
Tiba saat jam makan malam, kini bunda Resty di bantu Dira yang tengah menyiapkan makan malam di meja.
"Sayang, bunda senang sekali melihat kamu sudah bisa dekat dengan Axell." Celetuk bunda Resty di saat keduanya selesai menata hidangan di atas meja. Tak ada jawaban yang keluar dari Dira, gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum. Bingung apa yang harus ia katakan.
"Bunda mau bilang terima kasih sama kamu, sayang." Ucap bunda Resty sambil mengelus lembut kepala Dira.
Dira mengrenyitkan dahi, gadis itu bingung. "Terima kasih? Untuk apa, Bun?"
Bunda Resty tersenyum, ia memegang tangan Dira dan mengelusnya, "Terima kasih karena kamu telah membuat senyum Axell kembali."
Dira masih menatap bunda Resty, ia semakin bingung. "Dira nggak ngerti maksud bunda."
Bunda menghela nafas panjang, "Apa yang Dira lihat tadi adalah Axell yang sebenarnya. Itu adalah sifat asli anak bunda, bukan pendiam seperti yang kamu kenal sebelumnya." Ucap bunda Resty mejelaskan.
Dira diam seraya berpikir, memang kadang-kadang ia sendiri menyadari sifat Axell yang suka berubah-ubah.
"Ada hal yang merubah sifat anak laki-laki bunda. Tapi sekarang bunda senang, anak bunda udah kembali seperti dulu dan itu karena adanya kamu, sayang." Ucap bunda Resty yang kembali mengusap lembut rambut Dira.
"Bunda, maaf. Tapi Dira masih nggak ngerti maksud bunda." Jawab Dira pelan, gadis itu memang masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya.
"Lain kali pasti bunda ceritakan semuanya sama kamu. Sekarang ada hal yang lebih penting yang mau bunda tanyakan sama kamu, sayang." Ucap bunda Resty.
Dira mengangkat kedua alisnya, "Apa, Bun?"
"Ini sedikit pribadi dan seharusnya bunda tidak menanyakan hal ini. Hanya saja bunda ingin tau." Ucap bunda Resty sambil melihat wajah Dira yang imut dan menggemaskan karena rasa penasaran yang mendominasi gadis itu.
Dira diam, ia masih menunggu apa yang akan bunda Resty katakan padanya, "... Selama kalian menikah, apa kalian sudah pernah melakukannya?" Tanya bunda Resty pelan dan hati-hati.
"Melakukan, Bun? Melakukan apa maksud bunda?" Tanya Dira yang memang tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari mertuanya ini.
Bunda menghela nafas pelan, "Bunda yakin kamu tau maksud bunda ... Kalian suami istri, jadi wajar kalau kalian melakukannya."
'Melakukannya?'
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Deg!
Detik berikutnya jantung Dira berdegup kencang. Dira tahu apa yang di maksud dengan bunda Resty sekarang ini.
Melihat menantunya yang langsung terdiam, bunda Resty mengerti. Tebakannya tidak salah.
'Mereka belum sampai ia tahap itu.' Begitu batin bunda Resty.
"Sayang, bunda tau kalian berdua masih sangat muda. Tapi ingat, kalian suami istri. Tidur hanya berdua dengan gadis secantik kamu, apalagi berstatuskan istri mustahil kalau hasrat Axell sebagai suami kamu tidak muncul. Mengingat sudah tidak ada lagi penghalang diantara kalian berdua ..." Ucap bunda Resty yang menggantung. Wanita paruh baya itu sedang mengamati wajah menantunya itu.
