Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
66. Marahnya Axello.


__ADS_3

"O... iya, sorry, Lo jadi bingung kayak gini... Kenalin, gue -..."


Plakkk...


Urung bersambut, tangan cowok tadi sudah lebih dulu di tepis dengan tangan cowok lain yang baru saja datang diantara mereka berdua.


Bersamaan dengan tepisan tangan cowok itu, seseorang yang baru saja datang tadi langsung menarik Dira dan mengarahkan gadis itu di belakangnya.


"Jangan sentuh dia!" Ucap cowok yang baru saja datang itu dengan nada yang tak bersahabat. Ia tak suka miliknya di sentuh orang lain.


Sementara Dira, ia sangat terkejut dengan kedatangan Axell secara tiba-tiba. Ya, cowok yang baru saja datang itu tak lain dan tak bukan adalah seorang Axello.


"Ck. Santai kali, Xell. Gue cuma mau ngajak dia kenakan doang. Posesif amat Lo jadi cowo!"


Axell mendengus geli, membenarkan apa yang cowok di depannya itu katakan. "Dia nggak butuh kenal sama Lo." Jawab Axell masih dengan nada yang sama.


Mendengar jawaban yang keluar dari Axell membuat cowok tadi tertawa mengejek. "Hahaha... Kenapa? Lo takut dia berpaling dari Lo? Gue nggak akan rebut cewe Lo kali, Xell... kecuali kalo emang dia yang mau sama gue ..." Cowok itu terkekeh geli. "... Itu beda lagi ceritanya."


"Nggak akan pernah gue biarin." Jawab Axell.


"OK... OK... gue tau. Lo mungkin lagi bucin-bucinya sama nih cewe. Nggak salah, sih. Dia emang cantik banget. Dan juga ... (Melihat Dira dari atas ke bawah.) Wajar kalo Lo nggak nahan buat nggak jebol nih cewe... But, Kalo Lo udah mulai bosen, info ke gue! Gue bersedia nampung. Nggak pa-pa deh, meskipun dia bekas Lo, yang pentingkan cantik." Ujarnya dengan pandangan mata yang tak lepas dari Dira. Bahkan cowok itu terus-terusan memperhatikan Dira dari atas sampai bawah. Seperti binatang buas yang melihat mangsanya.


Axell sebagai sesama laki-laki pun mengerti. Apa arti dari tatapan yang laki-laki di depannya ini layangkan pada gadisnya. Seketika darah Axell pun seakan mendidih saat itu juga.


Tangan Axell terkepal dengan sempurna. Bahkan urat-uratnya pun sampai terlihat dengan sangat jelas di permukaan kulitnya. Sangat menonjol. Menunjukkan kalau Axell memang benar-benar dalam keadaan marah saat ini.


"Bajing*n!" Maki Axell pada cowok kurang ajar itu.


Bughh...


Satu pukulan Axell layangkan pada wajah laki-laki itu dan tepat mengenai pipi bagian kirinya. Laki-laki itu langsung terjatuh karena belum siap menerima serangan tiba-tiba dari Axell. Sungguh, ini di luar dugaannya. Ia sama sekali tak mengira kalau apa yang di katakannya barusan dapat membuat Axell bereaksi seperti itu.


Dira memekik ketakutan karena melihat Axell yang tiba-tiba memukul laki-laki yang tidak sengaja menabraknya tadi.


Dengan cepat Axell menarik kerah baju dari laki-laki itu. "Ngomong apa Lo barusan? Lo nggak pantes ngomong kayak gitu ke dia... Bangun Lo, Brengs*k!" Dan...

__ADS_1


Bughhh...


Axell kembali melayangkan satu pukulan lagi Dan kali ini tepat mengenai hidung laki-laki itu. Seketika darah segar mengalir dari lubang hidung laki-laki itu.


