
Ditengah malam yang semakin sunyi, terlihat sepasang suami istri muda yang terlelap dalam tidurnya, siapa lagi kalau bukan Dira dan juga Axell.
Axell tidur dalam keadaan telentang dan tanpa menggunakan baju. Hanya mengenakan celana pendek rumahan. Sementara Dira tidur dengan tubuh yang terbungkus dengan selimut sebatas leher.
Tepat pukul 01.00 Dira terbangun dari tidurnya. Ia mulai mengerjapkan matanya perlahan untuk mengumpulkan kesadarannya. Saat mata Dira benar-benar sudah terbuka dengan sempurna, ia terkejut mendapati dirinya yang tidur di atas ranjang dengan Axell yang sudah bertelanjang dada, sementara dirinya mengenakan selimut sebatas leher.
'Semalem bukannya gue nemenin kak Axell tidur di sofa, ya?' Batin Dira bertanya. Seingat gadis itu, semalam mereka hanya duduk bersandar di sofa dengan tangan saling bertautan. Lalu Axell tidur terlebih dahulu. Dan sekarang...
"Wait, kak Axell kok nggak pakai baju? Terus... gue malah pake selimut gini? Apa jangan-jangan... ?" Dira tak berani melanjutkan kata-katanya. Gadis itu lalu menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pikiran aneh yang mulai menguasai kepalanya saat ini. Dengan gerakan perlahan, Dira memberanikan diri untuk membuka selimut tebal yang menutupi hampir seluruh tubuhnya itu. Dan ternyata...
"Huuuhh... syukurlah... tidak terjadi apa-apa." Gadis itu bisa bernafas dengan sangat lega. Ia masih menggunakan pakaian dengan sangat lengkap seperti saat baru memasuki kamar tadi. Tangan Dira nampak bergerak naik turun tepat di bagian dadanya. Menenangkan irama detak jantungnya yang sempat tak karuan tadi.
"Lo kenapa?" Tanya Axell tiba-tiba. Laki-laki yang sedang tidak bisa tidur dengan nyenyak itu, sukses membuat Dira terkejut merasakan pergerakan dari sampingnya. Dan saat ia membuka matanya, ia sudah mendapati Dira dalam posisi duduk.
Dira menatap Axell lama lalu menggelengkan kepalanya.
Axell menarik satu alisnya, "Ada apa? Lo abis mimpi buruk atau asma Lo kambuh?" Serentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Axell dan kembali di jawab Dira dengan gelengan kepalanya.
"Nggak, kak. Gue nggak pa-pa kok. Kok gue bisa tidur disini?" Ucap Dira.
"Gue yang mindahin tadi. Takut badan Lo sakit kalo Lo tidur semalaman dengan posisi kayak tadi." Jawab Axell.
"O... Terus kenapa kak Axell tidur nggak pake baju?" Tanya Dira gugup.
Axell menarik satu sudut bibirnya mendengar pertanyaan dari Dira. Jelas terdengar, gadis itu sedang gugup, "Memangnya kenapa? Lo terpesona ya sama badan gue?" Ucap Axell yang sengaja menggoda Dira.
'Anjiirr...'
"Dih, kepedean!" Cibir Dira sambil mengalihkan pandangannya. Axell tertawa pelan mendengar Dira yang mencibir dirinya.
"Gue kepanasan, Dir. Gerah badan gue. Udaranya panas." Ucap Axell.
Mendengar apa yang di katakan oleh Axell membuat Dira reflek menoleh ke arah AC yang terpasang di atas tempat tidur. Gadis itu baru menyadari kalau AC nya mati.
'AC nya mati.'
"AC nya rusak, ya, kak?" Tanyanya.
"Nggak." Jawab Axell singkat.
Dira mendengus pelan. "Kalo nggak rusak, kenapa nggak di nyalain aja AC nya kalo kepanasan?" Tanya Dira tak habis pikir dengan cowok di sampingnya ini. Kalau kepanasan kan tinggal menyalakan AC nya saja, kenapa malah nggak pake baju?
"Tadi ujan deras, Dira. Udaranya dingin banget, jadi AC nya sengaja gue matiin, karena gue nggak mau Lo kedinginan. Gue pernah baca, udara dingin bisa memicu asma Lo kambuh." Ucap Axell menjelaskan.
Hening. Dira sedang mencerna apa yang baru Axell katakan barusan. Secara tidak langsung, ini menunjukkan kali Axell menghawatirkan keadaannya, bukan?
__ADS_1
Axell yang melihat Dira yang hanya diam kini semakin mendekat pada gadis itu.
Fyuuh...
Axell meniup wajah Dira. Sementara Dira, ia lagi-lagi merasakan detak jantung yang tak biasa saat Axell mendekat ke arahnya. Laki-laki itu kembali berhasil membuat detak jantungnya menjadi lebih cepat.
Deg...
Deg...
Deg...
