Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
103. Axello Vs Renata.


__ADS_3

"Kenapa kak Axell lakuin itu tadi?" Tanya Dira lirih. Dira tak habis pikir dengan apa yang baru saja Axell lakukan tadi.


"Memangnya kenapa sih, Yang? Salah kalo ada salah satu temen Lo yang tau hubungan kita?" Tanya Axell pelan sambil menyelipkan helaian rambut Dira kebelakang telinga.


"Aku cuma belum siap kalo ada yang tau status kita yang sebenarnya." Jawab Dira lirih. Ada banyak hal yang membuat Dira takut kalau pernikahannya dengan Axell di ketahui banyak orang sebelum waktunya.


"Cuma Melody, kan? Aku jamin dia bisa jaga rahasia." Jawab Axell terdengar meyakinkan.


Ya. Perihal Melody yang bisa menutup mulut, Axell memang benar bisa menjamin hal itu. Tapi lain halnya dengan salah satu teman sekelas Dira yang lainnya. Mengingat salah satu teman sekelas Dira ada yang tinggal tak jauh dari rumahnya dan masih di komplek perumahan yang sama, di The royal palace. Axell tidak bisa menjamin hal itu. Tapi, menurut Axell teman sekelas istrinya itu bukanlah orang yang suka membuang energinya untuk menyebar gosip.


Meskipun begitu, Axell tak ingin ambil pusing. Kalau pun banyak orang yang mengetahui hubungannya dengan Dira yang sebenarnya, itu bukan masalah yang besar bukan? Lagi pula apa yang harus Axell takutkan disini, jika banyak orang yang mengetahui tentang pernikahannya dengan Dira, adik kelasnya?


Dikeluarkan dari sekolah?


Tentu saja nggak mungkin. Come on!! Itu sekolah milik siapa? Tidak ada alasan yang bisa membuat Axell takut.


"Kak Axell yakin?" Tanya Dira tentu dengan rasa yang sedikit mendominasi.


Axell mengangguk yakin, "Percaya sama gue!" Axell lalu meraih Dira agar masuk ke dalam pelukannya.


'Gue sengaja prepare, Yang. Gue pengen ada satu temen Lo yang tau status kita sebenarnya. Jadi misal suatu saat Lo benar-benar hamil, temen-temen Lo nggak akan mikir yang macem-macem tentang Lo.'


...***...


"Shitt!!" Umpat Axell kesal. Membuat Dira yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya refleks menoleh ke arah suaminya. Mengundang tanda tanya yang tiba-tiba muncul di benak Dira, tentang apa yang membuat laki-laki itu tiba-tiba kesal hanya karena menerima sebuah telepon.


"Yang..." Panggil Axell sambil berjalan mendekat kearah Dira.


"Ada apa, kak?" Tanya Dira dengan satu alis terangkat.


"Gue nggak bisa temenin Lo di rumah, gue harus ke sekolah." Jawab Axell.


Dira mengangguk mengerti, "Nggak pa-pa, kak. Kan masih ada bunda yang nemenin." Ujar Dira tenang.


"Masalahnya gue pengen nemenin Lo di rumah." Ucap Axell sesal.


"Kan nanti bisa ketemu lagi, kak." Jawab Dira.


Axell menghela nafas mengiyakan ucapan Dira. "Kasih gue semangat kalo gitu!" Ucap Axell meminta.


"Semangat?" Beo Dira bingung. Detik berikutnya ia mengangkat satu tangannya. "Semangat?" Seru Dira sambil tersenyum.


Axell menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu, Yang!" Ucap laki-laki itu lalu membungkukkan badannya. Dan...


Cup...


Axell mencium bibir Dira. ********** sekilas. Lalu melepasnya. "Begini cara ngasih semangat suami." Jelas Axell sambil mengusap bibir Dira yang sedikit basah menggunakan jempolnya.


Deg...


Deg...


Deg...


Jantung Dira kembali berdetak cepat. Sungguh Axell berhasil membuat jantung Dira seperti ingin melompat dari tempatnya akhir-akhir ini. Ini bukan sekali atau dua kali Axell menciumnya pagi ini. Tapi entah kenapa jantung Dira seperti ingin lari maraton saja.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Axell sudah siap dengan seragam sekolahnya. Laki-laki itu kembali mendekat pada istrinya. Tangannya terayun untuk mengusap lembut kepala Dira sambil mengecup singkat kening sang istri. "Gue pergi dulu, ya ... baik-baik di rumah!" Ucap Axell.


