Andira & Axello. (Dijodohkan)

Andira & Axello. (Dijodohkan)
189. Play secret.


__ADS_3

Axell berjalan santai memasuki rumah setelah pintu di buka oleh Bi Inah. Saat ia baru akan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, ucapan bunda Resty berhasil menghentikan langkahnya.


"Dari mana saja kamu, boy? Kenapa kamu baru pulang?" Tanya bunda Resty. "... istrimu baru saja ke atas, dia nungguin kamu dari tadi." Tuturnya.


Axell menghela nafas mendengar penuturan bunda reaty, ia berbalik dan berjalan pada sang bunda. Baru akan meraih tangan sang bunda untuk ia cium, bunda Resty kembali bersuara.


"Boy, kenapa dengan wajahmu? Kamu berantem dengan siapa?" Tanyanya panik, bahkan kedua tangan bunda Resty nampak memegang kedua sisi wajah sang putra untuk melihat dengan jelas luka memar yang menghias di salah satu sudut bibir putra semata wayangnya itu.


Axell meraih satu tangan bundanya lalu ia cium, "Axell nggak berantem, Bun." Jawab Axell pelan namun terdengar begitu meyakinkan


"Nggak berantem, tapi wajah kamu bilang kamu bohong, boy!" Bunda menghela nafas dengan kepala menggeleng pelan, "... bik... bik Nah..." Teriak bunda Resty memanggil bi inah.


Tak lama bik Inah datang dengan kepala menunduk pada bunda Resty, "Iya, buk..." Ucap bi Inah.


Bunda Resty menoleh, "Bik, ambilkan kotak obat!"


Bi Inah menatap sekilas pada tuan mudanya, lalu beralih menatap bunda Resty. "Baik, buk." Bik Inah mengangguk patuh dan pergi untuk mengambil kotak obat yang bunda Resty perlukan.


"Ada apa, boy? Kenapa kamu pulang telat, padahal kamu tidak ke kantor tadi?" Tanya bunda Resty beruntun. "... Terus apa ini?" Bunda Resty menekan ujung bibir Axell, membuat putranya itu sedikit meringis menahan nyeri. "... nggak biasanya kamu pulang bawa oleh-oleh seperti ini!"


"Ini bukan apa-apa, Bun." Jawab Axell masih enggan menjawab pertanyaan sang bunda.


Bunda Resty menghela nafas, ia tahu Axell tidak akan mengatakan apapun. Putra satu-satunya yang berstatuskan suami Dira ini selalu menutupi masalahnya sendiri.


Bunda Resty lalu menarik tangan Axell untuk duduk di sampingnya, lalu mulai membersihkan dan mengobati luka kecil putranya itu setelah bi Inah memberinya kotak obat yang ia minta tadi.


"Apa yang akan kamu katakan pada Dira dan ayah nanti, boy? Sebentar lagi ayahmu pulang." Tanya bunda Resty setelah mengobati luka Axell.


Axell tersenyum, "Biar itu menjadi urusan Axell, Bun. Axell tau apa yang harus Axell lakukan."


Bunda Resty menatap wajah Axell dengan serius. "Apa ini ada hubungannya dengan menantu bunda? Kenapa kamu minta Zaki mengantar Dira pulang?"


Axell tak langsung menjawab. Ia menghela nafas pelan dan mengangguk setelahnya, "Arfen dan Dira sahabatan, Bun. Dan Arfen memiliki rasa lebih dari sahabat ... dia mencintai Dira." Jelas Axell.


Bunda Resty reflek menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut saat mendengar penjelasan sang putra. Sahabat dari putranya itu ternyata bersahabat dengan menantunya sendiri.


Dunia ternyata begitu sempit.


"Lalu, kenapa kamu tidak bilang ke Arfen, kalo Dira itu menantu bunda?" Tanya bunda Resty yang kini mulai paham tentang siapa orang di balik wajah memar putranya ini.


