
"Tuan dan nyonya Axello yang terhormat, mohon kerja samanya untuk tidak menampilkan keuwuan di depan kami semua yang ada di sini, bisa?" Ucap Zaki yang baru saja muncul di belakang Dira.
"BERISIK!" Hardik Axell pada teman sekelas istrinya itu.
Dira terkikik melihat Zaki yang langsung kicep seketika. "Syukurin! Itu balasan karena Lo udah gangguin gue tadi, Zak."
Axell menoleh pada gadisnya, "Dia gangguin Lo, Yang?" Tanya Zaki pada Dira lalu kembali menatap ke arah Zaki dengan tatapan tak suka.
"Bukan gangguin sih, kak, tapi Zaki becanda mulu dari tadi, jadi secara tidak langsung gangguin aku ngerjain soal." Keluh Dira.
"Dih ... Cepu!" Cibir Zaki.
Axell kembali menatap gadisnya, tangannya terangkat untuk mengusap lembut rambut gadisnya itu dengan sayang, lalu kembali menatap ke arah Zaki, "Mau pindah kelas Lo?" Ujar Axell terdengar santai, tapi bagai ancaman tersendiri bagi Zaki.
"Ampun bang jago!"
...***...
Setelah bel jam pulang sekolah berbunyi setengah jam yang lalu,kini Axell dan Dira sedang berada di dalam mobil yang tengah melaju membelah jalanan ibu kota. Awalnya Dira pikir kalau mereka berada dalam perjalanan pulang, tapi ternyata salah. Laki-laki itu tidak benar-benar membawanya pulang, melainkan menuju ke suatu tempat.
"Kita mau kemana, kak?" Tanya Dira saat melihat Axell yang mengambil jalan yang berlawanan menuju ke rumah mertuanya.
"Kencan." Santai Axell menjawab.
"Kencan?" Ulang gadis itu tak yakin.
Axell mengangguk, "Selama ini, gue belum pernah sekalipun ajak Lo jalan-jalan, selain nemenin gue kerja di kafe atau nggak, belanja buat kebutuhan kita di apart ..." Ucap Axell sambil fokus mengemudi. "Jadi, Lo mau kita kemana hari ini? Mumpung gue free seharian, dan gue lakuin itu buat Lo." Tambahnya.
Dira diam, mencerna apa yang baru Axell katakan. Menit kemudian gadis itu faham. Axell sengaja untuk tidak bekerja hari ini karena ingin meluangkan waktu untuk dirinya. Seketika gadis itu merasa tak enak.
"Kak Axell, kita pergi lain waktu aja." Ucap Dira.
"Kenapa?" Tanya Axell tanpa mengalihkan pandangannya. Laki-laki itu fokus mengemudi.
"Aku nggak mau gangguin waktu kerja kak Axell. Nanti kalo kak Axell di marahi sama atasan kak Axell gimana? Apa lagi cuma gara-gara aku, aku nggak mau." Jawab Dira hati-hati agar Axell tidak berpikir kalau ia sedang menolaknya.
Mendengar apa yang dikatakan Dira malah membuat Axell terkekeh pelan, dan itu malah membuat Dira bingung sendiri.
"Apanya yang lucu?" Gumam Dira pelan, namun masih bisa di dengar oleh Axell.
"Nggak akan ada yang marah, Yang." Ujar Axell diakhir kekehannya.
"Kak Axell tau dari mana? Jangan seyakin itu!" Ucap gadis itu memperingatkan. "Kak Axell itu kerja di sana di gaji. Jadi nggak boleh seenaknya, harus profesional!"
Axell menggeleng pelan, gadisnya ini memang tidak tau apa-apa. Laki-laki itu lalu menghela nafasnya pelan, "Abis ini gue bakal ajarin Lo buat ng-handle d'Axe Cafe dalam waktu dekat, Yang."
__ADS_1
"Kenapa harus aku, kak? Bukannya selain kak Axell masih ada kak Rheyhan juga yang kerja disana?" Tanya gadis itu bingung.
"Bang Rhey cuma bantu-bantu di kafe kalo gue lagi sibuk sama tugas sekolah, Yang." Jawab Axell santai.
Dira tak menjawab, gadis itu masih sepenuhnya bingung. Ia hanya gadis pelajar biasa. Ia tak tahu menahu tentang hal mengurus hal-hal seperti ini. Lalu tiba-tiba Axell memintanya untuk memegang kendali sebuah kafe yang jelas-jelas itu bukanlah bidangnya. Memangnya ia bisa?
