Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
115. Apa yang terjadi? (Andira)


__ADS_3

📞 Papa is Calling...


Satu alis Axell terangkat sempurna saat membaca nama ID si pemanggil. Tak ingin membuat papa mertuanya menunggu terlalu lama, Axell langsung menggeser lencana hijau pada layar terang tersebut.


"Halo, assalamu'alaikum, pa..." Sapa Axell ramah pada mertuanya itu dan sukses mengalihkan perhatian perhatian Verrel yang duduk tepat di sampingnya, setelah mendengar kata 'Pa' yang terlontar begitu saja dari mulut sahabatnya.


'Pa? Gue nggak salah dengarkan? Bukannya selama ini Axell manggil om Marvell Ayah, ya? Atau jangan-jangan orang yang Axell panggil papa itu ... bokapnya Dira?'


Seketika muncul banyak pertanyaan di benak Verrel. Kini ia bahkan diam-diam melirik Axell dan Dira secara bersamaan.


"(....)."


Axell terlihat tenang mendengar kalimat per kalimat yang diucapkan oleh seseorang di seberang sana. Hingga tiba-tiba mata Axell sedikit melebar saat mendengar apa yang papa Pras ucapkan. Lalu pandangannya mengarah pada Dira yang tengah duduk didepannya dan sedang menikmati bakso pesanannya.


Ada lali bangkit dari duduknya dan berjalan sedikit menjauh dari teman-temannya, bermaksud agar Dira tidak ikut mendengar apa yang diucapkan papa Pras.


"Iya, pa. Nanti pulang sekolah, Axell langsung kesana sama Dira." Jawab laki-laki itu.


Setelah berakhirnya telepon tersebut, Axell langsung kembali bergabung dengan Dira dan teman-temannya. Tapi, belum sampai Axell mendaratkan pantatnya dengan sempurna, satu pertanyaan muncul muncul dari Verrel.


"Telepon dari siapa, Xell? Sok rahasia banget, sampai ngejauh gitu!"


Axell sedikit menarik satu sudut bibirnya. Mendengar nada bicara Verrel, Axell dapat merasakan ada nada yang terkesan mencibir yang Verrel tujukan untuknya. Tak berniat menjawab, Axell hanya memilih untuk menggeleng samar. Dan hal itu pun malah membuat Verrel berdecak kesal karena rasa ingin tahunya yang tak terjawab.


Tak ingin ambil pusing dengan respon yang di perlihatkan Verrel, Axell lebih memilih untuk mengutak-atik ponselnya sambil sesekali melirik ke arah Dira.


"Yang ... abis ini ada mapel apa?" Tanya Axell pada Dira.


"Mata pelajarannya Bu -


"Mau ikut pelajaran anak IPA Lo, Xell?" Zaki memotong ucapan dari Dira yang malah sama sekali tak mendapat respon apapun dari Axell. Laki-laki itu malah menatap datar Zaki lalu beralih menatap Dira.


"Kenapa, kak. Kok ngeliatin akunya gitu?" Tanya Dira yang menyadari keanehan dari cara Axell menatapnya.


"Nggak ada apa-apa, Yang."


...***...


Tok...


Tok...

__ADS_1


Tok...


Suara ketukan di depan pintu ruang kelas Dira. Sontak membuat Bu Retno, guru yang kebetulan mengajar di kelas Dira menengok ke arah pintu.


"Masuk!" Titahnya pada seseorang yang berdiri dibalik pintu. Membuat seseorang yang datang langsung membuka pintu, dan munculah Axell di baliknya.


"Permisi, Bu." Sapa Axell sedikit membungkuk. Bu Retno kembali menoleh dan mendapati Axell yang berjalan tenang ke arahnya.


"Ada apa, Xell?" Tanya Bu Retno.


Axell menoleh ke arah Dira yang tengah fokus menulis, lalu pandangannya kembali terarah pada Bu Retno. "Saya mau jemput Dira, Bu. Ada keperluan mendesak." Jawab Axell saat sudah berdiri di samping meja Bu guru itu.


Bu Retno menautkan kedua alisnya seraya berpikir, lalu beberapa detik kemudian ia mengangguk mengerti. "Baik, silahkan." Jawab Bu Retno sambil kembali melanjutkan pekerjaannya, mengkoreksi hasil ulangan kemarin.


Axell mengangguk, lalu berjalan mendekat ke arah bangku yang ditempati oleh Dira dan Melody.


Melody yang melihat kedatangan Axell pun reflek mendekatkan kepalanya pada Dira. Melody tau, Dira tidak mengetahui kedatang Axell.


"Dir, suami Lo!" Bisik Melody agar tak ada yang mendengar ucapannya selain Dira tadi.


Dira yang terkejut mendengar ucapan Melody seketika menoleh, "Hah... apa, Mel?" Tanya gadis itu terkejut.


