Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
61. Karena gue berhak atas Dira. (Axello)


__ADS_3

Axell menarik salah satu sudut bibirnya. "Pastinya cewek yang bisa ngasih gue lebih..." Axell semakin tersenyum miring. Kini pandangannya beralih menatap Nicholas. "... Bahkan gue yakin, setelah ini nggak akan ada cewe lain yang bisa ngasih gue sesuatu yang paling berharga dari seorang cewek melebihi dia. Termasuk adek Lo, Rere." Ujar Axell.


Axell bohong. Benar. Axell hanya ingin tahu seperti apa reaksi dari Nicholas setelah mendengar pengakuan darinya barusan.


'Sesuatu yang paling berharga dari seorang cewek?'


Nicholas dan Derry paham betul. Sebagai sesama cowok, mereka tahu pasti apa yang di maksud oleh Axell tadi.


Derry menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan pengakuan yang baru saja ia dengar dari Axell tadi. Ternyata Axell bisa melakukan hal seperti itu. Kalau di ingat-ingat selama mereka saling kenal, Derry tidak pernah menemukan sifat Axell yang kurang ajar atau semacamnya pada perempuan.


"Wah, Xell. Lo banyak berubah sekarang. Ternyata Lo gak sebaik yang gue kira selama ini..." Ujar Derry yang langsung mengerti dengan apa yang Axell katakan tadi. "... Lo abis jebolin anak orang? Bisa gitu juga Lo!" Lanjutnya lagi seakan tak percaya. Axell mendengus geli. Kalau menyangkut hal berbau 1821+ Derry langsung paham.


Sementara Nicholas, ia malah mengepalkan tangannya seakan menahan sesuatu. "Apa udah nggak ada lagi kesempatan buat adik gue balik sama Lo, Xello?"


Lagi. Untuk kesekian kalinya, Axell kembali menarik salah satu sudut bibirnya lalu menatap ke arah Nicholas. "Gue udah ngambil sesuatu yang paling berharga dari seorang cewek, terus Lo dengan entengnya nyuruh gue buat nerima adek Lo balik, yang jelas-jelas milih ninggalin gue demi orang lain? Otak Lo di taruh di mana?" Axell kembali mendengus geli. "... Kalo gue nerima tawaran Lo, berarti gue gila." Jawab Axell santai tapi seperti cambuk tersendiri bagi Nicholas.


Nicholas diam, ia masih sibuk mencerna apa yang baru ia dengar dari Axell tadi. Ini secara tidak langsung Axell mengatakan kalau ia telah menolak adiknya.


"Gini, deh, Gue kasih Lo contoh sederhana. Coba Lo bayangin, semisal gue peraw*nin adek kesayangan Lo itu, terus gue tinggalin gitu aja tanpa pertanggung jawaban demi cewe lain. Kira-kira Lo bakalan terima, nggak?" Tanya Axell pada kakak mantan kekasihnya itu.


"...Nggak terima kan? Sorry, tapi gue nggak terima barang bekas... meskipun itu bekas gue sendiri. So, perlu gue tegasin ke Lo, Nicholas... Berakhirnya hubungan antara gue dan Adek lo, itu dia sendiri yang minta, dia sendiri yang mutusin, dan dia sendiri juga yang milih jalannya sendiri. Jadi sekarang di saat hidup gue udah baik-baik aja, udah bisa lupain semuanya, dan bahkan udah nemu pengganti yang melebihi dia, pertanyaan gue, Buat apa dia harus balik?" Sambung Axell lagi dengan penekanan kata di akhir kalimatnya.


Tak menunggu jawaban dari Nicholas karena Axell yakin laki-laki itu tak punya jawaban untuk pertanyaannya, Axell lalu mendorong kursi ke belakang, berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan keduanya yang masih terkejut dengan sikap yang Axell tunjukkan.


Tapi belum jauh Axell melangkah, Laki-laki berpostur tubuh tinggi tegap, pewaris tunggal dari Marvellyo Jodi itu kembali berkata tanpa menoleh ke arah keduanya, "Oh ya, Der, Lo mau tau... siapa gadis yang gue maksud? Tanya sama temen Lo, Kemarin dia ketemu di Rolanda kafe." Ucap Axell lalu kembali melanjutkan langkahnya.


...***...