Melihat Axell yang sepertinya belum mau berhenti untuk memukul lawannya itu membuat Dira berinisiatif untuk melerai perkelahian keduanya. Dira tak ingin Axell terlibat masalah di kemudian hari dan malah akan membuat segalanya menjadi rumit.


Tapi Dira bingung, harus dengan cara apa ia bisa menghentikan Axell. Tak ingin membuang banyak waktu yang malah akan membaut Axell kembali memukul, Dira memberanikan diri untuk mendekat ke arah Axell yang sedang diliputi oleh amarah itu. Dan satu hal yang mungkin tak akan Axell duga sebelumnya.


Grebb...


Dira memeluk Axell dari belakang. "Kak Axell... Udah!" Pinta Dira lirih.


Mendengar suara Dira yang memintanya berhenti membuat Axell menghentikan aksinya. Pandangan laki-laki itu lalu turun dimana sepasang tangan putih itu tengah melingkar di perutnya. Entah mengapa apa yang tengah Dira lakukan saat ini berhasil meredam emosi yang sepertinya masih mendominasi dirinya sekarang.


Melihat Axell yang kini diam membuat cowok tadi tak ingin melewatkan kesempatan. Cowok yang sempat tersungkur dua kali karena mendapat pukulan tak main-main dari Axell itu kini bangkit untuk membalaskan apa yang telah Axell lakukan padanya.


Bughhh...


Tapi baru saja ia akan melayangkan sebuah pukulan pada Axell, dengan cepat Axell sudah lebih dulu menendangnya di bagian perut dengan sangat keras.


Laki-laki itu terpental dan jatuh setelah tak siap menerima tendangan dari Axell secara tiba-tiba.


"Masih mau lagi?" Tanya Axell setengah mengejek pada laki-laki itu. "... Gue nggak akan tinggal diam kalo ada orang yang ngusik kehidupan gue, apalagi orang kayak Lo." Ucap Axell sarkastik dengan jari telunjuk yang ia arahkan ke laki-laki itu.


Laki-laki itu masih meringkuk, memegangi perutnya yang teramat sangat terasa sakitnya seraya berpikir. 'Gue nggak habis pikir, cuma gara-gara jal*ng kayak gitu, Lo sampai mukulin gue kayak gini, Xell!'


"Gue emang anggep Lo temen, Der. Tapi kata-kata Lo tadi nggak pantes Lo ucapin buat dia, gadis yang berdiri di belakang gue sekarang..." Ujar Axell.


Ya, cowok yang dengan tidak sengaja memantik emosi dari Axell tadi adalah seorang Derry Bramantyo - Sahabat dari Nicholas


"... Jangan Lo pikir, apa yang gue katakan kemarin bisa bikin Lo mandang rendah dia. Asal Lo tau... dia istri SAH gue. Dan kalo Lo ulangi, gue nggak akan tinggal diam." Ucap Axell lalu menggandeng tangan Dira dan pergi meninggalkan Derry yang masih memegangi perutnya karena kesakitan.


'Apa? Istri? Gue nggak salah denger kan tadi? Jadi Xello....'


OK. Sebenarnya terjadi kesalahpahaman di sini. Maksud dari perkataan Axell yang sudah mengambil sesuatu yang berharga dari seorang cewek bukanlah mengambil kegadisan yang sama seperti dengan apa yang Derry pikiran. Bukan. Jangan samakan Axell dengan Derry yang suka gonta-ganti pasangan. Axell tidak sebejat itu untuk merusak anak orang. Tapi maksud Axell disini adalah dia yang sekarang ini membatasi ruang kebebasan Dira.

__ADS_1


Semenjak menikahi Dira, Selain mengubah status Dira yang masih lajang menjadi seorang istri, Axell juga membatasi pergaulan dari gadis itu. Mungkin bisa di bilang mengekang. Itu semua Axell lakukan bukan tanpa alasan atau hanya bukti keegoisan putra dari ayah Marvellyo Jodi itu. Tidak sama sekali.


