Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
166. Hot news.


__ADS_3

"Girls, Gue punya hot news yang pastinya sayang banget buat kalian lewatin." Seru salah satu siswi ber-name tag Alisa dengan heboh.


Setelah memesan makanannya, Gadis itu berjalan dengan terburu-buru menghampiri teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai di kantin.


"Hah ... apaan-apaan?" Tanya Andin - Salah satu teman Alisa.


"Kalian tau anak baru yang pindahan dari London itu nggak, sih? Yang baru masuk Bhakti Bangsa belum lama itu?" Tanya Alisa heboh.


Siswi bernama Elina - juga teman Alisa mengangguk cepat, "Iya ... gue tau. Kenapa memangnya?" Tanyanya penasaran.


"Renata bukan sih, namanya?" Sahut Dewi yang langsung teringat dengan gadis yang Alisa maksudkan.


Alisa menuding ke arah Dewi, "Ah ... iya, benar. Renata. Kalian tau nggak, gue denger tuh cewe di D-O dari Bhakti Bangsa?" Ucapnya semangat.


"Hhah?! Di D-O?" Tanya Andin ulang.


"Hmm..."


"Kenapa emangnya?" Tanya Elina yang juga ingin tahu.


"Gue nggak tau jelas, sih. Tapi gue dengar-dengar ...-"


"Dia aniaya adik kelas di toilet." Ucap Dewi memotong ucapan Alisa.


"Hha... -"


"Yang bener Lo?!" Ucap Elina dan Andin bersamaan.


Dewi memutar matanya malas, "Apa sih yang gue dapet kalo gue bohong?!" Jawabnya.


"Adik kelas?" Gumam Alisa tapi masih bisa di dengar teman-temannya. "... tapi siapa?"


"Gue nggak tau siapa adek kelas itu? Tapi yang jelas, berita itu sengaja dirahasiain ..." Dewi mengelap ujung bibirnya dengan tisu, "... tapi benar, penyebab Renata di D-O emang karena itu."


"Hooo...." Seru Andin dan Elina kompak.


"Pasti fatal banget ..." Alisa menepuk dagunya. "... udah mau ujian padahal."


"Salah sendiri, siapa suruh dia bikin masalah di akhir masa SMA?!" Jawab Dewi.

__ADS_1


"Iya, sih. Pasti ada balasan di setiap perbuatan."


Di tempat yang tak jauh dari Alisa dan kawan-kawan, Dira tengah meremat ujung rok seragamnya. Ia teringat dengan kejadian tak mengenakan yang menimpa dirinya beberapa hari yang lalu.


Melody yang juga mendengar apa yang sedang di bahas oleh kakak kelasnya itu mengusap punggung Dira untuk menenangkan temannya itu.


Meski tidak melihat kejadian yang menimpa Dira secara langsung, tapi dari apa yang Melody dengar dan ketahui saat Dira di rumah sakit, itu sudah cukup memberinya jawaban tentang apa yang Renata lakukan pada Dira adalah hal yang sangat buruk. Melody pun tidak bisa membayangkan kalau misalnya ia berada di posisi Dira saat itu.


"It's okay, semuanya sudah terlewat, Dir." Ucap Melody pelan.


Dira menatap Melody yang mengangguk padanya. Lalu ikut mengangguk seolah mengatakan dia tidak pa-pa.


"Berarti, tuh nenek lampir di keluarin dari sekolah, dong?" Tanya Melody yang sudah mengubah nada bicaranya seperti biasa.


Dira menggeleng karena memang ia tidak tahu apa-apa. "Gue nggak tau, Mel. Kak Axell juga nggak cerita apapun sama gue."


Melody diam, ia tidak tahu harus berkata apa. Tapi di sini Melody bisa mengerti dengan sangat baik, apa yang sang kakak kelasnya lakukan itu adalah hal yang wajar.


Melihat Dira yang notabene istri dari putra pendiri Bhakti Bangsa di perlakukan seperti itu, bahkan sampai mengalami keguguran, Wajar kalau mereka menindak tegas Renata. Dan mungkin akan lebih dari sekedar di keluarkan dari sekolah.


...***...


Dira menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur begitu ia sampai di apartemen milik Axell. Tadi Dira pulang sekolah dengan di antar Pandu ke apartemennya.


Memang benar ada bimbel untuk beberapa Minggu ke depan dan semua kelas 12 mengikutinya. Hanya saja, Dira tidak tahu, Axell tidak benar-benar mengikuti bimbel tersebut.


Karena sebenarnya, Axell sedang mengurus sesuatu hal lain. Dan tentunya sesuatu hal itu sedikit banyak menyangkut tentang Dira.


