
Axell berjalan keluar dari kantin dengan satu tangan yang menggandeng tangan Dira. Ia terus berjalan membawa sang istri menuju ke area parkiran sekolah. Sampai di parkiran ia menekan remote mobil dan membukakan pintu untuk sang istri.
"Kak, sebenarnya kita ini mau kemana?" Tanya Dira yang merasa bingung dengan Axell. Kenapa laki-laki itu tiba-tiba membawanya masuk ke dalam mobil. "... jam istirahat udah mau habis lho." Tegurnya.
"Kita pulang, Yang." Santai banget Axell menjawab. Ia bahkan langsung mengunci sabuk pengamannya.
"Hah... pulang?" Tanya Dira cengo. "... Kak, ini bahkan baru istirahat pertama. Masih ada waktu beberapa jam lagi untuk kita pulang. Kenapa kak Axell tiba-tiba ngajak aku pulang jam segini?" Tanya Dira tak terima dengan Axell yang mengajaknya pulang sekolah lebih awal dari biasanya.
Seakan tuli, Axell sengaja tak menjawab. Ia bahkan tetap menjalankan mobilnya. Lalu berhenti saat mobil itu tepat berada di depan pintu gerbang.
"Pak Dirman, tolong bukain pintu!" Ucapnya sopan pada salah satu security penjaga pintu gerbang.
Pak Dirman langsung sigap membukakan pintu gerbang untuk Axell. "Jam segini kok udah mau pulang, mas Axell?" Tanyanya pada putra semata wayang dari pemilik sekolah tempatnya bekerja itu.
"Saya lagi nggak enak badan, Pak ..." Jawabnya santai. Satu tangan Axell keluar dari jendela mobil dan mengulurkan dua lembar uang ratusan pada pak Dirman. "... dibagi sama pak Heru ya, pak. Makasih!" Ucapnya lalu kembali menjalankan mobilnya meninggalkan area sekolah Bhakti Bangsa.
Mata Dira kian melebar setelah menyadari mobil yang ia tumpangi semakin menjauh meninggalkan sekolah. "Kak! Kak Axell bener-bener mau ngajak aku pulang? Kak Axell beneran sakit atau gimana?" Tanya Dira meminta penjelasan.
Tak langsung menjawab, Axell mengurangi kecepatan laju mobilnya. "Kepala aku agak pusing, Yang. Aku mau istirahat aja habis ini." Jawab Axell tanpa menoleh sedikit pun.
Dira menghela nafas pelan. "Istirahat kan bisa di UKS dulu, kak ... nggak harus pulang sekarang juga ..." Dira kembali menghela nafas. "... aku bahkan masih ada beberapa mata pelajaran lagi habis ini." Gerutu Dira pelan.
Tanpa pikir panjang, Axell langsung menghentikan mobilnya. Ia menoleh ke arah Dira yang jelas-jelas sedang manyun. Detik berikutnya ia kembali menghela nafas lebih panjang. "Ya udah kita balik." Satu kalimat yang berhasil membuat Dira menoleh ke arah Axell tak percaya.
Apa yang terjadi? Tak biasanya seorang Axello berubah pikiran. Apa dia benar-benar sakit? Begitu pikir Dira.
"... padahal aku mau istirahat sambil di temenin kamu di rumah, Yang. Kalau istirahat di UKS, nggak mungkin kamu bisa nemenin aku disana." Ujar Axell pelan. Laki-laki itu lalu mengambil jalan untuk kembali ke sekolah.
'Fiks, ini kak Axell beneran sakit deh, kayaknya?'
"STOP!" Ucap Dira cepat dan langsung membuat Axell kembali menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa, Yang?" Tanya Axell bingung. Bukan kah Dira bilang enggan pulang tadi?
"Kita pulang!" Jawab Dira.
"What? Are you sure, baby? Wasn't that what you said -"
__ADS_1
"Kita pulang! Aku rasa, kak Axell memang butuh istirahat ..." Ucap Dira yakin. "... kalo gitu, kita ganti posisi. Biar aku yang nyetir."
"Nggak! Aku masih sanggup buat nyetir sampai apartemen walau sedikit pusing." Jawab Axell. Ia lalu merogoh ponsel dari saku celananya dan memberikan beda pintar itu pada Dira. "... Kamu telpon Bastian! Suruh dia ..."
...***...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi lebih dari lima belas menit yang lalu. Dan kini Verrel dan Nayla sedang berada di tempat yang biasa digunakan untuk siswa siswi menunggu jemputan mereka.
"Yakin nggak mau gue anter pulang, beb?" Tanya Verrel pada kekasihnya itu.
Laki-laki itu sedang menawarkan sang kekasih untuk mengantarkannya pulang. Tapi Nayla menolak karena papanya yang memang sudah berada di perjalanan untuk menjemputnya.
Gadis itu tersenyum, "Lain kali deh, Beb. Papa bilang udah di jalan soalnya." Jawab Nayla yang kini memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Ya udah, deh. Aku tunggu sampai bokap dateng." Jawab Verrel.
Dan benar saja, tak lama kemudian papa Nayla sampai di depan pintu gerbang dan Nayla segera menghampirinya. "Itu papa, duluan ya, beb." Ucap Nayla sambil melambaikan tangannya pada sang kekasih.
