Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
183. Sebuah foto 3.


__ADS_3

Dira berjalan perlahan memasuki rumah sang mertua begitu ia sampai di halaman rumah besar nan megah tersebut. Sesuai dengan apa yang Axell katakan, ia pulang dengan Pandu sebagai pengantarnya.


Saat sampai di ruang tengah, Dira langsung di sambut oleh sang mertua - bunda Resty.


"Sayang... kamu sudah pulang?" Tanpa bunda Resty saat melihat Dira yang berjalan dengan kedua tangan yang memegangi tali tasnya.


Dira yang hampir menaiki anak tangga itu menoleh pada bunda Resty, "Eh... Bunda." Dira tersenyum dan berjalan mendekat untuk mencium tangan mertuanya itu. "... maaf, Bun. Dira nggak liat ada bunda tadi."


Bunda Resty tersenyum, "Iya, nggak pa-pa. Axell mana, sayang?" Tanya bunda Resty karena tak melihat adanya Axell bersama Dira.


"Tadi kak Axell bilang mau ke kantor ayah, Bun." Jawab Dira mengatakan apa yang Axell bilang waktu mereka di kantin tadi.


Bunda Resty menarik pelan tangan Dira agar menantunya itu duduk di sampingnya, "Terus, tadi Dira pulang sama siapa?" Tanya bunda Resty lagi.


Dira tersenyum, "Tadi Dira di antar sama kak Pandu, Bun." Jawab Dira.


Bunda Resty mengangguk, ia menghela nafas lega. "Kamu sudah makan, sayang?" Tanyanya lagi dan langsung mendapat anggukan kepala dari Dira.


Bunda Resty kembali tersenyum, "Perutnya masih sakit, sayang?" Tanyanya khawatir.


Bunda Resty ingat, pagi tadi Axell menelponnya untuk menanyakan nama dari obat pereda nyeri milik Dira.


Dira menggeleng, "Udah enggak kok, Bun." Jawab Dira mengatakan apa yang ia rasa.


Lagi-lagi Bunda Resty kembali tersenyum lega. "Ya sudah. Sekarang kamu ke kamar, bersih-bersih terus Istirahat, ya!"


Dira kembali mengangguk, "Iya, Bun. Kalo gitu Dira ke kamar dulu ya, Bun." Pamitnya pada bunda Resty lalu langsung beranjak dari duduknya. Santai ia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Tapi tunggu! Sampai di pertengahan tangga, Dira melambatkan langkahnya. Ia tiba-tiba teringat akan sesuatu.


Dira lalu menoleh ke belakang dan mendapati bunda Resty yang kembali melanjutkan aktivitasnya - menyusun bunga mawar putih - bunga kesukaan bunda Resty di vas. Tak lama lalu pandangan Dira beralih ke arah pintu utama yang kembali di tutup rapat. Dira sedikit bergeser pandangannya ke arah dapur yang masih terlihat dari tempatnya berdiri sekarang. Detik kemudian Dira berlari melanjutkan langkahnya yang terhenti.


Ceklek.


Dira memasuki kamarnya bersama Axell. Meletakkan tasnya di sofa dan duduk di sampingnya. Tangan putih Dira merogoh ponsel dari dalam tas sekolahnya. Ia akan menelpon Axell untuk memastikan dimana suaminya itu sekarang? Maksudnya ... Axell masih di kantor atau sudah dalam perjalanan pulang?


Dira tersenyum melihat nama yang tertera di ponselnya. Sejak hari dimana ia memanggil Axell Hubby, nama laki-laki itu pun juga berubah di ponsel Dira dari sebelumnya hanya tertera nama Axell tanpa embel-embel 'kak". Ya, itu Axell sendiri yang mengetikkan namanya karena itu ponsel pemberiannya.


Ponsel Dira yang asli masih Axell bawa sampai saat ini.


📞 Calling Hubby😘...


"Hallo, Yang... Kamu sudah pulang?" Tanya Axell dari seberang sana.

__ADS_1


Dira nampak menggigit bibir bawahnya dan mengangguk seolah Axell bisa melihatnya. "Sudah. Baru aja sampai rumah ..." Jawab Dira. "... Kak Axell masih lama di kantor?" Tanyanya balik.


"Kenapa? Kangen?" Bukannya menjawab, Axell malah melontarkan pertanyaan dengan nada menggoda. Dira mengulum bibir mendengar itu.


"Iihhh, kak Axell... aku kan lagi tanya!" Jawab Dira terdengar manja. Dira tersenyum saat mendengar Axell yang terkikik di sana.


"Ini aku udah pulang kok, Yang." Ucap Axell terdengar begitu santai. Mata Dira membulat.


'Udah pulang?'


"Kak Axell udah sampai rumah?" Tanyanya cepat.


"Belum, ini masih di jalan. Kamu mau sesuatu?" Tawar Axell.


Dira tak langsung menjawab. Bukan itu maksudnya menghubungi Axell. Ia hanya ingin memastikan dimana letak titik Axell sekarang ini. "Kak Axell nggak capek emang?" Tanya Dira yang kini menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dira tidak mau egois disini. Ia tidak ingin membuat Axell kecapekan untuk menuruti keinginannya. Tapi, kalau ia tidak melakukan ini ... dia tidak akan mendapat jawaban apapun.