Axell yang mengetahui gadisnya tengah kebingungan itu kembali menghela nafas. "Beberapa bulan lagi, gue akan semakin sibuk, Yang. Nyiapin diri buat ujian, masuk kuliah. Dan sesuai perjanjian gue sama ayah. Selain kuliah nanti, gue juga harus sering-sering bantu ayah di kantor. Jadi nantinya, d'Axe Cafe bakal gue serahin ke Lo." Jelas Axell sambil sesekali menoleh ke arah gadis itu.
"Tapi kenapa malah ke aku, kak? Kenapa nggak langsung ke owner-nya aja?" Tanya Dira yang semakin tak mengerti, gadis itu memang belum mengetahui kalau d'Axe Cafe adalah kafe milik Axell.
"Dira, Lo istrinya. Lo nggak mau bantuin suami Lo?" Tanya Axell.
"Maksudnya?" Tanya Dira yang semakin bingung.
"d'Axe Cafe punya gue, Yang. Dari sini udah paham, kenapa gue minta Lo yang handle d'Axe Cafe?" Jawab Axell santai, tapi malah membuat gadisnya itu cengo tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.
"Hhaa? Jadi, kafe yang lagi viral dan sering kita datengin itu punya kak Axell?" Tanya Dira yang masih tak percaya.
"Biasa aja kali, Yang. Gue malah berencana ngasih d'Axe Cafe sepenuhnya ke Lo nanti."
...***...
Setelah dari mall, kini Axell kembali melajukan mobilnya untuk pulang. Tujuan awal Axell tadi sebenarnya untuk mengajak Dira jalan-jalan dan juga membelikan beberapa barang yang mungkin gadis ya itu inginkan. Tapi ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan rencananya. Gadis itu malah menolak dan mengajak Axell untuk sekedar menonton film.
Tanpa Dira sadari, di tengah konsentrasi Axell dalam mengemudi, laki-laki itu tengah tersenyum sekarang ini. Mengetahui satu hal, ternyata gadisnya ini tidak terlalu suka berbelanja. Sangat jauh berbeda dengan mantan kekasihnya dulu. Lain Dira, kalau Renata tidak akan berhenti berbelanja sebelum merasakan pegal di kakinya karena terlalu lama berjalan. Sungguh dua kepribadian yang jauh berbeda.
Mendengar gadisnya yang meminta berhenti, refleks Axell menepikan mobil dan menghentikannya. "Ada apa, Yang?" Tanya Axell ingin tahu kenapa Dira yang tiba-tiba memintanya menghentikan mobil.
"Aku mau beli itu, kak. Bentar, ya?" Jawab Dira sambil menunjuk ke arah pedagang kaki lima yang sedang berjualan dipinggir jalan.
"Cilok mercon?" Gumam Axell dengan satu alis terangkat setelah mengetahui kemana arah jari telunjuk Dira menunjuk. "... bentar, Yang!" Cegah Axell yang menghentikan Dira yang akan keluar dari mobil.
"Ada apa, kak?" Tanya Dira sambil mengangkat satu alisnya.
"Yakin mau beli itu? Nggak takut sakit perut?" Tanya Axell ragu.
Dira mengangguk cepat, "Aku udah lama nggak makan itu, kak. Lama nggak beli, jadi pengen!" Ucap Dira memelas.
Tak langsung mengiyakan, Axell diam sesaat. Melihat gadisnya yang memelas seperti ini, ia jadi mengiyakan.
"OK, biar gue aja yang beli. Lo nggak usah keluar, tunggu disini!" Ujar Axell. Tanpa perlu membuang waktu lama lagi, laki-laki itu keluar dari mobil dan berjalan mendekat pada bapak penjual cilok tersebut. Tanpa Axell tahu, senyum Dira mengembang melihat Axell yang mau menuruti keinginannya.
"Pak beli ciloknya." Ucap Axell sopan pada bapak penjual cilok tersebut.
"Iya, den. Mau beli berapa ciloknya?" Tanya pak penjual.
__ADS_1
Axell nampak menggaruk belakang telinganya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Yang pengen makan cilok kan Dira, bukan dirinya. Tapi berapa Gadisnya itu biasa beli? "Satu porsi aja, pak." Jawabnya.
"Mau pake saus sambal atau saus kacang, den?" Tanya bapak itu lagi.
Nah kan, Axell mengrenyitkan dahinya bingung. Ia sama sekali tidak tahu, saus mana yang lebih Dira sukai? "Gini aja, pak. Tolong bapak bikinin dua porsi dengan saus yang berbeda. Saya tidak tau, mana yang istri saya suka soalnya." Jawab Axell.
