Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
179. Kamu cemburu? (Axello)


__ADS_3

"Iiihhh... Kak Axell! Aku kan pengen tau!" Ucap Dira merajuk. "... aku kan penasaran sama apa yang kak Axell omongin sama dia. Mana aku di usir lagi tadi!" Lanjut Dira dengan bibir yang mengerucut.


"Sengaja ya, pengen berduaan sama dia?!" Lanjutnya lagi.


Axell tertegun. Ia menatap Dira tak percaya. Semakin kesini, istrinya itu semakin berani ternyata.


Lucu sekali.


Axell bahkan bisa melihat dengan jelas wajah Dira yang terlihat kesal lengkap dengan bibir manyunnya. Gemesin.


Kan ... jadi pengen unyel-unyel lagi.


"Kamu cemburu?" Tanya Axell dengan nada menggoda. "... Hmm?"


"Iihh... nggak, ya! Siapa juga yang cemburu?!" Kilah Dira sembari membuang muka dan melipat kedua tangannya di depan dada.


Axell menahan bibir agar tak tersenyum. Bohong pun tidak akan ada yang percaya. Jelas terlihat kalau Dira memang tengah cemburu sekarang ini.


Memang, siapa yang bisa tidak cemburu jika berada di posisi Dira tadi? Melihat suami sendiri bertemu dan ngomongin sesuatu hal dimana Dira sendiri tidak tahu apa yang mereka bicarakan - dengan mantan yang dulu pernah di cintai, bahkan hanya berdua saja?


"Iya juga boleh kok, Yang!" Goda Axell lagi kian gencar. "... Cemburu sama suami sendiri, boleh kok." Tambahnya.


"Nggak! Aku nggak cemburu!" Tolak Dira terdengar jutek.


"Ah ... yang bener?" Axell sengaja menoel dagu Dira.


"Aku nggak cemburu. Jangan pegang-pegang." Protes Dira.


"Yakin? Masa' sih?" Tanya Axell terdengar ragu sambil kembali menoel dagu Dira lagi.


"Seratus persen yakin." Jawab Dira cepat.


Axell mendengus. Pura-pura kesal tentunya. "Oke. Kalo gitu, aku balik ke bawah aja ya, Yang ... nemuin dia lagi?" Axell berujar lalu berbalik.


"Iihh..." Dira langsung menarik satu tangan Axell dengan kedua tangannya. "... Apaan! Nggak ada! Nggak boleh! Aku kan sudah bilang, aku ngelarang Kak Axell buat ketemu apa lagi sampai ngomong sama dia. Udah lupa?!" Tanya Dira tiba-tiba terdengar galak.


Axell tersenyum puas kali ini. Mana bisa ia meninggalkan istri menggemaskannya ini untuk kembali menemui Renata yang sudah ia minta pergi tadi?


Bukan karena Axell takut Renata akan menceritakan semuanya pada istri cantiknya tentang semua yang sudah terjadi. Hanya saja Axell tidak ingin kedua orang tuanya itu tahu tentang kedatangan sang mantan kekasihnya itu.


Axell menghadap Dira dengan seksama. Satu tangannya terangkat untuk menyelipkan helaian rambut Dira ke telinga istrinya itu.


"Yang, kembali sama dia adalah hal yang tidak akan pernah aku lakukan. Hubunganku sama dia itu sudah lama berakhir. Jadi, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan!" Axell mencium kening Dira dengan sayang lalu tersenyum penuh arti, "... Dan sekarang dengarkan aku!"


Axell menghela nafas pelan masih dengan senyum yang ia perlihatkan. "... Aku sudah lebih dari bahagia menjadi pemilikmu."


...***...


Keesokkan paginya, mobil Axell melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah.


"Ssshhh..." Suara ringisan yang terdengar di pendengaran Axell. Membuat laki-laki itu reflek menoleh pada sang istri yang terlihat sedang memegangi perutnya.

__ADS_1


"Kenapa, Yang?" Tanya Axell terdengar panik.


Dira menggeleng pelan, "Perut aku sakit, kak." Keluhnya sambil kembali meringis.


