Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
195. Tetangga.


__ADS_3

Arfen melihat telapak tangan kanannya, "Aku rasa tiga pukulan cukup." Monolognya dengan tatapan yang masih terarah pada satu tangannya. Lalu telapak tangan itu perlahan mengepal dengan kuat.


Ya, mencoba untuk merelakan Dira untuk Axell memang sudah menjadi keputusan yang Arfen pilih. Dan rasa sakit hati karena melepaskan Dira tentu akan ia nikmati sendiri nantinya.


Tapi, bukan berarti Arfen akan diam saja setelah ini. Arfen memang rela dan ikhlas. Tapi rela dan ikhlas saja tidak cukup untuk membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Arfen butuh pelampiasan. Dan tentunya dengan orang yang berhubungan dengan rasa sakitnya ini.


Arfen meraih ponsel dari saku celana seragamnya. Mengusap benda pipih ajaib itu dengan ujung jempolnya. Ia berbalik dan tanpa sengaja tatapan matanya tertuju pada seseorang yang berjalan mendekat kearahnya. Satu alis Arfen terangkat menyadari seragam laki-laki itu yang ternyata sama dengan yang Dira kenakan.


Bukan. Dia bukan Verrel, bukan juga Bastian atau pun Axell. Tapi seseorang yang Arfen tidak kenal itu pasti satu sekolah dengan mereka semua.


Untuk sepersekian detik pandangan keduanya bertemu. Sampai pada akhirnya pandangan keduanya terputus karena pemuda itu berjalan melewatinya begitu saja tanpa saling tegur sapa dan langsung memasuki lift. Santai Arfen berbalik untuk kembali melihat wajah jutek laki-laki itu. Dan pandangannya kembali bertemu karena keduanya saling tatap. Lalu kembali terputus karena pintu lift yang tertutup berbarengan dengan Arfen yang menempelkan ponselnya di telinga.


"Iya, gue masih di sini."


...***...


"Xell -"


Panggilan dari Verrel yang belum sepenuhnya memanggil itu sudah lebih dulu di potong oleh Bastian. "Buru-buru banget, Xell. Mau kemana?" Tanyanya dengan nada menggoda.


Axell yang baru saja akan mengenakan helm itu menoleh. "Pulang." Jawabnya singkat.


Bastian menepuk satu pundak Verrel, "Pulang katanya, Rel!" Ucapnya dengan nada mencibir.


"Diem Lo!" Tegur Verrel pada Babas, lalu kembali menatap Axell. "... Pulang kemana?" Tanya Verrel memastikan


"'Tuh, Xell... Verrel nanya, Lo mau pulang kemana?" Bastian terkekeh setelah menyelesaikan pertanyaannya.


Emang dasar si Babas, suka kadang-kadang kelakuannya.


Axell melirik Bastian dengan side eye nya. Meskipun sekilas, tapi Axell bisa melihat dengan jelas wajah menyebalkan Bastian sekarang ini. "Dasar kepo!"


"Diihh! Sok-sokan ya, ngab!" Cibir Bastian lagi. Axell menghela nafas, ia menangkap hal aneh dari Bastian. Walau pun sebenarnya, Bastian terkadang memang suka aneh.


"Ada apa?" Tanya Axell to the points. Pasti ada maksud lain dari sikap kedua sahabatnya ini.


"Verrel minta gue nganterin Lo pulang, Ngab. Katanya dia nggak tega liat Lo yang montoran sendiri." Jawab Bastian asal.


"Ckk." Verrel berdecak mendengar ucapan tak bermutu Babas. "... Gue mau main ke rumah Lo. Makanya gue nanya Lo mau pulang kemana?" Tanya Verrel yang kini mengutarakan maksudnya.


"Mau numpang makan katanya, Xell. Nih, si miskin lagi kelaparan!!" Bastian kembali bersuara sambil menunjuk ke arah Verrel.


"Heh! Jangan sembarang lambe Lo, ya!" Verrel tiba-tiba berubah galak mendengar ucapan Bastian. Sementara si Babas malah langsung mencapit bibir Verrel dengan ibu jari dan telunjuknya agar Verrel diam.


Axell diam sejenak. Iya, beberapa lalu ia memang sempat kucing-kucing dengan Verrel sebelum statusnya dengan Dira terbongkar. Tapi sekarang, ia tak lagi harus menutupinya karena semua sahabatnya sudah tahu. Hanya saja disini Dira yang malah belum mengetahui kalau statusnya dengan Axell sudah diketahui oleh Verrel dan juga Nayla.

__ADS_1


"Ke rumah." Jawabnya singkat.


"Lhah, ke rumah katanya, Rel." Bastian kembali menepuk bahu Verrel.


"Bisa diem nggak!" Sentak Verrel yang mulai jengah dengan ulah Bastian.


"Oke, gue diem." Jawab Bastian dengan tampang yang mendadak berubah seperti korban yang teraniaya. Sementara Axell hanya menarik satu alisnya melihat tingkah dua sahabatnya itu. Axell menyadari ada sesuatu hal yang sedang keduanya tutupi, hanya saja apa hal itu Axell tidak tahu.


"Maksud gue gini, Xell. Coba Lo telepon Dira dulu, tanya posisinya! Ya ... Kali aja kan dia lagi dijalan. Nayla bilang mau ngajakin jalan tadi." Ucap Verrel hati-hati karena pastinya bohong dan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sebenarnya Verrel dan Bastian memang sudah tahu dimana Dira sekarang. Verrel dan Bastian sengaja melakukan ini supaya Axell tidak cepat-cepat pulang ke rumah dan berujung gagalnya rencana mereka.


