
Seorang gadis berseragam SMA tengah memasukkan beberapa pack susu kotak kedalam troli belanjaan bersama dengan seorang cowok yang senantiasa berdiri disampingnya.
"Ada lagi yang mau di beli, Yang, mumpung masih disini?" Tanya cowok yang tak lain bernama Axello itu.
Kini keduanya tengah berada di sebuah mini market yang terletak tak jauh dari rumah. Saat perjalanan pulang dari d'Axe Cafe, Dira meminta Axell untuk menghentikan mobilnya saat melewati mini market bertuliskan indo-april tersebut untuk membeli susu kotak dan beberapa camilan kesukaannya.
Dira nampak menepuk-nepuk dagunya dengan jari telunjuk seolah berpikir apa lagi yang harus ia beli. "Apa lagi ya, kak. Eum ... Snack kentang, deh." Jawab Dira sambil meraih beberapa bungkus Snack kentang dan memasukkan ke dalam troli.
"Yang lain aja, Yang! Nggak boleh kalo Snack, itu nggak sehat." Cegah Axell cepat, sambil mengembalikan beberapa bungkus Snack kentang yang baru saja Dira masukkan ke dalam troli yang sedang ia dorong.
Dira mengerucutkan bibirnya saat melihat Snack kentang kesukaannya di kembalikan lagi ke dalam rak. "Dikit doang, kak ... boleh, ya?" Ucap Dira memelas.
"Nggak ada, nggak boleh. Pokoknya aku nggak akan kasih. Dan itu udah nggak bisa di tawar lagi, Yang!" Ucap Axell tegas tak mau dibantah.
Dira menghela nafas pasrah. Bagaimana pun juga ia tak ingin membantah sang suami. Dira lalu berjalan meninggalkan Axell dengan rasa kesal yang tiba-tiba muncul dihatinya.
Axel tidak bodoh. Ia tahu, istrinya itu tengah kesal sekarang. Tapi Axell juga bingung di sini, Kenapa istrinya itu akhir-akhir ini mudah sekali bad mood.
'Lagi dapet mungkin?'
"Yang... tunggu dong, Yang!" Panggil Axell dan membuat Dira seketika terhenti.
Axell mengelus puncak kepala Dira dan meminta pengertian dari istrinya itu. "Marah? Ngambek? Kesel? Aku kayak gini juga demi kesehatan kamu, Yang! Yang lain aja, ya! Kamu boleh ambil sebanyak apapun yang kamu mau! Tapi jangan yang nggak aku bolehin."
Dan berhasil.
Penawaran yang Axell berikan berhasil membuat sang istri luluh seketika. Ia lalu mengangguk dan tersenyum senang.
Entahlah, Axell merasa selain aneh, istrinya itu juga mudah sekali berubah. Mudah marah, dan ngambek karena hal-hal kecil.
"Ambil yang lain aja, ya!" Kata Axell sambil kembali mengusap pelan rambut Dira.
Dira mengangguk dengan senyum. Lalu matanya melirik sesuatu yang berada tepat di samping Axell. "Eh... cookies." Ucap Dira semangat saat melihat deretan kemasan cookies dengan toping choco chips di atasnya dan tertata sangat rapi di rak. "Kalau ini boleh kan, Kak?" Tanyanya pada sang suami.
"Iya boleh." Jawab Axell sambil tersenyum.
Lagi.
Tanpa Axell duga. Dira lalu mendekat ke arahnya dan kembali menciumnya seperti saat di UKS tadi. Tapi kali ini hanya di pipi karena mungkin sekarang ini ditempat umum.
"Suamiku ini emang baik." Ucap Dira setelah mencium salah satu pipi Axell.
Laki-laki itu terkejut tapi tak menampik, Ia juga senang di sini. Satu hal yang Axell sadari sekarang, istrinya itu jadi sedikit ... agresif.
"Udah, Kak. Aku rasa ini cukup. Sekarang ayo kita pulang! Aku udah ngantuk pengen bobo." Ucap Dira setelah merasa apa yang ia beli sudah cukup.
"Ya udah. Kita ke kasir dulu buat bayarnya." Jawab Axell sambil mendorong troli yang hampir penuh dengan susu kotak dan cookies tersebut.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang merasakan sakit karena sedari tadi menyaksikan interaksi di antara keduanya. Dan juga mendengar satu kata yang terucap dari mulut Dira, gadis yang selama ini sangat Ia suka dengan begitu jelas di pendengarannya.
"Suami? Jadi bener yang waktu itu ..."
__ADS_1
...***...
Dira terbangun dari tidurnya karena tiba-tiba merasakan gejolak luar biasa dari perutnya. Dira lalu beringsut turun Dari ranjang dan langsung menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Huweekk... Huweekk!"
