
Dira menutup mulutnya yang tengah menguap. Terhitung dari kurun waktu sepuluh menit lebih beberapa detik saja, ia sudah beberapa kali menguap pertanda ia sudah sangat mengantuk.
Tapi, bukannya tidur, Dira malah melanjutkan aksinya maraton nonton drama Korea favoritnya setelah tadi sempat terhenti saat sang suami pulang.
Dan, iya. Dira memang sudah mulai mengantuk sedari tadi. Hanya saja, Dira menahan dirinya untuk tidak tidur dulu karena masih ingin menemani sang suami yang sedang berkutat dengan laptop dan beberapa berkas penting di depannya.
Saat ini posisi Dira tengah tiduran di atas ranjang, sementara Axell duduk bersila di sampingnya.
Axell menoleh ke arah Dira, ia menghela nafas pelan melihat sang istri yang terus-terusan menguap sedari tadi.
Tangan Axell bergerak untuk mengusap kepala Dira, "Yang ... kalo kamu ngantuk tidur aja dulu!" Interupsi Axell.
Dira menggeleng pelan dengan bibir yang manyun, "Aku masih mau nemenin kakak." Jawab Dira yang secara tidak langsung mengatakan kalau ia menolak untuk tidur.
"Yang ... ini udah malem, kamu perlu istirahat." Beritahu Axell pelan agar Dira tak lagi kesal dengannya seperti kemarin malam.
"Bukan cuma aku yang perlu istirahat, tapi Kak Axell juga!" Jawab Dira tak mau kalah.
Axell mengangguk, tapi bukan berarti ia akan mudah menyerah untuk membujuk istrinya itu agar segera tidur.
"Nanggung, Yang. Ini harus segera aku selesaikan secepatnya ..." Axell melihat jam di ponselnya. "... mungkin 1 2 jam lagi baru selesai.
Dira diam dengan bibir yang masih manyun seperti tadi. "Aku mau tidur kalo kak Axell juga tidur." Ucap Dira pelan.
Axell kembali menghela nafas, ia sebenarnya bisa saja tidur sekarang. Karena berkas yang sedang berserakan di depannya saat ini, Axell sudah membacanya saat masih di kantor sang ayah tadi. Dalam arti kata lain, Axell sengaja terlihat sibuk di depan Dira sekarang ini.
Untuk apa Axell melakukan hal ini? Agar Dira tidak memancingnya untuk melakukan hubungan suami istri seperti kemarin.
Bukan Axell menolak, bukan juga Axell tak ingin melakukannya dengan Dira. Dira istrinya dan pastinya Axell selalu ingin menjamahnya.
Hanya saja, Axell masih harus menahan diri untuk tidak melakukannya sementara ini. Dan agar Dira tidak curiga, ia akan melakukan apa saja agar Dira tidak memancingnya. Karena itu Axell terlihat sibuk sejak selesai mandi tadi.
Axell menutup laptopnya, mengumpulkan berkas yang berserakan di depannya. Menumpukkan berkas-berkas itu di atas laptop dan menaruhnya di atas meja.
Axell beralih menatap Dira. Lalu menarik selimut untuk menyelimuti dirinya dan juga sang istri. Memposisikan kepala Dira di lengannya. Lalu tangan satunya melingkar di pinggang Dira.
Dira balik menatap Axell lekat. Tangannya ikut melingkar di pinggang Axell dengan pikiran yang mulai bercabang. Bahkan rasa kantuk yang sedari tadi menyerangnya mendadak hilang begitu saja
Feeling cewek itu kuat banget. Dan entah mengapa sekarang ini Dira mulai merasakan sesuatu. Sesuatu yang entah ... Dira merasa Axell lain sejak kemarin.
"Kak ..." Panggil Dira lirih.
"Hmm..." Jawab Axell yang kini sudah mulai memejamkan matanya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Dira pelan.
__ADS_1
Sebenarnya sudah dari siang tadi Dira ingin menanyakan hal ini, tapi Dira urungkan karena ternyata mereka tidak pulang bersama.
Axell membuka matanya perlahan. Bukannya menjawab, Axell malah bertanya balik. "Tanya apa, Yang?"
"Umm ... " Dira terlihat tengah berpikir. Nampak dari tatapan gadis itu yang turun dan tak berani menatap Axell. Ia terlihat ragu.
"Yang ... Mau tanya apa?" Tanya Axell pelan. Axell harap Dira tidak bertanya macam-macam. "... Tidak semua pertanyaan di dunia ini ada jawabannya. Tapi, aku akan berusaha jawab selagi aku bisa."
Dira mengangkat pandanganya. Dira jadi semakin ragu, pengen tanya karena dia memang penasaran. Tapi bingung juga karena Axell pernah bilang untuk tidak menyebut nama sang mantan jika mereka sedang berdua.