Tak langsung menjawab, Axell mendadak ragu. Dira selalu meminta izin padanya sebelum pergi dan sepertinya istrinya itu tidak mengatakan apa-apa.


Axell lalu meraih ponselnya. Ia akan coba menelpon seseorang dan yang pastinya bukan Dira. Hanya untuk memastikan apakah Dira benar di rumah atau tidak?


"Dimana istriku?" Satu pertanyaan yang langsung ke inti saat panggilan Axell mendapat respon di seberang sana.


"Dimana istriku katanya, Rel?" Bastian terkekeh pelan setelah menirukan gaya bicara Axell tadi, tentunya dengan nada yang berbisik agar Axell tak mendengar ucapannya.


Tak menjawab, tak merespon, Verrel malah dengan sengaja menginjak kaki Bastian tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sengaja emang.


"Ashuww!" Bastian teriak tiba-tiba. "... Jangan sembarang nginjak, mas'eh!" Ucapnya lalu mendorong kepala Verrel. "... kaki gue sakit, Sat!"


Verrel malah langsung merangkul Bastian dan membungkam mulut sahabatnya itu dengan tangannya kuat-kuat. "Bisa diem nggak, ha?! Lo bisa diem nggak, gue tanya?" Tanyanya yang kembali galak. Sengaja agar Bastian bisa sedikit lebih tenang dan tidak kembali memancing emosinya.


Bastian menarik paksa tangan Verrel yang menutupi mulutnya. "Jijik, Rel! Tangan Lo bau e'ek!" Bastian berlaga mau muntah setelahnya.


...***...


Dira yang baru selesai membersihkan diri itu keluar dari kamar mandi lengkap dengan setelan baju santai yang melekat di tubuhnya. Lalu duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Setelah memastikan rambutnya setengah kering, Dira menghentikan aktivitasnya. Ia merebahkan diri di atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sedikit merasa lelah.


Baru akan memejamkan mata, tiba-tiba Dira teringat dengan penuturan Arfen tadi. Dimana Arfen yang mengatakan penolakan atas tuduhannya dimana Arfen yang menjadi pemicu keretakan hubungan antara Axell dan sang mantan dulu. Persis seperti dugaannya sebelumnya.


"Benerkan apa yang gue pikir selama ini? Masalah antara kak Axell dan Arfen cuma salah paham. Dasarnya tuh cewek aja yang kegatelan! Nggak mungkin Arfen suka sama cewek modelen kayak gitu ... Ulat bulu beracun." Dira jadi emosi sendiri ketika mengingat pertemuannya dengan Renata saat di sekolah hari itu. Lalu saat gadis itu mendatanginya untuk meminta maaf.


"Tapi, kenapa hari itu dia bisa tiba-tiba minta maaf?" Kepala Dira menggeleng. Ia tak ingin lagi memikirkan tentang Renata.


Dira lalu menghela nafas, ini sudah sore dan seharusnya suaminya itu sudah pulang kan?


Dira lalu terduduk, lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas tadi. Jam sudah menunjukkan pukul 16,35.


"Bege!" Dira menepuk jidatnya sendiri karena menyadari satu hal. "... Gue lupa kasih tau kak Axell kalo gue di apart!"


Dira lalu mengusap layarnya dan mencoba untuk menghubungi Axell. Tapi baru saja ia akan menelpon Axell, tiba-tiba ada pesan yang lebih dulu masuk di ponselnya.

__ADS_1


Ting!


📥Kk Bastian.


Dir, tolong bantuin gw!


Gw lgi di basemen apart Lo.


Dahi Dira seketika berkerut, berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan kakak kelasnya itu.


📥KK Bastian.


Cepetan, Dir!!!


Lagi, satu pesan kembali masuk dari nomor yang sama. Dengan cekatan Dira mengetikan pesan balasan untuk Bastian.


^^^📤Dira Gra^^^


^^^Gue kebawah sekarang, kak.^^^


Send Bastian ✔️✔️


Pesan langsung centang dua yang menandakan Bastian sudah membaca balasannya. Dira lalu beranjak dan melangkah keluar dari apartemen untuk menemui Bastian.


Tepat saat Dira keluar dari unit apartemen Axell, Dira melihat Adit yang juga keluar dari salah satu kamar yang terletak tepat di samping unit Axell. Cowok itu hanya mengenakan kaos oversize warna hitam dan celana chinos selutut warna khaki.


"Adit?" Panggil Dira yang kini berjalan mendekat. "... Lo -" Pandangan Dira mengarah pada dimana munculnya Adit tadi. "... tinggal disini juga?" Tanyanya.


Adit menoleh, "Iya. Kenapa?" Santai Adit menjawab.


Dira menggeleng, "Se-sejak kapan? Kok gue nggak pernah liat Lo masuk gedung ini?"


'Sejak gue jadi babu suami Lo!' Jawab Adit tentunya dalam hati.


"Udah dari beberapa bulan yang lalu. Awal masuk kelas 11 lebih tepatnya. Kenapa?"


Deg.


Mata Dira membulat mendengar jawaban dari teman sekelasnya itu. Kalau mereka bertetangga, mungkin nggak sih Adit pernah melihatnya memasuki kamar berdua dengan Axell?


"Dir, Lo oke, kan?" Satu pertanyaan yang berhasil menyadarkan Dira dari pikirannya.


"Gapapa kok. Yaudah, gue duluan, ya, Dit!" Ujar Dira yang langsung berjalan ke arah lift.


...***...

__ADS_1


Bugh!


"Kak Axell!!!"


__ADS_2