Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
49. Gara-gara Zaki.


__ADS_3

"Udah siap?" Tanya Axell pada Dira yang sedang mengelap bibirnya menggunakan tissue setelah selesai sarapan.


"Udah, kak." Jawab gadis itu setelah meneguk air minumnya.


"OK. Kalo begitu, ayah berangkat dulu ya, Bun?" Ucap ayah Marvellyo lalu mengulurkan tangannya pada bunda Resty. "Dan kalian nanti hati-hati di jalan!" Pesan ayah Marvellyo pada Dira dan Axell.


"Hati-hati, yah." Ucap bunda Resty setelah mencium punggung tangan ayah Marvellyo.


"Axell sama Dira juga mau berangkat dulu ya, Bun." Pamit Axell sambil mencium punggung tangan bunda Resty.


"Iya, kalian juga hati-hati. Jangan ngebut lho, boy! Ingat, sekarang kamu nggak sendirian di mobil." Pesan bunda Resty pada putra kesayangannya dan langsung mendapat acungan jempol dari Axell.


"Dira juga berangkat ya, Bun." Pamit Dira sambil mencium punggung tangan bunda Resty.


"Iya, sayang. Kalo Axell nakal, bilang sama bunda! Biar nanti bunda yang jewer kupingnya." Ucap bunda Resty pada menantunya itu.


"Iya, Bun." Jawab Dira sambil tersenyum lalu berjalan mengekori Axell yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. Sampai akhirnya Axell teringat akan sesuatu dan langsung membuatnya menghentikan langkah yang hampir mencapai pintu keluar. Membuat Dira yang berjalan tepat di belakangnya tanpa sengaja menabrak punggungannya.


Bruukkk...


"Aduh...!" Pekik Dira sambil mengusap dahinya yang terbentur punggung Axell. Gadis itu tadi sedang memainkan ponselnya, dan tidak melihat kalau Axell berhenti tepat didepannya tadi. "Kak Axell kok tiba-tiba berhenti, sih!" Protes gadis itu.


"Lo duluan! Gue mau ngambil barang gue yang ketinggalan di kamar." Ucap Axell pada Dira lalu kembali ke kamar. Dira menghela nafas pelan lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil Axell yang sudah di siapkan oleh pak Udin.


"Mari, non!" Ucap pak Udin sambil membukakan pintu mobil untuk Dira membuat gadis itu mengernyitkan dahinya bingung. Pasalnya mobil yang pintunya di buka oleh pak Udin tadi berbeda dengan mobil yang biasa Axell pakai.


Pak Udin yang melihat wajah bingung menantu dari majikannya itu menjelaskan. "Den Axell kalo ke kantor suka pake mobil yang ini, non. Katanya biar temen-temennya nggak ada yang ngenalin kalo ketemu di jalan."


"O... gitu ya, pak." Jawab Dira sambil menganggukkan kepalanya mengerti lalu masuk ke dalam mobil Axell setelah sempat mengucapakan kata terima kasih pada pak Udin. Tapi ada hal yang membuat gadis itu sedikit penasaran disini?


'Biar nggak ada yang ngenalin pas ketemu di jalan? Apa maksudnya coba?'


Sementara Axell yang sudah sampai di kamarnya itu pun langsung bergegas mengambil ponsel yang ia sembunyikan di dalam tas sekolahnya. Lebih tepatnya ponsel Dira yang sampai selama ini masih tetap ia sembunyikan.


Laki-laki itu belum sempat mengambilnya tadi. Karena Dira yang sudah lebih dulu bangun, membuat Axell mengurungkan niatnya untuk mengambil ponsel tersebut. Setelah mengambil ponsel, Axell segera kembali menyusul Dira yang sudah lebih dulu masuk ke mobil.


Sekitar 30 menit waktu perjalanan, kini mobil yang ditumpangi Dira dan Axell hampir sampai di depan pintu gerbang sekolah SMA Bhakti Bangsa. Axell yang melihat keadaan di sekitaran gerbang sekolah yang sudah mulai ramai karena banyaknya siswa siswi yang sudah mulai berdatangan, membuat laki-laki itu meraih kaca mata hitam yang selalu ia simpan di atas dasboard dan langsung memakainya.