Axell menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kepalanya terangkat menatap ujung tangga dimana lantai dua berada. Detik kemudian ia menghela nafas pelan. "Dira yang minta, Bun. Dira masih belum siap statusnya diketahui banyak orang. Axell hanya mengikuti apa yang Dira mau."

__ADS_1


Bunda Resty kembali menghela nafas, "Tapi Arfen tetap harus tau status kalian berdua, boy. Supaya dia berhenti mengharapkan Dira yang sudah sah menjadi menantu bunda. Bunda tidak ingin kedua putra bunda terus-menerus bertengkar seperti ini."


Axell menggenggam tangan sang bunda. "Axell udah kasih tau Arfen secara tidak langsung, Bun. Bunda tau kan, Arfen itu bukan orang yang bodoh yang harus di kasih penjelasan dulu baru dia mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan dari semua yang Axell bilang, harusnya dia paham."


Bunda Resty menghela nafas lega mendengar ucapan Axell. Ia mengangguk. Memang benar apa yang Axell katakan. Bunda Resty memang mengenal Arfen sebagai anak yang pintar, itulah kenapa Axell suka berteman dengan Arfen. Walau kini keduanya berselisih paham.


"Bunda tenang, Axell akan bikin Arfen datang ke rumah tidak lama lagi."


...***...


Axell mengedarkan pandangannya begitu ia memasuki kamar. Namun pandangan matanya tak mendapati adanya sang istri di dalam kamarnya.


"Sayang..." Panggil Axell yang tak mendapat sahutan sama sekali. Axell meletakkan tas sekolahnya di atas meja dan langsung bergegas menuju ke kamar mandi. Mungkin istrinya itu sedang membersihkan diri, pikir Axell. Namun nihil, ia tak juga mendapati istrinya itu di sana.


"Dira..." Panggil Axell lagi dan kini ia berjalan masuk ke walk in closet miliknya dan masih tak mendapati sang istri.


Axell kembali keluar, ia melihat pintu balkon yang sedikit terbuka dan dapat Axell tebak istrinya itu pasti ada di sana.


Dan benar saja. Dira memang benar ada di sana. Berdiri menghadap balkon dan membelakanginya.


"Yang..." Panggil Axell sambil berjalan mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dira dan mengecup sebelah pipi istrinya itu.


"Kyaaa!" Pekik Dira yang terkejut tiba-tiba dengan kedatangan Axell yang langsung memeluk dan menciumnya. Dira menoleh dan hanya bisa melihat sebelah wajah sang suami. "... Kak Axell udah pulang? Aku nggak denger kak Axell masuk kamar."


"Bagaimana kamu bisa denger, Yang? Kalo ada airpods yang nancep di telinga kamu?!" Tanya Axell di akhir tawanya.


Dira tersenyum menyadari kekonyolannya. "Kak Axell kok baru pulang, dari mana tadi?" Tanya Dira.


"Ketemu temen tadi." Jawab Axell lembut.


Dira mengangguk lalu melepas pelukan Axell. Dira ingin melihat wajah suaminya itu dengan lebih jelas.


"Ya Tuhan, ini -" Dira memekik melihat sudut bibir Axell yang terpasang plester bening. "... kak Axell kenapa?"


Axell tersenyum melihat wajah khawatir Dira, "Oh... ini? Ini nggak pa-pa, Yang." Jawab Axell tenang.


"Nggak pa-pa gimana? Ini luka begini!" Dira memegang kedua pipi sang suami, "... Kak Axell berantem, ya? Makanya suruh Zaki anterin aku tadi?"


"Siapa bilang?" Kilah Axell. Kedua tangannya lalu menarik pinggang Dira agar merapat padanya. "... aku nggak berantem, Yang."


"Nggak berantem tapi luka." Dira berdecak mendadak kesal. "... Ckk. Kak Axell sekarang mau coba main rahasia-rahasiaan, ya?"

