
Dira langsung menghempaskan tubuhnya begitu ia sampai di dalam kamar.
"Ahh... Nyamannya..." Desah Dira begitu ia merasakan kasur empuk yang tengah menopang tubuh telentangnya saat ini. "... Astaga... Padahal nggak ngapa-ngapain, cuma duduk sambil liatin laptop. Tapi kenapa bisa capek banget? Sumpah!" Racau Dira dengan mata terpejam.
Istri dari Axell itu baru saja pulang dari sekolah. Ralat! Bukan dari sekolah langsung sih sebenarnya, lebih tepatnya baru pulang dari d'Axe Cafe.
Tadi selepas pulang sekolah, Axell mengajaknya singgah ke d'Axe Cafe terlebih dahulu sebelum mereka pulang ke rumah. Dan saat ini, keduanya baru saja sampai beberapa menit yang lalu.
Bukan sekedar untuk singgah, tapi Axell memang sedang mengajari Dira tentang beberapa hal apa-apa saja yang harus Dira lakukan untuk me-Manage d'Axe Cafe setelah ini.
Ya, beberapa waktu lalu Axell memang pernah mengatakan, kalau ia akan menyerahkan d'Axe Cafe sepenuhnya pada Dira. Dan apa yang Axell katakan hari itu, bukan sekedar rencana yang keluar dari mulutnya belaka. Axell memang berencana untuk menjadikan Dira owner dari kafe yang ia buka beberapa tahun belakang ini.
Axell tersenyum begitu ia memasuki kamar. Matanya langsung disuguhkan dengan pemandangan, dimana Dira yang langsung merebahkan diri di atas ranjang. Sangat terlihat, istrinya itu begitu kelelahan.
Axell meletakkan almamater yang sudah ia lepas sedari tadi saat ia masih di kafe - di atas sofa, sebelum akhirnya ia duduk di tepi ranjang samping Dira. Tangannya santai melepas dasi sekolah yang masih melilit di lehernya.
"Yang... Kamu nggak mandi dulu?" Tanya Axell saat melihat mata Dira yang sudah terpejam.
Tak menjawab, Dira hanya bergumam lirih sebagai jawaban. Axell menghela nafas dengan seulas senyum yang muncul di bibirnya. Lalu tangan kekarnya terangkat untuk mengusap pelan pipi putih milik sang istri. "Capek banget, Yang?" Tanyanya lagi.
Masih dengan mata yang tertutup, Dira menggeleng sembari tersenyum. Menit kemudian ia kembali membuka mata dan pandangan keduanya langsung terkunci satu sama lain.
Axell kembali tersenyum melihat senyum manis yang tercetak di bibir sang istri. Tangannya turun untuk meraih satu tangan Dira dan menautkannya dengan tangannya.
Pukk! Pukk!
Dira menepuk sisi samping dengan tangan satunya. Membuat Axell langsung merebahkan diri di samping Dira dengan posisi miring menghadap padanya.
Melihat sang suami yang menuruti keinginannya, Dira langsung mengubah posisinya menghadap Axell dan memeluk pinggangnya. Membenamkan wajah cantiknya di dada bidang milik sang suami. Dira menghirup aroma maskulin yang langsung merasuk Indera penciumannya ketika ia berdekatan dengan Axell. Aroma yang begitu khas dan seketika berhasil membuatnya merasa tenang.
"Eh... ngapain di situ?" Tanya Axell sambil terkekeh pelan melihat tingkah Dira yang menurutnya menggemaskan itu. Dira tengah ngusel-ngusel di dadanya sekarang ini.
"Nyari rumput." Jawab Dira asal.
Axell terkekeh geli mendengar jawaban Dira. "Kamu lapar, Yang?" Tanya Axell lagi.
Dira tidak langsung menjawab. Menit kemudian terdengar Axell berdesis saat merasakan Dira yang tiba-tiba menggigit dadanya.
"Ssshhh... Auw... Sakit, Yang!" Ucap Axell sambil menepuk pelan kepala Dira yang masih menggigitnya. "... sapi nggak makan daging - Aakhh...!" Desah Axell saat Dira yang kembali menggigit dadanya.
"Ihh... Kak Axell kenapa jadi ngatain aku sapi?" Tanpa rasa bersalah, Dira protes setelah melepas gigitannya. "... emang aku segendut itu apa?!" Sungut Dira tak terima di bilang sapi.
__ADS_1
"Kamu bilang cari rumput tadi!" Jawab Axell cepat tak mau kalah.
"Ihh... Aku kan laper." Keluh Dira terdengar manja.
Axell menarik gemas hidung mancung Dira. "Siapa tadi yang nggak mau makan di kafe?" Tanya Axell menuntut.
"Tadi aku nggak laper ..." Dira mengangkat pandanganya menatap Axell, "... Aku makan Kak Axell aja, boleh?" Dira tiba-tiba tersenyum jahil.
Axell menyeringai, ia lalu beringsut bangun dan langsung menindih tubuh Dira. "Boleh. Gimana kalo aku dulu yang mulai?"
...***...
Plaakkk!
Sebuah tamparan keras melayang bebas dan langsung mengenai wajah seorang pemuda. Membuat wajah tampan itu seketika tertoleh ke samping dengan rasa panas dan perih yang datang tak lama setelahnya. Bahkan pipi itu langsung memerah seketika.
Tak membalas apapun, pemuda tersebut hanya memegang sebelah pipi bekas tamparan seseorang di depannya. Ia hanya menatap sendu, tanpa berniat untuk membalas sedikit pun.