"Kamu kenapa, Yang? Sakit?" Tanya Axell yang tiba-tiba muncul. Laki-laki itu begitu terkejut saat bangun tidur dan langsung mendengar suara sang istri yang muntah-muntah di dalam kamar mandi.
Tidak menjawab. Dira hanya menggelengkan kepalanya sambil terus kembali memuntahkan isi perutnya yang ternyata hanya cairan bening. Axell lalu meraih rambut Dira, dan memijat tengkuk leher sang istri.
"Udah, Yang?" Tanya Axell saat melihat Dira yang kini membasuh muka dan membersihkan sisa muntahan mulutnya.
Tak Ada jawaban yang keluar dari Dira, Ia hanya mengangguk lemas.
"Ya udah. Kamu istirahat dulu, ya! Aku mau minta bi Inah bikinin air jahe anget dulu buat kamu." Ujar Axell saat sudah mendudukkan istrinya di tepi ranjang lalu keluar menuju ke dapur.
...***...
Seorang cowok baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, sembari melantunkan lagu bertajuk Beggin dari Maneskin.
🎶So, any time I bleed, you let me go
Yeah, any time I feed you, get me? No?
Any time I seek, you let me know
But I plan and see, just let me go
'Cause I don't want to lose you...
Hey yeah, ratatata...
'Cause I'm beggin', beggin' you...
And put your loving hand out, baby...
I'm beggin', beggin' you...
And put your loving hand out, darling...
Drrtt... drrtt...
Tiba-tiba ia menghentikan nyanyiannya karena mendengar ponselnya yang berbunyi. Ia raih benda pipi tersebut untuk menerima panggilan yang ternyata dari sang kekasih.
📞 Nay Sweety is Calling...
"Baru juga gue mau jemput abis ini." Ucapnya sebelum menerima panggilan telepon tersebut.
"Halo, beb."
"(....)."
__ADS_1
"lho ... kok nggak usah?"
"(....)."
"Oh gitu. Ya udah, nggak pa-pa?"
"(....)."
"Okay."
Tuutt!
"Padahal gue mau ajak barengan. Eh, malah udah berangkat duluan." Ujar cowok itu setelah selesai menggunakan seragam sekolahnya.
Cowok yang tak lain adalah Verrel itu lalu menata rambutnya dengan menggunakan sedikit pomade. Saat tatanan rambutnya sudah pas dengan keinginannya, kini ia beralih mengambil botol parfum miliknya guna menyempurnakan penampilannya. Ia semprotkan parfum tersebut ke beberapa titik di bagian leher.
Finish.
Penampilannya kini semakin sempurna.
*Dapat salam nih dari Verrel 👋🏻
Iya lalu meraih tas sekolah yang terletak di sofa. Lalu bersiap berangkat ke sekolah seperti biasa.
Tapi tunggu.
Tiba-tiba saja Verrel menghentikan langkahnya untuk keluar dari kamar. Ia teringat akan sesuatu. Detik berikutnya seulas senyum smirk muncul begitu saja di wajahnya.
"Ok, gue bakal cari tahu lebih tentang apa yang gue dengar kemarin."
...***...
"Kamu yakin, Yang, mau sekolah? Beneran udah nggak pa-pa?" Tanya Axell yang masih merasa khawatir dengan sang istri.
Dira yang sudah selesai menggunakan seragam sekolah, lengkap beserta almamaternya itu mengangguk. "Yakin dong, Kak." Jawabnya begitu santai.
Axell menatap Dira penuh arti. "Pulang sekolah nanti ikut aku ketemu sama Om David ya, Yang!" Ajak Axell pada Dira.
"Om David?" Ulang Dira dengan dahi yang berkerut. "... untuk apa, Kak? Aku kan udah nggak pa-pa." Tolak Dira halus agar Axell percaya kalau memang dirinya benar-benar tidak apa-apa.
"Tapi akhir-akhir ini kamu sering banget muntah, Yang. Disekolah, dirumah." Jawab Axell masih dengan nada khawatir.
'Dan juga ... kamu suka aneh akhir-akhir ini.' Ucap Axell dalam hati, karena takut nanti istrinya itu akan tersinggung.
"Emang aku kelihatan kayak orang sakit ya, Kak?" Tanya Dira. Ia lalu menatap pantulan dirinya dicermin. Belum sempat Axell menjawab pertanyaan yang Dira berikan. Gadis itu kembali berkata, "Tapi nggak kok, Kak. Aku bahkan nggak pucat sama sekali."
"Huuuhh..." Pada akhirnya Axell hanya bisa menghela nafas frustasi. Istrinya itu tetap tidak mau untuk memeriksakan kesehatannya ke dokter.
"Iya kamu cantik kok, Yang."
__ADS_1
'Cantik-cantik, Batu!'