
"Dia adalah mantan kekasihmu. Axello ... putra semata wayang dari Marvell." Ujar Satya dengan gamblang. Bahkan ia tak lagi menutupi fakta penting tersebut seperti apa yang duku pernah Axell katakan padanya.
Duaarrrr!!!
Bak tersambar petir di siang bolong. Renata dan Nicholas berhasil di buat terkejut bukan main.
"Axello."
"Xello."
Gumam keduanya dengan nada yang masih terdengar jelas bahwa mereka sama-sama tak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar. Lebih tepatnya ... mereka sulit untuk percaya semua itu.
Satya menghela nafas melihat keterkejutan yang begitu ketara di wajah kedua anaknya. "Ya. Dia. Pemuda yang saat itu bahkan baru menginjak usia 16 tahun, dia sudah mampu menyelamatkan sebuah perusahaan dari kecurangan rekan bisnisnya sendiri." Satya menggelengkan kepalanya.
"... Dan sekarang, bukannya berterima kasih atas apa yang pernah dia lakukan untuk membantu kita, kamu malah menabuh genderang perang dengan mencelakai istrinya." Satya membuang nafas kasar. "... sampai sekarang papa masih tidak habis pikir dengan kamu, Renata. Apa kurangnya dia, hingga kamu berpikir untuk meninggalkannya dulu? Bukan itu saja, Re ..."
Satya makin menatap serius putrinya, "... Sebenarnya apa yang sudah kami lakukan pada gadis itu?" Tanya Satya dengan nada menohok pada sang putri.
Renata menunduk dengan kedua tangan yang mengepal. Air matanya kian deras. Ia tak mungkin bisa menjawab pertanyaan yang papanya ajukan padanya, tentang mengapa ia meninggalkan Axell? Juga ... tentang apa yang sudah ia perbuat pada Dira?
Renata tidak ingin papanya itu semakin marah jika tahu semuanya. Termasuk alasan ia meninggalkan Axell yang tak lain adalah untuk Arfen.
Ya, rasa sukanya pada Arfen dulu begitu menggebu. Bahkan mengalahkan rasa sukanya pada Axell, kekasihnya sendiri. Arfen dulu begitu peduli padanya. Ia pikir rasa sukanya itu akan terbalas. Tapi ternyata Renata salah.
Rasa peduli Arfen padanya tak lain hanya karena semata ia adalah kekasih dari sahabatnya sendiri dan Renata salah mengartikan itu semua.
Menit berlalu, Renata tetap diam. Akan sangat tidak mungkin bagi Renata mengakui alasan kenapa ia memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Axell saat itu. Terlebih saat melihat emosi sang papa yang sepertinya urung mereda.
Satya kembali menghela nafas melihat putrinya yang menangis menyesali perbuatannya. "Papa harap, ini terakhir kali kamu membuat masalah Renata. Jika kamu masih tetap seperti ini, maka jangan salahkan papa jika papa memilih untuk mengembalikanmu ke London!"
"Re... Re..." Seseorang menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Renata, guna menyadarkan gadis itu dari lamunannya. "... Renata..."
Renata mengerjapkan matanya setelah tersadar dari bayangan kejadian beberapa jam yang lalu sebelum ia pergi dari rumah. Ia menoleh dan mendapati seorang cowok yang kini duduk tepat disampingnya.
"Wow... It's a surprise! Ini beneran Lo? Gue kira gue salah orang tadi." Ujar cowok itu dengan tawanya.
Renata tersenyum kaku. Jelas terlihat kalau senyum itu sengaja di paksakan. Dan malah berhasil membuat cowok tadi menarik satu alisnya.
Cowok itu merasa sedikit aneh. Lama tidak bertemu dengan Renata, apa gadis itu banyak berubah sekarang? Ia bahkan bisa merasakan Renata tak selepas biasanya saat mereka sering bertemu dulu. Gadis itu seperti sedang memikul beban berat.
'Apa sesuatu telah terjadi dengan gadis itu?'
"Lo oke kan?" Tanya cowok itu. Ada nada yang terdengar khawatir di pendengaran Renata.
Sungguh, demi apapun, Renata tidak pernah berpikir akan di pertemukan dengan cowok disampingnya ini dalam keadaan seperti sekarang.
"I'm Okay." Jawab Renata terdengar meyakinkan dan berhasil membuat sebuah senyuman muncul dari lawan bicaranya tadi.
__ADS_1
Adalah Arfen, Orang yang sedang bersama dengan Renata saat ini. Keduanya tidak sengaja bertemu di d'Dream club'.
Arfen yang kebetulan mampir hanya untuk sekedar menyapa Devan, malah tanpa sengaja menangkap sosok gadis yang tak asing menurutnya - tengah melamun sendirian. Bahkan dentuman musik yang begitu memekakkan telinga itu pun seakan tak mengganggunya sedikit pun.
"Gimana kabar Lo? Gue denger Lo udah beberapa bulan balik Indo?" Tanya Arfen lalu menyesap sedikit minumannya.
Renata tersenyum masam bukan karena mendengar pertanyaan Arfen, melainkan Renata tengah mengejek dirinya sendiri.
"I'm fine. Lo sendiri?" Balas Renata.
"Seperti yang Lo lihat." Santai Arfen menjawab.
Keduanya lalu larut dalam cerita masing-masing. Cerita selama mereka tidak saling bertemu hampir dua tahun belakangan ini.
