
Axell berjalan keluar kelas lebih dulu di bandingkan dengan teman sekelasnya. Waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal PTS masih tersisa satu jam lebih beberapa menit, tapi Axell sudah selesai mengerjakan semua soal ujiannya dari tadi. Dan memutuskan untuk keluar kelas setelah mendapatkan pesan singkat dari seseorang, yang sudah ia tunggu sejak pagi tadi.
Dan di depan pintu gerbang sekolah sekarang ini Axell berada, menemui seorang laki-laki yang usianya selisih tiga tahun dari Axell. Laki-laki yang mengenakan setelah kemeja warna navy, lengkap dengan dasi yang melilit di lehernya dan celana formal slim fit warna hitam.
Laki-laki yang tak lain adalah asisten dari Axell itu sendiri menunduk saat melihat bosnya yang berjalan mendekat padanya.
"Pagi, Tuan Axell. Bagaimana dengan PTS anda?" Sapa Pandu ramah.
Axell mengangguk, "Tidak sulit." Balas Axell.
Pandu tersenyum mendengarnya. Pandu tahu, atasannya ini memang tergolong orang berotak encer. Jadi wajar kalau Axell keluar ruangan sepagi ini. "Ini obat yang anda minta, Tuan." Ucap Pandu sambil mengulurkan paper bag yang menjadi alasannya datang ke Bhakti Bangsa.
Ya, pagi tadi Axell memintanya mencarikan obat pereda nyeri yang sama dengan yang Dira minum beberapa hari lalu dan langsung mengantarkannya ke sekolah.
"Thank's." Jawab Axell yang langsung menerima paper bag yang Pandu ulurkan padanya. Satu tangannya meraih ponsel yang tiba-tiba bergetar dari dalam saku celananya.
"Ada lagi, Tuan?" Tanya Pandu lagi.
Axell urung menjawab, matanya masih intens menatap layar ponsel miliknya, detik kemudian mata Axell terbuka lebar setelah melihat isi pesan yang dikirimkan seseorang padanya.
"SHITT!" Axell tiba-tiba mengumpat lalu beralih menatap Pandu. "... Ndu, Lo bisa langsung balik ke kantor!" Perintahnya dan langsung berbalik kembali masuk ke sekolah meninggalkan Pandu.
...***...
Axell melangkah dengan langkah lebar menuju ke lantai 4 dimana kelas Dira berada. Saat memasuki kelas, mata Axell langsung tertuju dimana bangku sang istri. Tapi Axell malah tak melihat adanya istrinya di sana. Axell kembali keluar kelas dan langsung berpapasan dengan Melody yang terlihat panik.
"Kak Axell -"
"Dira mana?" Tanya Axell langsung tanpa menunggu Melody menyelesaikan kalimatnya.
"Itu ... Adit tadi -"
"Kemana?" Sela Axell tak sabaran.
__ADS_1
"UKS." Jawab Melody tak kalah cepat.
"Shitt!" Axell kembali mengumpat dan langsung berlari menuju dimana ruang UKS tersebut.
Bukan, Axell mengumpat bukan ia tujukan untuk Adit yang telah berani membawa Dira ke UKS tanpa izinnya, melainkan Axell tujukan pada dirinya sendiri yang terlalu lambat memberikan obat pereda nyeri pada Dira.
Sebenarnya Axell pun tidak bisa sepenuhnya di salahkan disini. Salah kan saja mereka yang tinggal di kota besar super sibuk seperti Jakarta, yang selalu macet di pagi hari. Dan memperlambat kinerja Pandu dalam membantunya mengantarkan obat Dira yang berujung membuat istrinya itu kesakitan, akibat menahan nyeri di bagian perutnya.
Axell ingat dengan dokter yang menangani Dira hari itu, dia sudah mewanti-wanti sebelumnya kalau Dira akan merasakan nyeri hebat ketika Dira on periode nanti. Dan benar saja. Melihat wajah panik Melody tadi, sepertinya benar istrinya itu tidak baik-baik saja.
Ceklek.
Axell memasuki ruang UKS dan langsung mendapati Adit yang tengah duduk di kursi dengan kedua siku yang bertumpu pada kedua lututnya.
"Dimana Dira?" Tanya Axell tanpa basa-basi.
Adit langsung berdiri menatap Axell yang berdiri tepat di depannya, "Tirai pertama." Jawabnya singkat.
Axell langsung menuju dimana brankar yang menjadi tempat Dira beristirahat, menyingkap tirai penutup yang digunakan sebagai sekat dan masuk kedalamnya.