"Kak Axell, kok bisa ada disini?" Tanya Dira dengan keterkejutannya.


"Ayo, Yang. Aku harus bawa kamu ke suatu tempat!" Jawab Axell dengan nada yang terdengar begitu serius.


Zaki yang mendengar jawaban Axell pun ikut bersuara, "Gue nggak diajak sekalian, Xell." Sahutnya ikutan nimbrung.


Axell menoleh ke arah Zaki sesaat tanpa berniat menjawab. Lalu pandangannya kembali kearah Dira.


"Kak, tapi aku masih ada satu mata pelajaran lagi dari pak Dhana." Tolak Dira pelan.


"Yang ... ada yang lebih penting dari pada mata pelajarannya pak Dhana. Kamu harus ikut aku sekarang!" Ucap Axell mencoba meyakinkan sang istri agar menurutinya.


"Tapi, kak -"


"Udah, Yang, jangan bantah, bisa? Kamu paling ngerti kalo aku ini nggak bisa dibantah." Ujar Axell yang memotong ucapan Dira. Kini tangan kekarnya merebut bolpoin yang ada di genggaman Dira, memasukkan semua alat tulis itu ke dalam tas sekolah milik istrinya


*Si Axell kalo udah kek gini mirip ayah Marvell banget nggak sih. Jadi ngebayangin kalo dia lagi bilang 'nggak bisa di bantah'. 🤭


Menantu dari papa Pras itu bahkan tanpa malunya menenteng tas sekolah Dira menggunakan tangan kiri. Lalu tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Dira yang tak lebih besar dari tangannya. Menggandeng tangan putih Dira dan sedikit menariknya agar istrinya itu segera Bangun dari posisi duduknya.

__ADS_1


"Bu, kami permisi dulu." Ujar Axell dengan kepala mengangguk pada Bu Retno. Lalu berjalan keluar setelah melihat Bu Retno yang juga mengangguk padanya.


Sampainya di luar kelas, Dira yang tengah bingung dengan Axell yang tiba-tiba mengajaknya pulang pun akhirnya bertanya.


"Sebenarnya ada apa, sih, kak? Kenapa tiba-tiba ngajak aku pulang? Nanti kalo pak Dhana ngasih aku nilai merah gimana?" Cecar Dira dengan langkah kaki yang yang berjalan tergesa mengikuti langkah kaki Axell.


Axell tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dira. "Yang, pak Dhana nggak akan berani ngasih kamu nilai merah. Lagi pula, nanti beliau pasti kirim materi yang diajarkan hari ini ke aku. Tugas kamu sekarang nurut dan ikut aku tanpa perlu protes!" Ucap Axell yang begitu tegas.


Deg!


Jantung Dira seakan berhenti berdetak. Dira tidak bodoh. Ia tau pasti sesuatu telah terjadi. Ia lalu memberanikan diri untuk bertanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, kak?"


...***...


Dira diam dengan pikiran yang bercabang kemana-mana. Jawaban tentang mengapa Axell mengajaknya pulang disaat jam pelajaran yang masih berlangsung tak juga ia dapatkan. Laki-laki itu lebih memilih bungkam dari pada memberitahunya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Masih hening dengan pikiran masing-masing, Dira baru sadar kalau jalan yang sedang mereka lewati bukannya jalan pulang ke apartemen, bukan juga pulang kerumah ayah Marvellyo dan bukan pula ke rumah papa Pras. Dira semakin bingung dibuatnya.


'Ini sebenarnya kak Axell mau bawa gue kemana, sih?'


Lewat beberapa menit, Axell masih betah dengan diamnya. Sampai akhirnya kedua alis Dira terangkat saat mobil yang membawa mereka memasuki area parkir sebuah rumah sakit.


Deg!


Tiba-tiba perasaan tidak enak menyelimuti Dira saat itu juga. "Kak ..." Panggil gadis itu seakan meminta penjelasan tentang mengapa Axell membawanya ke rumah sakit tersebut.


"Yang ... kamu tenang, ya! Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada buat temenin kamu." Ujar Axell sambil mengusap pelan pipi Dira.


Deg!


Mendengar apa yang Axell katakan bukannya membuat perasaan Dira semakin tenang, Dira malah semakin menduga-duga tentang apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Axell yang paham dengan apa yang sedang menguasai pikiran dari istrinya itu kini menggenggam tangan sang istri. "Yang ... hey, ini bukan sesuatu yang serius. Nggak usah khawatir! Mending sekarang kita masuk dan lihat keadaan mama Diva sekarang!" Ujar Axell pelan.


Deg!


Lagi, mendengar apa yang baru saja Axell katakan membuat jantung Dira kembali tak karuan.


"Mama Diva kenapa, kak?"

__ADS_1


__ADS_2