Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
180. Lambang Aditya Pratama.


__ADS_3

"Lo mau kemana, Dir?" Satu pertanyaan yang langsung muncul saat Melody melihat Dira yang tiba-tiba berdiri dari posisi duduk, setelah menutup buku catatan miliknya.


"Gue mau ke toilet bentar, Mel!" Jawab Dira terdengar lemah. Satu tangannya memegang perut yang terasa semakin nyeri.


Pagi ini Bu Retno berhalangan hadir. Jadi kelas Dira hanya di berikan tugas merangkum dan harus di kumpulkan sebelum jam istirahat. Itu yang membuat kelas tersebut hening meski tidak ada guru yang mengajar. Suatu keadaan yang sangat jarang terjadi. Karena biasanya sebuah kelas akan terdengar begitu ramai dan berisik jika tidak ada gurunya.


Jadi, mau tidak mau seisi kelas patuh mengerjakan tugas yang di berikan tanpa terkecuali.


Meskipun beberapa diantaranya terlihat ogah-ogahan dalam mengerjakan tugas tersebut. Salah satunya, Dira sendiri. Bukan karena Dira malas mengerjakan tugas yang di berikan, tapi karena Dira tengah merasakan nyeri yang sangat mengganggu di perut bagian bawahnya.


Melody mengrenyitkan dahi saat melihat wajah pucat Dira. "Lo kenapa? Sakit?" Tanya Melody terdengar khawatir. "... mau gue temenin, Dir? Wajah Lo kelihatan pucat banget." Tambah Melody menawarkan.


Adit yang kebetulan duduk tak jauh dari Melody menghentikan aksinya menulis setelah mendengar ucapan Melody. Ia diam-diam menoleh ke arah Melody dan Dira bergantian. Detik kemudian satu alis Adit terangkat saat melihat wajah Dira yang terlihat pucat seperti apa yang Melody bilang.


Dari pandangan Adit, ia bisa melihat dengan jelas dimana Dira yang terlihat sedang tidak sehat.


"Gue bisa sendiri kok, Mel." Jawab Dira yang tentunya masih bisa Adit dengar. Dira lalu melangkahkan kaki keluar dari kelas tanpa memperdulikan Melody yang ngomel tidak jelas.


Sementara Adit, ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum akhirnya kembali melanjutkan kegiatannya menulis.


Menit berlalu, Dira tak kunjung kembali dari toilet. Adit yang memang tengah awas kembali melihat jam tangannya. Terhitung sudah hampir setengah jam Dira meninggalkan kelas dan belum ada tanda-tanda akan kembali. Laki-laki itu menghela nafas lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari dalam kelas.


...***...


Adit berdiri di depan toilet bertuliskan cewek dan di samping sana bertuliskan toilet cowok. Bukan. Adit bukan salah gender, atau pun punya niat untuk mengintip seseorang. Hanya saja Adit sedang memastikan seseorang yang mungkin ada di dalam sana atau tidak?


Lewat lima menit Adit berdiri di sana. Ia ragu untuk memilih masuk atau tetap menunggu di luar. Tapi, menunggu pun tak bisa membantunya memastikan apa yang terjadi di dalam sana. Lebih tepatnya, apakah Dira benar ada di sana dan dalam keadaan baik-baik saja atau tidak?


"Lo! Ngapain disini?" Alisa memincingkan matanya menatap Adit dengan jari telunjuk yang jelas-jelas menuding ke arah Adit. Gadis itu baru saja keluar dari toilet dan terkejut saat mendapati seorang Adit di depan toilet yang di peruntukan khusus untuk para siswi. "... Lo mau ngintip, ya?!" Tuduhnya.


Adit menghela nafas di tuduh seperti itu oleh Alisa. Apa tadi? Mengintip? Bukan Adit banget, deh!


"Sembarangan Lo nuduh gue ngintip!" Protes Adit tak terima.


"Terus, ngapain kalo nggak ngintip?" Tanya Alisa lagi menantang, bahkan kedua tangan gadis itu sampai menekuk di pinggang. "... toilet cowok kan di sono?!" Alisa menunjuk toilet di belakang Adit.


Adit memutar matanya malas, ia tidak ingin semakin membuang waktu. "Udah. Lo diem! Gue mau minta bantuan Lo." Interupsi Adit.


Alisa menghela nafas kasar. "Apaan?" Tanyanya cepat.


"Cariin Dira di dalam!" Ujar Adit singkat.

__ADS_1


"Lo merintah gue -"


"Gue minta tolong. Coba Lo masuk lagi, cariin dia ada di dalem atau nggak?!" Ulang Adit lagi dengan kalimat yang berbeda tapi dengan maksud yang sama.


"Dira? Anak 11 IPS 1 kan?" Alisa menatap Adit awas, "... Wah... Lo horor juga, ya?! Masa' ketemuan sama cewe di depan toilet, sih?" Ucap Alisa mencibir.


Adit enggan menanggapi, ia malah menatap Alisa datar.


"Eh tunggu, bentar! Bukannya si Dira itu pacarnya Axell ya -"


"Bisa langsung cari aja nggak? Atau gue aja yang masuk ke dalam?" Tanya Adit tak sabaran.


...***...


"Ini kosong, ini juga kosong, kosong lagi ..." Alisa membuka bilik toilet satu persatu setelah mengetuk pintunya terlebih dahulu. Dan beberapa bilik toilet tersebut kosong. "... Mana Dira?" Tanya Alisa pada dirinya sendiri.