"... Sayang, jangan terbebani dengan apa yang bunda katakan sama kamu! Tapi, perlu kamu ingat, ada kebutuhan biologis dari dalam diri Axell yang harus kamu penuhi sebagai istri. Bunda tau kamu pasti bisa mengerti apa maksud bunda. Jadi bunda minta ... kalau suatu saat nanti Axell meminta kamu untuk melakukannya, jangan pernah menolak ya, sayang! Karena itu memang sudah menjadi kewajiban kamu. Ya sudah ... sekarang kamu ke atas, ajak anak nakal bunda itu untuk makan malam, bunda mau panggil ayah dulu." Ujar bunda Resty yang pergi dan meninggalkan Dira yang sedang bergelut dengan pemikirannya.
'Melakukannya? Apa ini udah saatnya? Tapi gue ...'
...***...
__ADS_1
📥 Arfen🙂
Gue di depan rumah Lo
Lo ada di rumah kan?
Dira?
Axell menarik salah satu sudut bibirnya setelah membaca pesan yang masuk di ponsel Dira, lebih tepatnya ponsel Dira yang saat ini masih ia sembunyikan saat ia memergoki istrinya bersama Arfen di taman sekolah.
Sesaat ia meremat kuat ponsel tersebut, seakan melampiaskan kekesalannya. Sampai akhirnya jari-jemari Axell santai mengetikan pesan balasan untuk sahabat istrinya itu.
^^^📤 DiraGra.^^^
^^^Gue di rumah Axello.^^^
Send ✔️
"Coba aja Lo Dateng kalo berani." Ucap Axell pada layar terang yang kini meredup itu.
Axell lalu kembali menyimpan ponsel tersebut dalam tas sekolahnya. Lalu berjalan santai keluar dari kamar. Saat Axell berjalan menuruni tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Dira yang berjalan menaiki tangga sambil melamun.
Axell menarik satu alisnya, tiba-tiba muncul pertanyaan di benaknya.
'Ini Dira kenapa?'
"Ekhem ..." Laki-laki itu berdehem untuk menyadarkan Dira dari lamunannya. Tapi bukannya tersadar dari lamunan, gadis itu malah terkejut dan reflek berteriak.
"Aaa..."
Dengan cepat, Axell menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya. Saking terkejutnya Dira, gadis itu hampir saja terpeleset dan sudah dapat di pastikan Dira akan terjun bebas dan jatuh ke lantai kalau saja Axell terlambat beberapa detik meraih tubuhnya tadi.
Axell dapat merasakan nafas Dira yang naik turun tak beraturan dalam pelukannya. Gadisnya itu begitu terkejut ternyata, "Sorry, gue ngagetin Lo ya?"
Tak ada jawaban, tapi Axell bisa merasakan kepala Dira yang sedikit mengangguk dalam pelukannya.
"Sorry, Yang ... sorry!" Ucap Axell sambil beberapa kali mengecup puncak kepala Dira.
"Iya, nggak pa-pa, kak." Jawab Dira singkat.
"Lo kenapa tadi ngelamun kayak gitu? Ada yang Lo pikirin? Bahaya tau!" Tanya Axell yang kini melepas pelukannya.
Dira menggeleng, "Nggak ada, kak."
Axell menatap Dira, matanya sedikit menyipit seakan tengah mencari kebohongan yang sedang gadis itu sembunyikan. "Bener? Nggak lagi bohong kan?"
Sedikit menggeleng dengan senyum, "Kak Axell di cari bunda, di ajak makan malem." Ucap Dira saat melihat Axell yang menatapnya tak biasa. Dira tahu, Axell tak akan semudah itu percaya dengan jawabannya tadi. Salahkan dia karena tidak pandai berbohong.
"Ok."
...***...
Hampir tengah malam, pukul 23.30, seorang cowok masih setia duduk di atas motor sport miliknya. Cowok yang tak lain bernama Arfen itu masih setia menunggu kedatangan seseorang.
Dira, adalah gadis yang ia tunggu sedari tadi. Sebelumnya, Arfen sempat mengirimkan pesan pada gadis itu. Pesan yang mengatakan kalau ia kini sedang berada di depan pintu gerbang rumahnya.