Axell melambatkan laju kendaraannya karena melihat adanya lampu merah di depan sana. Detik kemudian ia kembali menoleh pada Dira setelah menghentikan laju mobilnya, "Pantesan kamu nggak abisin sarapanmu tadi!"


Dira tak menjawab. Ia menyandarkan kepalanya pada jok mobil. Matanya terpejam masih dengan ringisan yang kembali keluar dari mulutnya.


"Sakit banget, Yang?" Tanya Axell semakin khawatir. "... Rasanya gimana?"


"Nyeri." Jawab Dira singkat.


"Kamu On periode, Yang?" Tanya Axell cepat.


Dira menggeleng cepat. "Nggak mungkin, kak. Kan udah selesai seminggu lalu."


Axell tak menjawab karena memang ia tidak tahu tentang nyeri yang sedang Dira rasakan. Menit berlalu, Axell masih diam. Bukan karena tak peduli. Axell kini kembali fokus dengan jalanan yang semakin padat dengan kendaraan lainnya.


"Rasanya kayak lagi mau dapet ..." Ujar Dira lagi. "... tapi ini lebih nyerinya."


"Ke rumah sakit aja, ya, Yang?" Ajak Axell.


Dira menggeleng. "Nggak usah, kak." Tolak Dira cepat. Hari ini Axell mulai mengikuti PTS. Kalau Axell mengantarkannya ke rumah sakit, yang ada suaminya itu tidak akan mengikuti PTS tersebut hari ini.


"Tapi kamu kesakitan, Yang." Desah Axell.


Dira tersenyum, ia tahu kekhawatiran suaminya saat ini. "Ini udah agak mendingan kok, kak." Jawab Dira yang kini menegakkan duduknya. Tangannya tak lagi memegangi perut agar suaminya itu tak lagi mengkhawatirkan keadaannya.


Iya, seminggu yang lalu ia memang melihat istrinya itu memegang 'roti jepang'. Itu tandanya Dira memang tengah menggunakan benda horor tersebut. Tapi bukan itu poin pentingnya. Axell yakin, darah yang keluar waktu itu bukan darah perempuan yang sedang on periode seperti apa yang di pikirkan istrinya itu, melainkan darah sisa proses pembersihan pasca kuretase.


Dan sekarang ini, Axell tengah berspekulasi. Mungkinkah istrinya itu benar-benar pra on periode sekarang?


Tiba-tiba senyum samar muncul di bibir Axell. Jika Dira benar on periode nanti, itu berarti kekhawatirannya selama ini akan terhapuskan. Jika Dira kembali mengalami siklus bulanan secara normal, itu tandanya dia bisa kembali hamil kan?


"Obat yang bunda kasih masih kan, Yang?" Tanya Axell setelah lama berpikir.


Dira menoleh ke arah Axell, "Masih. Tapi aku nggak bawa." Jawabnya pelan.


Axell mengangguk. "Kamu masih ingat nama obat itu?" Tanya Axell.


Dira menggeleng karena memang benar ia tidak tahu. "Aku bahkan nggak tau nama obat itu." Jawab Dira lirih. Nyerinya semakin terasa. "... aku tinggal minum waktu bunda siapin."


Axell menghela nafas. Benar juga. Axell membenarkan apa yang dilakukan bundanya. Bahaya kalau Dira tahu, obat apa yang dia minum beberapa hari belakangan?


"Oke. Kamu masih bisa tahan kan, Yang?" Ucap Axell setelah menghentikan mobilnya. Tangan Axell bergerak untuk melepas lock safety belt-nya. "... Nanti aku cari kan obatnya." Tambah Axell.


Dira mengangguk, "Iya ..." Dira meraih tangan Axell untuk ia cium. "... Aku keluar dulu ya, kak?" Pamit Dira sebelum keluar dari mobil Axell.


Axell mengangguk. Ia juga langsung keluar mobil saat melihat Verrel dan Bastian yang berjalan mendekat.


"Pake cium tangan segala, Dir! Udah kayak istri yang pamit sama suaminya aja!" Tanya Verrel dengan nada menggoda. Sengaja emang.

