Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
173. I'm Yours.


__ADS_3

Axell berjalan tergesa menaiki anak tangga di rumah orang tuannya, dimana ia meninggalkan istrinya yang sedang terlelap di atas ranjang kamarnya tadi.


Sebelumnya, Axell memang sengaja meninggalkan Dira untuk menemui Arfen di d'Axe Cafe. Axell ingin memberitahukan tentang status hubungan yang sebenarnya antara ia dan Dira selama ini.


Bukan untuk menjauhkan Dira dan Arfen, tapi agar Arfen tahu batasnya dengan Dira dan menghilangkan perasaannya itu pada istrinya.


Tapi belum sempat Axell bicara dengan Arfen, ternyata istrinya itu lebih dulu bangun dan mencarinya.


Jadilah Axell memutuskan untuk langsung pulang saat itu juga, tanpa mengatakan apa hal yang menjadi tujuannya menemui Arfen tadi.


Dan saat Axell masuk ke dalam kamarnya, ia tak mendapati istrinya itu di kamar. Axell mencoba mencarinya di kamar mandi dan ternyata istrinya itu tidak ada.


'Kemana Dira?'


Tunggu! Axell menoleh ke arah balkon. Pintu itu terbuka. Axell melangkah untuk memastikan, apakah Dira di sana atau tidak?


Axell menghela nafas lega. Ia mendapati istrinya yang tengah berdiri dengan kedua tangan yang bertumpu pada pembatas balkon.


Axell memeluk Dira dari belakang. Ia menumpukkan dagunya pada pundak Dira. Matanya terpejam saat helaian rambut Dira menerpa wajahnya karena tertiup angin malam yang sebenarnya tidak bersahabat.


"Kok nggak masuk, sih, Yang?! Di sini dingin. Anginnya nggak baik buat kamu!" Ucap Axell lembut sambil sesekali mencium puncak kepala Dira.


Dira diam. Ia sama sekali tak menjawab. Ngambek karena ditinggal sendiri. Dan juga yang Axell pergi tanpa berpamitan padanya.


"Yang... masuk aja, yuk!" Ajak Axell tapi kembali tak mendapat respon dari Dira.


"Yang... disini dingin!" Ucap Axell lagi. Setelahnya Axell bisa merasakan Dira yang tiba-tiba menghela nafasnya.


"Kak Axell masuk aja dulu!" Jawab Dira pelan.


Tak lagi membujuk, Axell malah melepaskan pelukannya. Detik kemudian ia masuk ke kamar. Dira tersenyum simpul mengetahui Axell yang memilih masuk kamar dan meninggalkannya begitu saja.


Tapi, tak lama berselang, Axell kembali keluar dengan selimut tebal yang ia bawa. Axell lalu menyelimuti Dira dengan selimut tersebut, agar tubuh istrinya itu tidak kedinginan.


"Iya aku tau aku salah, Yang. Aku pergi dan nggak bilang dulu sama kamu. Aku minta maaf, ya?!" Ucap Axell setelah kembali memeluk Dira. "... Kamu boleh marah, tapi bukan berarti kamu boleh bikin diri kamu kedinginan kayak gini!" Tegur Axell pada Dira.


Memang benar, tubuh Dira memang terasa begitu dingin saat Axell menyentuh tangannya tadi. Makanya Axell mengambil selimut untuk Dira karena sekarang istrinya itu sedang di mode batu nya.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama istrinya itu berdiam diri di balkon tadi? Padahal cuacanya terasa begitu dingin.


"Masuk aja, ya?!" Ajak Axell lagi. Dira menggeleng.


"Ini hampir jam tiga pagi, Yang! Ayo masuk! Kita tidur!" Ajak Axell lagi. Dan lagi-lagi Dira masih menggeleng.


"Aku nggak ngantuk, kak. Kak Axell tidur aja dulu! Aku masih mau disini." Jawab Dira.


Axell menghela nafas, detik kemudian Dira terkesiap saat dengan tiba-tiba Axell mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Axell mendudukkan Dira di tepi ranjang. Lalu ia menegakkan tubuhnya di depan Dira agar lebih bisa menatap wajah istrinya itu dengan seksama. Dira ikutan berdiri. Ia melepas selimut yang membungkus tubuhnya.


Axell menghela nafas melihat apa yang Dira lakukan. Axell meraih remote AC untuk menyesuaikan suhu yang pas untuk kamarnya. Axell tahu, suhu ruangannya saat ini terlalu dingin untuk istrinya yang habis berdiam diri terlalu lama di luar ruangan tadi.


"Kamu kenapa sih, Yang?" Tanya Axell pelan. Tangannya terangkat untuk mengusap kepala Dira dengan sayang.


Ini pertanyaan yang retoris sebenarnya. Sebenarnya Axell tahu, istrinya itu pasti marah karena ditinggal pergi olehnya tadi. Tapi Axell tidak pernah mengira bahwa Dira akan memberikan respon yang seperti ini. "... Aku kan sudah minta maaf tadi!" Lanjut Axell masih dengan nada yang sama seperti tadi.


