Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
170. Arfen is back.


__ADS_3

Empat hari setelah kerja kelompok di rumah keluarga Axello.


Axell menarik satu alisnya saat mendapati sang istri yang kembali meletakkan sesuatu benda ke dalam laci di lemari bagian bawah.


Dan beruntungnya, Axell tahu benda apa itu?


Benda yang menurutnya sedikit horor dan menjadi kebutuhan perempuan disaat mereka mengalami red days.


Axell tersenyum samar dengan kepala yang menggeleng pelan, saat ia mengingat Dira yang dengan berani, meminta bantuannya untuk mengambilkan barang yang bahkan sama sekali ia tidak pernah melihat seperti apa bentukannya - ke apartemen istrinya itu, saat mereka awal tinggal bersama di apartemen waktu itu.


Saat itu, Axell bahkan sempat kebingungan saat berada di unit apartemen milik Dira.


Bingung untuk memilih, mana yang biasanya istrinya itu pakai? Karena takut salah ambil, Axell memutuskan untuk mengambil beberapa jenis di setiap kemasan yg berbeda untuk Dira.


Kalau di ingat-ingat, Axell jadi merasa lucu sendiri. Sama sekali tidak pernah ia berpikir sedikit pun, akan menyentuh benda keramat itu. Meski pun dalam keadaan yang masih bersih, utuh dan terbungkus rapi di dalam kemasannya.


Ngginggg...


Suara hair dryer yang Dira gunakan untuk mengeringkan rambutnya, berhasil membuat Axell tersadar dari lamunan tragedi si 'roti' Jepang itu.


Mata Axell kini fokus melihat sang istri yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya setelah mandi. Axell beranjak dari duduknya. Ia mendekati Dira untuk membantu mengeringkan rambut basahnya.


"Aku bantu, Yang." Ucap Axell santai dan langsung mengambil alih pengering rambut tersebut dari tangan sang istri.


Dira mengangguk, ia membiarkan suaminya mengambil alih hair dryer dan mengeringkan rambutnya.


Baru sekitaran dua menit Axell membantu Dira untuk mengeringkan rambut, tiba-tiba gerakan Axell terhenti.


"Setelah kuretase, jangan dulu melakukan hubungan suami istri! Setidaknya 1-2 Minggu ke depan. Atau paling tidak, tunggu sampai Dira selesai mengeluarkan bercak darah sisa pembersihan!"


"Dan mungkin setelah ini Dira akan mengalami kram di panggulnya. Dokter juga sudah memberikannya obat. Tapi berikan lagi pada Dira jika sakit itu timbul lagi!"


Axell teringat dengan apa yang bundanya katakan saat mereka masih di rumah sakit.


Kalau tadi Dira mengembalikan roti Jepang itu, apakah mungkin beberapa hari ini dia ...


Axell mengubah pandangannya. Ia melihat sang istri yang sedang asyik men-scroll akun sosial medianya. Saking asyiknya, Dira sampai tidak menyadari kalau sang suami memperhatikannya sedari tadi dari pantulan kaca di depannya.


Axell berdehem pelan. Ia meletakkan pengering rambut tadi ke atas meja. Lalu menyisir rambut sang istri yang hampir kering. Sengaja Axell tidak mengeringkan rambut Dira sepenuhnya karena Dira pun selalu melakukan hal yang sama.


"Perut kamu masih suka nyeri, Yang?" Tanya Axell tiba-tiba.


Dira menatap wajah Axell melalui pantulan cermin. Ia menggeleng, "Udah enggak kok, kak. Kan aku minum obat yang bunda kasih?" Jawabnya.

__ADS_1


Axell mengangguk, tapi jawaban Dira tadi tidak dapat membantunya sama sekali. Axell lalu menunduk dengan kedua tangan yang melingkar di pundak sang istri.


"Cantiknya istriku." Ucap Axell tepat di samping telinga Dira. Lalu mencium telinga yang tertutup rambut sang istri yang tergerai itu.


Mata Axell terpejam, ia begitu menikmati aroma yang menguar dari istrinya. Selalu wangi. Axell bahkan sangat menyukai aroma yang selalu melekat pada istri cantiknya itu.


Dira diam, ia reflek mengulum bibir dan langsung menundukkan kepalanya. Malu.


Axell tersenyum. Tahu istrinya malu, ia jadi gemas sendiri. "Pipi kamu kok jadi merah sih, Yang?" Tanya Axell pura-pura tidak tahu.


Mendengar ucapan Axell, Dira langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. "Iihhh... kak! Jangan godain aku, dong!" Ucap Dira bersungut-sungut, tapi masih terdengar manja di telinga Axell.


"Kenapa, Yang?" Tanya Axell pura-pura tidak tahu. "... Halal ini." Jawab Axell sambil terkekeh pelan.


"Iihh... kak Axell!"


"Iya, sayang. I love you too."


