepenuhnya.
"Tepat di samping Lo!"