"Kak Axell kemana tadi?" Tanya Dira balik.


Axell kembali menghela nafas pelan. "Aku ke kafe sebentar tadi, Yang. Ada yang mau -"


"Yang, tadi aku itu -"


"Ngapain?" Tanya Dira cepat.


"Yang! Aku -"


"Emang laporannya nggak bisa lewat email aja, ya?" Kedua tangan Dira mengepal. Tanda kalau dia sedang menahan sesuatu dan Axell menyadari hal itu.


Axell masih mencoba untuk tenang. Bagaimana pun, ia juga bisa meledak kalau tidak pintar mengatur emosinya sendiri. Istrinya itu sedang marah dan ia tak ingin membuat keadaan semakin keruh. Salah kan saja dirinya yang pergi tengah malam untuk menemui Arfen tadi!


"Yang...!"


"...Sengaja, ya, ke kafenya tengah malem karena emang nungguin aku tidur dulu biar aku nggak tau?! Iya? Biar apa? Biar Kak Axell bisa leluasa ketemuan sama mantan kak Axell itu? Siapa namanya?" Dira memegang pelipisnya dengan mata terpejam. Lalu kembali terbuka. "... Ah... iya, aku ingat. Renata? Iya, kan? Benar kan dugaan aku? Biar kak Axell leluasa temuin dia, iya kan?" Tanya Dira menuduh.


Mata Axell melebar, kenapa istrinya ini bisa berpikir seperti itu?

__ADS_1


"Hei... Yang!" Axell kembali menghela nafas. "... Tenang dulu! Aku bisa jelasin."


Dira menggeleng kuat membuat air mata yang menggenang di pelupuk matanya seketika menetes.


"Aku tau. Kak Axell akhir-akhir ini mulai berubah. Aku bisa rasain ... Kak Axell itu mulai beda!" Dira mengusap kasar air matanya. "... Sejak hari dimana aku pulang dari rumah sakit. Kak Axell selalu ngehindar dari aku."


Lagi, Dira kembali mengusap air matanya. Axell yang melihat hal itu ingin meraih tangan Dira dan menggantikannya untuk mengusap air mata itu. Tapi Dira lebih dulu mundur satu langkah.


"Kak Axell selalu sibuk akhir-akhir ini. Kerjaan yang biasanya cukup Pandu yang handle, sekarang Kak Axell sendiri yang kerjain. Dan selama empat hari ini, kak Axell malah minta Pandu untuk anterin aku setiap pulang sekolah ..." Dira diam sejenak. Ia berusaha mengatur nafasnya yang mulai sesak.


"Kenapa? Kenapa kak Axell tiba-tiba... hiks... berubah?" Dira bernafas sejenak. Ia mulai sesenggukan.


"Astaga! Yang..." Desah Axell. Ia terkejut. Kenapa Dira bisa berpikir sampai sejauh itu?


Dira menggeleng, Tangisnya kian pecah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi di kepalanya. "... Kak Axell udah mulai bosan, ya, sama aku? Dan ... hiks ... dan sekarang, hiks ... sekarang ..." Dira kembali sesenggukan. Axell yang melihat itu hanya bisa menggeleng pelan.


"... Kak Axell mau balikan sama mantan kakak itu? Iya? Setelah semua yang aku kasih ke kakak, kak Axell tetep mau balik lagi sama dia? Jawab aku Kak -"


Cukup! Axell tidak mau dengar lagi. Dengan gerakan cepat, Axell menarik tengkuk Dira dan membungkam mulut istrinya itu dengan bibirnya.


Cup!


Axell mengecup, menyesap dan Melu**t bibir Dira dengan begitu lembut. Tak ia pedulikan tangan Dira yang berusaha mendorong dada bidang miliknya, agar ciuman itu terlepas. Axell malah semakin menekan Tengkuk Dira dan memperdalam ciumannya.


Menit berlalu, Axell melepaskan ciumannya setelah merasakan Dira bisa sedikit lebih tenang dan tak lagi melawan.


Axell menatap wajah Dira yang masih basah dengan mata sembabnya. "Dengarkan aku! Aku nggak suka kamu ngomong seperti itu lagi. Okay?!"


Tak menunggu jawaban, bak gaya slow motion, Axell lalu membuka sweater yang ia kenakan. Juga dengan baju yang sebelumnya masih turut serta melekat di tubuhnya. Hingga tubuh bagian atasnya terlihat dengan begitu jelas, karena tak ada kain yang menutupinya.


"Karena apa?" Axell meraih kedua tangan Dira dan mengarahkannya pada bagian dada dan perutnya.


"... My body, my love, my heart, my feelings and everything about me is no longer mine, Baby. But yours. I am yours, Dira! Okay?! No one else. Only U.S. Me ... And you, Andira."


...***...


__ADS_1


*Andira Gracelia Prastika Putri.


__ADS_2