Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
152. A little story about Axello.


__ADS_3

Mengikhlaskan calon anaknya yang telah pergi ke pangkuan sang pencipta itu tidak semudah mengedipkan mata, atau semudah membalikkan telapak tangan.


Percayalah! Dibandingkan dengan kedua orang tuanya, di sini Axell lah yang paling menginginkan calon anak itu. Dan di saat Dira keguguran, Axell lah yang paling merasakan sedih dan kehilangan di sini.


Mungkin terkesan buru-buru. Tapi Axell benar-benar menginginkan istrinya itu cepat hamil.


Selain untuk memperkuat pernikahan bersama dengan Dira, jika Dira benar hamil, istrinya itu tidak akan punya alasan untuk meninggalkannya. Dan berpaling pada orang lain. Terlebih pada seorang ... Arfen.


Mungkin sebagian orang menilai Axell egois, karena tidak memikirkan masa depan Dira, tidak memberikan kesempatan Dira untuk menyelesaikan pendidikannya dan mengorbankan masa indahnya SMA Dira karena hamil dan menjadikannya seorang ibu setelah melahirkan anak mereka nantinya.


Salah! Tidak seperti itu.


Axell bahkan sudah mengatur dan mempersiapkan semuanya. Termasuk pendidikan Dira. Dan itu Axell lakukan hanya untuk Dira - istri yang begitu ia cintai. Segala cara akan Axell lakukan agar dia bahagia bersamanya. Hanya bersamanya.


Ya, memang se-cinta itu Axell pada Dira ... istrinya.


Axell tak ingin lagi merasakan yang namanya kehilangan orang yang dia cintai.


Bicara tentang betapa sakitnya kehilangan karena ditinggalkan orang yang kita cintai, Axell dulu sudah pernah merasakannya. Saat dia menjalin kasih dengan gadis bernama Renata, gadis yang hampir 1 tahun menjadi kekasihnya saat Axell baru akan meninggalkan bangku SMP - pada masa itu.


SMP? Cinta monyet, dong!


Mungkin iya. Tapi pemikiran Axell tidak seperti remaja SMP pada umumnya. Katakanlah Axell sedikit lebih dewasa dari remaja seusianya. Dan ketika Axell mencintai seseorang, dia tidak main-main.


Awalnya hubungan Axell dan Renata berjalan sesuai dengan apa yang di harapan Axell. Mulus, lancar jaya dan bebas hambatan seperti jalan tol.


Hingga pada suatu ketika, tepatnya saat pertengahan kelas X, Axell merasakan sikap Renata mulai berubah padanya. Mulai dari jarang menerima telepon, jarang membalas pesan. Dan saat Axell meminta untuk bertemu, Renata akan selalu mencari alasan untuk menolaknya.


Renata bahkan terkesan menjauh. Axell bahkan bisa merasakan hubungannya dengan Renata tak sehangat beberapa bulan lalu.


Hingga akhirnya hal yang Axell takutkan benar terjadi. Renata mengakhiri hubungan mereka secara sepihak. Dan yang membuat Axell semakin tak menyangka adalah pengakuan dari Renata sendiri.


Renata mengaku bahwa ia mencintai salah satu sahabat Axell. Bukan Verrel, bukan juga Bastian. Melainkan ... Arfen Arsetya Restu.


Arfen? Sahabat?


Iya. Axell, Arfen, Verrel dan Bastian. Mereka berempat bersahabat dari awal masuk SMP. Tak ayal mereka berempat sangat dekat. Utamanya Axell dan Arfen.


Arfen bahkan sering datang dan menginap di rumah besar keluarga Axello. Bahkan Bunda Resty pun sudah menganggap Arfen sebagai putra kedua di keluarga tersebut.


Setelah berakhirnya hubungan Axell dan Renata, persahabatan antara Axell dan Arfen masih baik-baik saja. Karena Arfen berhasil meyakinkan Axell bahwa ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap Renata.


Dan Axell percaya dengan apa yang Arfen katakan padanya.


Lalu pada suatu ketika saat Axell sedang berkumpul dengan Verrel dan juga Bastian di sebuah cafe, Bastian tanpa sengaja melihat Arfen sedang bersama dengan seorang gadis di cafe yang sama. Dan Renatalah gadis tersebut.

__ADS_1


Axell memutuskan untuk mendekat. Ia ingin tau apa yang sedang mereka bicarakan. Dan saat Axell mencoba mendekati keduanya, Axell mendengar dengan telinganya sendiri kalau Arfen meminta Renata untuk meninggalkannya.


Sebenarnya kejadiannya tidak seperti itu. Hanya saja Axell tidak mendengar apa yang Arfen katakan secara keseluruhan. Hanya di bagian akhir kalimat saja.


Katakanlah Axell salah paham di sini. Dan dari situlah hubungan keduanya mulai merenggang.


Verrel dan Bastian yang juga mengetahui hal itu pun ikut menjauhi Arfen. Mereka menganggap Arfen telah menikung sahabatnya sendiri.


Sebenarnya Axell sama sekali tidak mempermasalahkan jika Verrel dan Bastian masih bersahabat dengan Arfen, karena ini masalahnya pribadi. Tapi Verrel dan Bastian tetap memilih untuk menjauhi Arfen.


Tak cukup sampai di situ, malam dua hari setelah kejadian di kafe, Axell kembali di buat terkejut dengan sebuah video yang Verrel kirimkan.


