
"Zak... sebenarnya ini rumah siapa sih?" Tanya Melody yang sudah tidak bisa menahan rasa keingintahuannya yang tinggi.
Melihat Zaki yang kini berdiri dan berjalan semakin masuk ke dalam rumah. Melody pun mau tidak mau mengikutinya.
Zaki menghela nafas, ia menoleh sekilas. "Bukannya Lo mau jenguk Dira tadi?" Tanyanya balik.
"Jadi ini rumah orang tuanya Dira?" Tanya Melody lagi.
Oke. Melody mengangguk mengerti sekarang.
Dari yang Melody lihat selama ini, Dira memang terlihat seperti anak orang kaya pada umumnya. Tampilannya pun begitu meyakinkan dan tidak bisa membohongi.
Bahkan Melody masih sangat ingat saat di awal Dira masuk ke Bhakti Bangsa, gadis itu selalu membawa mobil setiap berangkat ke sekolah. Lebih tepatnya sebelum gadis itu menikah dengan Axell tentunya. Karena setelah menikah, Dira hanya berangkat sekolah bersama dengan Axell suaminya.
"Kok Lo nggak cerita sih, Zak, kalo Lo tetanggaan sama Dira?" Tanya Melody yang kini ikutan duduk di samping Zaki, tapi sedikit berjarak.
Tak langsung menjawab, Zaki malah asyik sendiri. Zaki tengah meniupi rambut bagian depannya.
"Ini bukan rumah Dira? Tapi gue yakin Lo bisa ketemu Dira di sini." Ucap Zaki yakin dan malah berhasil membuat Melody kembali bingung.
"Bukan rumah orang tuanya, tapi Dira disini?" Melody menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. "... kok gue jadi bingung lagi?"
Zaki tak menjawab, ia malah membiarkan saja kekasihnya itu berpikir sendiri.
'Anggota baru? Dira menantu di rumah ini, dong!'
Detik kemudian Melody menepuk dahinya sendiri. "Kenapa gue nggak terpikirkan, sih! Ini tuh pasti rumah orang tuanya Kak Axell." Tebak Melody dengan begitu yakin. "... iya, kan?!"
Zaki kembali mendengus, "Dasar lemot!" Cibir Zaki cepat.
Melody jadi manyun. Kenapa kekasihnya itu mudah sekali kembali ke setelah pabrik?
'Menyebalkan!'
"Kalian udah dari tadi?" Tanya Dira yang kini berjalan perlahan menuruni anakan tangga. Dengan rambut yang masih sedikit basah, pertanda Dira baru selesai mandi.
Melody menoleh karena posisi duduknya yang memang membelakangi tangga. Ia bisa melihat Dira yang tampak mengenakan setelan rumahan tapi meskipun begitu, Dira tetap terlihat cantik.
__ADS_1
Emang udah dari sananya.
Dira berjalan mendekat dan duduk di single sofa samping Melody.
"Baru ... lima belas menitan keknya." Jawab Zaki yang kini meraih jus jeruk yang bi Inah bawakan, Menyesap sedikit cairan berwarna oranye itu lalu meletakkannya kembali di atas meja.
Melody mengangguk. "Gimana keadaan Lo, Dir? Udah enakkan kan?" Tanya Melody. "... Gue seneng, deh, Lo hari ini udah di bolehin pulang." Tambah Melody lagi.
Dira mengangguk semangat. "Gue udah sehat banget. Mungkin besok gue udah bisa masuk sekolah lagi. Lagian kan, kemarin itu gue cuma pingsan ..." Jawab Dira yang kini melihat jam pada ponselnya.
Melody dan Zaki saling pandang untuk sesaat. Tadi saat sebelum sampai di rumah Axell, keduanya memang sepakat untuk tidak membahas tentang Dira yang sempat keguguran. Karena Zaki yakin, pasti Axell belum sempat memberi tahu Dira tentang keadaannya yang sebenarnya.
Dan ternyata dugaan Zaki benar. Dira mengira dirinya hanya pingsan. Padahal yang terjadi lebih dari itu.
Dira tersenyum karena sebentar lagi suaminya itu akan pulang. "... btw, gue mau bilang makasih ke kalian, karena udah mau Dateng jengukin gue. Dan juga ... untuk hari itu. Thanks banget, ya!"
Zaki mengusap-usap Surai kecoklatan miliknya. Menarik dengan jarinya kebawah sampai menutupi hidung dan meniupnya. Menyadari rambutnya yang sudah mulai panjang, Zaki lalu menyunggarnya ke belakang.
"Ya ... elah, Dir. Lo kek sama siapa aja, sih." Jawab Zaki santai. "... siapa pun yang ada di posisi gue juga pasti akan melakukan hal yang sama." Tambahnya.
