
Setelah pembicaraan serius yang membuat sepasang suami istri muda itu berbeda pendapat, kini keduanya sudah berada di apartemen milik Axell.
Laki-laki itu kini terlihat sedang duduk santai di sofa sambil berbicara dengan bunda Resty melalui sambungan telepon yang tengah menanyakan keberadaanya dan Dira sekarang. Sementara Dira, gadis itu tengah membersihkan diri di kamar mandi.
"Iya, Bun. Nanti Axell bilang sama Dira."
"(....)."
"Nanti Axell pulang ..." Pandangan Axell kini beralih menatap pintu kamarnya.
"... Dira sedang mandi."
"(....)."
"Baik, Bun."
Axell menghela nafas pelan saat telepon seketika terhenti setelah bunda Resty yang memutuskan sambungan teleponnya. Bertepatan dengan Dira yang keluar dari dalam kamar dan berjalan mendekat ke arah Axell.
"Kak Axell mau makan? Atau mau aku bikinin sesuatu?" Tanya Dira pada Axell saat hanya ada keheningan yang menyelimuti keduanya. Tak seperti biasanya, suaminya itu lebih banyak diam setelah kejadian tadi.
Axell tak menjawab, laki-laki itu hanya menatap Dira lalu menggelengkan kepalanya.
"Kak Axell belum makan dari tadi, aku inget kak Axell tadi juga nggak makan waktu di kantin sekolah." Ucap Dira.
"Aku belum laper." Jawab Axell bohong. Jelas-jelas ia menahan lapar sedari tadi. Laki-laki itu lalu bangkit dari duduknya. "Aku mau keluar sebentar."
Dengan gerakan cepat, Dira mencekal pergelangan tangan Axell. "Kak Axell mau kemana? Kak Axell masih marah sama aku soal yang tadi?" Tanya Dira cepat. Seketika perasaan bersalah kembali menyelimuti gadis itu.
Axell kembali duduk. Tangan satunya yang terbebas dari cekalan Dira mengusap pelan puncak kepala sang istri.
"Yang, aku emang sempet kesel tadi. Tapi aku terlalu sayang untuk bisa marah sama kamu ..." Axell tersenyum tulus. "... aku cuma mau turun ke apart kamu sebentar, ada sesuatu yang mau aku ambil disana. Kamu mau ikut? Atau ada yang kamu butuhkan?" Tanya Axell.
Dira tersenyum, tiba-tiba gadis itu memeluk tubuh Axell dengan erat, "Maaf!"
"Udah, Yang! Kamu lupain yang tadi! Setelah aku ambil barang dari bawah, kita pulang. Bunda udah nanyain menantu cantiknya." Ujar Axell yang kini mulai berjalan meninggalkan Dira setelah sebelumnya mencium kening gadis itu.
...***...
__ADS_1
Dira merebahkan dirinya di sofa yang tadi ia duduki bersama dengan Axell setelah laki-laki itu pergi. Terhitung sudah lebih dari lima belas menit setelah laki-laki itu pergi, tapi belum ada tanda-tanda laki-laki itu akan kembali.
"Kak Axell kok lama, ya?" Gumam Dira lirih. "... perasaan tadi bilangnya cuma sebentar."
Tiba-tiba ada seseorang yang datang mengetuk pintu. Dira mengangkat satu alisnya seakan bertanya, kira-kira siapa yang datang bertamu? Setahu gadis itu selama ia tinggal bersama dengan Axell di apartemen Axell, jarang ada orang yang datang berkunjung. Kecuali,
"Mungkin kak Bastian... Atau nggak kak ... Verrel." Monolog Dira menduga.
Kaki Gadis itu pun ringan melangkah mendekat ke arah pintu untuk membukanya dan melihat siapa yang datang.
Ceklek!
Deg...
Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Dira saat melihat siapa yang datang sekarang. Seorang gadis yang juga tak kalah terkejutnya dengan dirinya. Dira sama sekali tak pernah menduga dengan kedatangan gadis itu.
'Dia...'
"Eeh... gue nggak salah tempat kan?" Ujar Gadis itu setelah berhasil tersadar dari keterkejutannya. Bahkan ia kembali melihat nomor yang tertera pada bingkai pintu, di mana tertera nomor unit yang menjadi tujuannya saat ini. "... bener kok."
"Harus banget ya gue jawab?" Jawab Dira balik dengan pertanyaan
Gadis itu mendengus kesal, sama sekali tak mengira Dira akan menjawabnya seperti itu, "Iihh... ngeselin Lo ya ternyata! Berani Lo sama gue? Anak baru kemarin sore juga!" Ucap gadis itu mencibir.
