
"Selamat tidur." Ucap Axell lirih.
'Eh...'
Dira yang tadi sudah mulai memejamkan matanya tiba-tiba membukanya kembali setelah mendengar dua kata yang lolos dari mulut Axell.
'Gue nggak salah denger, kan, tadi?'
Dira lalu menoleh ke arah cowok yang tidur dengan posisi tengkurap di sampingnya. Dira sempat mengira kalau Axell sudah tertidur dari tadi. Tapi ternyata tebakan Dira salah. Axell belum tidur. Dan untuk sesaat pandangan keduanya pun terkunci. Sampai akhirnya Axell kembali mengulangi kata-katanya lagi.
"Selamat tidur, Dira." Ulang Axell.
Dira diam seraya berpikir. 'Ada apa dengan kak Axell hari ini? Abis kejedot pintu apa gimana?' Batin Dira bertanya.
Merasa Dira mengabaikan ucapannya membuat Axell mengangkat tangannya. Ia arahkan tangan kanannya itu untuk mengusap pelan rambut Dira.
Deg...
Jantung Dira tiba-tiba berdebar kencang, seakan ingin melompat dari tempatnya setelah merasakan tangan Axell yang mengusap rambutnya.
"Hey... kenapa?" Tanya Axell lagi dengan tangan yang masih enggan berhenti mengusap rambut lembut Dira.
"Kak Axell kenapa?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Axell, Dira malah melontarkan pertanyaan untuk Axell. Gadis itu tengah bingung. Ini pertama kalinya Axell menyentuhnya setelah mereka menikah, ya... meskipun hanya mengusap rambutnya.
"Gue nggak pa-pa." Jawab Axell yang mendapat anggukan kepala oleh Dira.
Seketika hening kembali menyapa keduanya, sampai pada akhirnya Axell kembali membuka suara, "Dir, menurut Lo..." Ucap Axell menggantungkan kalimatnya sejenak. "...pernikahan kita gimana?"
Mendengar apa yang di katakan Axell padanya tadi seketika mengubah arah pandang Dira. Gadis itu kini menatap langit-langit kamar dimana tepat di atasnya terdapat lampu kristal hias yang menggantung indah di sana. Axell lalu mengikuti arah pandang gadis itu. Laki-laki itu kini juga ikut memandang ke arah langit-langit kamarnya.
"Sorry." Satu kata yang tiba-tiba keluar dari bibir Axell membuat Dira kembali menatap ke arah laki-laki di sampingnya itu. Seketika dahinya mengernyit bingung, kenapa Axell tiba-tiba mengucap kata maaf?
"Sorry gara-gara ayah dan bunda yang jodohin kita, Lo jadi terkekang kayak gini. Lo harus terjebak dengan hubungan pernikahan sama gue." Ucap Axell lirih sambil terus menatap ke arah Dira dengan pandangan yang sulit Dira artikan.
Mendengar apa yang di katakan oleh Axell seketika membuat Dira menampilkan senyum tipisnya di sertai gelengan kepala dari gadis itu. "Nggak pa-pa, kak. Semua udah terjadi, kan. Nggak perlu di sesali. Aku nggak pernah nyesel dengan keputusan yang udah aku ambil..." Jawab Dira. Gadis itu menghela nafas pelan dan melanjutkan kalimatnya.
"... Sebenarnya, aku bisa aja nolak kalo aku mau waktu itu. Tapi balik lagi, ada harga mahal yang harus di bayar disini. Aku cuma mau liat papa bahagia. Bagaimana pun, cuma papa orang tua kandung aku satu-satunya. Ya meskipun sekarang aku udah ada Mama Diva dan Mama Diva juga sayang banget sama aku, tapi tetep aja, aku pengen bisa bahagiain papa dengan cara aku sendiri, yaitu menerima perjodohan ini." Jawab Dira menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan selama ini.
Axell menarik salah satu sudut bibirnya setelah mendengar apa yang Dira katakan padanya. Gadis di sampingnya ini sekarang sudah mulai mengungkapkan apa yang tengah ia rasakan selama ini.
"Terus?" Tanya Axell menggantung.
__ADS_1
"Apanya?" Tanya Dira yang tak mengerti maksud Axell.
"Hubungan Lo sama sahabat Lo itu, Lo punya perasaan sama dia?" Tanya Axell to the points.
'Arfen? Kenapa kak Axell jadi bahas dia?' Batin Dira bertanya.
Dira menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri nggak tau sama perasaan aku, kak. Perasaan aku ke dia cuma sekedar suka atau emang ngerasa nyaman aja. Selama ini cuma dia teman cowok aku satu-satunya. Aku tipikal cewek yang gak mudah ngebuka diri sama orang lain." Jawab Dira.
'Tapi sekarang gue bukan orang lain di hidup Lo, Dira!' Batin Axell mendesah.