Melody kembali mengangguk. "Iya kali, Dir." Timpanya. "... Lo nggak perlu terima kasih kayak gitu! Kita seneng kok, sekarang Lo udah nggak pa-pa."
Ucapan Dira seketika terputus saat melihat sebuket bunga mawar merah yang begitu indah tepat di depannya. Di susul dengan ciuman yang mendarat di puncak kepalanya.
Sedikit terkejut, Dira reflek menoleh ke belakang. Dan ternyata ...
"Selamat datang kembali di rumah, Yang. Maaf ya, aku telat pulangnya." Ucap Axell yang baru saja pulang dari sekolah. Lalu mengecup sebelah pipi Dira.
Sekarang ini, Dira tak lagi protes dengan perlakuan Axell yang suka menciumnya secara tiba-tiba di depan teman-temannya. Lagi pula hanya ada Melody dan Zaki. Dan mereka hanya sedang berada di rumah sekarang ini. Jadi tidak masalah menurut Dira.
Tanpa Dira tahu, bahwa Verrel dan Nayla pun juga sudah mengetahui statusnya dengan Axell yang sebenarnya.
"Kak Axell udah pulang? Ini ... bunga buat aku?" Tanya Dira tak percaya
Axell mengangguk, "Kamu suka?" Tanyanya.
__ADS_1
Dira mengangguk cepat. Sudah kembali dari rumah sakit terus dapat buket mawar merah kayak gini dari suami gantengnya, siapa yang nggak seneng, sih?
"Sukaaa!" Jawab Dira antusias. Tangan Dira lalu menerima buket bunga pemberian Axell. Kepalanya sedikit menunduk untuk mencium aroma dari bunga mawar tersebut. "... makasih ya, kak. Aku suka banget sama bunganya." Senyum Dira semakin mengembang.
"Jadi cuma suka sama bunganya, nih, Yang? Sama aku nggak, nih?" Goda Axell tiba-tiba. "... Okay." Ucap Axell yang pura-pura merajuk.
"Iihh... kak Axell apaan sih?" Rengek Dira manja. Ini mereka nggak cuma berdua lho! Bisa-bisanya suaminya ini godain di saat seperti ini?!
"Aaa... kak Axell so sweet banget, sih!" Lirih Melody yang terdengar di telinga Zaki. "... kan, jadi pengen!"
Sementara Zaki hanya memutar matanya malas mendengar ucapan kekasihnya. Tangannya santai terangkat untuk menutupi mata gadis itu.
"Ihh... Zaki -
"Ekhem... Tuan dan nyonya Axello yang terhormat. Tolong untuk tidak mempertontonkan kebucinan anda berdua di depan anak yang masih belum cukup dewasa ini!" Interupsi Zaki dengan tangan yang masih sibuk menutupi mata Melody.
"... Orang kalo udah bucin emang suka-suka!" Zaki geleng-geleng sendiri. "... Sampai-sampai orang di sekitarnya seketika tak terlihat. Herman!" Protesnya.
Dira jadi mengulum bibir. Menahan untuk tidak tertawa.
Sementara Axell, ia tersenyum menyeringai yang di tujukan pada Zaki. "Makanya nikah!"
Zaki balas tersenyum. Bukan senyum yang tulus, tapi senyum yang sangat terlihat di paksakan. Dan Axell tahu itu.
Insting Axell tidak pernah salah. Ia bahkan yakin kalau Zaki sekarang ini sedang mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. Entah apa?
'Dih ... Istri dapet dari hasil ikut campur tangan orang tua aja, Bangga! Coba aja kalo bukan dapet dari hasil perjodohan! Gue yakin ... belum tentu Lo bisa dapatin Dira dengan begitu mudah, Xell.' Balas Zaki yang tentunya ia ucapkan di dalam hati.
Zaki masih amat sangat menyayangi dirinya sendiri. Tinggal berdekatan dengan Axell, ia sedikit banyak tahu tentang karakter teman main di masa kecilnya itu. So, Mana mungkin Zaki berani ngomong seperti itu langsung di depan Axell?
Mengundang bencana namanya.
"Basic!" Ucap Zaki yang kini membuang muka dan tubuh yang ia sandarkan ke sandaran sofa.
Tak lagi peduli dengan Zaki, Axell kembali memberikan atensinya pada sang istri.
"Aku ke atas dulu ya, Yang!" Pamit Axell yang kini berjalan menaiki tangga.
__ADS_1
Baru menaiki beberapa undakan tangga, Zaki berteriak. "Jan lama-lama, Xell. Abis ini Gue mau tantang Lo main game!" Tak menjawab, Axell hanya mengacungkan satu jempolnya ke atas.