
"I love you, Kak Axell." Dira tersenyum setelah mengucapkan kalimat penuh dengan cinta itu.
Axell balas mencium bibir Dira, sedikit melu**t bibir yang masih sedikit pucat itu, lalu melepaskannya. "I love you more than you know. And more than anything." Ucap Axell perlahan.
Dira kembali tersenyum mendengar apa yang Axell katakan. "Terima kasih."
Alis Axell terangkat sebelah, "Untuk apa?" Tanyanya.
"Untuk cinta yang kak Axell berikan."
"No." Axell menolak. Ia tak setuju dengan apa yang baru Dira katakan. "... Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu, Yang ..."
Dira mengrenyit bingung. Axell kembali mengecup bibir istrinya gemas. "... Karena kamu sudah mau menjadi istri yang baik untuk kakak."
"Aku masih harus banyak belajar, kak. Sejauh ini, aku masih bukan istri yang sempurna."
"Kita! Not only you! Kakak juga bukan suami yang sempurna. Hubungan kita bukan ikatan main-main. Tapi didalamnya kita masih sama-sama belajar ...” Axell mengelus sebelah pipi Dira. "... Kedepannya masih banyak hal yang harus kita lewati. Jadi ayo, kita saling berpegangan tangan dan melangkah bersama!Tanpa ada yang mendahului atau pun membelakangi!"
Dira kembali tersenyum dan mengangguk.
"Sekarang tidur ya, Yang." Ucap Axell setelah mencium kening Dira. Dira lalu membenamkan wajahnya di dada bidang milik Axell saat laki-laki itu memeluknya.
"Tidur yang nyenyak, sayang! Aku akan jaga kamu di sini." Bisik Axell sambil kembali mengecup puncak kepala Dira lama.
'Akan ku biarkan mereka tidur dengan lelap malam ini. Aku janji sama kamu, Dira ... Setelah ini, tak akan aku biarkan mereka hidup dengan nyaman, setelah apa yang putri kesayangan mereka lakukan sama kamu ... dan calon anak kita.'
...***...
Ceklek.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka menampilkan Axell yang baru selesai mandi dengan baju santai. Ia berjalan keluar dengan tangan yang sibuk menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
"Boy, kamu tidak pergi ke sekolah?" Tanya bunda Resty yang kini duduk di samping brankar Dira. Wanita paruh baya itu baru datang sekitar sepuluh menit yang lalu bersama dengan ayah Marvellyo yang mampir sebentar untuk melihat keadaan sang menantu.
Setelah mengetahui keadaan Dira yang sudah membaik dari perawat yang kebetulan berjaga, Ayah Marvellyo kembali melanjutkan perjalanannya ke kantor.
Axell mengangkat kepalanya dan mendapati sang bunda yang selalu terlihat anggun dan teduh. Jangan lupakan pembawaannya yang tenang.
Kapan bundanya itu datang? Pikir Axell.
Axell lalu mendekati sang bunda dan mencium punggung tangannya. "Bunda sudah dari tadi? Axell tidak dengar bunda datang."
Bunda menghela nafas, "Bunda baru datang. Kamu tidak jawab pertanyaan bunda?!"
Axell mengangguk pelan, "Axell akan izin hari ini, Bun. Axell mau temani Dira di rumah sakit."
__ADS_1
"Tidak!" Tolak bunda Resty cepat. "... Kamu sebaiknya tetap bersekolah! Biar bunda yang di sini jaga Dira."
Axell tak langsung menjawab, ia malah menatap bunda Resty. Mau protes.
"Jangan membantah!" Titah bunda Resty saat melihat putranya yang akan menolak perintahnya.
"... Bunda sudah bawakan baju seragam sekolah sekaligus sarapan buat kamu. Sengaja bunda dan bi Inah masak pagi-pagi ..." Ujar bunda Resty yang sekarang mengeluarkan tempat makan dari tas yang ia bawa. Lalu meletakkannya di meja. "... kamu sarapan dulu, nanti cepat ganti baju dan berangkat ke sekolah!"
...***...
Ceklek.
Axell menutup pintu ruang rawat Dira dan melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
Pada akhirnya, karena tak ingin melawan orang tuanya, Axell menuruti apa yang di ucapkan sang bunda tadi. Berangkat sekolah dan menyetujui bundanya yang akan menjaga Dira di rumah sakit selama ia di sekolah.
Ting.
Saat pintu lift terbuka. Satu alis Axell terangkat saat melihat seseorang yang begitu di kenalnya.
"Yo Xello." Sapaan akrab yang terlontar dari lelaki dari dalam lift tersebut. Dia berjalan keluar. "... Lo ngapain di sini? Abis jenguk Rere?"
Tak menjawab, karena memang Axell sama sekali tak ada niat menjawab pertanyaan yang menurutnya sangat tidak penting itu.
Axell malah menatapnya malas. Ia melangkahkan kaki memasuki lift dan melewatinya begitu saja.
