
Axell terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum saat melihat istrinya yang masih tertidur lelap dengan posisi meringkuk dalam dekapannya. Senyum Axell semakin mengembang saat mengingat kata-kata yang keluar dari sang istri semalam.
'I'll stay.'
"Terima kasih, Dira. Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak tau, jika istriku bukan kamu ... apakah semua yang aku jalani sekarang ini akan sama?" Ucap Axell lirih.
Axell lalu mencium puncak kepala Dira lama. Menit kemudian, ia melepaskan ciuman serta dekapannya lalu perlahan membangunkan Dira untuk bersiap ke sekolah.
"Yang... Bangun!" Panggilnya. "... Sayang ..."
"Hmm..." Gumam Dira lirih lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. Dira lalu menggosok satu matanya dan mengangkat pandanganya pada Axell. "... Pagi, kak."
Axell kembali tersenyum, "Ayo bangun! Kita sekolah!"
...***...
"Kalian juga hati-hati, ya?! Pelan-pelan dan jangan ngebut!" Titah bunda Resty saat Axell dan Dira berpamitan padanya untuk berangkat ke sekolah. Sementara ayah Marvellyo sudah lebih dulu berangkat beberapa menit yang lalu.
"Iya, Bun." Jawab Dira dan Axell bersamaan. Keduanya lalu saling lirik saat menyadari kekompakan di antara mereka yang tanpa di sengaja. Detik kemudian keduanya tertawa lalu berjalan masuk kedalam mobil dan perlahan mobil itu melaju meninggakan halaman luas rumah megah tersebut.
Bunda Resty tersenyum melihat kedekatan putra dan menantunya. Kehadiran Dira dalam hidup Axell benar-benar mengembalikan senyum sang putra.
Bunda Resty harap, kedepannya mereka akan selalu seperti itu, saling menjaga dan saling mencintai sampai akhir hayat.
...***...
Di perjalanan ke sekolah seperti biasa, Axell melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang membelah jalan ibu kota. Hari masih pagi dan jalanan masih belum terlalu padat.
Dira yang tengah asyik berbalas pesan dengan Nayla menoleh pada Axell saat merasakan suaminya itu yang melambatkan laju mobilnya. Dan berhenti selang beberapa detik karena adanya lampu merah di depan sana.
Dahi Dira nampak berkerut saat melihat wajah Axell yang mendadak terlihat serius. Padahal sejak dari rumah tadi sang suami terlihat begitu cerah dan santai.
Diam-diam Dira memperhatikan wajah serius sang suami. Lalu sesekali mengikuti arah ekor mata Axell yang kedapatan memperhatikan kaca spion - yang memperlihatkan keadaan di belakang mobil sana terus-menerus. Dira ingin tahu apa yang menyita perhatian suaminya di sana?
Tapi, belum sempat Dira menoleh ke belakang, mata Dira tiba-tiba membulat saat menyadari Axell yang melewati gedung sekolahnya begitu saja. Sepertinya memang di sengaja oleh suaminya itu.
"Kak, kita mau kemana?" Dira menoleh ke kaca jendela sampingnya, "... Sekolah kita udah kelewat lhoh?!" Tanyanya tiba-tiba panik saat Axell menambah kecepatan laju mobilnya.
Axell menoleh pada Dira dengan senyum. Raut wajahnya pun sudah kini sudah berubah dan tidak seserius tadi, "Kita ke apartemen sebentar, Yang. Ada sesuatu yang mau aku ambil di sana." Jawabnya terdengar santai.
__ADS_1
Dira melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 06.40. Ia menghela nafas pelan karena takut telat.
"Aku bisa jamin kamu nggak telat, Yang. Kamu tenang!" Ucap Axell lagi.
Dira kembali menatap Axell dan mengangguk pelan dengan bibir yang sedikit manyun. Axell mengulurkan tangannya untuk mengacak puncak kepala Dira pelan. "Aku janji." Ucap Axell.
Sampai di basemen gedung apartemen Greenland residence, Axell kembali melirik ke arah Spionnya. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai di wajah tampan laki-laki itu ketika apa yang terlintas di benaknya, benar.
Ada seseorang yang mengenakan jaket ojek online dan sengaja mengikutinya, bahkan sampai ke basemen Greenland residence, padahal orang itu tidak sedang membawa customer. Awalnya Axell tidak menaruh curiga, tapi entah mengapa Axell yakin orang itu memang sengaja mengikutinya dari semenjak mobilnya keluar dari gerbang rumahnya tadi.
Tangan kekar Axell melepas lock safety belt dan menoleh pada Dira. "Aku masuk sebentar ke dalam, ya, Yang. Kamu tunggu aku disini, jangan kemana-mana dan jangan keluar dari mobil!" Ujar Axell yang langsung mematik rasa ingin tahu Dira.