'Jantung gue... udah mulai nggak normal kayaknya.'
"Jangan kebanyakan bengong!" Ucap Axell sambil mengacak pelan rambut gadis itu. Lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Melihat Axell yang masuk ke kamar mandi, cepat-cepat Dira turun dari ranjang dan mengambil air minum yang ada di lemari pendingin di sudut kamar. Ia harus cepat menormalkan detak jantungnya.
"Nggak sekali dua kali, Jantung gue kok gini ya kalo deketan sama kak Axell?" Gumam Dira lirih. Setelah merasa cukup tenang, Dira mengambil remote kontrol AC dan menyalakannya, mengatur suhu yang pas menurutnya.
Ceklek...
"Lo masih belum tidur?" Tanya Axell yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Laki-laki itu baru saja selesai mandi untuk menghilangkan rasa gerahnya tadi.
Axell yang masih menggosok rambutnya dengan handuk kecil pun tersenyum menyeringai. Melihat Dira yang sibuk memainkan ponselnya. Sebuah ide jahil tiba-tiba muncul begitu saja di otaknya.
"Dir, kalo Lo belum ngantuk, gimana kalo kita..." Ucap Axell yang sengaja menggantungkan kalimatnya.
Dira beralih menatap Axell, "Kenapa, kak?" Tanya gadis itu setelah meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
"Gimana kalo kita nurutin keinginan ayah... yang tadi... di meja makan?" Ucap Axell yang kini berjalan mendekat ke arah ranjang.
'What?'
Tiba-tiba Dira menjadi gugup. Ditambah dengan Axell yang tak mengenakan bajunya setelah mandi tadi. Dengan gerakan cepat, Dira langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Melihat reaksi dari Dira, bukannya marah, Axell malah terkekeh pelan. Ia menertawakan sikap Dira yang terkesan gugup. Terlihat menggemaskan menurut Axell.
"Tidur, Dira! Gue nggak akan apa-apain Lo... kalo nggak khilaf." Ujar Axell yang sudah memposisikan dirinya di samping Dira.
Lagi, bukannya tertidur, kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Axell tadi malah berhasil membuat Dira terjaga. Ia takut kalau Axell sampai benar-benar menyergapnya di saat ia benar-benar terlelap nanti.
Axell tidak bodoh. Ia tahu gadis di sampingnya ini belum tidur. "Gue cuma bercanda, Dir. Lo tidur sekarang atau kalo nggak gue akan benar-benar lakuin itu sekarang?" Ucap Axell dengan nada ancaman pada Dira. Dan benar saja, setelah mendengar kalimat bernada ancaman dari Axell kali ini, Dira memutuskan untuk benar-benar tidur. Disusul Axell yang kini mulai memejamkan matanya.
'Selamat tidur, Dir.'
__ADS_1
...***...
Pagi harinya tepatnya pukul 06.20, Dira yang baru bangun dari tidur itu pun mulai mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Dan saat ia menoleh ke samping, ia sudah tak mendapati adanya Axell di sampingnya.
'Kak Axell kemana? Apa dia udah bangun?'
Tiba-tiba mata Dira melebar menyadari ia yang agak terlambat bangun pagi ini. Gadis itu lalu bangun dan bergegas merapikan tempat tidur. Saat Dira selesai merapikan tepat tidur, Dira mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang dari arah walk-in closet. Pandangan Dira menoleh ke arah sumber suara dan terlihat Axell yang sudah rapi dengan setelan jasnya.
Laki-laki yang belum genap satu bulan menikahinya itu terlihat begitu berbeda. Kadar ketampanannya bertambah berkali lipat dan terlihat begitu berwibawa dengan setelan jas yang ia kenakan saat ini.
Memang pada dasarnya Axell memiliki paras tampan yang ia warisi dari perpaduan ayah Marvellyo dan juga bunda Resty.
*Ketos kita nih, bos... Senggol, dong!
Untuk sesaat Dira begitu terpesona dengan tampilan Axell saat ini. Ia begitu terpukau dengan pemandangan di depannya itu.
"Lo udah bangun?" Tanya Axell tanpa mengalihkan pandangannya dari pergelangan tangannya. Laki-laki itu sedang mengenakan sebuah arloji mewah di tangan kirinya.
"U-udah, kak." Jawab Dira terbata.
"OK. Gue tungguin di bawah untuk sarapan. Nanti gue anterin Lo dulu ke sekolah sebelum gue ke kantor ayah." Ujar Axell sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya.
Tak ingin membuat Axell terlalu lama menunggu, Dira bergegas untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah.
...***...
"Udah siap?"
.
.
.
*Gimana nih, guys? Udah sampai sini. Kira-kira apa yang mau kalian sampaikan sama Axell?
*Sama Dira?
*Sama author, mungkin?
*Kasih tanggapan kalian mengenai cerita Dira dan Axell!
*Jangan lupa like and vote cerita aku, ya.😘
__ADS_1