
Axell mengandeng tangan Dira menuju ke apartemen milik gadis itu. Tangan kekar Axell satunya dengan bebas menekan beberapa angka yang gadis itu gunakan sebagai password untuk membuka smartlock apartemen Dira.
Ceklek!
Pintu terbuka. Tanpa perlu membuang waktu lagi, Axell langsung saja membawa Dira masuk ke dalam kamar.
Brrukk!
Tubuh Dira seketika terhempas saat Axell yang dengan sengaja mendorongnya sedikit kasar ke tempat tidur.
"Puasin gue sekarang!" Ucap Axell dengan kilatan kemarahan di wajahnya. Bahkan laki-laki itu kini mulai sengaja melepas almamater sekolahnya dan langsung melemparkannya asal.
Dira yang sadar dengan posisinya yang mulai tidak aman jadi gelagapan sendiri. Gadis itu lalu bangun dan memundurkan tubuhnya perlahan.
Axell semakin mendekat. Ia melepas dasi yang masih terpasang di lehernya. Sama seperti almamaternya tadi, ia juga melemparnya asal.
"K-kak ... k-kak A-Axell mau ... mau ngapain?" Tanya Dira terbata. Gadis itu semakin gugup dan ketakutan.
Axell tersenyum menyeringai. Bukannya berhenti, melihat gadisnya yang semakin gugup, Ia justru kian gencar melancarkan aksinya untuk memberi gadisnya ini pelajaran.
"Lo tanya gue mau ngapain, kan?" Axell mendengus geli. "... gue mau ngingetin Lo tentang status kita yang sebenarnya. Karena sepertinya, Lo sempat lupa tadi." Jawab Axell dengan tangan yang yang sudah melepas kedua sepatunya secara bergantian.
Deg!
Dira semakin gugup. Gadis itu bahkan semakin tidak bisa menormalkan detak jantungnya. Apalagi ia menyadari bahwa tubuhnya yang sudah menempel pada sandaran ranjang. Sudah tidak bisa ia untuk mundur lagi.
Axell semakin mendekat. Bahkan ia sudah mulai melepas satu persatu kancing baju seragamnya.
Jika biasanya Dira akan terpesona dengan tubuh Axell, tapi lain halnya untuk saat ini. Ia merasa ketakutan, karena suaminya yang tengah marah saat ini.
"Kak ... please, jangan kayak gini!" Ucap Dira yang berusaha menghentikan Axell yang sudah melempar seragamnya ke lantai.
"Kenapa? Lo mau coba nolak suami Lo lagi?" Ucapan yang terkesan menyindir dari Axell.
Dira reflek menggelengkan kepalanya, bukan begitu maksudnya. "Nggak, kak ... kak Axell lagi emosi." Jawabnya.
Axell kembali tersenyum menyeringai. "Bukannya kalo lagi emosi jadi lebih enak ya? Lebih menggebu dan bersemangat. Lebih bergairah, dan pasti gue yakin bakal lebih berasa nikmatnya." Balsa Axell yang kini sudah berada tepat di depan Dira.
Axell kini mulai menciumi rambut Dira. Lalu merambat ke telinga gadis itu. Dan semakin turun ke leher.
"Hiks ... please, kak ... kita pasti akan melakukannya ..." Ucap Dira yang menggantungkan kalimatnya. Gadis itu mulai terisak. "... tapi nggak dalam keadaan kak Axell yang seperti ini."
Axell mengentikan aksinya saat mendengar gadisnya yang mulai menangis. Emosi yang tadi sempat memuncak seketika menghilang begitu saja. Ia rengkuh tubuh yang sekarang sedang terisak itu. Mengusap punggung gadis yang ketakutan karena ulahnya tadi.
__ADS_1
Sungguh Axell sebenarnya tidak benar-benar ingin melakukan hal ini pada gadisnya. Ia hanya ingin memberi gadisnya itu sedikit pelajaran.
"Sorry!" Ucapnya pelan.
Mendengar kata maaf yang keluar dari mulut Axell, bukannya membuat tangis dari gadis itu terhenti, tapi malah semakin pecah.
"... Harusnya Lo tau, gue sesayang itu sama Lo, Dir." Ujar Axell lalu mencium kening Dira lalu kembali memeluk gadis berstatuskan istrinya itu.
Dira mengangguk cepat, seakan mengatakan kalau dia memang merasakan kasih sayang yang Axell berikan padanya.
"Lo lupa, gue punya pengendalian emosi yang buruk? Gue nggak bisa ngeliat Lo deket sama cowok lain. Harusnya Lo bisa ngerti ... gue cemburu. Gue cemburu, Dira!" Axell menghela nafasnya yang memburu. Menahan emosi yang hampir meledak. "... Apa lagi cowo yang Lo temuin tadi itu bukan sekedar sahabat. Gue tau, ada rasa suka yang pernah Lo tanam untuk sahabat Lo itu. Dan itu yang udah bikin Lo susah buat nerima gue." Ucap Axell yang sukses mengentikan tangis dari Dira.
Gadis itu menggeleng, seakan menolak pernyataan yang baru saja Axell katakan. "Perasaan aku sama Arfen nggak lebih dari sekedar sahabat, kak.."
Axell melepas pelukannya lalu menatap dalam manik mata Dira. "Bukannya Lo suka sama Arfen?"