"Enggak akan ada kata capek kalo buat kamu, Sayang ..." Jawab Axell terdengar begitu lembut di telinga Dira. "... kamu mau apa, nanti aku belikan?" Tanya Axell menawarkan.


"Iya? Bener?" Tanya Dira semangat.


"Anything for you, my dear."


Dira kembali mengulum bibir. "Aku mau jajanan yang pernah kak Axell belikan waktu itu ... yang di depan mini market, ya, kak?!" Jawab Dira menjelaskan apa yang ia mau.


"Kak Axell ingat?" Tanya Dira senang. Ia bahkan langsung bangun dari posisi telentangnya.


"Ingat, yang waktu aku cium kamu itu kan?" Axell kembali terkekeh di sana.


"Eh ..." Dira menutup kedua mata dengan satu telapak tangan. Malunya.


Axell kembali terkekeh seakan ia bisa melihat ekspresi wajah Dira yang malu saat ini. "... Masih aja malu, Yang?! Suami ini!" Ucap Axell.


"Aaaa... kak Axell! Mulai lagi deh!" Dira merengek. Aku tutup nih telponnya!" Teriak Dira seperti mengancam.


"Oke... oke... Ini aku udah sampai di penjual ciloknya. Aku tutup dulu ya, sayang?" Ucap Axell.


"Hmm." Dira hanya bergumam lirih sebagai jawaban.


Dira kembali menghempaskan tubuhnya setelah berakhirnya sambungan telepon tersebut. Ia menghela nafas mencoba untuk tetap tenang. Mengingat dimana Axell berada sekarang, ia hanya punya waktu kurang dari satu jam.


Dira lalu beranjak dari posisi nyamannya. Kepalanya menoleh menatap laci dimana ia menemukan foto empat cowok yang Dira yakini salah satu diantaranya adalah suaminya. Ya, Dira yakin salah satu dari cowok yang memakai almamater Bhakti Bangsa itu adalah Axell. Dari segi postur tubuh, rambut dan semuanya benar mirip sang suami. Lalu merembet dengan Verrel dan Bastian. Tidak salah lagi.


Hanya saja, satu diantara empat cowok itu Dira masih tidak tahu. Tapi anehnya, Dira seperti merasa tidak asing dengan sosok itu. Dan itu yang berhasil membuat Dira penasaran saat ini.

__ADS_1


Dira lalu menggerakkan tangannya dan perlahan laci itu mulai terbuka. Dira lalu mengambil buku tebal dimana ia menyelipkan foto tersebut dengan terburu-buru semalam. Takut Axell melihat aksinya. Bukan apa-apa, Dira hanya tidak ingin Axell salah paham padanya.


Karena rasa penasaran yang semakin menguasai, Dira akhirnya kembali membuka buku itu di bagian tengah karena Dira yakin, semalam ia memang meletakkan foto itu dibagian tengah. Dan ya, Dira mendapatkannya.


Dira kembali melihat foto itu dengan seksama. Entah kenapa, Dira kembali merasa seperti kenal dengan cowok yang berdiri tepat di samping Axell.


"Mungkinkah dia, cowok yang pernah bunda ceritain waktu itu?" Gumam Dira lirih. "... Cowok yang bikin Renata berpaling dari kak Axell." Lanjutnya saat kembali teringat dengan cerita bunda Resty.


"Gara-gara masalahnya dengan kak Axell, ia bahkan sampai pindah sekolah." Imbuh Dira lagi.


Dira lalu meletakkan buku beserta foto itu di atas meja. Ia akan membuka laci itu semakin lebar dan berharap akan menemukan foto yang lainnya.


Lama mengacak-acak isi laci tersebut, ternyata Dira tidak berhasil menemukan apapun. Hanya beberapa buku agenda yang menjadi saksi betapa sibuknya sang suami beberapa bulan sebelum mereka menikah.


Dira mengangguk mengerti setelah melihat isi buku itu, "Pantes kak Axell pengen tinggal sendiri di apartemen. Dia terbebani dengan banyaknya tanggung jawab yang seharusnya belum saatnya ia pikul." Monolog Dira saat melihat begitu padatnya jadwal Axell saat itu.


Bahkan dalam waktu satu bulan saja, Axell lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dari pada di sekolah. Kalau pun masuk sekolah, Axell hanya akan disibukan dengan kegiatan OSIS dan ulangan.


Deg!


Tiba-tiba jantung Dira seperti berhenti berdetak saat kembali menemukan sebuah foto. Foto yang berhasil memberikannya jawaban tentang apa yang sedang ia cari sedari tadi. Mata Dira pun perlahan membulat setelah menyadari gambar siapa yang tengah ia lihat? Tangan Dira bahkan sampai reflek menutupi mulutnya sendiri yang kini terbuka karena begitu terkejut.



"I-ini?" Dira mendadak terbata. "J-jadi... co-cowok itu ....


...***...


*Gimana nih, Guys ... udah sampai sini aja...


*Btw, kalian mau ngomong apa sama Axell?


*Dira?


*Arfen?


*Atau Adit mungkin walau ga muncul?


*Spam 'Lanjut' yang mau othor update cepat!


*Spam di jam berapa kalian baca episode ini?


*Spam juga dari mana kota kalian berasal?

__ADS_1


*Ok, see you bye... bye...😘😘


__ADS_2