Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
63. Perhatian Axello.


__ADS_3

"O... iya. Bege gue!" Ucap Dira yang masih samar terdengar oleh Axell. Detik kemudian laki-laki itu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh geli membayangkan tingkah konyol Dira di dalam kamar mandi.


Ceklek...


"Kak... mana?" Tanya Dira sambil menelusup kan satu tangannya di sela-sela pintu. Axell langsung menyerahkan pembalut yang ia bawa tadi pada Dira.


Selesai dengan urusannya yang tadi, kini Dira keluar dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil air hangat dan langsung meminumnya dengan keadaan kepala yang masih terbungkus dengan handuk karena rambutnya yang basah.


Saat Dira melihat Axell masuk ke kamar mandi, seperti biasa, ia pasti akan menyiapkan baju ganti untuk Axell. Lalu mengeringkan rambutnya dan berjalan keluar dari apartemen Axell.


Ceklek...


Axell yang sudah selesai dengan mandinya kini keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia langsung mengenakan baju yang sudah lebih dulu Dira siap kan untuknya.


Setelah selesai mencari baju, Axell keluar dari kamar. Perutnya lapar dan belum makan sejak pulang dari sekolah tadi. Dan sekarang ini ia akan meminta Dira untuk membuatkannya makanan.


"Ini Dira kemana?" Gumam Axell setelah tak mendapati Dira di apartemen. Tiba-tiba mata Axell melebar setelah memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Bagaimana kalau Dira sedang berada di apartemennya dan pingsan lagi seperti kejadian siang tadi?Cepat-cepat ia keluar dari apartemennya untuk mencari Dira di unit milik gadis itu.


Tapi baru saja Axell akan membuka pintu, pintu tersebut sudah lebih dulu terbuka dan menampilkan Dira di balik pintu dengan sebotol minyak telon ukuran kecil di tangannya.


"Lo dari mana?" Tanya Axell langsung.


"Dari apartemenku, kak. Ngambil minyak telon." Jawab gadis itu sambil sesekali meringis memegangi perutnya.


Axell menarik satu alisnya, untuk apa Dira mengambil minyak telon? Ia lalu menyusul Dira masuk ke kamar dan mendapati gadis itu sudah meringkuk di atas tempat tidur sambil memegangi perutnya.


"Lo kenapa? Perut Lo sakit?" Tanya Axell yang kini kembali khawatir.


Dira kembali meringis, "Perut aku nyeri, kak." Jawab Dira dengan mata terpejam. Axell diam, setelah pulang dari rumah sakit tadi gadis itu masih terlihat baik-baik saja, lalu sekarang kenapa jadi kesakitan begini?


'Nyeri haid?'


Axell lalu duduk di tepi ranjang. "Ada obatnya gak?" Tanya Axell yang langsung mendapat gelengan kepala dari Dira.


"Lo biasa minum obat apa? Biar gue beliin." Tanya Axell lagi.


Dira kembali menggelengkan kepalanya, "Aku nggak pernah minum obat kalo lagi PMS, kak."


"Sakit banget?" Tanya Axell yang merasa kasihan melihat Dira yang terlihat kesakitan. Dira mengangguk samar masih dengan ringisan yang keluar dari mulutnya.


Axell jadi bingung sendiri. Ia tak tahu harus berbuat apa? Sebelumnya ia belum pernah berada di posisi seperti ini, dihadapkan dengan gadis yang sedang mengalami nyeri haid.


"Mau gue bantuin pake minyaknya?" Tawar Axell.

__ADS_1


Dira diam. Gadis itu tak begitu mendengarkan apa yang Axell katakan karena memang perutnya yang terasa sesakit itu.


Melihat Dira yang semakin kesakitan membuat Axell berinisiatif untuk mengoleskan minyak telon tersebut ke perut Dira. Sepertinya menunggu jawaban dari gadis itu tidaklah perlu. Axell lalu mengambil minyak telon yang terletak di samping Dira. Membuka tutup dari minyak telon tersebut dan menuangkannya ke telapak tangan. Axell lalu menuntun Dira untuk berbaring dan menyingkap sedikit kaos yang Dira pakai untuk mengoleskan minyak dari telapak tangannya ke perut Dira.


Di usap-usapnya perut Dira dengan pelan untuk meratakan minyak telon itu. Ada sensasi dingin yang Dira rasakan. Bukan dari minyak telon yang Axel bubuhkan pada perutnya, melainkan dari tangan kekar Axell itu sendiri. Mungkin karena Axell yang baru selesai mandi beberapa saat tadi.


"Udah, kak. Cukup!" Ucap Dira sambil sedikit menjauhkan tangan Axell dari perutnya.


"Kenapa?" Tanya Axell tak mengerti.


"Geli." Jawab Dira.


Axell menghela nafas pelan. Ia lalu meletakkan botol minyak telon tadi di atas nakas. Meraih ponselnya yang tergeletak sedari tadi dan mengetikan sesuatu. Lalu bangkit pergi keluar dari kamar. Lima menit kemudian ia kembali dengan segelas teh hangat di tangannya.