...***...
"Lo berdua aja? Dira dimana?" Tanya Nayla yang baru sampai di kantin dan tak mendapati Dira di antara Zaki dan Melody.
"Lah ... bukanya Dira nggak masuk, ya?" Tanya Zaki yang bingung sendiri. Ia memang tak melihat Dira sejak datang ke sekolah.
"Dira masuk kok." Jawab Nayla cepat setelah menelan makanannya.
Berbeda dengan Zaki dan juga Nayla, Melody ... gadis itu kini lebih banyak diam. Ia masih memikirkan tentang kejadian beberapa jam tadi. Sesuatu yang tidak sengaja ia dengar, tapi malah mengganggu konsentrasi belajarnya.
"Kalo Dira masuk, pasti dia ada disini ... bareng kita. Iya nggak, Mel?" Tanya Zaki sambil menoleh ke arah Melody. Lalu mengernyit setelah menyadari keanehan pada Melody. "Lo kenapa, sih, dari tadi banyak diemnya? Kesambet tau rasa Lo!"
"Ye ... sembarangan kalo ngomong!" Cibir Melody kesal.
"Ya habisnya, Lo diem aja dari tadi. Nggak kek biasanya." Tanya Zaki dengan satu alis terangkat.
"Gue lagi sakit gigi." Jawab Melody bohong.
"Bentar! Ini yang bener yang mana?" Verrel yang sedari tadi keasyikan makan ikut menyela.
"Apa sih, Beib!" Sahut Nayla yang mulai kesal.
"Sebenarnya tadi si Dira masuk apa nggak? Entar si Dira malah ilang lagi, terus -
"Terus tunjungan Lo pada, ngamuk lagi ... iya?" Potong Zaki cepat sambil menunjuk ke arah Bastian, Verrel dan juga Melody menggunakan garpu secara bergantian.
"Si Dira masuk, ya! Jelas-jelas pagi tadi gue lihat Dira sama Axell ..." Nayla berdecak. "... Ckk. Ahh, gue tau nih, siapa pelaku utamanya." Ucap Nayla yang sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"KENAPA?" Tanya Verrel dan Zaki kompak.
"Diihh ... kompakan!" Cibir Bastian yang sedari tadi diam. Laki-laki itu tidak ikut bersuara karena memang sudah bisa menebak apa yang terjadi. Jadi nggak mau ikutan pusing seperti teman-temannya.
'Gak heran, sih. Gue udah bisa nebak. Pasti si Dira lagi bareng lakinya.' Batin Bastian.
"Pasti si Dira ilang karena Axell ... sahabat Lo berdua." Tunjuk Nayla pada Verrel dan juga Bastian. "... orang jelas-jelas pagi tadi gue liat mereka berdua berangkat bareng. Terus ..." Ucap Nayla yang tiba-tiba terhenti dan langsung menimbulkan tanda tanya besar di benak mereka semua terkecuali Bastian.
"Iish ... kalo ngomong jangan setengah-setengahlah!" Protes Zaki yang kini jadi tidak sabaran.
"Iya, Beib. Sebenarnya ada apa, sih? Si Dira kenapa?" Tanya Verrel yang ikutan bingung.
"Omegot ... omegot ... omegot ... Jangan-jangan si Axell liat mereka berdua tadi?" Ucap Nayla menebak apa yang terjadi.
"Beib, ini sebenarnya ada apa?" Tanya Verrel lagi.
"Sebenarnya gini, gue bantuin Arfen ketemu sama Dira tadi. Bukan apa-apa, sih ... cuma sekedar ngobrol di kafe depan. Gue yakin Axell pasti mergokin mereka keluar dari tuh kafe. Jadi, pasti Axell di balik hilangnya Dira sekarang." Ucap Nayla yang menceritakan kejadian pagi tadi.
Mendengar cerita singkat dari Nayla, Bastian jadi terkikik sendiri.
'Gue yakin, pasti si Dira lagi di garap sama Axell.'
Sementara Verrel, ia menatap Bastian bingung, temannya itu terlihat tenang dan nggak ikutan panik sedari tadi. Terus tiba-tiba terkikik sendiri padahal jelas-jelas tidak ada hal yang lucu disini.
"Obat kewarasan Lo abis, Bas?" Tanya Verrel asal.
"Tau, nih! Masih sempat-sempatnya ketawa." Semprot Nayla kesal sendiri.
"Ya udah, sih, ya ... mereka kan udah pada dewasa. Kenapa jadi Lo semua yang ribet!" Jawab Bastian seenaknya.
"Lo beneran nggak waras Bas!" Cibir Nayla.
"Lo baru tau?!"
...***...
"Kak ..." Panggil Dira lirih.
"Sorry ...!" Ujar Axell pelan.
"Aku takut ka -
"Walau pun gue bisa, tapi gue nggak akan sejahat itu sama Lo, Dir." Ujar Axell yang lagi-lagi memotong ucapan Dira.
__ADS_1
Dira mengangguk pelan dalam pelukan Axell. "Maaf ... aku janji nggak akan temui Arfen lagi."
Axell tersenyum, lalu mendaratkan kecupan lama pada puncak kepala Dira. "Lo boleh temuin dia ... Asal harus izin dulu sama gue!"