Axell membatasi kebebasan Dira hanya untuk menjaga gadisnya itu. Seperti pesan yang diamanatkan dari papa Pras, mertuanya. Dira istrinya, dan Dira adalah tanggung jawabnya. Axell hanya tidak ingin sesuatu kembali menimpa Istrinya.


Seperti yang terjadi kemarin, dimana asma Dira yang sempat kambuh bahkan sampai pingsan saat tidak bersamanya. Dan hal itu sudah terjadi dua kali. Dan Axell tak ingin hal itu terulang lagi. Axell akan lebih mengawasi Dira. Melarangnya pergi tanpa dirinya.


Sebenarnya bukan itu saja alasan dari Axell memperlakukan Dira seperti itu. Selain ia khawatir dengan keadaan Dira. Axell yang sekarang ini sudah mulai mencintai gadis itu tak ingin jika Dira di dekati orang lain. Axell tak ingin lagi merasakan apa itu kehilangan. Mengingat statusnya dengan Dira sekarang ini adalah suami istri. Axell telah bertekad untuk tidak akan pernah melepaskan Dira seperti yang pernah ia lakukan pada kekasihnya dulu.


Axell terus berjalan meninggalkan mini market yang tepat berdiri di dekat gedung apartemen Axell sambil terus menggandeng tangan Dira dengan tangan kanan dan tangan kirinya membawa barang belanjaan Dira yang sempat tercecer tadi.


Tanpa Axell sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang melihat aksinya dengan sangat jelas, saat memukul Derry tadi dari jarak jauh. Walau ia tak bisa mendengar apa yang menjadi pemicu dari kemarahan Axell tadi.


...***...


Axell membawa Dira masuk ke dalam apartemen miliknya. Mendudukkan gadis itu di sofa dan menaruh barang belanjaannya di meja. Masih dapat Dira lihat sisa-sisa kemarahan di wajah Axell, membuat Dira jadi takut sendiri. Selama ini, Axell memang terlihat lebih banyak diam. Hanya akhir-akhir ini Axell sudah mulai banyak bicara padanya, dan Dira menyadari hal itu. Tapi siapa yang mengira jika laki-laki itu bisa sebegitu mengerikan jika sedang diliputi oleh emosi.


Tiba-tiba Dira teringat saat Axell marah padanya di kafe hari itu. 'Nggak lagi, deh, gue bikin kak Axell marah. Takut.'


"Ngapain Lo tadi?" Tanya Axell setelah dari tadi keduanya hanya diam setelah memasuki apartemen.


"A-aku... aku -...


"Ngapain?" Tanya Axell tak sabaran.


"Aku ...


"Gue izinin Lo keluar buat ngehindar dari Verrel dan Bastian tadi. Bukan buat kluyuran! Gue udah pernah bilang, Lo nggak boleh pergi kalo nggak bareng gue. So, siapa suruh Lo pergi ke mini market tadi?" Ucap Axell pelan. Pelan karena Axell yang memang sedang berusaha menahan emosinya sendiri.


Dira hanya bisa menunduk. Ia tak berani menjawab bahkan sekedar menatap wajah Axell yang masih menampilkan semburat kemarahan yang masih jelas terlihat dari wajah tampannya.


Axell membuang nafas kasar. Menyadari gadisnya yang kembali takut padanya. Melihat Dira yang hanya diam sambil menundukkan kepalanya membuat Axell merasa bersalah. Tidak seharusnya ia melakukan hal yang dapat menakuti gadisnya.


Axell menggeleng pelan. Ia tak habis pikir dengan dirinya sendiri. Kenapa sekarang ia semakin tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri?


Axell menghela nafas panjang. Ia mendekat ke arah Dira. Tangan kekarnya terangkat untuk mengusap pelan puncak kepala gadisnya itu dengan sayang. "Sorry..."

__ADS_1


__ADS_2