
"Kak Axell tau?" Cicit Dira pelan.
Tak ada jawaban, Axell hanya menganggukkan kepalanya. Kini pandangan Axell kembali menatap kearah Dira.
"Gue nggak tau, dia ngomong apa aja ke Lo. Tapi yang pasti, gue udah nggak ada lagi hubungan sama dia ..." Ujar Axell pada gadisnya itu. "...Buat gue, dia hanya sekedar masa lalu."
Dira balas menatap Axell, "Maaf. Aku sempat percaya tadi." Lirihnya.
Axell tersenyum mendengar apa yang Dira katakan. "Hubungan gue sama Lo bukan hubungan yang main-main, Dira. Disini harusnya Lo lebih bisa ngerti, kalo gue nggak mungkin menjalin hubungan sama cewe lain disaat status gue yang udah punya istri. Jadi ... boleh gue minta tolong sama Lo?" Ucap Axell.
"Minta tolong?" Beo Dira dengan dahi yang terlipat.
Axell mengangguk dengan pandangan yang tak pernah lepas dari Dira. "Bantu gue untuk pertahanin pernikahan kita. Dan juga ... gue minta Lo untuk belajar!"
"Belajar?" Beo Dira lagi. Bahkan gadis itu kembali jadi semakin bingung. "Belajar apa -..."
"Belajar mencintai gue. Karena tanpa Lo tau, Lo udah berhasil ... " Ucap Axell menggantung. Tangan Axell bergerak untuk meraih tangan Dira, lalu ia tuntun tangan putih itu kearah dadanya. "Lo udah berhasil masuk dan menetap didalam sini."
...***...
Sepasang tangan mengepal kuat di kedua sisi tubuh gadis yang kini tengah berdiri di taman seorang diri. Gadis itu sedan menatap lurus ke arah mobil mewah warna hitam yang terparkir rapi di parkiran khusus SMA Bhakti Bangsa. Seorang gadis yang tak lain adalah Renata Isabella Mahaputri.
Gadis yang tadi berjalan dengan santai di koridor secara tidak sengaja melihat Axell yang menggandeng tangan Dira keluar dari kantin. Karena rasa penasaran yang tiba-tiba datang menyelimuti, jadilah ia mengikuti kemana Axell membawa Dira pergi.
Dan ternyata Axell membawa Dira masuk kedalam mobilnya. Lewat dari lima belas menit, setelah keduanya memasuki mobil tersebut, Axell dan Dira yang berstatuskan sepasang kekasih menurut kabar yang beredar di sekolah, belum juga keluar dari dalam mobil tersebut.
"Ternyata apa yang udah gue omongin tadi nggak mempan di otak Lo. OK, liat nanti, Dira!"
...***...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan kini Dira sedang berjalan dengan Nayla dan juga Melody.
"Abis ini Lo mau langsung pulang, Dir?" Tanya Melody.
"Iya, Mel. Kenapa emang?" Tanya Dira balik.
"Jangan langsung pulang, Dir! Kita jalan dululah. Udah lama kan kita nggak hangout bareng." Sahut Nayla ikut bersuara.
"Setuju gue." Ucap Melody.
"Um... gue -
"Kenapa?" Potong Nayla cepat.
"Mau ke toilet?" Sahut Melody tak kalah cepat dan langsung mendapat anggukan kepala dari Dira.
"KEBIASAAN!" Cibir Nayla dan Melody bersamaan.
Ini sudah sering sekali terjadi. Bukan sekali dua kali. Dira pasti akan beralasan pergi ke toilet setiap Nayla ataupun Melody mengajaknya pergi. Sebenarnya Dira tidak benar-benar pergi ke toilet, itu hanya alasan yang Dira pakai untuk menghindar dari kedua sahabatnya saat akan meminta izin pada Axell.
Dan benar saja, saat Dira sudah menjauh dari kedua sahabatnya, gadis itu mulai mengetikkan pesan pada ponselnya dan yang pasti akan ia tujukan pada Axell.
^^^📤 DiraGra.^^^
^^^Kak...^^^
__ADS_1
^^^Aku diajakin jalan sama Nayla,^^^
^^^Sama Melody juga.^^^
^^^Boleh?^^^
Send ✔️
Tanpa menunggu lama pesan yang Dira kirimkan pun langsung mendapat balasan dari Axell
Ting!
📥 Axarkan.
Boleh.
Kemana dulu!
Kasih tau kemana!
Nanti gw nyusul.
^^^📤 DiraGra.^^^
^^^Belum tau.^^^
^^^Nanti aku sharelock.^^^
Send ✔️
Tanpa menunggu pesan balasan, Dira kembali melangkahkan kakinya menuju dimana kedua sahabatnya menunggu tadi. Tanpa memperhatikan jalan, tangan Dira sibuk memperhatikan ponsel kedalam tas sekolahnya.
Grebbb!
"Emmmbh...
Seseorang yang misterius itu mendekat kearah Dira dan langsung membungkam mulut Dira dan membawanya pergi dari area sekolah tanpa ada seorang pun yang tahu. Karena memang keadaan sekolah yang sudah lumayan sepi. Hanya tinggal beberapa siswa dan tukang kebun yang masih berada di sekolah.
"Cckk. si Dira kemana, sih? Perasaan lama banget, deh!" Keluh Melody yang memang sudah sejak tadi menahan lapar.
"Sabar, Mel! Kita tunggu Dira bentar, siapa tau, Dira lagi sakit perut?" Ujar Nayla sambil mengutak-atik ponselnya. Ia tengah berbalas pesan Verrel sang kekasih.
