Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
172. Axell Vs Arfen.


__ADS_3

'Tuh cewek nggak sepolos keliatannya.'


'Dia hamil dan keguguran.'


'Anak dari Axello.'


'Gue ngomong berdasarkan fakta yang ada.'


'Lo bisa tanya Axello sendiri.'


'Mereka bahkan tinggal bareng di apartemen.'


'Kalo dia emang gadis baik-baik. Coba Lo tanya, bener nggak apa yang gue omongin sama Lo barusan?!'


Kedua tangan Arfen yang bertumpu pada pembatas rooftop d'Dream club' itu langsung mengepal kuat. Kalimat demi kalimat yang Derry katakan padanya seolah terus berputar-putar di kepalanya dan tak mau enyah sedikit pun.


Ingin rasanya ia tidak mempercayai itu semua. Ia sangat mengenal bagaimana Dira. Ia sangat tahu bagaimana gadis itu. Ia tahu semuanya.


Bahkan jika ada orang yang bertanya, Siapakah orang yang paling mengenal Dira? Arfen akan langsung maju dengan tangan terangkat sambil menyerukan dirinya, 'Gue.'


Arfen bahkan menganggap apa yang Derry katakan padanya tadi hanya sebuah kebohongan belaka. Dengan keras, ia menolak semua yang Derry katakan padanya. Karena ia yakin, Dira tidak seperti apa yang Derry katakan.


Dira tidak seperti apa yang Derry bicarakan!


Tapi ... jika benar Derry berbohong, lalu keuntungan apa yang Derry dapatkan dari hasil membohonginya?


Arfen bimbang, bingung, dan ... pastinya ia menolak semua itu.


Ia baru meninggalkan Dira selama dua bulan ini, dan selama itu ternyata begitu banyak hal yang ia lewatkan.


Arfen membungkuk dengan kedua tangan yang sibuk menekan kuat telinganya. Ucapan Derry seperti terus berbisik padanya.


Rasanya ia hampir gila dibuatnya.


"Arrrghhh! Breng**k!" Umpat Arfen dengan suara yang begitu keras. Ia harap itu bisa mengurangi kemarahan yang tengah menguasai dirinya saat ini. Tapi ternyata tidak. Nafas Arfen pun terlihat memburu dan menunjukkan betapa ia sangat marah.


Kepala Arfen menggeleng kuat, ia berusaha berpikir positif. "Lo harus tenang, Ar! Lo kenal Dira udah lama. Bukan setahun dua tahun. Tapi udah dari kecil. Lo harus percaya, Dira tidak seperti itu!"


Seperti terhipnotis dengan kalimatnya sendiri, Arfen perlahan merasa tenang karena berhasil menguasai dirinya sendiri.


Setelah merasa lebih baik, Arfen meraih ponsel dari saku celananya. Ia berinisiatif untuk menghubungi Dira. Arfen akan mencoba menanyakan hal itu langsung pada Dira.


Menit berlalu, terhitung sudah lebih dari satu jam terlewat. Arfen tak kunjung mendapat pesan balasan dari Dira. Ia menatap sendu ponsel yang menampilkan room chat-nya dengan gadis itu. Lima pesan yang Arfen kirimkan hanya centang dua abu. Itu tandanya Dira memang belum membaca pesannya.


"It's okay, Dir. Gue tetap akan tunggu balasan dari Lo." Gumam Arfen lirih.


...***...


Dua jam berselang, kini Arfen sedang duduk dengan perasaan yang entah, Arfen tidak bisa menggambarkan perasaannya sendiri saat ini. Apakah ia harus merasa senang atau sebaliknya?


Sebelumnya, niat awal Arfen mengirimi Dira pesan memang untuk bertemu dengan Dira dan menanyakan tentang apa yang Derry beritahukan padanya.


Tapi, setelah mendapat pesan balasan dari gadis itu, kenapa perasaannya jadi semakin campur aduk seperti ini?


__ADS_1


Bukan apa-apa, hanya saja pesan balasan yang ia terima tadi berhasil membuatnya sedikit ... ragu.


Bagaimana tidak? Pasalnya Dira memintanya untuk bertemu di sebuah kafe yang Arfen sendiri tahu betul siapa pemiliknya. Tidak cukup sampai di situ. Dira bahkan meminta Arfen menemuinya saat itu juga. Padahal sekarang ini jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.


Masih tertanam jelas diingatan Arfen, Dira itu tipikal gadis yang membatasi jam malamnya. Dira tidak akan mungkin keluar malam melewati jam 10. Lalu sekarang?


Apakah gadis itu banyak berubah setelah menjalin kasih dengan Axell? Lalu, apakah benar Dira dan Axell sudah sejauh itu? Bahkan sampai Dira hamil?


Entahlah, Arfen masih enggan terburu-buru untuk mempercayai Derry. Ia berharap Dira yang sekarang masih sama dengan Dira yang ia kenal selama ini.


Dan sekarang di d'Axe Cafe, ia hanya sedang menunggu kedatangan Dira. Tempat itu masih begitu ramai, tapi kenapa ia seolah sendirian di tempat seramai itu?


Menit berlalu, tapi Arfen masih enggan mengalihkan pandangannya dari benda pintar di tangannya.


Arfen sedang men-scroll akun sosial media milik Dira. Gerakan tangannya berhenti ketika merasakan seseorang berjalan mendekat dan duduk di depannya.