"Bye, beb. Salam buat bokap!" Ucapnya pada Nayla yang sudah hampir memasuki mobil papanya.
Mobil melaju perlahan dengan Nayla di dalamnya. Lalu menghilang dari pandangan Verrel setelahnya. Laki-laki itu lalu berjalan menuju parkiran dan melihat mobil Bastian mendekat.
Bunyi klakson mobil Bastian yang menyapa Verrel. Lalu berhenti setelah mobil itu berhenti tepat di sampingnya.
"Nggak balik Lo, Bro? Gue kira Lo udah balik dari tadi?" Tanya Bastian setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.
Verrel sedikit membungkuk untuk melihat wajah Bastian. "Gue nunggu Nayla di jemput sama bokapnya dulu tadi. Lo jadi ke tempat Axell?" Tanya Verrel balik.
"Ya jadilah. Nih tas tuh dua sejoli ... udah berasa kek kurir paket aja gue ... " Jawab Bastian sambil menunjukkan tas milik Axell dan juga Dira di jok samping kemudi. "... Dia yang minta gue anterin tasnya."
Verrel mengangguk, ia menatap Bastian seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa?" Tanya Bastian yang mengerti dengan arti tatapan Verrel.
Tak menjawab, Verrel menatap Bastian lama. Lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak pa-pa." Jawabnya.
Bastian mengrenyitkan dahinya bingung. Dalam penglihatannya, ia dapat dengan jelas melihat, kalau Verrel ingin mengatakan sesuatu padanya. Tapi, ahh ... sudahlah. Mungkin sahabatnya itu berubah pikiran.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu, gue balik duluan. Dadah Mamas Verrel ganteng ... dedek Babas duluan, ya!" Ucap Bastian sambil melambaikan tangannya kemayu.
"Anj**g! Jijik gue, Bas!" Protes Verrel pada Bastian yang langsung mendapat kekehan dari sahabatnya itu.
Tiinn!
Bunyi klakson dari mobil Bastian sebelum akhirnya pergi meninggalkan Verrel.
Sementara Verrel, laki-laki itu belum juga beranjak dari tempatnya berdiri. Ia masih menatap mobil Bastian yang kini mulai melewati gerbang sekolah lalu menghilang setelahnya.
"Gue hargai privasi Lo, Xell. Kita sahabatan udah lama. Sebelumnya Lo nggak pernah nutupin apapun dari gue. Kalo Lo belum mau cerita tentang status Lo yang ternyata udah nikah sama Dira, it's okay ... Gue ngerti, Mungkin emang ada alasan di balik Lo yang sembunyiin status Lo dari gue, sahabat Lo sendiri."
...***...
"Lo kenapa tiba-tiba tadi pergi gitu aja dari kantin, Xell? Lo sakit?" Tanya Bastian yang kini sudah sampai di apartemen Axell.
Laki-laki itu sudah duduk anteng di sofa ruang tamu sang pemilik unit setelah sampai beberapa menit yang lalu untuk mengantarkan tas milik Axell dan juga Dira.
Tak langsung menjawab, Axell menghela nafas panjang terlebih dahulu. "Nggak tau, Bas. Tiba-tiba gue muntah-muntah nggak jelas di toilet tadi. Padahal gue yakin nggak salah makan apapun." Jawab Axell yang kini menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Muntah?" Tanya Bastian dengan satu alis terangkat. "... Gue kira Lo beser gara-gara sakit perut." Jawab Bastian yang kini kaget dengan jawaban yang Axell berikan.
Mendengar Axell yang mengatakan kalau dirinya muntah-muntah, ini merupakan hal yang baru dari sahabatnya satu ini.
"Sakit perut? Impossible. Istri gue selalu ngasih gue makan makanan sehat. Jadi nggak mungkin kalo gue bisa sakit perut." Jawab Axell yang menampik apa yang Bastian ucapkan.
"Terus ... si Dira nurut aja gitu, Lo ajak balik?" Tanya Bastian sambil geleng-geleng kepala sendiri.
Axell sedikit mengangguk mengiyakan, "Dia istri penurut. Jadi nggak mungkin bantah suami." Balas Axell apa adanya.
"Jujur, gue iri sama Lo, Xell. Kalo aja hari itu Lo nggak bilang status Lo yang sebenarnya sama Dira, mungkin sekarang gue masih ngarepin gadis yang berstatuskan istri orang." Ucap Bastian jujur.
Axell menarik satu sudut bibirnya, "Itu sebab kenapa gue kasih tau Lo. Karena gue tau Lo kek apa orangnya?" Jawab Axell.
"Tapi Betewe, perasaan Dira nggak keluar-keluar dari tadi. Ngapain dia, tidur?" Tanya Bastian yang tiba-tiba kepo dengan Dira yang tak lagi keluar setelah membawakan minuman dan camilan ke ruang tamu tadi.
Axell tersenyum miring, "Lagi mandi dia." Jawabnya.
__ADS_1
"Mandi? Jam segini?" Tanya Bastian sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "... Jangan bilang sebelum gue dateng kalian ...