Tok...


Tok...


"Siapa di situ?" Tanya Alisa pada seseorang yang berada di dalam satu bilik toilet yang tertutup.


Pintu bilik itu terbuka dan muncul Dira dari dalam sana, "Eh ... kebetulan banget Lo disini. Tolongin gue, dong!" Ucap Dira yang kini merasa lega dengan adanya Alisa di toilet.


"Ehh ... nggak gitu. Gue lagi dapet. Bisa nggak Lo ambilin gue ganti di kopsis, nanti gue ganti duitnya!" Ucap Dira.


"Lah... niat gue ke toilet numpang pipis, bukan ngantin. Gue nggak bawa duit." Jawab Alisa yang memang sedang tidak membawa uang karena dompetnya ada di dalam tas sekolahnya.


"Lo ke kelas gue aja kalo gitu, temuin Melody. Dompet gue ada di dalam tas ..." Beritahu Dira. "... Kelas gue free. Tolong, ya!"


Alisa menghela nafas, "Oke, tunggu bentar!" Jawab Alisa yang langsung pergi meninggalkan toilet.


"Kok Lo lama banget!" Baru keluar dari toilet, Alisa sudah kembali di hadang oleh Adit. "... Gimana?" Tanya Adit.


"Ada. Lagi bocor dia." Jawab Alisa.


"Bocor?" Ulang Adit tak paham.


"Urusan cewek. Dah ... ah, gue mau pergi. Minggir!" Jawab Alisa ketus.


"Eh ... kemana?" Cegah Adit cepat.

__ADS_1


Alisa memutar matanya jengah, "Gue mau ke kelas Dira buat ngambil dompetnya. Dia minta gue beliin ganti. Kalo Lo bawa duit, pake duit Lo aja dulu biar gue nggak usah ke kelasnya. Nanti Lo minta ganti di -"


"Nih! Dua ratus cukup?" Potong Adit yang dengan gerakan cepat langsung menyerahkan dua lembar uang ke tangan Alisa.


"Cuma beli Daleman sama roti doang, nggak sampe dua ratus rebu kali!" Cibir Alisa dengan satu tangan yang mengembalikan satu lembar uang Adit yang langsung di tolak Adit dengan gelengan kepala.


"Buat Lo aja!" Ucap Adit. Yang langsung pergi meninggalkan toilet untuk kembali ke kelas. Ia harus segera menyelesaikan tugas sebelum jam istirahat. Adit ingat dengan ucapan Axell pagi tadi.


Bukannya langsung pergi, Alisa malah mengikuti Adit dan mencekal tangannya. "Dih ... banyak duit Lo! Serius ini buat gue? Bukan suap kan?" Tanya Alisa curiga.


"Maksud Lo?" Sahut Adit cepat. Kenapa ia harus menyuap gadis di depannya ini?


"Yaaa ... bisa aja kan, Lo kasih gue duit biar gue nggak cepuin Lo ke ketos soal Lo sama ceweknya!" Jawab Alisa lirih karena takut ada yang mendengar apa yang mereka bicarakan.


Adit menghela nafas untuk sekian kali. Lalu mengambil dompet dari saku belakangnya dan menyerahkannya pada Alisa. "Lo mau gue bayar berapa buat tutup mulut?" Tantang Adit. "... Ambil sendiri!"


Alisa menatap Adit dan dompetnya secara bergantian. Dapat Alisa lihat dengan jelas banyak lembaran uang warna merah dan beberapa kartu yang terdapat di dalam dompet cowok itu.


"Duit Lo banyak, ya! Tapi gue nggak minat." Alisa mendorong tangan Adit yang masih memegang dompetnya. "... Ambil duit Lo!" Tambah Alisa sambil menyerahkan kembali uang Adit yang tadi.


Tukk!


"Auww... Sssh... Sakit be9o!" Tanpa perasaan, Adit langsung mengetok jidat Alisa dengan ruas jari tengahnya. "... kenapa Lo malah ngetok kepala gue?" Protes Alisa kesal.


"Lo pikir orang akan mau di suap dengan duit selembar doang?" Tanya Adit menohok." ... itu wujud terima kasih gue karena Lo mau gue repotin."


"Tapi -"


"Thank's, udah bantu. Gue balik dulu." Ucap Adit yang langsung pergi meninggalkan Alisa.


Alisa menatap punggung Adit yang semakin mengecil lalu menggeleng, "Bukan urusan gue." Ucapnya lalu pergi ke koprasi siswa.


...***...


Dira masuk ke kelas dan langsung merebahkan kepalanya di meja. Satu tangannya memegangi perutnya yang semakin nyeri.


"Dira, kok Lo lama banget?" Tanya Melody yang kini sudah menyelesaikan tugasnya. "... Lo nggak abis pingsan kan?" Tanyanya lagi.


Dira menggeleng, "Gue dapet, Perut gue sakit." Jawab Dira malas.


Melody mengernyitkan dahi, "Lah, bukannya udah, waktu kita kerja kelompok waktu itu?" Tanya Melody lagi. Masih segar di ingatan Melody, Dira memang tengah datang bulan saat itu.

__ADS_1


Dira menggeleng pelan. "Nggak tau." Jawabnya singkat dengan mata terpejam.


Melody diam. Ia menarik buku milik Dira yang ternyata sudah selesai. Ternyata Dira menyelesaikannya tugasnya sebelum ke toilet tadi.


__ADS_2