Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
37. Jahil.


__ADS_3

"Sorry, udah kelamaan ngurung Lo di sini, sampai Lo ketiduran." Ucap Axell dengan rasa bersalahnya yang membiarkan Dira terlalu lama menunggu sampai membuat gadis itu ketiduran di kamar.


Axell mengangkat kepala Dira pelan dan sangat hati-hati karena tak ingin membangunkan gadis itu. Diletakkannya kepala Dira pada lengannya. Setelah kepala Dira di letakkan dengan nyamannya, tangan Axell yang satunya kembali terulur untuk mengusap pelan rambut kecoklatan milik gadis itu. Begitu halus, lembut dan em... wangi menurut Axell. Wangi yang begitu menggoda dan sangat memabukkan untuk Axell. Entah mengapa Axell begitu menyukai wangi rambut Dira. Sampai akhirnya Axell pun tertidur dengan posisi memeluk gadisnya itu.


...***...


Saat Axel dan Dira masih terlelap dalam tidurnya, seorang pelayan yang tak lain adalah Linda kembali masuk ke ruangan Axell untuk membersihkan makanan yang ia antar untuk Dira sebelum Verrel datang tadi.


Sebelumnya tadi Axell meminta Linda Untuk mengantarkan makanan untuk Dira ke ruangannya. Tapi berhubung Verrel datang secara mendadak akhirnya Verrellah yang menghabiskan makanan Dira tersebut.


Sebelum Axell menyusul Dira ke kamar, laki-laki itu sempat meminta Linda untuk membereskan meja bekas Verrel makan tadi, lalu mengganti makanannya 1 jam kemudian.


Ceklek...


'Kok nggak ada siapa-siapa, perasaan Axell sama tuh cewek belum pulang? Ke mana mereka? Atau jangan-jangan... mereka?" (Mata Linda menatap ke arah pintu kamar Axell) Batin Linda menerka-nerka.


'Nggak mungkin!' Linda menggelengkan kepalanya mencoba menyangkal apa yang ia pikirkan sekarang ini. Linda lalu bergegas membersihkan meja dan keluar dari ruangan Axell tersebut.


...***...


Dii dalam kamar setelah tertidur hampir 2 jam, Axell mulai terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan dan mengumpulkan kesadarannya. Setelah matanya terbuka dengan sempurna, ia baru ingat, ia dan Dira masih berada di cafe sekarang.


Axell menatap wajah gadis yang masih terlelap dalam pelukannya itu. Seulas senyum muncul dari bibirnya. Dira, gadisnya itu masih tertidur dengan begitu lelapnya. Axell memperhatikan wajah damai milik Dira. Ternyata, dalam keadaan tidur sekalipun Dira tetap terlihat...


"Cantik." Satu kata yang lolos begitu saja dari mulut Axell.


Tangan Axell yang sedari tadi memeluk Gadis itu pun terangkat untuk menyelipkan anakan rambut Dira yang menutupi sebagian wajah gadis itu ke telinganya, agar Axell bisa menatap wajah Dira yang sedang tertidur itu dengan lebih jelas tanpa sesuatu yang menghalangi pandangannya.


Cukup lama Axel berada di posisi seperti ini. Bahkan rasa pegal yang menjalar pada lengannya pun tak ia rasakan. Sampai pada akhirnya dia menggeliat seperti akan bangun dari tidurnya.


Dan benar saja, gadis itu mulai terbangun dan membuka mata. Mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menghilangkan kabut putih di matanya. Dan setelah benar-benar membuka matanya, Dira memutuskan untuk bangun dan mencuci muka. Tapi di saat Dira akan bangun, gadis itu merasakan ada tangan kekar melingkar di pinggangnya. Dira lalu menoleh ke samping dan,


Deg...


Ternyata Axell tidur di sampingnya dan bahkan tengah memeluknya saat ini. Dira ingat betul, saat ia memasuki kamar, bukankah Axell tengah bekerja tadi?

__ADS_1


Sebenarnya bukan apa-apa, karena Dira sekarang juga sudah mulai terbiasa tidur di ranjang dengan Axell di sampingnya. Bahkan gadis itu tak lagi merasa canggung seperti di awal mereka menikah. Selama lebih dari dua Minggu mereka menikah, ini kali pertamanya Axell memeluknya.


'Sejak kapan kak Axell meluk gue?' Batin Dira bertanya.


Dengan pelan Dira berusaha memindahkan tangan Axell dari pinggangnya. Dira tak ingin sampai membangunkan laki-laki di sampingnya itu. Ia tahu Axell tengah lelah karena pekerjaannya tadi.


*Si Dira nggak tau aja, Axell kan sebenarnya udah bangun dari tadi 🤪😜🤭🤫


Tapi di saat tangan Axell sudah mulai terangkat dari pinggang Dira, tiba-tiba tangan Axell terjatuh dan kembali memeluk Dira kuat. Bahkan kini lebih erat dari sebelumnya.