"Kak... ini tuh udah hampir setengah jam. Tapi Dira belum juga balik, Gue jadi khawatir." Balas Melody dan sukses membuat Nayla menyadari satu hal.
"Lo bener, Mel. Kenapa gue baru nyadar?" Jawab Nayla yang memang menyadari kalau Dira terlalu lama di toilet. "... Jangan-jangan ..."
"Jangan-jangan apa, kak?" Tanya Melody yang kini semakin dibuat khawatir dengan keadaan Dira sekarang.
"Gue takut asma Dira kambuh di toilet." Jawab Nayla yang langsung berjalan setengah berlari menuju ke arah toilet yang mungkin Dira datangi tadi.
"Kak, Nay... Tunggu! Gue ikut." Teriak Melody yang kini langsung Nayla.
"Mel... Tunggu, Mel!" Panggil Bastian yang malah kebingungan melihat Melody yang sedang berlari mengikuti Nayla yang lebih dulu berjalan tergesa didepannya.
Melody yang merasa ada yang memanggilnya pun seketika menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan mendapati Bastian yang berjalan mendekat kearahnya
__ADS_1
"Kak Bastian..." Lirih Melody.
"Ada apa? Kenapa Lo sama Nayla kek panik sampai lari-lari gitu?" Tanya Bastian penasaran.
"Si Dira -
"Dira? Kenapa sama Dira?" Potong Bastian cepat. Mendengar nama Dira, Bastian langsung kepo.
"Itu, kak, tadi kan Dira lagi bareng kita, Terus tiba-tiba Dira bilang mau ke toilet. Terus gue sama kak Nayla udah nungguin Dira. Tapi ini udah lama bahkan sampai lewat setengah jam. Tapi Dira Malaga nggak balik-balik. Nah... kak Nayla mikir, tamunya asma Dira kambuh di toilet." Jelas Melody.
"Asma? Dira ada asma l, Mel?" Tanya Bastian cepat.
"Aku nggak tau lebih tepatnya, kak. Tapi kalo kata kak Nayla, sih, gitu." Jawab Melody.
"Udah coba hubungi Axell? Mungkin Dira lagi bareng Axell sekarang?" Ucap Bastian memberi saran.
Melody menggeleng cepat. "Belum, kak. Aku nggak punya nomornya kak Axell soalnya." Jawab Melody.
Bastian menghela nafas pelan, "Coba biar gue yang telpon." Ucap Bastian yang kini merogoh ponsel dari dalam saku celananya lalu segera menelpon sahabatnya itu.
📞 Calling Axell ...
"Halo, Xell..."
"(....)."
"Dira lagi bareng sama Lo nggak?
"(....)."
"Wait!" Ucap Axell yang menjeda teleponnya dengan Axell. Ia kini beralih menatap Nayla yang kini berjalan mendekat kearahnya dan Melody.
"Gimana, Nay? Lo ngeliat Dira nggak di toilet?" Tanya Bastian pada Nayla yang masih bisa di dengar oleh Axell di seberang sana.
Nayla menggeleng, "Nggak ada, bas. Gue udah cari Dira di setiap toilet dibantu sama pak satpam sama beberapa temen kita Tapi tetep, gue nggak ngeliat Dira di mana-mana." Jelas Nayla yang kini semakin panik.
"Xell, Lo masih di ruang OSIS?" Tanya Axell yang kembali menempelkan benda pipih pada telinganya.
"(....)."
Bastian mendesah panjang, menyadari ternyata Axell tak bersama Dira sekarang. "Dira ilang. Nayla udah nyari kemana-mana tapi nggak nemu."
Tak ada jawaban dari seberang sana. Bastian kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku karena sudah dapat dipastikan kalau Axell sudah memutuskan sambungan teleponnya setelah mendengar kabar kalau Dira hilang.
Kurang dari lima menit, kini Axell datang dengan tergesa-gesa dengan wajah yang menampilkan raut kekhawatiran yang nampak jelas terlihat dari wajah laki-laki itu. Bersama dengan seorang Verrel yang nampak sedikit terengah-engah karena mengikuti langkah Axell.
"Dimana Dira?" Tanya Axell langsung.
"Kita nggak ada yang tau, Xell. Tadi Dira bilang mau ke toilet. Tapi udah lewat dari setengah jam, si Dira belum balik sampai sekarang. Gue udah coba cari, tapi nggak ada." Jawab Nayla.
Rahang Axell langsung mengeras setelah mendengar jawaban dari Nayla. Dira hilang dan ia tidak mengetahuinya. Lagi-lagi ia lalai dalam menjaga gadisnya itu. Marah? Tentu. Tapi sebisa mungkin ia menahan emosinya. Tangan kekarnya lalu merogoh ponsel dari dalam saku celananya.
"Tadi dia bilang mau pergi sama Lo." Ucap Axell sambil menunjukkan room chat miliknya dengan Dira tadi.
"Iya, kita emang ada rencana mau jalan tadi. Tapi sebelum pergi tadi Dira bilang mau ke toilet dan malah nggak balik sampai sekarang." Jawab Nayla.
__ADS_1
Tak menjawab, Axell malah membalikkan badannya. Ia bergegas menuju ke sebuah ruangan yang mungkin bisa membantunya untuk menunjukkan kemana perginya Dira tadi. Ruang pantau CCTV.
"Kalo sampe terjadi sesuatu sama Dira, dan ternyata itu benar ulah Lo, Gue pastiin Lo akan menyesal!"