
"Apa-apaan ini?" Tegur ayah Marvellyo.
Ayah Axell sedikit terkejut dengan kedatangan seseorang secara tiba-tiba. Dan terang-terangan ingin memukul sang putra. Beruntungnya Axell memiliki reflek yang bagus. Hingga ia bisa dengan cepat menghindarinya dan balas menendang orang tersebut.
Papa Pras yang juga tak kalah terkejut ikut menatap orang itu penuh dengan tanda tanya. "Kamu! Siapa kamu? Kenapa kamu ingin memukul Axell?" Tanyanya.
Seseorang yang ternyata adalah Derry Bramantyo itu langsung bangkit. Seakan tak peduli dengan berbagai pertanyaan yang terlontar untuknya.
Ia malah menatap Axell dengan tatapan penuh permusuhan. Berbeda dengan Axell yang malah terlihat tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi siapa sangka? Ketenangan yang Axell tampilkan sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam dirinya sekarang ini. Laki-laki itu tengah menahan amarah yang sepertinya siap meledak sekarang juga.
Derry masih bungkam. Malah Ia kembali mendekat dan berusaha untuk kembali memukul Axell. Namun Axell malah meraih pergelangan tangan Derry. Memelintirnya dan membenturkan tubuh pemuda itu ke dinding dan menekannya kuat.
Bughh!
"Arrgh! Xello! Akh - Bajing*n! Lepasin gue!" Maki Derry kesakitan.
"Boy, jangan buat keributan! Lepaskan dia!" Ujar ayah Marvellyo.
Bugh!
Axell masih betah untuk diam, tapi dia juga menurut karena mengingat mereka masih di rumah sakit. Ia melepaskan Derry setelah kembali membenturkan pemuda itu ke dinding.
"Sebenarnya ada apa ini? Dan kamu siapa?" Tanya papa Pras pada Axell dan Derry bergantian.
"Siapa saya itu tidak penting. Urusan saya dengan orang ini, itu jauh lebih penting." Jawab Derry dengan jari tangan yang jelas menuding ke arah Axell.
Axell mendengus, "Seingat gue, gue nggak punya urusan apa-apa sama Lo!" Jawab Axell dengan nada dingin. Namun dengan tatapan yang masih sama seperti tadi.
Derry berdecih, "Lo mungkin nggak ada urusannya sama gue. Tapi gue jelas ada ..." Derry mendengus. "... apa yang lo lakuin di kamar Renata kemarin?" Tanya Derry to the points?
'Gadis itu?'
Ayah Marvellyo yang mendengar nama Renata di sebutkan seketika paham dengan apa yang menjadi pemicu dari pemuda di depannya ini, hingga ingin memukul putranya.
Axell menarik samar satu sudut bibirnya. Apa yang Derry lakukan, tepat seperti dengan apa yang sudah ia perkirakan.
"Yang gue lakuin?" Axell bertanya balik seolah memang ia tidak tahu apa yang telah terjadi."... memangnya apa yang gue lakuin ... kemarin?"
"Basi! Jangan pura-pura nggak tau Lo, Xell! Apa yang Lo lakuin di kamar Rere kemarin?" Jelas Derry mengulangi pertanyaannya .
Axell melihat keatas seolah tengah menerawang. "Rere?" Ucapnya pelan.
Akh... akhirnya ia kembali menyebutkan nama gadis itu lagi.
Pandangan Axell lalu kembali menatap Derry dengan senyum seolah mengejek. "... gue hanya sekedar menyapa?"
Apa tadi? Sekedar menyapa? Hei ... Cara menyapa seperti apa yang sampai membuat seseorang sampai ingin mengakhiri hidupnya sendiri?
Jelas-jelas Derry dan Nicholas melihat melalui rekaman cctv. Dimana Axell yang memaksa masuk ke dalam kamar Renata kemarin.
__ADS_1
Apa itu yang di namakan dengan sekedar menyapa? Bahkan sampai harus masuk ke kamar seorang gadis segala?
Masalahnya, kamera cctv di rumah Nicholas tidak sampai menjangkau ke dalam kamar Renata. Hanya di atas samping pintu kamar gadis itu saja. Gadis itu bersikukuh tidak ingin privasinya di awasi.