Dira mengangguk dengan senyum, "Iya, kak. Hati-hati di jalan."


Axell mengangguk, lalu berjalan keluar kamar dan hilang di balik pintu. Beberapa menit kemudian samar-samar Dira mendengar suara mesin motor yang menggema di garasi.


Gadis itu lalu berjalan menuju balkon. Dan benar saja, sebuah motor sport warna hitam keluar dari pintu gerbang rumah keluarga Marvellyo dengan seorang Axell di atasnya.


Dapat dengan jelas Dira lihat, motor itu melesat dengan cepat menjauh dari kompleks perumahan elit yang menjadi tempat tinggal mertuanya.


"Kak Axell pake motor?"


...***...


"Dira nggak masuk lagi?" Pertanyaan sedikit ngegas yang keluar dari mulut Nayla. Gadis itu baru saja datang di kantin dan langsung duduk bergabung dengan Melody dan juga Zaki yang lebih dulu datang sebelumnya.


"As you can see." Santai banget Zaki jawab. Laki-laki itu sedang menyesap jus jeruk kesukaannya. "Bisa gue tebak ... Junjungan Lo pasti juga nggak masuk." Tebak Zaki setelahnya.


Sementara Melody hanya diam. Ia tak ingin banyak bicara dan malah mengatakan hal yang tidak perlu ia katakan seharusnya.


Nayla menggelengkan kepalanya. "Masuk dia ..." Jawabnya malas. Lalu menoleh ke arah Melody. "... eh, Mel. Dira ada telpon Lo nggak pagi tadi?" Tanya Nayla pada Melody.


"Uumm ... pagi tadi -


"HALLO EPERIBADEH!" Pekik Bastian yang tiba-tiba muncul tanpa dosa bersama dengan Axell dan Verrel yang berjalan santai di belakangnya.


"Panjang umur." Celetuk Zaki saat pandangan matanya bertemu dengan Axell.


Jangan tanyakan Axell, Laki-laki itu tetap seperti biasa. Ia hanya akan menampilkan kesan cuek dan dingin khas setelan pabriknya. Dan itu pun tak luput dari perhatian Melody. Diam-diam gadis itu memperhatikan Axell sekarang.


"Tumben banget, ya, Lonya masuk tapi si Diranya nggak?" Ucap Zaki mencibir saat Axell sudah duduk di bangku kantin.


"Lah ... emangnya si bidadari - eh ... sorry, Xell ... maksud gue, si Dira ... dia nggak masuk?" Ucap Bastian yang hampir saja salah menyebut Dira dengan sebutan bidadari seperti biasanya.


"Tumben. Biasanya kan Lo berdua kompak?"


Bukannya menjawab, Axell malah mendengus kesal. Lalu merogoh ponsel dari dalam saku celananya. Santai banget jemarinya membuka salah satu aplikasi warna hijau.


'Kira-kira dia lagi ngapain, ya?'


Axell lalu mengetikan sebuah pesan yang akan ia kirimkan pada Dira.


^^^📤 Axarkan.^^^


^^^Yang,^^^


^^^Lagi ngapain?^^^


Send ✅


Lima menit berlalu, tapi Axell tak kunjung mendapat pesan balasan dari Dira. Laki-laki itu lalu bangkit. Urusannya dengan kepala sekolah yang memintanya datang dan meninggalkan Dira di rumah tadi sudah selesai. Sekarang ia ingin segera pulang untuk menemui istrinya.


"Lah ... mau kemana, Xell?" Tanya Bastian kepo saat melihat sahabatnya itu pergi tanpa memesan apapun.


"Cabut." Jawab Axell singkat. Bahkan tanpa menoleh sedikit pun.

__ADS_1


"Lanjut deh, Xell. Gue dukung Lo!" Ujar Bastian sedikit berteriak. Laki-laki itu tahu apa yang sedang terjadi. Ia masih memikirkan hal yang kemarin. Dimana Dira yang tiba-tiba dibawa pergi oleh Axell karena sahabatnya itu memergoki istrinya yang sedang menemui seorang cowok yang notabene sahabat dari Dira itu sendiri.


'Si Dira pasti beneran di garap sama si Axell.'


"Ngomong apaan sih, bas?" Tanya Nayla yang penasaran dengan maksud dari kata-kata Bastian tadi. Apanya yang di lanjut?


"Hey, Bas ... Ada hal yang gue nggak tau?" Sahut Verrel ikut bersuara.