Adalah Satya, si pelaku tersebut. Rasa kecewa yang begitu besar tengah menguasai diri pria paruh baya itu, hingga ia tidak bisa mengontrol tangannya yang terayun bebas menampar wajah sang putra yang begitu ia percaya selama ini.
"PAH!" Pekik seorang gadis yang melihat kejadian tersebut. "... Papa kenapa nampar kak Nicho?" Gadis itu nampak menghela nafas. "... Kak Nicho nggak bersalah, Pah!" Bela gadis itu.
"Kenapa? Apa baru sekarang kamu menyesali perbuatanmu? Setelah melihat papa yang dengan tega, menampar kakakmu sendiri karena kesalahanmu itu?" Hardik Satya pada putrinya - Renata.
Renata mengepalkan kedua tangannya kuat. Apa yang papanya katakan memang benar. Ahh... penyesalan memang selalu datang di akhir.
"Iya. Rere menyesal. Rere menyesali semuanya. Rere menyesali semua kebodohan yang udah Rere lakukan. Tapi, Pah ..." Renata menangkupkan kedua tangannya memohon pada sang papa. Bahkan air matanya pun turus serta ikut berbicara. "... Jangan lampiaskan semua kesalahan Rere sama kak Nicho! Kak Nicho sama sekali nggak salah. Ini salah Rere, Pah!"
Satya membuang muka. Ia tak ingin melihat wajah anak gadis yang begitu dicintainya menangis seperti itu. Memang benar, tidak seharusnya ia melampiaskan kekesalannya pada Nicholas atas apa yang terjadi dengan perusahaan keduanya di Batam.
Selama ini yang ia ketahui, putranya itu sudah melakukan semua hal yang ia bisa. Termasuk menggaet MJ Corps sebagai penopangnya. Hanya agar proyek yang belum seberapa itu tetap berjalan sesuai harapannya.
Proyek yang akan ia banggakan begitu ia mencapai keberhasilannya. Meskipun pada akhirnya, kerjasama itu kembali terputus setelah anak gadisnya membuat ulah dengan mencelakai istri sang pewaris dari MJ Corps itu sendiri. Bahkan kesalahan yang di perbuatanya pun sangatlah fatal.
Dan setelah semua kejadian itu, entah mengapa masalah bertubi-tubi kian mendatanginya tanpa permisi.
Entah benar atau tidak, Satya merasa karma tengah menyapanya belakangan ini.
Tapi, hanya dengan cara ini ia bisa menyadarkan anak gadisnya yang suka membuat ulah itu.
"Harusnya kamu berpikir ribuan kali sebelum melakukan kebodohan itu, Renata! Papa kecewa sekali sama kamu!" Hardik Satya keras. "... papa menyayangkan tindakan bodoh yang kamu perbuat selama ini." Satya memijat dahinya, kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut.
__ADS_1
Renata diam dengan wajah yang banjir dengan air mata. Ia sama sekali tak ingin melawan sang papa, karena memang apa yang papanya katakan adalah benar.
"Papa menyekolahkanmu di sekolah yang bagus dan bergengsi agar kamu bisa mengenyam pendidikan dengan baik. Menjadikanmu orang yang berpendidikan dan selalu berpikir sebelum mengambil langkah. Tapi kenapa semakin kesini, bukannya berpikir ... kamu hanya bisa semakin membuat ulah?!" Sarkas Satya.
"Pah -" Sela Nicholas. Bukan bermaksud ingin membela sang adik. Nicholas tahu, adiknya memang salah. Tapi Nicholas tidak ingin, apa yang akan papanya itu katakan malah menjadikan Renata semakin nekat nantinya.
Satya mengangkat satu tangannya bermaksud agar Nicholas diam tak menyela ucapnya. "Papa belum selesai bicara, Nicholas!" Ucap Satya tegas.
Nicholas membuang muka. Tapi tidak lama karena ia kembali menatap wajah papanya.
"Sudah sedari lama papa ingin mengatakan ini ..." Satya membalikkan badannya dengan kedua tangan yang sengaja ia masukkan ke dalam saku celana. "... Apa kalian sudah tau, siapa hacker yang sudah membantu Maha Group dari kebocoran data? Juga dari Milano Group - perusahaan bayangan dari Moruga Group, yang telah menghabiskan dana Maha Group milyaran, beberapa tahun lalu?"
Nicholas masih diam. Ia terkesiap dengan apa yang baru saja papanya katakan. Nicholas tidak lupa dengan semua itu. Dan ya, sampai sekarang ia masih penasaran dengan seseorang yang dengan begitu baik, mau membantu perusahan keluarganya secara cuma-cuma.
Sama dengan Nicholas, Renata pun kini mengangkat wajah dengan tangis yang terhenti seketika. Ia menantikan sang papa melanjutkan kata-kataya.
Satya kembali membalikkan badannya. Tatapannya langsung tertuju pada putrinya. "Dia adalah mantan kekasihmu. Axello ... putra semata wayang dari Marvell."
Duaarrrr!!!
...***...
*Gimana dengan eps. kali ini?
*Kalian mau ngomong apa ke Axell?
*Dira?
*Rere alias Renata?
*Kak Nicholas?
*Pak Satya yang terhormat?
*Arfen mungkin, walau gak muncul?
*Atau aku, iya othor?
*Spam jam berapa kalian baca eps. ini!
*Okay, see U...😘
__ADS_1