...***...
Sampai di sekolah Axell memarkirkan mobilnya di area parkiran khusus, dimana ia biasa menaruh mobilnya di sana. Saat baru keluar dari mobil, Axell tiba-tiba di kejutkan dengan seorang gadis yang sengaja menghalangi jalannya.
Dari yang Axell liat, sepertinya gadis itu memang sengaja menunggu kedatangannya.
"Ada apa?" Tanya Axell datar pada gadis itu. Menunggu dulu gadis itu untuk mengutarakan maksudnya yang tiba-tiba datang menghalanginya, sepertinya hanya akan menghambat langkah Axell memasuki kelas saja. Karena gadis itu memilih bungkam saat berhasil menghentikan langkahnya. Jadilah Axell berinisiatif bertanya duluan.
"Ada yang pengen gue omongin sama Lo." Jawab si gadis yang kelasnya setingkat dengan Axell.
"Tentang?" Sahut Axell cepat. Ia tidak ingin mengulur waktu karena memang bel masuk sekolah tinggal beberapa menit lagi.
"Tentang ... " Gadis itu terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Kalo nggak ada gue mau ke kelas." Pungkas Axell yang mulai melangkah meninggalkan gadis itu.
"Gue mau minta maaf!" Ujar gadis itu saat Axell benar-benar berjalan melewatinya.
Axell berhenti. Ia sedikit menoleh tanpa berbalik. Bagaimana pun mereka teman satu kelas. Bahkan salah satu sahabatnya menjalin kasih dengan gadis itu.
__ADS_1
"Soal apa?" Tanyanya masih dengan nada yang tadi. Datar dan pastinya nggak enak di dengar.
"Atas sikap gue sama Lo selama ini ..." Jawab gadis itu. Ada nada bersalah yang terdengar di pendengaran Axell. "... sorry!"
Tak menjawab. Axell kini beralih menatap ke depan dengan satu sudut bibir yang tertarik ke samping.
Ia ingat dengan wajah terkejut Nayla saat mengetahui hubungannya dengan Dira yang sebenarnya kemarin.
"Sekarang Lo sudah tau status gue sama Dira yang sebenarnya. Sebelumnya Lo nggak tau apa-apa. Wajar kalo Lo bertindak kayak gitu ..." Axell memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. "... Gue bisa ngerti. Jadi Lo nggak perlu minta maaf." Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju dimana kelasnya berada.
...***...
Nicholas menoleh ke arah pintu lalu kembali menatap ponselnya setelah melihat siapa yang datang.
Adalah Derry dengan sebuah paper bag di tangan kirinya.
Derry berjalan ke sofa dimana Nicholas duduk di sana. Ia mengambil posisi duduk di samping sahabatnya itu.
"Gue bawa sarapan." Celetuknya sambil mengeluarkan dua gelas kopi dan dua bungkus sandwich dari dalam paper bag tersebut.
"Thank's." Jawab Nicholas sambil meraih salah satu gelas kopi yang Derry letakkan didepannya.
"Gue tadi nggak sengaja ketemu Xello ..." Derry menyesap sedikit kopinya. "... dia habis dari sini?" Tanyanya.
Bibir Nicholas yang hampir menyentuh gelas kopi itu tiba-tiba ia urungkan. "Xello? Dimana?" Tanyanya terkejut.
"Depan lift tadi ... di lantai ini. Makanya Gue kira dia habis dari sini." Jawab Derry yang kini mulai menikmati kopi yang dibelinya tadi.
Dari yang Nicholas katakan, sepertinya Axello memang bukan dari ruang rawat Renata?
Nicholas menghela nafas sambil kembali meletakkan gelas kopi yang baru ia sesap sedikit isinya. "Gue bahkan nggak yakin dia tau kalo Rere di sini."
Derry menoleh pada Nicholas lalu beralih menatap Renata di depan sana.
'Benar juga.'
"Tapi kenapa dia ke rumah sakit pagi-pagi begini?" Tanya Derry.
"Mungkin ada kerabatnya yang sakit. Lo bilang ketemu nyokapnya semalam." Jawab Nicholas yang kini kembali menyesap kopinya yang sudah mulai dingin. Tak sepanas tadi.
"Atau mungkin bokapnya yang sakit? Lo bilang kemarin meeting bareng Xello. Bisa aja kan, Xello gantiin bokapnya." Ucap Derry menduga.
Nicholas menggeleng tak setuju dengan apa yang Derry katakan, "Kalo bokapnya sakit, pasti asisten bokapnya ikutan meeting. Tapi kemarin asisten bokapnya Xello itu juga nggak ada. Dugaan gue, bokap Xello lagi meeting dengan klien lain bersama asistennya."
Derry menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. benar kata Nicholas. "Iya juga. Terus siapa yang sakit?
__ADS_1
"Entah. Gue nggak tau. Yang pasti, dia penting buat Xello."