Bastian tak langsung menjawab. Ia menatap Verrel dan Nayla secara bergantian.


"Rahasia perusahaan, Brodie." Lalu seulas senyum muncul di bibirnya. Senyuman yang Verrel dan Nayla tidak bisa mengartikannya. Tapi Verrel sebagai sahabat dari Bastian tahu, sesuatu telah terjadi pada Axell.


...***...


Saat Axell berjalan menuju parkiran sekolah, tiba-tiba ada seseorang yang dengan sengaja mencekal tangannya. Langkah kaki Axell seketika terhenti karenanya. Laki-laki itu menoleh lalu mendapati seorang Renata yang sedang berdiri di sampingnya.


"Lepas!" Suara datar yang keluar dari mulut Axell.


"Xell, gue mau ngomong bentar sama Lo." Balas Renata masih dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Axell.


"Gue bilang, lepasin tangan gue!" Ucap Axell tak mau di bantah.


"Xell, please ... come on ... kita perlu bicara." Ucap Renata memohon.


Axell menghempaskan tangan Renata yang masih bertengger di pergelangan tangannya dengan kuat. Dan dengan sekali hentak, cekalan tangan Renata itu pun berhasil terlepas dari tangannya.


Laki-laki itu menarik satu sudut bibirnya mengingat kalimat terakhir yang ia dengar dari gadis di depannya ini.


"Kita?" Axell mendengus geli. "... Gue nggak salah dengar kan tadi? Lo bilang kita?" Tanya Axell meyakinkan apa yang baru ia dengar tadi.


Renata tersenyum. Ia mengangguk membenarkan apa yang Axell dengar memang tidak salah.


"Jangan pernah pake kata 'KITA' antara Lo dan gue! Karena kata itu udah nggak seharusnya ada." Jawab Axell datar. Mendengar kata kita yang keluar dari mulutnya barusan, entah mengapa Axell jadi geli sendiri.


"Xell, gue perlu ngomong sama Lo." Ucap Renata terlihat memelas.


"Re, cukup! Nggak ada yang perlu diomongin lagi. Antara Lo sama gue ... semuanya sudah lama berakhir. Dan gue minta, stop ganggu hidup gue lagi!" Ujar Axell penuh penegasan. Dan tanpa membuang waktu lagi, Axell kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tanpa berniat menunggu apa yang akan Renata katakan.


"Xell! Xello...!" Panggil Renata setengah berteriak, berharap Axell akan mendengarkannya dan berhenti agar mau menuruti keinginannya untuk bicara berdua. Tapi bukannya berhenti, Axell malah semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Renata.


Bukan Renata namanya kalau mudah sekali menyerah. Gadis itu bahkan berjalan mendekat ke arah Axell.


"Xello, stop!" Teriak gadis itu.


Dan berhasil. Axell memang berhenti, tapi enggan berbalik untuk menoleh ke arah Renata sedikit pun.


"Lo berubah, Xell. Sikap Lo berubah ke gue. Padahal sebelumnya Lo nggak pernah kayak gini. Dan gue tau, ini pasti gara-gara cewek murahan itu kan? Pasti jal**ng itu yang udah ngerubah Lo, iya kan?" Ucap Renata menghardik mantan kekasihnya itu.


Axell mengepalkan kedua tangannya. Mendengar kata tak pantas yang di tujukan pada perempuan yang berstatuskan istrinya tadi seketika emosinya meluap. Darahnya seakan mendidih. Rasanya seperti ia akan meledak saat itu juga.


Dira, istrinya itu terlampau polos. Bahkan Axell yakin betul, ialah laki-laki pertama yang menyentuhnya. Dan hal itu baru saya terjadi semalam. Bahkan Axell masih bisa mengingat dengan jelas, dimana Dira yang begitu kaku saat ia yang pertama kali mencium Dira. Dan sekarang ada orang yang bahkan dengan seenaknya menyebut istrinya itu jal**ng. Ini benar-benar kelewatan.


"Lo bilang apa barusan?" Tanya Axell tak terima. Ia mulai geram dengan sikap Renata sekarang.


"Cewe Lo, Jal**ng ..." Maki Renata tanpa rasa berdosa sedikitpun. "... Dia itu nggak pantas buat Lo, Xell!" Lanjutnya lagi.

__ADS_1


Axell mendengus kesal, "Oh ... iya? Terus, cewe yang seperti apa yang pantes buat gue, Re? Yang kayak Lo?


__ADS_2