Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
79. Kebohongan Renata.


__ADS_3

Disebuah gedung pusat perbelanjaan, dengan berbagai jenis store yang sudah sangat terkenal sebagai perusahaan besar baik dari skala nasional maupun internasional. Seorang gadis dan wanita paruh baya namun masih terlihat sangat cantik, nampak sedang asyik berkeliling sambil memasuki satu persatu toko pakaian Branded di gedung tersebut. Dengan sambil menenteng dua paper bag ditangan masing-masing. Diikuti dua orang laki-laki berbeda usia yang setia berjalan dibelakangnya.


"Sayang, coba kamu lihat ini! Bagus nggak?" Tanya bunda Resty pada menantunya.


Dira yang tengah melihat-lihat baju yang tergantung rapi di depannya itu seketika menoleh ke arah mertuanya. Ia tersenyum dengan kepala yang sedikit mengangguk lalu mendekat pada bunda Resty.


"Warna dan modelnya cantik, Bun" Jawab Dira mengatakan penilaiannya.


Bunda Resty tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu tangannya sedikit menarik sang menantu dan membawanya menuju fitting room.


"Semua dress ini untuk kamu, sayang... Bukan buat bunda. Di coba, gih!" Titah bunda Resty lalu menyerahkan beberapa dress yang menurutnya cocok untuk menantu kesayangannya itu.


Tapi, Bun -"


"Udah... nggak ada tapi-tapian, kamu coba dulu sana!" Potong Bunda Resty cepat karena tidak ingin mendengar penolakan dari menantunya.


Wanita paruh baya itu kini melanjutkan langkahnya sembari sedikit mendorong tubuh Dira agar masuk kedalam ruangan kecil tersebut. Sedangkan dirinya sendiri kini duduk diatas sofa diikuti oleh ayah Marvellyo dan juga sang putra.


"Bun, kasihan menantu ayah, dipaksa kayak gitu!" Ujar ayah Marvellyo yang sedari tadi memperhatikan interaksi istri dan menantunya.


Bunda Resty tersenyum sambil menggeleng pelan, "Ayah lupa, Dira juga menantu bunda?" Jawab bunda Resty sambil membaca majalah yang tersedia di atas meja.


Hanya berselang beberapa menit saja, pintu ruang ganti tersebut kembali terbuka. Menampilkan gadis yang mengenakan dress dengan panjang selutut berwarna navy berpadu brukat dan mutiara di bagian atas dan kedua sisi lengannya, nampak berjalan keluar dengan sedikit malu-malu.


Bunda Resty yang melihat penampilan dari menantunya pertama kali itu seketika tersenyum mengembang begitu juga dengan ayah Marvellyo. Sedangkan Axell, ia menatap istrinya itu tanpa berkedip sedikitpun.


"Gimana menurut kamu, boy?" Tanya bunda Resty yang melihat wajah putranya yang masih enggan mengalihkan pandangannya dari sang istri.


"Cantik, bun... Istri Axell cantik banget, bunda." Jawab Axell dengan pandangan yang terkunci pada Dira.


Bunda Resty kembali tersenyum mendengar jawaban Axell. Bunda Resty dapat melihat dengan jelas, betapa putranya itu sangat menyukai penampilan Dira sekarang ini.


Wanita paruh baya itu berdiri lalu melangkahkan kakinya kearah Dira, "Kita beli keempat baju ini, bunda yakin pasti semuanya akan cocok dipakai sama kamu, sayang." Cetus bunda Resty memutuskan.


"Tapi, Bun -"


"Ssttt... Bunda nggak suka di tolak ya, sayang! Pokoknya kamu nurut sama bunda!" Ucap bunda Resty. Nampak bahu Dira merendah. Gadis itu akhirnya menerima apa yang diucapkan mertuanya.


Setelah selesai dengan urusan belanjanya, kini keluarga ayah Marvellyo sedang menikmati makan malam bersama disebuah restoran.

