
Melody mengerjapkan matanya beberapa kali dengan mulut menganga tak percaya dengan apa yang sedang di lihatnya saat ini. Dira, sahabatnya itu tengah asyik menyantap nasi sepiring goreng dengan warna tampilan yang menurut Melody sendiri ... kurang meyakinkan.
Jika biasanya Dira memesan nasi goreng dengan rasa pedas dan identik dengan warna coklat kemerahan, maka tidak kali ini. Nasi goreng yang Dira pesan berwarna coklat kehitaman. Warna yang tidak biasa dengan warna nasi goreng yang biasa gadis itu pesan.
Sebelumnya, tadi Melody yang baru saja menginjakkan kaki di parkiran sekolah setelah turun dari mobil Zaki, Dira tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan langsung menariknya ke kantin hanya untuk menemaninya makan.
Dan disinilah mereka berdua sekarang ini. Di salah satu meja yang terletak di kantin sekolah langganan mereka.
Melody menggelengkan kepalanya setelah Dira kembali memesan makanan pada Bu kantin dengan menu yang sama. Padahal nasi goreng di piringnya saja belum habis dan masih tersisa beberapa suap lagi.
"Buseett... Lo laper, doyan, apa kesurupan, Dir?" Tanya Melody tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat sekarang ini. "... Perasaan Lo makannya dikit banget, kenapa sekarang jadi kayak gini! Ini Lo nggak di kasih makan kak Axell berapa hari?" Tanyanya lagi.
Tak ingin menanggapi ocehan dari Melody, Dira malah semakin bersemangat untuk menikmati nasi goreng ke dua yang baru diantarkan oleh Bu kantin.
"Makasih ya, Bu." Ucap Dira pada Bu kantin yang mengantarkan pesanannya tadi.
Bu kantin itu mengangguk dan tersenyum, "Sama-sama, non. Nanti kalo asinnya kurang bilang ya, non!" Jawab Bu kantin sambil kembali tersenyum.
Tak menjawab, Dira hanya mengangkat satu jempolnya sambil kembali melanjutkan aksi makannya yang terhenti.
Melody lagi-lagi menggelengkan kepalanya, gadis itu benar-benar tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Hari ini Dira benar-benar ... aneh.
"Enak banget ya, Dir? Lihat Lo makan lahap banget, jadi kepengen gue." Celetuk Melody yang penasaran dengan rasa nasi goreng yang sedang Dira makan.
"Enak banget, Mel. Lo mau coba?" Jawab Dira yang malah menawarkan Melody untuk mencoba nasi gorengnya.
"Gue udah sarapan, sih. Tapi boleh, deh ... gue penasaran sama rasanya." Jawab Melody dan langsung menyendok nasi goreng milik Dira tersebut dan langsung memasukkannya ke dalam mulut tanpa rasa curiga atau khawatir sedikitpun. Tanpa Melody tahu, Dira terkikik dalam hati. Dan saat sesendok nasi goreng tersebut masuk ke dalam mulut Melody ...
"Huweekk... Assss ... ssiiinn..." Melody langsung mengeluarkan makanan dari dalam mulutnya dan langsung meminum minumannya.
"Lo kenapa, Mel?" Tanya Dira pura-pura, sambil kembali melanjutkan makannya. Emang sih, asin. Tapi ini sesuai dengan apa yang ia pengen. Dira sama sekali tak mengira, kalau reaksi Melody akan sampai seperti itu.
"Lo sakit ya, Dir? Nasi goreng super asin begitu, Lo bilang enak!" Tanya Melody yang seakan masih tak percaya dengan lidah Dira saat ini. Bisa-bisanya nasi goreng yang asinnya kelewatan Dira bilang enak! Bahkan sahabatnya itu terlihat begitu lahap saat memakannya.
Tak ingin terganggu dengan Melody yang terang-terangan memprotes dirinya, Dira hanya mengangkat bahunya acuh sambil kembali melanjutkan aksi makannya.
Drrtt... drrtt...
__ADS_1
Dan disaat Dira tengah asyik menikmati makanannya, ponsel milik Dira yang tergeletak di depannya tiba-tiba berdering.
"Ponsel Lo, Dir!" Ucap Melody.
Dira mengangguk santai, "Tolong angkatin, Mel!" Jawabnya.
Melody meraih ponsel Dira dan melihat id si pemanggil. "Kak Axell, Dir..." Ucap Melody memberi tahu.
Dira kembali mengangguk, "Nggak pa-pa, Mel. Lo jawab aja! Bilang kalo gue lagi makan!" Pinta Dira lagi.
Dengan sedikit ragu, Melody menekan lencana hijau dan mendekatkan benda pintar itu ke telinga. "Halo -
Baru saja Melody akan mengucapkan kata halo, tiba-tiba mata Melody membulat sempurna, setelah mendengar apa yang baru saja Axell katakan di seberang sana.
Bukan apa-apa. Tapi gadis itu sedikit terkejut mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar.