"Kenapa gue harus takut, sesama manusia juga kan?" Tanya Dira lagi lebih berani dan seketika memancing emosi dari gadis tersebut.
Jika dulu Dira akan diam dengan apa yang gadis di depannya ini katakan padanya. Namun sekarang tidak lagi. Dira akan mencoba melawan, apalagi ini menyangkut tentang Axell suaminya.
Gadis yang tak lain adalah Renata Isabella Mahaputra itu seketika meradang, setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Dira. Ia maju mendekat ke arah Dira. Dan,
"Aakh...!" Teriak Dira kesakitan setelah tangan Renata dengan bebas menarik rambutnya kuat. "... lepasin rambut gue!"
Seakan tuli, bukannya melepas tarikan rambut Dira, Renata malah semakin kuat menarik rambut gadis itu. "Kebetulan gue ketemu Lo di sini. Gue mau ngasih Lo sedikit pelajaran." Jawab Renata dengan senyum penuh kemenangan. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Aakh...! Sakit!" Teriak Dira karena Renata yang semakin kuat menarik rambutnya. Bahkan kulit kepala Dira terasa panas. Dira bisa merasakan sakit seperti mau pingsan saja saat itu juga.
"Ini buat Lo yang nggak mau dengerin peringatan gue!" Ucap Renata setelah kembali menarik rambut Dira semakin kuat. Seakan tak pernah puas dengan apa yang ia lakukan terhadap Dira, Renata kembali melanjutkan aksinya lagi.
__ADS_1
"Dan ini..."
Plaakk!
"Aakhh...!"
"Buat Lo yang terus-terusan deketin Xello. Dasar bi**h!"
"RENATA, STOP!" Tiba-tiba terdengar suara menggelegar yang secara spontan membuat Renata melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Dira. Dan betapa terkejutnya ia mendapati seorang Axello yang sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Ngapain Lo di sin?" Tanya Axell tak sabaran.
"X-Xell... -
"Ngapain, gue tanya? Lo apain Dira?" Tanya Axell semakin naik darah saat melihat Dira yang meringis kesakitan sambil memegangi kepala dan juga pipinya yang memerah. Dan sudah dapat dipastikan itu adalah bekas tamparan dari Renata.
Seketika Renata menjadi gugup. Ia gelagapan sendiri, "Xell,, tadi aku cuma...-
"Cuma apa?" Axell melotot tajam dan sukses membuat Renata semakin takut padanya. Pandangannya lalu kembali beralih menatap Dira khawatir. "Yang kamu diapain sama dia?" Tanya Axell pelan.
Mendengar nada bicara Axell yang begitu khawatir dengan Dira, perasaan Renata seketika mencelos. Sangatlah berbeda dengan nada Axell saat berbicara dengannya tadi yang terdengar sangat kasar, "Xell!"
Dengan cepat Axell mencengkeram kuat pergelangan tangan Renata. Dan dengan tatapan tajam, Axell seakan siap menelan Renata hidup-hidup. Ia kembali mengulang pertanyaannya yang tadi belum sempat Renata jawab, "Lo apain Dira, gue tanya?"
Tak Ada jawaban, Axell yang melihat Renata yang semakin bergetar karena takut. "Pergi Lo!" Usir Axell sambil menghempaskan tangan Renata dan membuat tubuh gadis itu sedikit terpental.
Kembali tuli, Renata bahkan tak juga meninggalkan apartemen miliknya, Axell kembali menatap Renata tajam, "Lo benar-benar enggak tahu diri ya! Lo apain dia?" Tanya Axell lagi seakan tak pernah puas dengan aksi bungkamnya Renata.
Renata mencoba memberanikan diri untuk kembali mendekat ke arah Axell, "Xell, aku ..." Renata kembali mendekat dan mencoba untuk meraih tangan Axell. Namun dengan cepat laki-laki itu menepisnya dengan kuat. "... Xell, please! Jangan kayak gini! Aku masih sayang sama kamu." Renata mencoba untuk menahan bahu Axell.
Namun Axell dengan segera menghentak bahunya dengan keras. Sehingga membuat Renata kembali tersentak mundur.
Tidak mau peduli bahkan tidak mau tahu lagi, Axell menarik pergelangan Renata dan membawanya keluar dari apartemen.
"Gue peringatin sama Lo, Re ... ini terakhir kali Lo nyentuh dia! Sebelum kesabaran gue benar-benar habis, sebaiknya Lo segera pergi dari sini!" Ucap Axell dengan nada tinggi di akhir kalimatnya. Dan,
Brraakk!!
__ADS_1