"Gue bikinin Lo teh anget. Nih, di minum!" Ucap Axell lalu membantu Dira duduk dengan satu tangan yang masih membawa gelas berisi teh tadi.


"Gimana? Udah enakan?" Tanya Axell saat Dira mengembalikan gelas yang sudah berkurang setengah isinya itu.


"Udah agak enakan, kak." Jawab Dira sambil kembali merebahkan tubuhnya.


"Jangan dulu tidur, makan dulu!" Ucap Axell. Dira yang tadi hampir memejamkan matanya kini kembali terbuka. Ia teringat akan sesuatu.


"Kak Axell belum makan ya?" Tanya gadis itu. Dira lalu bangun dan turun dari tempat tidur.


"Mau kemana?" Tanya Axell sambil menarik satu alisnya.


"Gak usah masak. Gue udah Delivery order dari kafe.


Tok...


Tok...


Tok...


Tiba-tiba ada seseorang yang datang mengetuk pintu. Axell bangun dari duduknya untuk membukakan pintu. Sudah dapat Axell pastikan kalau yang datang adalah salah satu karyawan dari d'Axe Cafe yang mengantarkan pesanannya.


...***...


Keesokkan paginya yang sudah bangun dari setengah jam yang lalu kini tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai bersiap, pandangan Axell menoleh ke arah gadis yang masih meringkuk di balik selimut.


Axell mendekat ke arah ranjang dimana gadis yang masih tertidur itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Seketika satu alis Axell terangkat. Ini tidak seperti biasanya. Karena biasanya Dira akan bangun lebih dulu dari pada dirinya.


Tapi lain halnya di pagi ini. Disaat Axell sudah siap untuk berangkat ke sekolah, gadis itu bahkan belum bangun

__ADS_1


Tangan Axell terulur untuk memegang dahi Dira. Memastikan suhu tubuh gadis itu, takut-takut demam.


Dan benar saja. Setelah menempelkan punggung tangannya pada dahi Dira, Axell memang merasakan dahi Dira yang panas. Ia lalu menyingkap selimut yang masih menutupi wajah Dira. Seketika mata Axell melebar setelah melihat wajah Dira yang terlihat begitu pucat. Dira sakit.


"Dir, hey... bangun!" Panggil Axell yang mencoba untuk membangunkan Dira dengan cara menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu.


Dira yang sudah mulai bangun kini membuka matanya dan mendapati Axell yang duduk di tepi ranjang.


"Ini udah jam berapa, kak?" Tanyanya Dira lirih.


"Jam enam lebih tiga lima. Lo sakit? Badan Lo demam." Jawab Axell.


"Aku nggak pa-pa, kak. Udah biasa kalo -..."


"Lagi dapet?" Sahut Axell cepat.


Dira mengangguk pelan. "Kak Axell kok belum berangkat sekolah? Oh... iya, nanti tolong izinin aku ke bu Ratih ya, kak."


Axell tak menjawab. Ia menatap wajah Dira yang terlihat pucat lama. Menghembuskan nafasnya pelan. Detik kemudian ia bangkit dan melepas kancing baju seragamnya di depan Dira. Melepas bajunya perlahan dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju ganti. Axell berniat untuk tidak masuk sekolah hari ini. Ia memilih untuk menemani Dira.


Dira yang melihat Axell yang sedang melepas baju tepat di depannya jadi deg-degan sendiri. Ini ke dua kalinya ia melihat Axell yang bertelanjang dada dari jarak dekat.


"Perlu gue panggilan dokter?" Tanya Axell yang kini telah selesai menganggu bajunya.


"Nggak usah, kak. Nanti siang pasti udah enakan, kok." Tolak Dira halus sambil beranjak dari dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


Selesai dari kamar mandi, Dira langsung bergegas menuju ke dapur. Membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa lembar roti.


"Mau ngapain?" Tanya Axell yang kini berdiri di belakang Dira.


"Bikin sarapan, kak." Jawab Dira sambil memasukkan dua lembar roti ke dalam mesin pemanggang roti.


"Lo duduk. Biar gue aja yang bikin!" Ucap Axell yang meminta Dira untuk kembali duduk. "... Wajah Lo pucet."


"Aku bisa, kak. Cuma bikin roti gini." Tolak Dira.


Selesai dengan roti, Dira lalu menaruhnya ke dalam piring dan meletakkannya di atas meja. Lalu mengambil dua gelas dan menuangkan susu yang ia ambil dari lemari pendingin tadi.


Kini keduanya sedang duduk berhadapan sambil menikmati sarapan yang beberapa menit tadi Dira buat. Hening beberapa saat, sampai akhirnya Dira membuka suara.


"Kak Axell kenapa nggak jadi berangkat sekolah?" Tanya Dira di sela-sela mengunyah makanannya.


"Kenapa memangnya.?" Tanya Axell balik.

__ADS_1


"Ya nggak kenapa-kenapa. Bukannya tadi udah rapi, ya?" Jawab Dira.


"Nggak apa-apa. Gue mau nemenin istri gue."


__ADS_2