"Emangnya kenapa, kak?" Tanya Dira yang tiba-tiba jadi bingung penasaran.
"Nanti kalo kamu keluar, pintunya jadi kebuka dong, sayang!" Jawab Axell asal.
"Iih, kak Axell garing!" Jawab Dira. Detik kemudian keduanya tertawa karena merasa aneh sendiri.
"Hahaha..." Axell tertawa. "... Aku serius, Yang, aku cuma sebentar." Ucap Axell lagi. Tapi entah mengapa, Dira seperti menangkap sesuatu.
Dira lalu menghela nafas pelan, "Iya." Jawabnya patuh tanpa ingin bertanya lagi.
Tidak lama kemudian, Axell kembali muncul setelah Dira menunggu 10 menit. Ia langsung masuk ke mobil dan meninggalkan basemen apartemen tersebut dengan kecepatan tinggi. Sesuai apa yang ia janjikan pada Dira, Axell tidak akan membuat Dira terlambat sekolah.
Tanpa Dira tahu, sebenarnya Axell tidak mengambil apa-apa dari apartemennya. Bahkan ia tidak sampai naik ke lantai dimana unit miliknya itu berada. Axell hanya mengecoh seseorang yang ia yakini mungkin saat ini sedang memperhatikan segala gerak-geriknya.
...***...
Axell menghela nafas saat melihat Dira yang berjalan meninggalkan dirinya yang masih berdiam diri di mobil. Tangan kekar Axell lalu meraih ponsel dari dalam saku celananya dan menempelkan benda pipih itu ke telinga, setelah membuat panggilan pada seseorang.
"Ndu, ada yang ngikutin gue pagi ini. Cari tau, siapa dia dan apa motifnya!" Interupsi Axell pada sang asisten yang tak lain adalah Pandu.
"(....)."
"Ok, Gue tunggu paling lambat sebelum jam pulang sekolah!" Ucap Axell lagi. Dan ...
Tuutt!
Axell memutus sambungan teleponnya setelah Pandu menyanggupi apa yang ia perintahkan.
__ADS_1
Meskipun tidak yakin dengan apa yang ada di pikirannya saat ini, tapi Axell yakin, salah satu di antara nama-nama yang sedang ia pikirkan sekarang ini adalah orang yang menyuruh orang tadi mengikutinya. Ia tidak perlu melakukan apapun, hanya perlu mencari tahu dulu siapa dalangnya? Baru ia akan mengambil langkah selanjutnya setelah itu.
...***...
"Zaki!" Panggil Axell saat melihat adik kelasnya yang berjalan tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Zaki menoleh dan berjalan mendekat.
Melody yang kebetulan datang dengan Zaki pun ikutan mendekat, ia mengangguk untuk sekedar menyapa suami Dira tersebut. Melihat wajah serius Axell, Melody paham. Ada sesuatu yang sepertinya akan mereka bicarakan.
"Em... gue duluan kalo gitu." Pamitnya lalu berjalan menjauh.
"Tunggu!" Cegah Axell membuat Melody langsung menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Ada apa ya, kak?" Tanya Melody ingin tahu. Tidak biasanya Axell bicara padanya. Atau mungkin ada hal yang penting? Begitu pikir Melody.
"Pulang sekolah nanti, bisa kan Lo antar Dira pulang ke apartemennya?" Tanya Axell terdengar serius.
Melody mengangguk cepat, "Bisa, kak." Jawabnya.
"OK, thanks." Balas Axell lalu beralih menatap ke arah Zaki yang sedang menatap padanya dengan kedua alis terangkat. "... Ajak pacar Lo temenin istri gue di apart nanti sampai gue datang!" Lanjut Axell.
Zaki menatap Axell serius. "Ada apa?" Tanya Zaki tak kalah serius. Ia cukup tanggap disini. Pasti ada sesuatu menurutnya.
Axell menggeleng, "Ada yang buntutin gue sejak dari rumah tadi."
Mata Zaki mendekik, "Siapa?" Tanya Zaki cepat. Penasaran tentunya.
"Gue nggak yakin." Jawab Axell datar
"Lhah! Asisten Lo mana? Kenapa Lo nggak suruh dia jemput Dira?" Tanya Zaki lagi.
Axell memasukkan satu tangannya ke dalam saku. "Pandu ada tugas sendiri."
"Lambang? Gue liat tuh anak masuk tadi." Zaki memang tahu kalau Lambang Aditya adalah salah satu orang kepercayaan Axell, tepatnya sejak ia di rekrut menjadi wakil ketua OSIS menggantikan Verrel.
"Ada yang harus dia kerjain ..." Tangan Axell meraih ponsel dari saku celananya yang bergetar. Ia membuka pesan masuk dari salah satu orang kepercayaannya. Lalu kembali memasukkan benda pintar itu ke dalam saku. "... Gue minta dia ngelakuin sesuatu."
"OK."
...***...
__ADS_1