Bagaimana tidak? Di seberang sana, Axell - kakak kelasnya itu baru saja melayangkan protes pada Dira. Perihal gadis itu yang tiba-tiba meninggalkannya begitu saja di dalam mobil tadi. Bahkan Dira sampai lupa mencium tangannya saat keluar dari mobil tadi. Dan juga, Dira luka memberinya penyemangat atau Axell biasa menyebutnya morning kiss.
"S-Sorry, kak ... t-tapi ini gue ... Melody."
"Dira lagi di kantin, kak. Dira lagi -.
"OK, gue kesitu."
Tuutt... tuutt...
Telepon berakhir setelah Axell memutus sambungan teleponnya sepihak. Dan sudah dapat di pastikan, kalau Axell sedang menuju ke kantin sekarang.
"Lo di cariin kak Axell, Dir." Celetuk Melody setelah meletakkan kembali ponsel milik Dira.
"Hmm... mana?" Tanya Dira sambil melahap makanannya yang tinggal beberapa suap lagi.
"Aku nyariin kamu lho, Yang! Ternyata kamu disini." Ujar Axell yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Dira.
Melihat kedatangan Axell, Dira terkekeh pelan setelah menyadari kesalahannya. Ia lupa berpamitan dengan suaminya tadi. "Maaf ya, kak! Tadi aku ninggalin kak Axell gitu aja tadi. Habisnya aku laper."
Tak langsung menjawab, Axell malah mengrenyit bingung. Bukankah tadi mereka sudah sarapan di apartemen. Kenapa Dira bilang lapar?
__ADS_1
Tapi Axell tak ingin ambil pusing. Karena Axell pikir, mungkin istrinya itu memang benar masih merasa lapar. Tanpa Axell tahu, Dira telah menghabiskan hampir dua porsi nasi goreng luar biasa itu.
Axell tersenyum melihat sang istri yang begitu lahap menikmati makanannya. "Iya nggak pa-pa, Yang, aku bisa ngerti kok. Nanti kalo masih belum kenyang, kamu bisa pesan lagi." Ucap Axell sambil mengacak pelan rambut Dira.
Dira tersenyum puas, ia merasa menang. "Tuh, Mel ... dengerin! Kak Axell aja nggak keberatan!" Ucap Dira yang kini telah selesai dengan makannya. Ia menjauhkan piring di depannya dan meraih Lemon tea hangat kesukaannya untuk mendorong makanan di tenggorokannya.
Mata Melody kembali membulat tak percaya, "Kak!" Mulut Melody tiba-tiba terkatup menyadari nada bicaranya yang sedikit tinggi pada Axell. "... Sorry! Tapi itu udah nasi goreng ke dua yang Dira pesan. Ini bukan piring bekas gue, kak." Ucap Melody sambil menunjuk piring di dekat minumannya.
"Hhaa?"
...***...
Dira merasakan pusing dan mual luar biasa saat mengikuti pelajaran yang dibimbing oleh Bu Retno. awalnya Dira baik-baik saja sebelum guru berusia 40 tahunan itu masuk ke dalam kelas. tapi setelah Bu Retno masuk, sontak Dira merasakan mual dan pusing setelah mencium aroma parfum yang menyengat dari gurunya itu.
"Lo kenapa, Dir?" Tanya Melody khawatir. Gadis itu melihat gelagat mencurigakan dari sahabatnya.
"Gue pusing, Mel. Mual pengen muntah gue." Jawab Dira lemah.
"Hhah... Lo sakit, Dir?" Tanya Melody sambil menempelkan punggung tangannya di kening Dira. "... emang agak anget, sih. Gue izinin bu Ret -
Terlambat. Belum sempat Melody menyelesaikan kata-katanya, Dira sudah lebih dulu keluar dari dalam kelas untuk memuntahkan isi perutnya. Bahkan tanpa izin terlebih dahulu pada Bu Retno.
"Maaf Bu Dira mau ke toilet mendadak perutnya sakit " Ucap Melody beralasan pada Bu Retno. Tanpa menjawab Bu Retno hanya menganggukan kepalanya mengerti.
...***...
Melody menyusul Dira yang tak kunjung kembali ke dalam kelas, setelah izin terlebih dahulu kepada Bu Retno tentunya.
Saat memasuki toilet, samar-samar Melody mendengar suara seseorang yang tengah muntah di dalam salah satu bilik toilet.
"Dir, Lo masih di situ? Lo Nggak apa-apa kan?" Tanya Melody khawatir. Karena terhitung sudah 15 menit lebih Dira keluar dari dalam kelas tadi. Tapi ternyata Gadis itu masih saja belum berhenti untuk mengeluarkan isi perutnyam
Tak lama kemudian dia keluar dari dalam toilet dengan wajah yang terlihat mengkhawatirkan. Sangat pucat.
"Gue lemes, Mel." Ucap Dira lirih.
"Gue anterin Lo ke UKS aja ya? Wajah Lo pucat banget soalnya?"
__ADS_1