Awalnya Arfen mengira orang itu Dira. Tapi anehnya saat orang itu duduk, Arfen sama sekali tidak mendengar suara Dira yang menyapanya seperti biasa.


Dan saat Arfen mengangkat wajahnya, betapa terkejutnya ia melihat wajah seseorang yang begitu ia kenal. Seseorang yang dua tahun ini sengaja menghindarinya.


...***...


Ceklek!


Dira menutup pintu kamar setelah kembali dari lantai bawah. Sebelumnya Dira terbangun saat merasakan Axell tak berada di sampingnya.


Dira pikir, suaminya itu sedang di kamar mandi. Tapi setelah ia panggil ternyata tak ada sahutan di dalamnya.


Dira lalu turun dari ranjang, ia akan mencari Axell di lantai bawah. Tapi ternyata nihil. Axell bahkan tidak ada di manapun.


Dira terkesiap, ini jam 1 dini hari. Tidak biasanya suaminya itu pergi di jam seperti sekarang ini. Kemana dia?


Dira lalu meraih ponsel yang ia letakkan di meja rias sebelum ia tidur. Ia akan mencoba menghubungi suaminya.


📞Calling Axello...


Tuutt...


Tuut -


"Hallo, Yang..."


...***...


"Axello." Lirih Arfen saat mendapati seorang Axell yang duduk bersandar tepat di depannya, dengan kedua tangan yang terlipat di bawah dada. "... Gue terkejut."


Axell menatap Arfen tanpa ekspresi sedikit pun. "Harusnya Lo tau. Gue nggak mungkin biarin Dira nemuin Lo malem-malem!"


Arfen mendengus dengan wajah tertunduk. Apa yang Axell katakan memang benar. Harusnya ia sadar, Dira tidak mungkin menemuinya tengah malam seperti ini!


Keduanya saling diam dengan pandangan saling tatap satu sama lain. Ada hal berbeda yang Arfen rasakan pada tatapan Axell padanya saat ini. Laki-laki itu tak lagi menatapnya dengan tatapan marah seperti sebelum-sebelumnya


"Apa yang mau Lo omongin sama Dira?" Tanya Axell to the points.


Arfen menarik satu sudut bibirnya. Ia tahu, Axell orang yang tidak suka membuang waktu. "Privasi." Jawabnya.

__ADS_1


"Privasi?" Ulang Axell lalu membuang muka. Ia tersenyum lalu kembali menatap Arfen. "... nggak ada privasi antara gue sama Dira."


"Oh iya? Sedekat apa kalian? Sudah sejauh mana hubungan kalian selama ini?" Tanya Arfen dengan nada tak suka. "... Kalian tinggal bareng?"


"Lo nggak perlu tahu." Jawab Axell datar.


"Xell, Lo boleh marah sama gue. Lo boleh benci sama gue atas kejadian dua tahun lalu. Lo juga boleh lakuin apapun sesuka Lo. Tapi gue minta, jangan rusak dia!" Ucap Arfen mulai terdengar marah.


"Dua tahun lalu?" Axell mendengus, "... Gue udah lupa. Lebih tepatnya gue udah nggak peduli." Lalu Axell mengubah tatapannya. Ia menatap dingin Arfen. "... Jangan sok ngatur gue. Mind your own business!"


Arfen mendengus kasar, "Jadi bener kabar yang gue denger, Dira sempat hamil?"


Drrtt... Drrtt...


Axell tak menjawab pertanyaan Arfen karena menurutnya itu tidak perlu. Ia lebih mementingkan merogoh sakunya karena merasakan ada panggilan masuk ke ponselnya.


📲 My Dear A is Calling...


Axell mendesah pelan dengan mata tertutup, Dira terbangun dan sekarang pasti sedang menanyakan keberadaannya.


"Hallo, Yang."


"(....)"


"Kok bangun, Yang?"


"(....)"


"Aku lagi di kafe, Yang."


"(....)"


Mata Axell sedikit melebar mendengar apa yang baru saja Dira katakan. Kenapa Dira bisa bicara seperti itu? Apa istrinya itu mengigau?


Axell seperti diintrogasi.


"Yang... Aku nggak ngajak kamu karena aku nggak tega bangunin kamu." Kilah Axell pada Dira karena tidak mungkin Axell mengajak Dira untuk menemui Arfen.


"(....)"


"Yang... Aku ada urusan di kafe sebentar."


"(....)"


"Okay. Iya, aku pulang."


Tak perlu basa-basi atau mengatakan apapun, Axell langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Arfen.


"Xell! Lo belum jawab pertanyaan gue!" Ucap Arfen yang kini berdiri.


Axell berhenti, ia menoleh tanpa menatap Arfen. "Lo tuli? Kuping Lo nggak denger gue ngomong apa? Tanpa gue jawab pertanyaan Lo, harusnya Lo bisa tau dengan begitu mudah!"


Tak lagi memperdulikan Arfen, Axell melangkah tergesa keluar dari d'Axe Cafe.


Iya, Axell benar. Melihat ekspresi Axell saat menerima telepon dan gaya bicara Axell dengan lawan bicaranya tadi, harusnya Arfen tahu, dia bicara dengan siapa diseberang sana? Dan mendengar apa yang mereka bicarakan barusan, harusnya Arfen juga mengerti, Mereka memang tinggal bersama.

__ADS_1


"Gue menolak untuk percaya semua itu!"


__ADS_2