Axell memakai kacamata hitam itu agar tidak ada yang mengenalinya saat Axell berhenti di depan gerbang sekolah nanti.


"Aku turun dulu ya, kak. Makasih udah anterin." Ucap Dira sambil mengulurkan tangannya pada Axell. Axell yang mengerti maksud dari uluran tangan Dira pun langsung menyambut baik gadis yang akan mencium tangannya itu.


Axell tersenyum samar menyadari Dira yang sudah terbiasa mencium tangannya sebelum keluar dari mobil.


"Pulang sekolah gue jemput." Ujar Axell yang langsung di balas anggukan kepala oleh Dira. Setelah keluar dari mobil Axell, Dira langsung bergegas menuju kelasnya karena bel sekolah yang sudah berbunyi dan pelajaran akan segera di mulai.

__ADS_1


...***...


"Eh, Mel. Kenapa Lo kemarin nggak masuk? Tanya Dira pada teman sekelasnya itu.


"Kemarin gue ada acara keluarga di Bandung. Kenapa, Dir? Lo kangen ya, sama gue? Baru juga sehari doang!" Jawab Melody. Kini keduanya sedang menunggu pesanan mereka di kantin.


"Ck. Bukan gue yang kangen, Mel." Balas Dira.


"Ini, neng pesanannya." Ucap Bu kantin menyela sambil membawa nampan berisi pesanan Dira dan juga Melody.


"Makasih, Bun" Jawab Dira dan Melody bersamaan dan di jawab anggukan kepala oleh Bu kantin.


"Terus, kalo bukan Lo, siapa yang kangen, Dir?" Tanya Melody sambil mengunyah baksonya.


"Siapa lagi kalo bukan... tuh arah jam 12!" Tunjuk Dira menggunakan dagunya ke arah seseorang yang sedang berjalan mendekat ke arah Dira dan Melody.


Melody spontan mengikuti arah pandang Dira dan mendapati Zaki yang berjalan turus ke arahnya.


"Si Zaki? Lo berjanda, Dir?" Tanya Melody ngasal.


"Enak aja berjanda. Amit-amit jabang bayi deh, Mel kalo sampe gue jadi janda." Jawab Dira sambil bergidik membayangkan dirinya yang bahkan belum lulus SMA tiba-tiba menjanda.


"Siapa yang jadi janda, Dir?" Tanya Zaki yang baru saja datang dan langsung bergabung dengan Dira dan Melody.


"Salah denger gimana? Orang gue jelas-jelas denger kalian nyebut-nyebut kata janda tadi, iya kan Dir?" Balas Zaki. Sementara Dira hanya mengendikan bahunya acuh.


"Siapa yang jadi janda, Jak?" Tanya Bastian yang baru saja datang bersama dengan Verrel dan juga Nayla.


Plak...


Mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari sahabatnya, membuat Verrel spontan memukul kepala dari Bastian.


"Aduh! Eh... monyet! Lo Kira-kira, dong! Ini kelapa gue, main asal geplak aja Lo! Satbang!" Protes Bastian ngegas pada sahabatnya itu.


"Kepala, Babas! Kepala! Bukan kelapa!" Ucap Nayla yang membenarkan kata-kata Bastian yang salah tadi.


"Sengaja! Kesel nih gue sama cowo Lo!" Jelas Bastian.


"Abisnya, Lo sekolah dulu yang bener! Denger kata-kata janda, langsung gercep Lo." Cibir Verrel yang tak mau disalahkan oleh si tengil Babas.


"Gue kan cuma kepo sama mereka bertiga tadi." Jawab Bastian tak mau kalah.


"Eh Lo berdua... Jangan pada bersisik, bisa nggak?" Protes Zaki tiba-tiba.