Sampai di ruang kerjanya, Axell langsung memeriksa laporan keuangan kafenya. Membaca setiap perincian dari bagian pengeluaran, pendapatan dan juga perincian yang lainnya. Sampai gerakan tangan yang membolak-balikkan berkas itu terhenti. Tiba-tiba Axell teringat akan sesuatu, Iya baru sadar kalau ternyata Dira sama sekali belum mengabarinya.


Lalu Axel memilih untuk menghubungi istrinya itu. Jari jemarinya lincah menggeser kontak dengan nama "Dira".


📞 Calling Dira...


Tuutt...


Tuutt...


Tuutt...


Nihil. Tak ada jawaban membuat Axell mengulangi panggilan teleponnya. Beberapa detik kemudian panggilan telepon itu terhubung. Dan...


"(....)."


Seketika satu alis Axell terangkat setelah mendengar suara dari si penerima telepon. Bukan suara dari Dira, tapi suara dari seseorang yang bahkan sangat Axell kenal.


"Dimana Dira? kenapa ponselnya ada di Lo?" Tanya Axell dengan nada datarnya.


"Gue Axello. Kasih ponselnya ke Dira, Gue mau ngomong!" Ucap Axell memerintah.


"(....)."

__ADS_1


Seketika mata Axell melebar setelah mendengar apa yang lawan bicaranya itu katakan.


"Pingsan?"


Seketika Axell bergegas keluar dari ruang kerjanya. Dan dengan langkah yang tergesa-gesa ia berjalan keluar dari d'Axe Cafe dan langsung menuju ke parkiran. Tanpa menghiraukan setiap pasang mata yang memperhatikan dirinya. Axell yang biasanya berjalan dengan santai itu kini setengah berlari.


"Kenapa Dira bisa pingsan? Lo apain dia?" Tanya Axell tak sabaran. Laki-laki itu lalu membuka pintu mobilnya dan kembali berkata, "... Kalo sampai Dira kenapa-kenapa, urusan Lo sama gue?" Seperti orang kesetanan.


Axell lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit yang di maksudkan oleh seseorang yang menerima telepon untuk Dira tadi. Dengan kecepatan penuh, mobil Axell meninggalkan d'Axe Cafe.


Tanpa Axell tahu, ada seseorang yang dengan tidak sengaja mendengar apa yang Axell katakan tadi.


"Dira?"


"Oh ya, Der, Lo mau tau... siapa gadis yang gue maksud tadi? Tanya sama temen Lo, Kemarin dia ketemu di Rolanda kafe."


"Apa jangan-jangan... Gadis yang Xello maksud...


...***...


Axell berjalan dengan langkah lebar menuju ruang UGD dimana Dira tengah di periksa.


"Lo apain Dira?" Tanya Axell tak sabaran dengan rahang yang terlihat mengeras. Bahkan tangannya terangkat untuk menarik kerah Hoddie yang Arfen kenakan.


"Asma Dira kambuh." Jawab Arfen tenang tanpa ingin melepas cengkraman Axell padanya.


"Kenapa bisa kambuh? Lo apain Dira, gue tanya, Jawab!" Tekan Axell semakin tak sabar.


Arfen masih diam. Ia terkejut dengan reaksi yang Axell tunjukkan. Kenapa Axell bisa sebegitu marahnya? Setahu Arfen, Dira hanya adik kelas Axell di SMA Bhakti Bangsa.


"Lepas!" Ujar Arfen berubah datar. Axell melepas tarikannya pada Hoodie yang Arfen kenakan setelah sebelumnya sempat membenturkan tubuh yang sama tingginya itu ke dinding. Axell melepaskan cengkraman tangannya pada Arfen bukan karena ia takut. Tidak sama sekali. Tapi Axell melakukannya hanya karena ia sadar, dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang yang sedang berada di rumah sakit.


Ceklek...


"Dengan keluarga pasien?" Tanya seorang pria bersnelli dengan name tag dr. Titon yang baru saja keluar dari ruang tindakan.


"Saya." Sahut Axell cepat dan seketika membuat dahi Arfen berkerut. Tiba-tiba muncul tanda tanya besar dalam benaknya.


'Bukan saudara bukan sepupu, kan? Keluarga dari mana?'


"Saya, dok." Ucap Arfen.