__ADS_1
Namun, cowok itu mendapat pesan balasan yang mengatakan kalau gadis itu sedang berada di rumah kekasihnya, membuat Arfen yang akan memasuki pintu gerbang tersebut kembali mengurungkan niatnya untuk memasuki rumah Dira. Ia memutuskan untuk menunggu kepulangan gadis itu.
Tapi setelah beberapa jam menunggu, ternyata gadis yang ia tunggu tak kunjung pulang. Di lihatnya smartwatch yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka 23.45.
Satu sudut bibir cowok itu tertarik, saat kembali teringat dengan pesan balasan yang Dira kirim.
'Gue di rumah axello.'
"Udah sedekat itu kalian? Sampe jam segini pun, belum ada tanda-tanda Lo pulang ..." Ucap Arfen pelan. Ia menghembuskan nafas panjang. "... masih ada hari esok kan, Dira?"
Cowok itu lalu menyalakan mesin motornya dan memacu kuda besi itu dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat.
...***...
d'Dream club'
Bangunan megah berlantai tiga dengan lampu remang-remang yang berwarna-warni, nampak beberapa remaja dan tak sedikit orang dewasa keluar dari sana. Lalu dua orang laki-laki dewasa di depan sedang mengatur beberapa kendaraan. Dan beberapa orang dengan postur tubuh tinggi tegap berpakaian serba hitam nampak berdiri di kedua sisi pintu sedang membungkuk setelah mengenal satu motor sport yang berhenti tepat di depan club' tersebut.
Terlihat salah satu di antara mereka berjalan mendekat ke arah seseorang yang baru saja datang. Dengan santai cowok dengan motor sport itu langsung melemparkan kunci motor tersebut ke arah pria berbaju serba hitam tadi. Lalu pria yang menerima kunci motor itu langsung membawa motor besar itu masuk ke area parkir khusus pemilu club'.
Cowok tampan yang mengenakan jaket warna hitam itu nampak sedikit mengacak rambutnya. Lalu langkah kakinya santai memasuki club' yang sudah sangat biasa ia kunjungi.
Seketika terdengar suara dentuman musik yang memekakkan telinga dan kilatan lampu warna warni yang menyambut kedatangan cowok itu. Ia langsung berjalan mendekat ke arah bartender di sana. Tapi, belum sampai ia mendudukkan dirinya, seseorang lebih dulu memanggil.
"YO, ARFEN!" Seru salah satu cowok yang duduk tak jauh dari tempatnya sekarang, dengan seseorang yang sangat ia kenal duduk di sampingnya. Tak menjawab, tapi langkah kaki Arfen santai berjalan mendekat untuk bergabung dengan keduanya.
"Njir ... udah jam segini, baru nongol aja. Abis dari mana Lo?" Tanya cowok yang memanggilnya tadi.
"Lo lagi ada masalah?" Tanya Nicholas tanpa basa-basi. Wajah Arfen memang sangat ketara saat ini, enggak enak banget di lihat.
"Lagi ambyar Lo? Muka Lo nggak enak di liat banget, anj*ng!" Celetuk cowok yang tak lain bernama Derry. Dari aroma yang tercium kuat saat Derry berbicara, sudah dapat Arfen pastikan kalau Derry sudah setengah mabuk saat ini.
Arfen menggelengkan kepalanya saat melihat Derry yang tak henti-hentinya menenggak cairan beralkohol tersebut.
"Mau minum?" Ucap Nicholas menawarkan minuman yang masih tersisa di meja. Arfen melirik ke arah meja dimana sudah ada tiga botol minuman yang kosong, dua botol yang tersisa sedikit isinya dan beberapa lagi yang masih bersegel.
"Gue baru minum sedikit." Ucap Nicholas sambil terkekeh saat tahu apa yang sedang Arfen pikirkan.
Arfen tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Kayaknya gue bakal bolos sekolah besok!"
*Arfen Arsetya Restu.
*Nicholas Mahaputra.
*Derry Bramantyo.
__ADS_1