...***...


"Yo, Arfen!" Teriak Derry saat ia tanpa sengaja, melihat seseorang yang lama tidak ia lihat belakangan ini.


Arfen yang sedang menuruni tangga menatap ke depan saat ia mendengar suara yang tak asing menurutnya - memanggil namanya.


Tak langsung bersuara. Arfen masih menelisik sekitar tempat duduknya. Mencari seseorang yang mungkin saja datang bersama Derry tadi.


"Lo nyari siapa?" Tanya Derry setelah kepulan asap keluar dari mulut dan hidungnya. "... Gue datang sendiri." Tambahnya yang mengerti kalau Arfen mungkin sedang mencari Nicholas.


Arfen menarik satu sudut bibirnya. "Gue kira Lo datang sama bang Nicholas ..." Arfen beralih menatap Devan. "... Glass of cocktails!" Ucapnya pada Devan.


"Siap, Bos!" Jawab Devan pada bos mudanya itu.


Derry kembali menenggak minumannya. Kali ini dari botol yang ia tuang sendiri. "Lagi pusing dia."


Arfen menarik satu alisnya, "Sakit?" Tanyanya singkat.


Derry menggeleng malas. "Rere abis bikin masalah, di tambah Perusahaan bokapnya juga lagi nggak stabil ..." Derry kembali menghisap rokoknya.


"Rere? Dia pulang?" Tanya Arfen dengan nada tak percaya. Ia terkejut.


Derry melirik Arfen sekilas, "Nggak mungkin kalo Lo nggak tau Rere di Indo?"


Arfen menggeleng pelan. Tangannya sedang memutari bibir gelas dengan telunjuknya. "Gue nggak tahu." Jawab Arfen.

__ADS_1


Derry menoleh. Ia menatap Arfen tak percaya, "Dua bulan ini Lo kemana aja, Bro? Yakin nggak ketemu sama Rere?" Tanya Derry mengejek. "... Padahal udah dua bulan lebih dia balik Indo."


Arfen menyesap sedikit minumannya. Besok ia akan kembali masuk sekolah setelah dua bulan sekolah secara daring. Jadi ia tidak ingin mabuk.


Sejak malam ia mengirimi Dira pesan hari itu, dan ternyata Axell yang menerimanya, Arfen memutuskan untuk menghilang sejenak. Ia pergi ke Bali dan akan kembali setelah berhasil menata hatinya.


Mengetahui Dira, sahabat sekaligus gadis yang di ia cintai menjalin kasih dengan Axell, ternyata berhasil membuat hatinya tidak baik-baik saja.


Pergi sejenak dan berharap bisa melupakan adalah tujuan pelarian Arfen. Tapi ternyata pelariannya hanya sia-sia. Raganya memang tidak di Jakarta, tapi batin dan pikirannya seolah berkhianat.


"Gue ke Bali dua bulan ini." Santai Arfen menjawab. Lalu meneguk minumannya.


"Ngapain? Cari selikingin!" Ejek Derry. Laki-laki itu terkekeh geli sendiri.


Arfen tertawa pelan dengan kepala yang menggeleng samar, "Pikiran Lo emang nggak pernah jauh dari yang begituan, Bang! Heran gue." Jawab Arfen. "... Emangnya sampai sekarang Lo belum berhasil nemu yang perawan, sampe explore terus-terusan?" Arfen mengangkat wajahnya, lalu perlahan kepulan asap keluar dari mulut dan hidungnya, "... Emang nggak takut kena karma Lo?"


Derry yang sedari tadi memasang wajah Santai perlahan mengubah raut wajahnya. Senyum yang sedari tadi menghias di wajahnya pun perlahan menghilang.


"Gue udah pernah jebolin anak orang." Ucap Derry pelan. Arfen tidak bodoh. Ia tahu ada nada penyesalan dari kata-kata Derry barusan.


"Dia hamil?" Tanya Arfen hati-hati. Bukan karena takut dengan Derry, tapi ini pembicaraan serius.


Derry menggeleng, "Bahkan sampai sekarang dia masih nggak tau kalo yang making-in dia itu gue."


Arfen menarik satu alisnya. "Maksud Lo?"


Derry kembali menenggak minumannya. Alkohol akan membantunya berkata jujur. "Kita sama-sama mabuk waktu itu. Gue bahkan nggak sadar dengan apa yang udah gue lakuin sama dia." Derry berhenti sejenak. "... gue lagi ho**y dan bayangan gue, tuh cewe bukan dia. Gue melihat cewek lain. Pas gue bangun, gue kaget. Ternyata cewe yang gue perawanin semalam, cewe yang gue kenal."


...***...



*Derry Bramantyo.



*Arfen Arsetya Restu.


*Ada yang kangen sama Arfen?


*Nih, ngomong sama orangnya!


*Atau mau ngomong sama Derry mungkin?

__ADS_1


__ADS_2