Dokter itu menatap ke arah Axell dan Arfen secara bergantian. Yang mana yang sebenarnya keluarga dari gadis tadi?


"Dokter! Pasien Ruang mawar nomor 7B darurat, dok." Ujar seorang perawat yang berjalan mendekat ke arah dokter muda tadi.


"Baik, saya akan segera ke sana ..." Jawab dokter Titon. Lalu kembali menatap ke arah Axell dan Arfen lagi, "... Maaf, saya tinggal dulu sebentar. Nanti saya akan kembali." Ujar dokter itu meninggalkan keduanya.


"Kenapa Lo ngaku sebagai keluarga Dira." Pertanyaan yang langsung terlontar dari mulut Arfen setelah dokter Titon pergi.


"Perlu gue jawab?" Bukannya menjawab, Axell malah kembali melontarkan pertanyaan.

__ADS_1


"Gue kenal Dira lama, gue tau siapa aja keluarganya." Ujar Arfen.


"Karena gue berhak atas Dira." Jawab Axell.


"Atas dasar apa?" Tanya Arfen yang masih penasaran.


Axell mendengus kasar, ingin sekali ia mengatakan kalau Dira istrinya. Tapi Axell pikir, ini bukanlah saat yang tepat. "Papanya Dira nitipin Dira ke gue." Jawab Axell yang tak sepenuhnya bohong. Dengan menikahi Dira, berarti memang benar Axell di percaya untuk menjaga Dira bukan?


"Lo pikir gue percaya?" Cibir Arfen yang tak bisa menerima alasan Axell.


Tak ingin semakin membuat keributan di rumah sakit, Axell memilih untuk menghubungi seseorang.


"Halo, pa."


"(....)."


"Axell mau kasih tau. Sebelumnya maaf Axell udah ganggu kerja papa.


"(....)."


"Asma Dira kambuh, pa. Dan sekarang Dira ada di rumah sakit Citra Medika."


"(....)."


"Iya, pa. Axell tunggu."


"(....)."


Tuutt... tuutt..


"Kenapa Lo malah telpon bokap Lo? Keluarga dari mana coba?" Pertanyaan dari Arfen yang terkesan mencibir.


Enggan menjawab, Axell lebih memilih untuk diam. Amarahnya belum sepenuhnya reda. Rasanya ingin sekali ia melayangkan sebuah pukulan ke wajah Arfen yang ia pikir ada hubungannya dengan pingsannya Dira.


Kepala Axell tertunduk dengan tangan yang mengacak rambutnya kasar. Bagaimana pun Axell juga merasa bersalah. Karena ia yang begitu saja membiarkan Dira pergi dengan Nayla tadi. Niat hati ingin memberikan Dira sedikit kebebasan malah berakhir seperti ini. Kenapa tadi ia tidak menanyakan pada Nayla kemana mereka pergi?


"O-Shitt!" Umpat Axell kesal. Lagi-lagi ia lalai dalam hal menjaga Dira. Dan hal itu pun tak luput dari pandangan Arfen.


Tak lama kemudian terdengar derap langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat.


"Om Pras." Sapa Arfen pada Papa Pras.


Kepala Axell terangkat seketika setelah mendengar Arfen yang menyapa mertuanya. Laki-laki itu lalu berdiri dan mendekat untuk mencium punggung tangan Papa Pras. "Pa." Sapanya.


Arfen tertegun melihat interaksi antara Axell dan papa Dira. Terlebih mendengar Axell yang memanggil papa Dira dengan sebutan 'Pa'.


'Mereka?'


"Xell, apa yang terjadi dengan Dira? Kenapa asmanya bisa tiba-tiba kambuh?" Tanya papa Pras sambil menatap Axell dan Arfen secara bergantian.


"Axell tidak tau, pa. Tadi Dira minta izin sama Axell mau jalan bareng Nayla. Tapi saat Axell telepon Dira, Arfen bilang kalo Dira pingsan." Jelas Axell menjelaskan apa yang sebelumnya terjadi.

__ADS_1


Papa Pras mengangguk mengerti setelah mendengar cerita dari Axell. Pria paruh baya itu kini beralih menatap Arfen. Arfen yang mengerti arti tatapan dari papa Dira berinisiatif untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Arfen bisa jelasin, om."


__ADS_2