Jadi, apa saja yang Axell lakukan di kamar Renata? Jawabannya, mereka tidak tahu.
Hanya saja, beberapa saat setelah Axell masuk, Axell kembali keluar tak lama kemudian dengan kancing baju yang sudah terlepas semuanya.
Ambigu sekali bukan?
Jadi siapa yang bisa berpikir jernih di sini? Siapa yang bisa menjamin kalau Axell tidak melakukan apa-apa pada Renata?
Jawabannya ... Tidak ada.
Derry mengepalkan tangannya. Ia merasa terhina karena melihat senyum mengejek yang Axell perlihatkan padanya. Ingin sekali rasanya Derry kembali melayangkan sebuah pukulan untuk wajah Axell dan menghilangkan senyum dari wajah laki-laki yang usianya bahkan masih tiga tahun berada di bawahnya itu.
Tadi, setelah melihat rekaman cctv tersebut, Derry dan Nicholas langsung berpikir kalau Axell baru saja melakukan kekerasan sek**al pada Renata. Dan hal itu lah yang menjadi pemicu Renata ingin mengakhiri hidupnya.
"Apa yang Lo lakuin? Kenapa Rere sampai mau coba bunuh dir -
"Rere? Bunuh diri?" Tanya papa Pras menyela. Apa hubungannya Axell dengan gadis yang bernama Renata itu? Itu yang sedang papa Pras pikirkan saat ini.
"Ini urusan anak muda, Pras. Kita jangan ikut campur! Aku yakin putraku tidak sedang bermain api." Ujar ayah Marvellyo dengan sangat yakin.
Bukan maksud ayah Marvellyo membela sang putra, hanya saja ayah Marvellyo benar-benar yakin kalau putranya itu tidak melakukan hal yang bisa merugikan dirinya sendiri. Kalau pun Axell melakukan hal yang berani, itu berarti Axell sudah memikirkannya dengan sangat matang.
Cukup! Axell tak lagi bisa menahan apa yang sedari tadi ia tahan. Mendengar apa yang ayahnya katakan, Axell tak ingin membuat papa mertuanya itu salah paham.
Sreett!
Axell menarik kerah baju Derry. Menariknya kuat agar mendekat padanya. "Masih mau kan? Nyawanya masih bisa tertolong kan? Yang artinya dia nggak sampai mati ... iya kan?" Potong Axell dengan suara tertahan.
Seketika Axell kembali teringat dengan calon janinnya yang pergi begitu saja tanpa ia tahu keberadaannya. "... Shitt! Gue sama sekali nggak minat sama barang bekas." Bisik Axell. Dan ...
Brukk!
Axell mendorong tubuh Derry kuat, hingga dia terduduk di lantai.
"Kalian sangat serasi. Kenapa kalian nggak jadian aja?" Cibir Axell dengan senyum menyeringai.
"Hey, apa yang kalian lakukan? Ini rumah sakit?" Interupsi seseorang yang kebetulan keluar dari ruangan di sebelah ruang rawat Dira. "... Lo juga, Der ... Jangan buat masalah yang nantinya bakal merugikan diri Lo!" Tegur orang itu pada Derry.
"It is such a coincidence." Ucap Axell sambil menatap Derry dan orang itu bergantian.
Axell menghela nafas dengan tangan yang masih mengepal kuat. Sepertinya ia masih harus menahan diri. Ia menatap orang itu marah. Melihat wajahnya saja, Axell bisa merasakan darahnya yang sekarang ini seakan mendidih.
Lain Axell, lain juga Derry.
Derry menatap seseorang itu tak percaya. Ia tak habis pikir dengan orang yang tak lain adalah Nicholas - sahabatnya sendiri.
Sekarang ini mereka sedang berada di rumah sakit karena adiknya itu melakukan percobaan bunuh diri.
__ADS_1
Melihat keadaan Renata yang seperti sekarang ini, Derry tak bisa diam saja. Maksud hati ingin membalaskan perbuatan Axell pada Renata, tapi kenapa Nicholas malah menghentikannya?