Dalam video tersebut, Axell dapat melihat dengan sangat jelas Arfen keluar dari klub malam keluarganya, dengan seorang gadis yang tengah mabuk dalam rangkulannya. Padahal saat itu jam menunjukkan dini hari.


Axell benar-benar merasa dibohongi.


Malam itu juga Axell melajukan mobilnya dan berhenti di depan salah satu rumah. Pandangan mata Axell menatap lurus ke depan sana dimana rumah Renata berjarak sekitar dua puluh meter dari mobilnya sekarang ini.


Dan benar saja. Tak lama menunggu, mobil Arfen mulai terlihat memasuki pintu gerbang rumah keluarga Renata. Dan setelah menunggu 1 jam lebih 30 menit, mobil warna putih milik Arfen keluar dari gerbang rumah tersebut.


Satu jam 30 menit?


Ngapain aja Arfen di dalam rumah?


Bertamu?


Di jam dini hari seperti sekarang ini?


Nggak mungkin!


Jelas-jelas kedua orang tua gadis itu sedang tidak tinggal di Jakarta saat itu. Entahlah.


Semenjak itu, hubungan keduanya tak lagi baik dan Axell memilih untuk menjauhi Arfen.


Axell tidak pikun. Di awal pernikahannya dengan Dira, ia mengetahui sebuah fakta bahwa Dira dan Arfen bersahabat, dengan saling menyimpan rasa melebihi dari sahabat satu sama lain.


Axell menyebut keduanya 'sahabat tapi suka'.


Lalu sekarang, setelah mengingat kejadian 2 tahun belakangan, Axell tak ingin kejadian itu kembali terulang.


Jadi, cukup sekali Axell kehilangan seseorang yang dicintainya karena Arfen. Setelah ini tidak akan lagi.


Terlebih mengingat statusnya dengan Dira yang bukan sekedar pacar. Dira itu istrinya. Belahan jiwanya. Separuh nafasnya dan bagian dari dirinya.


Hubungan mereka bukan sekedar main-main yang kalau sekali putus, bisa di sambung lagi.

__ADS_1


Tidak. Axell bahkan tidak ada niatan sedikit pun untuk berpisah dengan Dira. Tidak selama Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk bernafas di dunia ini.


Karena Prinsip hidup Axell adalah menikah sekali seumur hidup. Ia tidak akan menikah untuk kedua kalinya. Cukup Dira ... pertama dan terakhir.


Dan sekarang, apa yang sedang Axell lakukan untuk Dira?


Percayalah! Axell hanya sedang menjaga apa yang menjadi miliknya.


Jadi, kalau Axell ingin Dira segera hamil ... tidak salah kan?


...***...


Axell masih betah berdiam diri dengan pandangan menatap Dira. Ia bahkan tidak sadar kalau semua mata mengarah padanya karena berdiri terlalu lama.


"Boy..." Panggil bunda Resty namun Axell seperti tuli. Ia tidak menoleh atau menjawab.


"Axell..." Kini giliran ayah Marvellyo yang memanggil, dan itu sukses membuat Axell tersadar dari lamunannya. "... Kenapa berdiam diri di situ? Dari mana kamu tadi?" Tanyanya lagi.


Urung menjawab, Axell malah menghela nafas panjang.


"Boy, kamu juga belum jawab pertanyaan bunda." Desak bunda Resty. "... kamu -" Ucapan bunda Resty menggantung karena tiba-tiba Axell menatapnya serius. Lalu pandangan Axell beralih menatap sang ayah dengan tatapan yang sama.


"Axell hanya melakukan apa yang harus Axell lakukan ..." Lalu Axell beralih menatap Dira. "... Menjaga apa yang menjadi milik Axell."


Bunda Resty yang kebetulan duduk di dekat brankar Dira lekas berdiri dan menghampiri sang putra. Ia membingkai wajah tampan Axell yang nampak kuyu dan lesu itu.


"Bunda tau kamu sedih atas semua yang terjadi pada Dira dan calon anakmu, boy. Tapi bunda harap, kamu jangan sampai bertindak sesuatu yang nantinya akan merugikan dirimu sendiri!" Ucap bunda Resty pelan.


Di saat seperti ini, bunda Resty tidak ingin semakin menambah emosi yang sepertinya belum sepenuhnya padam dari putranya itu.


Emosi masih mendominasi putranya.


Tak menjawab, Axell beralih menatap sang bunda. Lalu menghela nafas pelan dengan kepalan tangan yang mulai melemah.


"Boy, Sebaiknya kamu mandi dulu! Lihat dirimu! bunda sampai tidak mengenali putra bunda sendiri." Titah bunda kembali bersuara.


"Dira sebentar lagi sadar, tidakkah kamu ingin dia melihatmu dalam keadaan rapi? Istrimu pasti akan merasa bersalah jika melihat tampilanmu seperti sekarang ini." Ucap Ayah Marvellyo.


"Pak Septa sudah bawakan baju ganti. Cepat mandi dan bersihkan dirimu!" Titah bunda Resty.


Axell menatap Bunda Resty sesaat lalu mengangguk. Ia berjalan mendekati meja di depan sofa dimana ayah dan pak Septa sedang duduk disana.


Tangan Axell meraih paper bag berisikan baju ganti untuknya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Ceklek.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi ternyata Axell tak langsung mandi. Ia masih diam sesaat memikirkan ucapan bundanya tadi.


"Jangan bertindak melebihi batas?" Ulang Axell, ia tersenyum menyeringai. "... Axell bahkan belum ngapa-ngapain, Bun."


__ADS_2