Jam berlalu, hingga pada akhirnya pertanyaan Arfen berhasil membuat Renata kembali mengingat kejadian sebelum ia memutuskan datang mencari hiburan sendirian ke d'Dream club'. Biasanya Renata akan meminta Derry untuk menemaninya ke tempat berisik seperti ini.
Kenapa Derry? Karena tidak mungkin ia meminta sang Kaka untuk menemaninya di tempat laknat ini.
"Trouble or heartbreak?" Tanya Arfen sebelum ia memutar kursi putarnya menghadap ke belakang. Arfen tengah mengamati DJ yang tengah memainkan musik di tempatnya. Kepalanya bahkan mengangguk-angguk saat ia menikmati alunan musik yang sengaja dibuat berbenturan itu.
Renata menatap Arfen tak percaya. Dari mana dia bisa tahu?
"Trouble or heartbreak?" Ulang Arfen lagi. Ia kembali memutar kursinya menghadap mejanya lalu kembali meraih gelas minumnya. "... Mana yang jadi alasan Lo datang kesini?" Tanya Arfen dengan lebih jelas.
Tak langsung menjawab, Renata menatap Arfen lama. Menit kemudian ia membuang muka setelahnya.
Satu alis Arfen terangkat mendengar pertanyaan Renata. Ahh... sepertinya ia tahu siapa yang Renata maksud disini.
Arfen lalu kembali menenggak minumannya, sebelum akhirnya menjawab, "Tergantung."
"Maksud Lo?" Tanya Renata tak mengerti.
Arfen menghela nafas, "Tergantung masalah yang Lo buat ..." Arfen menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Renata menghela nafas.
"... Tapi yang terpenting, mau seberat, serumit atau besar kecilnya masalah yang Lo buat, Point' pentingnya Lo harus mau minta maaf!" Ucap Arfen.
'Minta maaf?'
Renata menghela nafas. Ia tidak yakin. "Kalo dia nggak terima maaf dari gue?" Tanya Renata dengan kemungkinan yang pasti terjadi. Renata yakin orang yang ia maksud pasti tidak akan mungkin mau memaafkannya begitu saja.
"Belum Lo coba, kan?" Tebak Arfen dengan begitu yakin.
Renata menggeleng pelan. Arfen tersenyum karena tebakannya benar. "... Temui dia dan minta maaf. Akuin semua kesalahan Lo!" Saran Arfen bijak.
...***...
Di tempat berbeda suasana yang sangat berbanding terbalik sedang berlangsung di kamar mewah milik Axell dan Dira.
__ADS_1
Keduanya tengah bergumul di bawah selimut dengan saling mendesah satu sama lain. Tangan Dira tengah memeluk leher Axell kuat saat setelah Axell menghentaknya dengan kuat pula.
"Aahhh ... Ka -"
"Bersama, sayang ... Kita sampai." Sahut Axell setelah ia berhasil mencapai puncaknya.
Axell mencium Dira dan melu**t bibir manis itu sesaat lalu melepasnya. Dilihatnya Dira yang sedang mengatur nafas dengan keringat yang membanjir di sekitaran pelipisnya.
Cup...
"Love you, Yang." Axell kembali mengecup singkat bibir merah itu.
"Love you ... too." Balas Dira dengan nafas yang masih berusaha ia kendalikan.
Bukannya merasa kasihan atau bersalah karena telah membuat nafas Dira memburu, Axell malah terkekeh sendiri.
"Abis ngapain sih, Yang?" Tanya Axell masih dengan kekehannya. Santai banget ia menanyakan hal yang jelas-jelas ia tahu sendiri jawabannya.
Dira yang tengah memejamkan mata itu menggeleng. Masih dengan nafas yang terlihat ngos-ngosan. Detik kemudian ia membuka mata dan menatap Axell. "Dasar buas!"
Axell kembali terkekeh dibuatnya. "Ini masih belum seberapa, Yang. Aku bahkan bisa bikin kamu seharian nggak keluar kamar ..." Axell tertawa dengan satu alis terangkat seolah menantangnya. "... Mau coba?"
Dira menggeleng cepat, ia tidak bisa membayangkan jika Axell benar-benar melakukannya. Dira lalu menarik selimut dan miring membelakangi Axell. Ia lelah.
Melihat Dira yang sekarang memunggunginya, Axell semakin mendekat dan memeluknya dari belakang. Axell mengecup leher Dira. "Padahal kamu yang nantangin kan tadi?"
"Nggak lagi deh. Aku malah jadi tambah laper." Keluh Dira.
"Ayo mandi kalo gitu. Terus kita makan!" Ajak Axell.
"Kak Axell mandi duluan! Aku masih mau rebahan sebentar." Jawab Dira.
"Oke. Kalo gitu aku mandi dulu." Ucap Axell saat setelah mengecup pundak Dira yang tidak tertutup selimut.
Baru akan turun dari ranjang, pintu kamar lebih dulu di ketuk oleh Bi Inah.
Tok...
Tok..
Tok...
"Den... Den Axell..." Panggil Bi Inah.
Axell menghela nafas. Seberapa kencang ia menyahut, bi Inah tidak akan bisa mendengar suaranya. Axell lalu beranjak dari ranjang. Ia mendekat pada pintu dan menekan sebuah tombol dekat handle pintu. "Ya, bi. Ada apa?" Tanya Axell.
"Anu, den... itu ...
__ADS_1