Dira yang tadinya sempat memejamkan mata tiba-tiba terbuka. Ia tiba-tiba teringat dengan pesan Axell sebelum ia pulang tadi.


Axell sempat berpesan bahwa Dira tidak boleh membuka pintu unit apartemennya dengan alasan apapun. Dira juga tidak di perbolehkan untuk keluar dari apartemen sendiri. Dan kalau pun ada alasan Dira harus keluar dari apartemen, Dira harus memberi tahunya terlebih dahulu. Dan Axell akan meminta Pandu untuk menemaninya nanti.


Itu valid dan tidak bisa di bantah.


Dira merasa aneh. Harusnya, kalau takut terjadi apa-apa dengan dirinya, biarkan ia pulang ke rumah Ayah dan bunda kan? Atau ke rumah papa Pras? Tapi tidak, Axell malah meminta Pandu untuk mengantarkan Dira ke apartemennya saja.


'Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang gue nggak tau? Apa ini ada hubungannya dengan ...'


Tiba-tiba Dira teringat dengan Derry. Tadi saat baru sampai di lobi apartemen, Dira tidak sengaja berpapasan dengan cowok yang ia ketahui teman dari Nicholas, yang kebetulan baru saja keluar dari lift.

__ADS_1


Saat Dira mau memasuki lift, Derry sempat menghadang jalannya tadi. Bahkan Derry melihat Dira dengan tatapan lapar dan seperti ingin menerkam.


Beruntungnya Dira masih bersama dengan Pandu. Laki-laki itu bahkan mengantarkannya sampai depan pintu unit suaminya. Hingga Derry tidak bisa melakukan hal yang entah, Dira tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Derry tadi.


Tak ingin semakin memikirkan hal yang menurutnya tidak penting, Dira beranjak dari posisi berbaringnya, lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


...***...


Jam 8 malam Axell baru pulang. Ia memasuki apartemennya dengan wajah yang terlihat jelas, Lelah sekali.


Axell berjalan mendekati Dira yang sedang tiduran di sofa depan tv dan tengah menonton drama asal negri ginseng dari ponselnya. Ponsel yang Axell berikan, bukan ponsel Dira yang hilang saat Arfen mendatanginya di sekolah.


Benar, ya, Drakor itu kadang bisa mengalihkan dunia seseorang dengan begitu mudah. Pantas saja istrinya itu sampai tidak menyadari kedatangannya.


Cup...


Axell membungkuk dan mencium puncak kepala Dira. Dan hal itu berhasil mengalihkan atensi Dira dari layar yang sedang ia lihat.


"Seru banget ya, Yang, sampai nggak sadar aku pulang?!" Ucap Axell yang kini duduk di tepi sofa setelah melepas tas rangsel dari punggungnya dan meletakkannya di atas meja.


Dira tersenyum, ia mengubah posisinya menjadi duduk dan langsung memeluk Axell dari samping. "Aku tadi nggak denger Kakak pulang."


Axell menepuk pelan puncak kepala Dira, "Gimana mau denger, kamu asyik begitu nontonnya!" Ucap Axell sambil menarik gemas hidung mancung Dira.


Dira terkikik. Ia melepas pelukannya. "Abisnya seru. Umm ... Kak Axell mau mandi sekarang atau nanti? Aku buatin teh, ya?"


Axell ikut tersenyum, ia mengusap sebelah pipi Dira.


Padahal cuma lihat istrinya baik-baik aja dan tersenyum seperti sekarang ini, tapi rasa lelah dan capeknya bisa langsung hilang begitu saja.


The power of bucin.


"Kopi aja, Yang." Jawab Axell.


"Okay, aku buatin sekarang, ya!" Dira bangkit dari duduknya, dan bersiap ke dapur. "... O iya, kakak sudah makan malam belum, mau aku masakin sekalian?" Tanya Dira lagi.


Dira tadi sudah makan malam lebih dulu karena memang ia sudah lapar dan Dira juga tidak tahu jam berapa Axell akan pulang? Dan sekarang Dira berinisiatif untuk membuatkan makanan suaminya karena mungkin suaminya itu belum makan?


"Kamu belum makan, Yang?" Tanya Axell mendadak khawatir. Ia tidak ingin istrinya itu telat makan dan berujung sakit lagi.

__ADS_1


Dira mengangguk cepat, "Sudah, baru aja ..." Jawab Dira yang kini kembali duduk. "... jadi kak Axell sudah makan atau belum?" Tanyanya lagi.


Axell menghela nafas lega, "Sudah ..." Tangan Axell terangkat untuk menyelipkan helaian rambut Dira ketelinganya. " ... tadi selesai bimbel, aku ke kantor Ayah?"


__ADS_2