Cup...
Tiba-tiba Axell mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri. Bukan kah tadi istrinya itu mau tanya sesuatu? Lalu, kenapa sekarang malah melamun?
"Yang... jadi mau tanya apa?" Tanya Axell gemas sendiri.
"Tadi ... di sekolah ..." Menggantung. Tiba-tiba Dira menggelengkan kepalanya karena tidak jadi menanyakan hal sedari tadi berhasil membuatnya penasaran itu. "... nggak jadi."
Axell menarik satu alisnya, "Kenapa nggak jadi?"
Dira tersenyum sampai ke pipi, "Aku lupa mau tanya apa, kak."
Axell memincingkan matanya. Tahu banget kalau istrinya ini nggak pintar bohong sama sekali. "Ya udah kalo gitu. Ayo tidur!" Ucap Axell yang kini kembali memejamkan matanya.
Axell terkikik, "Tinggal tanya apa susahnya sih, Yang? Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang nggak jadi? Hmm?"
Dira menggeleng, lalu beringsut bangun dari posisinya dan kini duduk menghadap Axell. "Tadi itu di sekolah aku sempet denger kabar, katanya ... mantan kak Axell di keluarkan dari sekolah. Emang benar, kak?" Tanya Dira menggebu, lalu berubah perlahan di akhir kalimat.
"Why are you asking about that?" Bukannya menjawab, Axell malah balik bertanya.
"Aku cuma mau tau. Benar tidak?" Tanya Dira menuntut jawaban.
"That's right." Santai Axell menjawab.
"Tapi kenapa?" Tanya Dira pelan.
'Kenapa?'
Tangan Axell yang berada di dalam selimut langsung terkepal kuat. Axell langsung teringat dengan kesalahan Renata yang benar-benar sudah tidak bisa ia maafkan lagi.
"Karena dia udah nyakitin kamu." Jawab Axell dengan nada yang terdengar marah.
"Tapi, kak. Nggak harus di keluarin dari sekolah juga, kan?! Maksudku ... dia itu setingkat dengan kak Axell dan bentar lagi dia kan mau uji -"
Grebb!!
__ADS_1
Axell yang masih berbaring dari tadi tiba-tiba memeluk pinggang Dira. Tak cukup sampai di situ, Axell bahkan menenggelamkan wajahnya di pinggang ramping milik istrinya itu. Seakan tidak ingin mendengar kalimat atau pembelaan apapun yang Dira ucapkan tentang mantan kekasihnya.
Dira diam melihat reaksi Axell. Ia paham kalau suaminya ini tidak mau mendengar apapun darinya tentang gadis itu.
"Apapun yang kamu minta, Yang, pasti akan aku penuhi. Kecuali tetap membiarkan dia tetap berada di Bhakti Bangsa."
'Karena tak akan ku biarkan wanita ku tersaing atau pun terusik oleh siapa pun!'
"Okay, aku nggak akan bahas dia lagi." Ucap Dira menyadari kesalahannya.
Dira paham, apapun yang Axell lakukan memang hanya semata-mata untuk menjaganya.
Axell langsung melepaskan pelukannya dan beralih menatap Dira. "Sekarang giliran aku yang tanya sama kamu, Yang?"
Dira mengerutkan keningnya, "Soal apa, kak?" Tanya Dira.
"Kamu ketemu Derry tadi, benar?"
...***...
Axell menghela nafas lega setelah melihat wajah damai Dira yang sudah tertidur pulas di sampingnya.
Axell masih ingat, dulu saat baru menikah dan pertama kali tidur seranjang dengan Dira, ia bisa dengan begitu mudah menidurkan istrinya itu. Tapi sekarang, kenapa ia hampir kewalahan untuk membuat istrinya itu tertidur?
Dira hampir tidak mau tidur dengan alasan tidak mengantuk tadi. Padahal sebelumnya istrinya itu tidak berhenti menguap.
Entah apa yang sedang Dira pikirkan saat ini?
Cup...
Axell mengecup puncak kepala Dira. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa khawatir saat teringat dengan apa yang Pandu katakan padanya usai mengantarkan Dira pulang ke apartemen tadi.
'Derry Bramantyo.'
Terlalu fokus dengan Dira, kenapa ia bisa sampai melupakan kalau ia dan Derry tinggal di gedung apartemen yang sama?
Mungkin hari ini Dira tidak apa-apa karena ada Pandu bersamanya. Tapi siapa yang bisa menjamin lain hari?
Tiba-tiba Axell menatap nyalang langit-langit kamarnya, seakan yang ia tatap sekarang ini adalah Derry. "Gue nggak akan tinggal diam kalo punya gue di usik!"
...***...
*Ada yang ingat dia siapa? Yaps... benar. Dia Derry Bramantyo. Ada yang kangen?
__ADS_1