Tidak kah Nicholas ingin membalaskan perbuatan Axell pada adiknya? Sebenarnya, Bagaimana cara berpikir sahabat itu? Renata itu kan adiknya, apakah Nicholas akan diam saja?
"Gue bakal laporin Lo ke polisi?" Ujar Derry setelah beberapa saat diam. "... Atas tuduhan pelecehan!" Derry tersenyum menang setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Pelecehan?" Ulang Axell. "... Lo punya bukti?"
"Rekaman cctv." Balas Derry cepat.
Bukannya takut, Axell malah terlihat biasa saja. "Silahkan! Gue sama sekali nggak takut!" Jawabnya dan malah membuat Derry tak mengerti.
Harusnya Axell takut kan? Tapi kenapa Axell malah terlihat seolah menantangnya? Itu yang sedang Derry pikirkan.
Sementara Nicholas. Ia hanya diam. Bukan tak ingin melakukan pembelaan untuk sang adik. Hanya saja laki-laki itu tidak ingin salah dalam mengambil langkah yang hanya akan berimbas pada perusahaan keluarganya.
Nicholas ingat perjanjiannya dengan Axell saat mereka selesai meeting kemarin.
Tapi, tanpa Nicholas tahu. Apa yang telah di lakukan adiknya adalah hal yang harus ia dan keluarganya bayar dengan harga yang mungkin tak sebanding.
Axell lalu merogoh ponsel dari dalam saku celananya. Tangannya mencari kontak seseorang dan menelponnya.
"Hallo, Pandu! Cabut dan batalkan semua proyek dan perjanjian kerjasama apapun dengan Maha Group. Sekarang!" Ucap Axell. Laki-laki itu benar-benar murka. Ia sudah tidak dapat lagi menahan amarahnya.
"Xell -" Ucap Nicholas terpotong oleh Ayah Marvellyo.
"Axell! Apa maksud kamu?" Tanya ayah Marvellyo menuntut penjelasan.
Pria paruh baya itu tampak sedikit kecewa dengan keputusan dari sang putra yang cenderung tidak profesional.
Axell beralih menatap sang ayah, "Kenapa, Yah? Ayah nggak suka dengan keputusan yang Axell ambil? Axell sama sekali tidak peduli. Tidak akan Axell biarkan orang yang sudah membuat istri Axell seperti sekarang ini, masih bisa hidup dengan nyaman." Ucapnya tegas.
"Axell, tenangkan dirimu! Semua bisa dibicarakan baik-baik. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan!" Papa Pras ikut bersuara.
"Maaf, Pa. Axell tidak bisa. Ini cara Axell melindungi apa yang Axell punya ..." Jawab Axell pada papa Pras dengan sopan. Lalu beralih menatap Derry dengan tatapan yang kembali marah.
Papa Pras bahkan sampai tertegun. Bagaimana bisa menantunya itu mengubah ekspresi wajahnya dengan begitu cepat?
"... Gimana kalo kita bikin laporan bareng?" Tawar Axell dan malah mengundang ekspresi penuh kebingungan dari Derry.
"Maksud lo?" Tanya Derry cepat.
Jangan tanyakan Nicholas. Kakak dari Renata itu masih tidak percaya dengan keputusan sepihak yang baru saja Axell ambil. Kenapa Axell langsung memutuskan hubungan kerjasama dengannya begitu saja?
Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa yang sudah adiknya itu lakukan? Tidak mungkin Axell mendatangi Renata di rumah tanpa sebab yang jelas? Dan ... Kenapa pewaris dari MJ Corps itu bisa semarah ini?
Axell beralih menatap Nicholas, "... Setelah Lo berdua bikin laporan atas tuduhan pelecehan, gue juga akan bikin laporan atas tuduhan penganiayaan yang menyebabkan istri gue keguguran!" Axell menyeringai. "... Bagaimana?"
"Apa maksud Lo?"
"Siapa yang Lo bilang keguguran?" Tanya Nicholas dan Derry hampir bersamaan.
__ADS_1
"Gue sudah peringatin Lo. Jangan sampai dia berani mengusik kehidupan gue! Seujung kuku dia berani sentuh istri gue, maka kehancuran Maha Group hanya tinggal menghitung jam."