Axell menganggukkan kepalanya mengerti, "Tapi hubungan kita bukan kayak orang lagi pacaran yang sekalinya putus bisa balikan lagi, Dir. Hubungan kita lebih sakral dan nggak main-main." Ucap Axell mencoba mengingatkan status mereka pada gadis di sampingnya itu. Entah cemburu atau apa, Axell seperti tak ingin kalau Dira sampai larut dengan perasaannya sendiri pada Arfen.
Seulas senyum tiba-tiba muncul di wajah Dira. "Iya, aku tau."
...***...
Keesokkan paginya, Dira bangun lebih dulu. Ia lalu bergegas untuk mandi dan turun ke dapur untuk membuat sarapan.
Sementara itu,
Ting...
"Arfen?" Gumam Axell setelah membaca nama si pengirim pesan. "...Ini kan ponsel Dira. Kapan tuh cewe ngaktifin nih ponsel?" Axell ingat betul, dia sendiri yang menonaktifkan ponsel tersebut disaat Arfen yang menghubungi Dira kemaren. Lalu kapan Dira mengaktifkan ponselnya?
📥 Arfen🙂
PG cantik
Udh bangun?
Gw mau ajak jalan Lo nanti
Bisa ya?
Axell langsung meremat ponsel Dira dengan kuat setelah membaca isi pesan yang Arfen kirimkan pada Dira. Tapi tunggu, Axell baru ingat satu hal. Bukankah kemaren di saat Arfen menelpon Dira, Axell yang menerima telepon tersebut dan mengatakan salah sambung? Lalu kenapa Arfen sama sekali tidak menanyakan hal itu pada Dira? Atau mungkin Dira yang memberitahu Arfen kalau dirinyalah yang menerima telponnya kemarin? Atau memang Arfen sendiri yang memang tak berniat menanyakannya?
Entahlah... Axell hanya mengendikan bahunya acuh. Tak mau ambil pusing, Axell lalu menekan tombol delete pada ponsel Dira, menghapus semua pesan dari Arfen yang sudah ia baca tadi lalu kembali meletakkan ponsel Dira seperti semula. Laki-laki itu lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
...***...
"Non, jangan, non! Nanti bibi bisa di marahi ibu!" Cegah bi Inah pada gadis yang tengah sibuk memasak itu. Bi Inah takut di marahi majikannya, karena membiarkan Dira, gadis yang notabene nona muda di rumah itu memasak di dapur.
__ADS_1
"Nggak pa-pa, bi. Bunda nggak bakal marah, kok. Dira kan cuma mau bikin sarapan... Dira udah biasa, bi." Jawab Dira santai sambil memasukkan nasi kedalam bumbu halus yang sedang ia tumis.
"Tapi, non -..."
"Udah, ya, bi. Bukannya Dira mau nggak sopan karena ngelawan bibi, tapi mending bibi tenang sambil bantuin Dira. Boleh?" Pinta Dira sambil mengaduk-aduk nasi.
"Bantu apa ya, non?" Tanya bi Inah.
"Bikinin Lemon tea anget sama segelas susu ya, bi, buat kak Axell." Jawab Dira yang kini beralih membuat telur dadar.
"Siap, non." Jawab bi Inah patuh.
"Ayah sama bunda kalo pagi gini sukanya minum apa ya, bi?" Tanya Dira ingin tahu.
"Kalo bunda suka teh, sayang. Kalo ayah lebih suka kopi." Sahut bunda Resty sambil berjalan mendekat ke arah Dira.
Mendengar suara dari bunda Resty membuat Dira menoleh ke belakang dimana bunda Resty yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Pagi, bunda." Sapa Dira pada bunda Resty.
"Pagi juga, sayang." Jawab Bunda Resty sambil mengelus puncak kepala Dira. "Wah... menantu bunda lagi masak apa?" Tanya Bunda Resty.
"Lagi bikin nasi goreng, Bun." Jawab Dira.
"Kok bisa pas gini, ya... Kebetulan bunda juga pengen sarapan nasi goreng?" Balas bunda Resty. "...menantu bunda emang pengertian." Abung bunda Resty sbil mencubit gemas pipi Dira.
"Bunda bisa aja." Jawab Dira.
...***...
Kini sarapan sudah siap di atas meja, tinggal menunggu ayah Marvellyo dan juga Axell sang putra yang masih belum muncul dari kamarnya untuk sarapan.
"Sayang, kamu panggil suami kami, gih. Ajak dia untuk sarapan!" Pinta bunda Resty pada menantunya itu.
"Baik, Bun." Jawab Dira patuh dan langsung berjalan menuju ke kamarnya. Saat Dira memasuki kamar, bertepatan dengan Axell yang berjalan ke arahnya.
"Kak, di tungguin bunda di bawah buat sarapan!" Ucap Dira.
"Iya. Ini gue juga baru mau turun." Jawab Axell.
Drrtt... drrtt...
__ADS_1