__ADS_1


Bastian menghela nafas dengan kepala yang menggeleng samar melihat tingkah Verrel. Kenapa sahabatnya ini jadi suka jahil begini?


Dira diam karena apa yang Verrel bilang memang benar. Hanya saja ia enggan menanggapi kekasih dari sahabatnya itu.


"Langsung ke UKS aja, Yang! Nanti aku izinin ke guru kamu." Titah Axell pada Dira.


Dira mengangguk patuh. Lalu menoleh pada Verrel dan Bastian. "Duluan, kak."


Verrel dan Bastian saling lirik. Kepo berjamaah tentunya.


Kenapa ke UKS?


"Dira sakit?"


"Kalo sakit kok Lo malah biarin dia masuk sekolah sih, Xell?!"


Pertanyaan yang langsung Axell dengar dari Verrel dan Bastian setelah Dira meninggalkan mereka.


"Berisik Lo berdua!" Ucap Axell yang kini tengah menyandarkan tubuh pada mobilnya. Jangan lupakan tatapan dingin mengintimidasi yang Axell layangkan kada kedua sahabatnya itu.


Berhasil membuat kedua sahabatnya diam, Axell menghela nafas. Pandangannya kini fokus pada benda pipih yang sekarang sedang berada di genggamannya. Axell tengah mengetikkan suatu pesan pada benda pintar tersebut sebelum mengirimkannya pada seseorang.


"Ya elah, Xell -"


"Ini masih terlalu pagi untuk ramah-ramah ... Ya nggak, Re -" Sengaja Bastian memotong ucapan Verrel.


"Marah-marah, geblek! Bukan ramah-ramah!" Protes Verrel sambil menonyor kepala Bastian.


Bastian balik menonyor kepala Verrel namun Verrel lebih cepat menghindar. Jadinya tangan Bastian hanya mengenai angin pada akhirnya.


"Bajing*n!" Umpat Bastian. "... Suka-suka gue, dong! Mulut-mulut gue juga!" Jawab Bastian ketus karena tidak berhasil membalas Verrel.


Verrel tertawa melihat muka kesal Bastian, "Eh, Bambang! Ini masih pagi! Muka Lo udah nggak enak banget di lihat, anying!"


"Bambang... Bambang kepala Lo, Bambang! Kenapa Lo malah jadi manggil tuh guru maniak tugas? Lo ketagihan tugas sejarah dari pak Bambang?" Tanya Bastian asal.


Memang benar. Pak Bambang adalah guru sejarah Indonesia yang merangkap sebagai guru BK di Bhakti Bangsa. Tidak tanggung-tanggung, pak Bambang selalu memberi hukuman bukan cuma melalui fisik pada siswa-siswinya, tapi juga melalui mental mereka dengan cara memberi tugas yang pastinya tidak main-main.


Bisa di bilang, pak Bambang guru yang handal dalam bidang membuat anak-anak didiknya meledakkan isi kepala mereka sendiri. Bisa di pastikan, setelah mendapat hukuman dari pak Bambang, mereka para murid akan berpikir dua kali untuk kembali membuat masalah di sekolah. Pak Bambang adalah guru yang benar-benar bisa memberi efek jera.


"... Kalo Lo ketagihan gue bisa ba -"


"Ssstt... diem Lo, Bas! Anaknya jalan kesini!" Interupsi Verrel sambil melirik ke belakang Bastian sana.


Bastian reflek menutup mulut. Ia mengikuti arah pandang Verrel. Dan benar saja, saat Bastian menoleh kebelakang, ia bisa melihat wajah adik kelasnya yang berjalan mendekat dan santai melewatinya.


Axell mengangkat pandangannya. Matanya memang fokus pada ponsel, tapi telinganya masih bisa ikut mendengar apa yang kedua sahabatnya bicarakan dengan sangat baik.


"Aditya!" Panggil Axell pada cowok itu.


Adit menoleh, "Yo! Ada apa?" Tanyanya santai.

__ADS_1


Axell menatap Adit serius, "Istirahat pertama, temuin gue di ruang OSIS!"


__ADS_2