__ADS_1


"Setelah ini ayah sama bunda mau langsung pulang. Kalian mau pulang ke mana? Ingat, besok kalian masih harus bersekolah, jadi jangan pulang terlalu larut." Ucap ayah Marvellyo.


Axell menoleh pada Dira yang tepat duduk di sampingnya, "Pulang ke rumah atau ke apart, Yang?" Tanyanya pada Dira. Ayah Marvellyo dan Bunda Resty saling melempar senyum mendengar panggilan yang ditujukan Axell pada Dira. Ini berarti Axell sudah bisa menerima status Dira sebagai istrinya.


"Terserah kak Axell." Jawab Dira sambil menutup mulutnya yang tengah menguap karena kantuk yang sepertinya mulai menyerang.


"Axell sama Dira pulang ke apartemen aja, Yah. Jarak dari apart ke sini lebih deket. Kasihan Dira... udah ngantuk.." Jawab Axell sambil menatap ayah dan istrinya bergantian. Axell sudah bisa menebak, pasti gadisnya itu akan tertidur di dalam mobil saat di jalan pulang nanti.


Ayah mengangguk. "Ya sudah, boy. Segera pulang. Ayah sama bunda pulang." Ucap ayah Marvellyo.


"Hati-hati bawa mobilnya, boy. Ingat, kamu nggak pergi sendiri!" Pesan bunda Resty sebelum keduanya berpisah untuk pulang.


...***...


Sampai di basseman apartemen, dan benar saja. Untuk kesekian kalinya Axell harus menggendong Dira untuk masuk ke dalam apartemen. Gadis itu benar-benar tertidur di dalam mobil, persis dengan apa yang sudah Axell juga sebelumnya.


Axell berjalan dengan santai sambil menggendong Dira ala bridal style. Melewati setiap pasang mata yang kembali menatapnya penuh curiga saat berpapasan dengannya. Bahkan Axell tetap tenang dan tak ingin menghiraukan setiap orang yang mencibir dirinya yang sedang menggendong Dira.


"Anak muda zaman sekarang, ya, suka kebablasan kalo pacaran." Ucap seorang pria berusia sekitar 30 tahunan.


"Orang tua kalau kurang pengawasan ya... gitu hasilnya." Jawab perempuan yang berjalan di sampingnya.


Axell hanya menarik salah satu sudut bibirnya mendengar ucapan demi ucapan yang jelas-jelas mengarah padanya dan juga Dira. Mereka tidak tahu saja statusnya dengan Dira. Toh mereka tidak saling kenal, Axell tak ingin pusing. Biarkan mereka berkata apa, yang penting Axell ingin segera menidurkan Dira di tempat yang nyaman.


Tanpa Axell sadari, ada seseorang yang tidak sengaja melihatnya masuk kedalam apartemen dengan seorang gadis yang berada dalam gendongannya. Laki-laki itu tersenyum miring melihat Axell yang ternyata tak kembali keluar.


...***...


Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan kini Dira sedang berjalan menelusuri koridor sekolah menuju ke kantin bersama Melody.


"Eh, bentar deh, Mel... gue mau ke toilet dulu. Kebelet pipis gue." Celetuk Dira yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Ya udah, cepetan! Gue tunggu di luar ya, Dir!" Jawab Melody yang kini memilih duduk di bangku ujung tangga sambil memainkan ponselnya. Tanpa menjawab, Dira langsung pergi meninggalkan Melody menuju ke toilet.


Saat Dira mencuci tangan di wastafel, Dira melihat dari pantulan cermin didepannya. Ada seorang gadis yang berjalan mendekat kearahnya. Gadis berambut panjang warna coklat dengan sedikit Curly di bagian ujung. Kedua tangan menyilang didepan dada.


"Lo Dira, kan?" Tanya gadis itu tanpa basa-basi.


"Iya... Siapa, ya?" Ucap Dira ramah lalu memperhatikan seragam yang dikenakan gadis itu.

__ADS_1


'O... kakak kelas.'