Ya, Adit akui, Dira adalah gadis yang memiliki paras cantik. Dengan kulit putih mulus kemerahan tanpa cacat. Rambut panjang lurus kecoklatan. Wajah ayu dengan hidung mancung yang pas, tidak terlalu mancung dan tidak pesek, sangat sesuai dengan bentuk wajah Dira yang terlihat menggemaskan. Tak ayal wajah bak bidadari itu berhasil memikat Axell sang ketua OSIS yang terkenal dingin dan super cuek pada lawan jenis.
Lama menatap wajah khawatir Axell, Adit beralih menatap wajah pucat Dira yang tengah terpejam. Tidak lama karena pandangan Adit langsung beralih ke arah perut datar milik Dira.
Tiba-tiba Adit menarik satu sudut bibirnya.
Terkejut.
Satu kata yang pas dengan apa yang Adit rasakan, saat mendengar pengakuan mengejutkan Axell beberapa hari lalu. Dimana dengan begitu gamblangnya, Axell mengakui kalau dia telah menikahi Dira beberapa bulan lalu.
Siapa pun orang termasuk Adit, pasti akan berpikir buruk tentang hal yang mendasari pernikahan keduanya saat itu.
Married by accident.
__ADS_1
Ya. Tak menampik, itu yang sempat Adit pikirkan saat itu. Memang siapa yang mau menikah disaat mereka masih mengenyam pendidikan kalau tidak terjadi sesuatu diantara keduanya?
Tapi, ternyata tidak. Apa yang Adit pikirkan salah. Dengan tegas Axell membantah apa yang Adit pikirkan tentangnya dan Dira saat itu.
Yang Adit tak habis pikir, mereka masih sangat muda. Mereka bahkan masih sama-sama sebagai pelajar SMA. Jalan mereka berdua masih terlampau panjang untuk di lewati dengan ikatan sakral pernikahan. Lalu, apa yang mendasari latar belakang pernikahan mereka?
Entahlah. Adit menggeleng samar. Ia berusaha mengenyahkan pikiran yang seharusnya tak muncul di saat seperti ini. Ia hanya bertugas untuk mengawasi seseorang dan bukan mencampuri kehidupan pribadi seseorang itu.
Adit lalu beranjak, ia sedikit mendekat pada Axell. "Gue tunggu di ruang OSIS." Ucapnya.
"Hmm... Gue ke sana setelah kasih Dira obat?" Jawab Axell tanpa mengalihkan pandangannya dari Dira. "... Thank's."
Axell sedikit menoleh saat mendengar pintu UKS di tutup oleh Adit. Ia menghela nafas saat kembali menatap wajah sang istri yang masih terlihat pucat. Tangan Axell terulur untuk mengusap lembut pipi Dira.
"Sayang... Bangun!" Panggil Axell lirih. "... Yang..." Ulangnya lagi.
"Ssshh..." Dira meringis dengan mata yang masih terpejam. "... kak... Kok kak Axell disini?" tanya Dira lemah.
Axell tersenyum dengan satu tangan mengepal di bawah brankar. "Bangun dulu ya, Yang! Minum obat kamu, nanti istirahat lagi!"
...***...
Axell menghela nafas lega setelah melihat Dira kembali tidur setelah nyeri di perutnya mereda. Perlahan ia beranjak dari duduknya untuk pergi dari UKS tanpa menimbulkan suara yang bisa membangunkan sang istri. Sebelum pergi, Axell sudah berpesan pada staf yang bertugas di UKS sekolah untuk tidak membiarkan Dira keluar dari UKS sebelum jam pulang sekolah nanti.
Dan di sinilah Axell sekarang, ia berada tepat di depan pintu ruang OSIS. Tangan Axell terangkat untuk membuka pintu tersebut saat setelah ia ketuk terlebih dahulu.
Ceklek.
Saat pintu terbuka, Axell langsung masuk karena menyadari kedatangannya yang sudah di tunggu sedari tadi.
Di ruang OSIS tersebut, sudah ada Verrel sang wakil lengkap dengan anggota pengurus OSIS lainnya, Pak Bambang guru BK, Pak kepala sekolah, Zaki dan yang terakhir ... Adit yang datang memenuhi undangan Axell untuk menemuinya pagi tadi.
Axell menarik samar salah satu sudut bibirnya ketika tatapan matanya bertemu dengan mata Adit yang ternyata juga sedang menatapnya dengan tatapan kesal. Dapat Axell tebak, Sang guru BK yang tak lain adalah ayah dari Adit itu sendiri pasti sudah mengutarakan maksud dari Axell yang mengundangnya untuk datang mengikuti rapat di ruang OSIS seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Baik. Sebelum memulai rapat OSIS ini, saya ucapkan banyak terima kasih ..."