"Istri?" Tanya pak penjual cilok itu ragu. Pria paruh baya yang hampir seumuran dengan ayah Marvellyo itu tertegun dengan apa yang baru saja ia dengar.
Bukan tanpa alasan, melihat Axell yang masih jelas mengenakan seragam SMA dan bahkan masih lengkap dengan almamater yang menunjukkan dimana lebih tepatnya Axell bersekolah. Tapi laki-laki muda berusia masih belasan tahun itu tadi menyebutkan kata 'ISTRI'.
"Aden udah nikah?" Tanya pak penjual itu memastikan.
Axell mengangguk samar. "Iya, pak. Istri saya nunggu di mobil." Jawabnya sopan.
"Masih sekolah, tapi kok udah nikah, den?" Tanya bapak itu sambil menggelengkan kepalanya.
Axell menarik satu sudut bibirnya. Santai ia menjawab, "Dari pada pacaran kan, pak. Yang ada nambah dosa. Kalo udah suami istri kan bebas. Halal juga." Jawab Axell sambil mengambil dompet dari saku celana bagian belakang.
"Iya, den. Bener apa kata Aden ..." Ucap pak penjual dengan tangan yang sibuk menyiapkan cilok pesanan Axell tadi. "... Tapi, den, Kalo masih sekolah nikah, nggak takut di keluarin gurunya ya, den, kalo ketahuan?" Tanya bapak itu lagi sambil mengulurkan kantung plastik berisi dua porsi cilok pesanan Axell tadi.
"Semuanya jadi berapa, pak?" Tanya Axell sambil menerima uluran plastik berisi cilok yang pak penjual berikan.
"Dua puluh ribu aja, den." Jawab pak penjual.
Axell mengangguk. "... Saya sama sekali tidak takut, pak. Saya sekolah di sekolah milik saya sendiri ..." Jawab Axell sambil menyerahkan selembar uang kertas berwarna merah. "... Kembaliannya buat bapak aja." Sambung laki-laki itu sebelum akhirnya berbalik kembali menuju ke mobilnya.
"Den, ini kebanyakan!" Teriak bapak itu yang sudah pasti tidak bisa Axell dengar karena sudah lebih dulu masuk ke mobil.
Saat Axell masuk ke dalam mobil, laki-laki itu di buat panik seketika karena tidak melihat adanya Dira di dalam mobil. Laki-laki itu lalu meletakkan plastik berisi cilok di atas dasboard mobil dan kembali keluar untuk mencari dimana Dira.
Tapi, baru saja Axell keluar dari mobil, Axell mendapati seorang gadis yang berdiri beberapa meter dari mobilnya dan sedang membelakanginya. Tanpa melihat wajah dari gadis itu, Axell sudah dapat memastikan kalau itu Dira. Gadis itu tengah berdiri di depan dua anak kecil yang sedang membawa beberapa koran.
Merasa lega karena gadisnya yang pergi tak jauh darinya, Axell memutuskan untuk mendekat sembari memperhatikan interaksi ketiganya. Semakin dekat, Axell dapat melihat dengan jelas kalau gadisnya itu tengah memberikan beberapa lembar uang ratusan pada salah satu anak yang Axell pikir kakak laki-laki dari anak kecil satunya.
Saat sudah semakin dekat, Axell memutuskan untuk berhenti. Masih dengan arah pandang yang sama. Kini nampak Dira membungkukkan badannya dan mengelus kepala dua anak kecil tersebut secara bergantian, lalu melambaikan tangan dan berbalik.
"Kak Axell ..." Lirih Dira saat mendapati Axell yang berdiri dengan jarak yang hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang.
"Gue nyariin Lo, Yang. Udah semakin sore, ayo pulang!" Ajak Axell lalu mengulurkan tangannya. Dira natal Axell lekat, lalu meraih uluran tangan dari Axell.
Seulas senyum muncul dari Axell, mendapati Dira yang menerima uluran tangannya. Laki-laki itu lalu membawa Dira masuk ke dalam mobilnya.
"Asyik ... cilok mercon." Seru Dira bersemangat saat melihat cilok yang di letakkan di atas dasboard mobil tadi. Dira langsung membuka bungkus plastik, menusuk jajanan berbentuk bulat dan bertekstur kenyal itu menggunakan tusuk cilok dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Enak, Yang?" Tanya Axell yang memperhatikan gadisnya itu.
__ADS_1
Dira mengangguk cepat, "Enak, kak. Rasanya masih sama kayak terakhir aku beli. Umm ... kak Axell mau coba?"
Axell tersenyum, ia mulai menjalankan mobilnya. "Boleh, suapin tapi!"