Gadis itu menatap Dira sinis, "Lo nggak perlu tau siapa gue. Yang jelas gue minta sama Lo... Mulai sekarang JAUHI XELLO!" Jawab gadis itu dengan penekanan diakhir kalimatnya.


"Xello?" Ulang Dira ragu dengan satu alis terangkat.


"Jangan berlagak sok nggak tau, deh. Cowo yang setiap hari berangkat bareng Lo. Masih nggak paham juga?" Tanya gadis yang tak lain adalah Renata, dengan nada yang tak bersahabat.


"Kak Axell maksudnya? Tapi kenapa? Sorry, kakak ini siapanya kak Axell?" Tanya Dira penasaran.


"Gue Pacarnya. Dan gue keganggu sama Lo yang nempel terus kayak parasit sama cowok gue. Jadi jauh-jauh sama Xello, sebelum gue benar-benar marah." Jawab Renata dengan cerita yang mengada-ada. Bagaimana tidak, hubungannya dengan Axell kan sudah berakhir lama. Tapi dengan begitu percaya diri, ia menyebut kalau Axell kekasihnya. Dasar!


Deg!


'Pacar?'


...***...


"Berhenti ngerokok nggak Lo! Ini masih di sekolah." Suara bariton dari seseorang yang baru menginjakan kakinya di rooftop. Mengalihkan pandangan dari seorang Bastian yang tengah menghisap sebatang rokok yang baru saja ia nyalakan.


Bastian menoleh sesaat dengan asap mengepul yang keluar dari dalam mulut dan hidungnya. "Tumben Lo kesini?" Tanya Bastian sambil kembali menghisap rokoknya.


"Gue nyariin Lo." Jawab Axell yang kini duduk di bangku yang memang ada disitu sambil mengikuti arah pandang Bastian.


"Ada apa? Penting banget sampe harus ketemu gue langsung? Kenapa gak lewat telpon aja?" Tanyanya lagi tanpa menoleh. Kini arah pandang Bastian lurus ke depan.


"Ada yang perlu gue omongin. Mengenai... Dira!" Jawab Axell dan langsung membuat Bastian kembali menoleh padanya.


Mendengar nama Dira disebut, Bastian reflek menjatuhkan rokok yang baru beberapa kali ia hisap. Menginjak rokok yang masih menyala itu untuk mematikan Baranya. Bastian yang tadinya menatap Axell tanpa minat, tiba-tiba tertarik untuk mendengar cerita dari Axell setelah mendengar nama dari gadis yang sempat mencuri hatinya itu disebutkan.


"Jangan pernah berfikir kalo gue nikung Lo! Setau gue, Dira udah sering nolak Lo kan? Jadi disini jelas nggak ada cerita siapa nikung siapa?" Ujar Axell sambil menatap pada Bastian sekilas.


"Gue udah B aja sekarang, udah nggak semenyedihkan kek kemaren-kemaren. Karena gue sadar diri, kalo Dira nggak mungkin bisa suka sama gue." Jawab Bastian yang kini mulai santai.


Keduanya diam untuk beberapa saat. Lalu helaan nafas terdengar dari mulut Axell. "Hubungan gue sama Dira sama sekali nggak pernah gue rencanakan sebelumnya. Gue bahkan sama sekali nggak pernah berpikir untuk macarin dia!"


Bastian mendengus kesal. Satu sudut bibirnya tertarik kesamping, membentuk sebuah senyuman yang terkesan sedikit mengejek. "Mana ada orang pacaran yang nggak direncanakan?" Tanya Bastian yang terkesan mencibir.


Hening. Axell urung menjawab pertanyaan yang Bastian ajukan. Keduanya bahkan saling diam beberapa saat. Sampai akhirnya Axell kembali membuka mulut, "Dira bukan pacar gue."

__ADS_1


Bastian seketika langsung menoleh pada Axell. Memperhatikan wajah serius yang Axell perlihatkan. "Tapi waktu itu Lo bilang kalo Dira -..."


"Istri gue...


__ADS_2