__ADS_1


"Aku nggak punya rahasia, Yang. Nggak ada yang aku tutupin dari kamu." Jawab Axell dengan pandangan mata yang tak lepas dari Dira.


Mata Dira menyipit menatap Axell curiga. Iya, ia tahu. Axell tidak mungkin mengatakan kebenarannya. Tapi setidaknya Dira cukup paham, Axell memang tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Bener? Nggak bohong?" Tanya Dira seolah ragu. Walau sebenarnya ia sama sekali tak mempermasalahkan hal ini.


Bukannya menjawab, Axell malah mendekatkan wajahnya pada Dira. Dan,


Cup,


Axell mencium bibir Dira dengan begitu lembut. Menyesap dan ******* bibir merah alami milik Dira, agar istrinya itu tak lagi menanyakan hal yang sama sekali tak ingin ia jawab. Tapi tidak lama, ciuman itu langsung terlepas saat Dira yang dengan sengaja sedikit mendorong dada bidang milik sang suami.


"Why, baby?" Tanya Axell pura-pura tidak tahu dengan apa yang Dira lakukan saat ciumannya terlepas.


"Iiihh... kak. Tunggu dulu! Aku lagi serius, lhoh!" Protes Dira berusaha menghentikan Axell yang sepertinya akan menciumnya lagi.


"OK, Baby. Katakan apa yang ingin kamu katakan!" Ucap Axell yang kini terlihat serius.


Pandangan Dira lalu turun ke sudut bibir Axell yang memar, "Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang kak Axell sembunyiin dari aku? Lalu ... ini?"


"Yang...-"


"Ada apa, kak?" Desak Dira cepat. "... kenapa kak Axell mulai nggak jujur sama aku?!"


Axell tersenyum melihat istrinya yang semakin terbuka dan menampilkan sisi lain dirinya. "Tidak ada yang aku sembunyikan, Yang."


'Kecuali kabar tentang hilangnya calon anak kita.' Lanjut Axell tentunya di dalam hati.


Dira menghela nafas pelan, sekeras apapun ia bertanya, Axell tidak akan mengatakan kebenarannya.


Satu tangan Axell terangkat untuk menyelipkan rambut Dira yang berterbangan karena angin. "Yang... terkadang ada banyak hal yang akan lebih baik kalo kita tidak tahu." Ucap Axell pelan bermaksud agar Dira mengerti dan berhenti bertanya.


Dira mengangguk paham, ia mengerti maksud Axell. Tapi Dira tidak akan menyerah begitu saja. "OK. Kalau gitu, aku ada pertanyaan yang lain."


Axell menarik satu alisnya seakan bertanya 'apa'.


Dira diam sesaat. Ia memperhatikan wajah Axell yang tidak beralih padanya sedikit pun. "Bunda pernah cerita. Katanya dulu selain Kak Bastian dan kak Verrel ... kak Axell ada sat -"


"Kamu mengenalnya, Yang." Potong Axell yang langsung paham dengan apa yang akan Dira tanyakan.


Dira mengernyit bingung, pura-pura pastinya. Karena tak perlu bertanya pun ia sudah tahu siapa orang itu. Foto yang ia temukan beberapa hari kemarin sudah memberinya jawaban tentang siapa sahabat Axell yang membuat Renata berpaling darinya. Dan sekarang, Dira memang sengaja menanyakan hal ini. Hanya untuk memastikan, apakah suaminya itu berkata jujur atau tidak.

__ADS_1


"Aku kenal? Tapi siapa?" Tanya Dira seolah tidak tahu. "... Eiitss... Kak! Iihhh... tunggu dulu!" Protes Dira dengan satu tangan terangkat dan langsung menutup bibir Axell yang akan kembali menciumnya.


"Apalagi, sih, Yang? Itu nggak penting. Kenapa kamu jadi bahas dia?"


__ADS_2