"Eh... lah, kok!" Ucap Dira kaget saat Axell yang kembali memeluk pinggangnya. "Kok jadi berat gini, sih? Perasaan tadi nggak berat-berat banget, deh!" Gumam Dira pelan yang masih dengan jelas Axell dengar.


Dira berusaha kembali mengangkat tangan Axell lagi. Tapi anehnya, tangan Axell terasa sangat berat seakan enggan dipindahkan dari tempatnya.


"Duh... kak... Berat banget, sih, tangan Lo! Gue haus, mau minum." Rintih Dira pelan.


Akhirnya karena tak bisa memindahkan tangan Axell dari pinggangnya, mau tak mau Dira pasrah dan menunggu Axell bangun dari tidurnya.


Tak lama kemudian Axell yang akhirnya Tak tega melihat Dira yang tengah kehausan itu pun akhirnya mengubah posisinya, yang tadinya miring menghadap Dira, kini menjadi terlentang. Seakan membiarkan Gadis itu bangun terbebas dari pelukannya.


Tanpa Dira tahu, saat gadis itu masuk ke dalam kamar mandi, Sepasang mata yang tadi pura-pura terpejam kini terbuka dengan sempurna ditambah dengan satu sudut bibir yang terangkat dari laki-laki itu.


"Gue jahil juga ternyata." Ucap Axell sambil terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya.


...***...


"Lo udah kasih tau Dira?" Tanya cowok yang tak lain adalah Arfen itu.


"Udah, dong! Pagi tadi gue udah chat dia." Jawab Nayla sambil mengutak-atik ponselnya. Gadis itu tengah berbalas pesan dengan sang kekasih, Verrel Bramasta. Eh salah, ding! Yang benar Verrel Zufar Mahendra 🤭


"Do'i bales, nggak?" Tanya Arfen tak sabar. Arfen ingin tahu, apakah Dira membalas pesan dari Nayla atau tidak, mengingat beberapa kali Arfen mengirim pesan dan terabaikan oleh Dira.


"Enggak, sih. Tapi gue yakin si Dira pasti Dateng, kok -..." Ucap Nayla menggantung. Arfen menatap wajah Nayla seakan menunggu apa yang akan di katakan oleh sahabatnya itu.


"...Kalo dia baca chat gue, sih." Lanjut gadis itu.

__ADS_1


Mendengar apa yang baru saja Nayla katakan membuat Arfen menganggukkan kepalanya mengerti. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, "Nomornya Dira masih yang lama kan, Nay?" Tanya Arfen memastikan.


"Iya lah, orang gue tadi chat dia di nomor yang biasa." Jawab Nayla santai sambil menyeruput jus jeruknya.


"Gue ngerasa ada yang aneh sama Dira akhir-akhir ini." Ucap Arfen.


"Aneh gimana, sih, Ar? Perasaan Lo aja kali!" Jawab Nayla yang memang tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Arfen menggelengkan kepalanya, "Kemaren lusa gue telpon dia. Pas gue ajak ngomong dia nggak nyaut. Tapi nggak lama ada suara cowok ngomong salah sambung. Dan abis itu, setiap gue chat nggak pernah di bales." Jelas Arfen.


"Seriusan, Lo?" Tanya Nayla setengah tak percaya.


"Ye... Si Oneng, di kasih tau nggak percaya! Lo boleh liat room chat gue sama Dira." Ucap Arfen sambil menyerahkan ponselnya pada Nayla.


Tunggu, Nayla ingat sesuatu.


"Bentar, gue check dulu chat gue tadi pagi!" Ucap Nayla. Gadis itu lalu membuka room chat miliknya dengan Dira. Dan...


"Di read doang, Ar." Ucapnya.


Arfen mengernyitkan dahinya bingung. Ternyata bukan pesan darinya saja yang diabaikan oleh Dira, tapi dari Nayla juga. 'Kenaoa Dira nggak bales pesan dari Nayla juga? Terus cowok yang kemarin nerima telpon Dira... suaranya nggak asing menurut gue.' Batin Arfen.


"Dira nggak lagi sakit, kan?" Tanya Nayla.


"Gue nggak tau. Udah beberapa Minggu ini gue nggak ketemu sama dia..." Jawab Arfen. Memang terakhir kali Arfen bertemu dengan Dira waktu Dira belum menikah dengan Axell. Lebih tepatnya saat Axell memblokir nomor Arfen di ponsel Dira waktu itu. "...Gue takut Dira ngehindar dari gue lagi sama kayak waktu itu."


"Lo tenang, Ar! Pasti ada alasan kenapa Dira ngelakuin ini. Bentar, gue mau coba telepon Dira." Ucap Nayla yang kini mulai menelpon sahabatnya itu.


📞 Calling Dira...


Tuutt...


Tuutt...


Tuutt...

__ADS_1


"Halo."


__ADS_2