"Berisik, Zaki! Berisik! Bukan bersisik! Lo kata Kita-kita ini ikan, bersisik?" Ucap Verrel.

__ADS_1


"Mungkin kali. BTW, junjungan Lo pada mana? Kok nggak kelihatan?" Tanya Zaki.


"O... si pak ketos? Ada kepentingan... Biasalah, pewaris tunggal keluarga Marvellyo." Jelas Bastian.


"Bisa pelan-pelan nggak kalo ngomong!" Protes Verrel pada Bastian bermaksud agar sahabatnya itu mengecilkan suaranya saat membahas tentang keluarga Axell.


"Sorry! Kelepasan gue!" Jawab Bastian nyengir.


"Tapi pagi tadi gue liat mobil dia di depan." Ucap Zaki yang memang merasa melihat mobil Axell di depan pintu gerbang.


"Idih... ini anak sok tempe!" Cibir Bastian asal.


"Tahu, Babas! Tahu! Bukan tempe!" Ucap Nayla yang membenarkan kata-kata Bastian yang asal-asalan sejak tadi.


"Lo salah liat, kali!" Sahut Melody. Zaki langsung menggelengkan kepalanya menolak apa yang di katakan Melody. Jelas-jelas ia melihat mobil Axell yang berhenti tepat di depan pintu gerbang dan melihat gadis yang ia yakini adalah Dira - keluar dari mobil Axell pagi tadi.


Zaki lalu mengubah arah pandangnya ke arah Dira dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lihat tadi tidak salah.


"Kenapa sih, Zak? Kok Lo ngeliatin guenya gitu banget?" Protes Dira yang sedari tadi diam. Gadis itu tiba-tiba merasa tak nyaman dengan Zaki yang melihatnya tak biasa.


"Gue perhatiin Lo akhir-akhir ini ke sekolah nggak bawa mobil ya, Dir? Lo... berangkat bareng siapa tadi?" Tanya Zaki penuh selidik.


Bastian memicingkan matanya kearah Zaki. "Kenapa Lo tiba-tiba jadi kepo sama bidadari gue, Zak?" Tanya Bastian.


"Eh iya, Dir. Gue tadi ngeliat Lo di anterin sama cowok. Siapa dia? Cowok Lo?" Cerca Melody yang tadi juga tak sengaja melihat kedatangan Dira pagi tadi.


Belum sempat Dira menjawab, Nayla tak mau kalah memborbardir Dira dengan sejumlah pertanyaan, "Lo berangkat sama cowok, Dir? Siapa? Arfen? Atau cowok yang waktu itu Lo sebut-sebut sepupu?" Tanya Nayla beruntun.


Dira menggelengkan kepalanya, "Eng... dia itu sepupu, iya, sepupu gue, Nay. Sepupu gue yang dari Bandung." Jawab Dira sedikit gugup dan sialnya Zaki menyadari hal itu. Auto Zaki tersenyum miring.


"Jadi yang tadi itu sepupu Lo, Dir? Tapi wajah sepupu Lo kok kek nggak asing gitu menurut gue!" Ucap Zaki yang sengaja menggoda Dira. Zaki tahu kalau Dira tengah bohong saat ini.


"Maksud Lo apaan, sih, Zak? Dia sepupu gue kok!" Sangkal Dira yang mencoba untuk tetap tenang menjawab pertanyaan dari Zaki.


"Gue tau, Dira. Gue liat Lo tadi, dan gue hafal betul siapa pemilik mobil itu." Ucap Zaki yakin dan malah membuat Dira tersedak.


"Uhuukk... uhuk..."


'O God...'


"Pelan-pelan, Dir. Lo nggak pa-pa?" Tanya Melody.


Zaki lalu menatap ke arah Nayla, Verrel, Bastian, Melody dan terakhir ke arah Dira. Sampai akhir ya satu pertanyaan lagi muncul dari mulutnya. "Lo ada something sama dia?"


"Wait...Siapa yang Lo maksud?"

__ADS_1


__ADS_2